
"dokter, bagaimana istri saya?" ucap Kara
"maaf hanya ada satu kemungkinan yang akan bisa selamat."
"apa maksudnya dokter?" tanya Febriyan yang tidak mengerti maksud dokter.
"silahkan buat keputusan, selamatkan ibunya atau selamatkan anaknya!" Kara dan Febriyan terkejut dengan perkataan dokter, Kara hanya terdiam dan duduk lemas dikursi.
"kondisinya sangat kritis, karena itu kami meminta pada kalian untuk memilih sang ibu atau sang anak." ucap dokter itu pada Febriyan dan memberikan surat.
"pikirkan baik baik, hanya 10 menit waktu kalian." Febriyan mengangguk dan dokter pergi dari sana. Febriyan menghampiri Kara, mencoba untuk menenangkannya.
Kara mengingat perkataan Nadia agar menyelamatkan bayinya, bersamaan dengan perkataan dokter untuk memilih salah satu dari mereka.
"aku tidak bisa memilih, tidak bisa mas.." ucap Kara, Febriyan berusaha menenangkannya.
"Kara.. ini demi istrimu." Kara mengusap wajahnya dengan kasar. kemudian dokter datang kembali menghampiri mereka.
"apa keputusan kalian, selamatkan salah satu tapi ingat situasi ini, jika menyelamatkan anak akan membahayakan kehidupan ibunya!" Kara semakin stres memikirkan itu.
"putuskan pak!"
"Nadia!" ucap Kara sepontan, dokter langsung masuk dan mulai merawat Nadia.
Kara masih terdiam, ia berpikir apa yang akan dilakukan Nadia kepadanya. Kara berpikir Nadia akan benar benar membencinya, Kara bergumam minta maaf.
"Kara keputusan mu benar, karena kita juga tidak punya pilihan lain." ucap Febriyan menenangkan Kara.
"Nadia tidak akan memaafkan aku, Nadia akan membenciku." ucap Kara menangis.
***
hari menjelang pagi, mereka mencari keberadaan Febriyan, Kara dan juga Nadia. Risa hanya mengatakan tidak tahu mereka ada dimana, pak Wijaya melihat hp nya dan terdapat Febriyan menghubunginya berulang kali. pak Wijaya mencoba menghubungi Febriyan kembali.
"halo.."
"halo om.."
"kalian dimana?".
"kami dirumah sakit, Nadia mengalami kecelakaan."
"apa!, dirumah sakit mana?"
"rumah sakit kota, dokter merawatnya dari semalam tapi belum juga keluar."
"kami akan kesana."
pak Wijaya menutup telfonnya, ia menberitahukan pada semua orang disana. Risa terkejut karena rencananya gagal lagi untuk menghancurkan mereka, semua orang panik dan pergi menuju rumah sakit begitu juga dengan Risa.
setelah beberapa menit mereka sampai, mereka melihat Febriyan dan Kara yang duduk dengan penampilan kacau. Febriyan melihat mereka, ibu Kumala langsung duduk disamping Kara. ibu Kumala melihat kesedihan putranya, Febriyan melihat kearah Risa. Risa merasakan perasaan tidak enak saat Febriyan menatapnya dengan tajam,
"tante, Risa lupa Bagas sedang tidur tadi. takutnya dia bangun dan mencari kita, Risa kembali dulu ya.." ucap Risa, Febriyan terus melihatnya.
"iya nak, kamu naik apa?" ucap ibu kumala.
"naik taksi, Risa pergi dulu." Risa berlalu pergi dari sana.
__ADS_1
beberapa saat kemudian dokter keluar.
"sebuah keajaiban, mereka selamat. ibu dan bayi berhasil diselamatkan, sekarang dia baik baik saja dan sedang beristirahat." ucap dokter, semua orang terkejut saat mendengar ibu dan bayi, Kara merasa sangat lega.
"Nadia hamil?" ucap ibu Kumala, Kara mengangguk. semuanya terlihat senang lalu masuk keruangan Nadia, Kara masih terdiam diluar.
"kau tidak mau masuk?" ucap Febriyan, Kara masih terdiam.
"aku pulang dulu, aku akan ganti baju." Kara mengangguk, Febriyan berlalu pergi dari sana.
semua orang menanyai Nadia, Nadia hanya tersenyum dan memegangi perutnya.
"niatnya Nadia mau bilang waktu Kara ulang tahun ma.." ucap Nadia, ia mencari cari Kara
"dimana Kara,?"
"Kara didepan, kalau gitu kami akan pulang. lihat kami baru saja bangun dan langsung kemari." ucap ibu Kumala, Nadia pun mengiyakan.
"Kara temui istrimu, dia mencarimu." ucap pak Wijaya, Kara pun mengangguk. mereka semua berlalu pergi dari rumah sakit, Kara perlahan masuk mendekati Nadia. terlihat Nadia memejamkan matanya, Kara mengelus rambut Nadia.
"Nadia..." ucap Kara, Nadia membuka mata dan tersenyum.
"Kara,.." ucap Nadia mendudukan dirinya.
"kenapa, ada apa dengan mu. dan ini kenapa tidak dibersihkan?" ucap Nadia lagi, Kara mencium tangan Nadia dan menangis.
"maaf, maafkan aku.." Nadia bingung, ia menghapus air mata Kara.
"apa yang salah, aku dan bayi kita selamat. dokter bilang kami baik baik saja." jawab Nadia, Kara terdiam.
"aku selalu percaya padamu, kamu akan selalu melindungi ku dan anak kita."
"Kara..." saut Nadia.
"aku senang kalian baik baik saja." ucap Kara memeluk Nadia, Nadia membalas pelukan itu.
"Kara berjanjilah, kamu akan melindungi bayi kita apapun yang terjadi, berjanjilah."
"aku tidak bisa berjanji itu, tapi aku bisa melakukannya selamanya." Nadia tersenyum mengeratkan pelukannya.
***
divila Febriyan sampai beberapa menit setelah Risa datang, