
malam harinya Amelia pulang diantar oleh supir Kara, Amelia merasa tenang meskipun belum sepenuhnya tenang. Amelia melamun saat perjalan pulang, ia selalu berpikir untuk berusaha tidak mengharapkan cinta dari Vano.
setelah beberapa menit Amelia telah sampai, tapi Amelia masih hilang dalam pikirannya. supir itu menunggu Amelia, setelah beberapa menit menunggu supir itu memberanikan diri untuk bicara
"nyonya sudah sampai!" Amelia terkejut mendengar ucapan supir itu, ia melihat memang sudah sampai.
"hm.. maaf pak, terima kasih ya." ucap Amelia, supir itu tersenyum dan mengangguk.
Amelia turun dari mobil itu, Amelia merasa terkejut ketika rumah Vano dipenuhi dengan bunga. Amelia melihat sekelilingnya, tampak terhias begitu indah dengan bunga bunga. Amelia berpikir siapa yang melakukan itu semua,
"siapa yang melakukan ini?" tanya Amelia, ia melangkah terus dengan tersenyum melihat bunga bunga yang ber mekaran.
Amelia melihat sebuah meja yang tersedia disana, meja itu terhias sangat indah. Amelia melihat sekelilingnya untuk mencari keberadaan Vano, karena Amelia yakin ini perbuatan Vano.
"Vano ini kamu kan, dimana kamu?" teriak Amelia, tapi tetap hening tidak ada jawaban.
beberapa saat kemudian terlihat Vano keluar dari rumahnya, Amelia melihat Vano tersenyum kearahnya. Vano berjalan mendekati Amelia dengan membawa bunga, Amelia sendiri tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Vano.
"ada apa ini?" tanya Amelia, Vano tersenyum.
"bunga untukmu." ucap Vano memberikan sebuket bunga, Amelia tersenyum dan menerimanya.
"Vano apa yang terjadi, apa semua ini?" tanya Amelia lagi karena belum mendapat jawaban dari Vano.
"aku ingin makan malam bersamamu!" jawab Vano,
Vano memegang tangan Amelia dan membawanya pada meja yang sudah ia siapkan, Amelia terus menatap Vano dengan heran. Vano tersenyum kearah Amelia.
"Vano apa yang terjadi?" tanya Amelia lagi, Vano memegang tangan Amelia.
"aku ingin sesuatu darimu!" saut Vano, Amelia merasa masih tidak mengerti.
"apa yang kamu inginkan?" tanya Amelia lembut, Vano memang kedua tangan Amelia.
"aku ingin selalu melindungimu, bukan hanya dirimu tapi juga putramu. aku ingin selalu ada untukmu Mel, aku ingin menjadi orang terpenting dalam hidupmu." ucap Vano, Amelia terdiam dan terkejut.
__ADS_1
"bisakah aku mencintaimu?" ucap Vano lagi membuat Amelia masih terdiam.
"aku pikir selama ini aku kasihan padamu, karena itu aku selalu menolong kalian. tapi tidak, itu cinta. aku tidak tahu dari mana datangnya perasaan itu, yang aku tahu aku telah jatuh cinta padamu. bisakah aku mencintaimu, aku ingin mencintaimu. aku ingin membuat kamu bahagia, aku tidak ingin melihatmu menderita. aku ingin mengisi kehidupanmu dengan diriku, aku ingin memberikan cinta dan kasih sayang padamu dan Adnan. aku sangat ingin menjadi orang yang selalu ada setiap kali kamu butuhkan, aku ingin melakukan semuanya bersamamu. bersama kalian!." ucap Vano, Amelia meneteskan air mata.
"kamu tidak akan sendiri lagi, aku akan selalu bersamamu. aku mencintaimu Amelia, sangat mencintaimu." ucap Vano lagi, Amelia langsung memeluk Vano dan menangis.
"Vano.. hiks.. aku juga mencintaimu, aku sangat mencintaimu. aku pikir selama ini kamu hanya kasian padaku, sejak awal aku sudah mencintaimu Vano..." Vano menyeka air mata Amelia.
"aku selalu berpikir untuk tidak mengharapkan cintamu, aku juga sadar diri bahwa aku tidak pantas untukmu." Vano hanya menggelengkan kepala.
"Vano bisakah aku percaya padamu, bisakah aku percaya bahwa kamu bisa melindungi putraku. aku hanya butuh untuk melindunginya, mencintainya, menyayanginya. Vano bisakah kamu berjanji padaku?" ucap Amelia, Vano menyeka air mata yang masih menetes dipipi Amelia.
"aku berjanji, bukan hanya dia. aku juga akan melindungi kalian, mencintai kalian. akan kulimpahkan semua kasih sayang yang ada didunia ini untuk kalian, akan kulakukan semua cara untuk membuat kalian bahagia." tegas Vano mencium tangan Amelia.
Amelia menatap Vano yang penuh dengan cinta dan keyakinan. Amelia tidak pernah sebahagia ini, semenjak suaminya meninggal Amelia tidak pernah mendapatkan rasa cinta lagi dari siapapun. Vano mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku nya, Vano membukanya dan terlihat sebuah cincin berlian. Vano berlutut dihadapan Amelia dan memegang tangan Amelia.
"aku tidak ingin bermain main dengan cinta, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta lagi. dan sekarang aku tidak ingin kehilangan cinta itu, Amelia maukah kamu menikah denganku?" ucap Vano, Amelia terkejut seakan tidak percaya dengan lamaran mendadak yangg dilakukan Vano.
"Amelia aku ingin hidup bersamamu, aku ingin tua bersamamu. mari kita urus Adnan bersama sama, aku ingin yang ada dihatimu sekarang adalah aku. Amelia maukah kamu menerima lamaranku, jadilah istriku." ucap Vano lagi, Amelia menangis merasakan bahagia yang tidak bisa dibeli dengan apapun baginya.
"terima kasih, terima kasih telah menerimaku." ucap Vano mencium pundak Amelia.
"aku yang harusnya berterima kasih, terima kasih kamu mencintaiku dan menerima putraku..." saut Amelia, Vano melepas pelukan itu dan menghapus air mata Amelia.
"berhenti menangis, aku tidak suka melihat wanita menangis." ucap Vano, Amelia tersenyum dan memegang kedua tangan Vano.
"iya, aku tidak akan menangis." ucap Amelia, Vano tersenyum lalu mereka berpelukan lagi.
"satu lagi." ucap Vano melepas pelukan itu, Amelia hanya diam menatap Vano melakukan sesuatu.
"aku lupa menyalakan kembang api."
Vano menyalakan kembang api lalu berlari lagi kearah Amelia. kembang api mulai menyala dengan indah dilangit, Amelia menikmati kembang api itu. Vano melihat Amelia denga bahagia, Vano menyentuh tangan Amelia.
"mulai hari ini, tersenyumlah. jangan pernah meneteskan air mata kesedihan. selama ada aku, kamu dan Adnan tidak akan menderita." ucap Vano, Amelia mengangguk lalu tersenyum.
__ADS_1
"iya, aku percaya padamu." saut Amelia, mereka saling melempar senyum.
Vano menyentuh air mata yang ada dipipi Amelia, tanpa sengaja Vano menyentuh bibir Amelia. Vano memutar tubuhnya lalu memegang kedua tengkuk Amelia, Vano mendekatkan wajahnya pada wajah Amelia. Amelia bisa merasakan nafas Vano, begitu juga dengan Vano yang merasakan nafas Amelia.
"Amelia aku mencintaimu..." ucap Vano menatap Amelia dengan hidung mereka saling menempel.
"aku juga mencintaimu Vano..." saut Amelia tersenyum, Vano tersenyum kilas lalu perlahan mencium bibir Amelia. tidak ada penolakan dari Amelia, Amelia mengalungkan kedua tangannya pada leher Vano. Vano mencium Amelia dengan lembut, dan mendapatkan balasan yang lembut dari Amelia.
Vano bersyukur telah menemukan wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta, Vano juga bersyukur sudah bisa merelakan Nadia bersama Kara. Amelia sendiri sangat bahagia dengan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan, Amelia sangat percaya Vano bisa melakukan semuanya.
malam itu dengan menyalanya kembang api diudara menambah kesan romantis dari mereka, ditambah dengan mereka yang sudah mengatakan cinta satu sama lain.
****
dimalam yang sama Kara dan Nadia membawa Naira dan Adnan jalan jalan, mereka berada disebuah toko es krim. Kara tersenyum sendiri ketika melihat kelucuan Naira yang memakan es krim dengan Adnan. semenjak mengenal Adnan, putrinya itu sangat dekat dengan Adnan dan tidak mau jauh.
"Naira mau lagi?" tanya Kara,
"mau, Naira sangat suka rasa coklat biskuit." saut Naira, Kara tersenyum dan mengacak rambut Naira.
"kalau Adnan mau apa lagi?" tanya Kara lagi, Adnan menoleh dan tersenyum.
"sama aja om, coklat biskuit." ucap Adnan pelan, Kara pun tersenyum.
"baiklah, tunggu disini. Naira jangan nakal ya, mamamu akan segera kemari." Naira mengangguk, Kara berlalu dari sana.
"kak Anan, apa kakak menyukai es krimnya?" celetuk Naira, Adnan tersenyum.
"iya aku suka, tapi aku lebih menyukaimu!" jawab Adnan, Naira tersenyum lebar.
"aku juga menyukai kakak, kak Anan hanya milik Naira." saut Naira, Adnan mencubit pipi Naira dengan gemas.
mereka menikmati es krim berdua sebelum Kara dan Nadia kembali, beberapa menit kemudian terlihat seorang wanita peruh baya berpakaian elegan menghampiri tempat Adnan dan Naira berada. wanita itu berjalan diikuti beberapa orang berpakaian serba hitam dan memakai kacamata hitam, seperti seorang pengawal.
"hai Anan, apa kau tidak merindukan aku**?"
__ADS_1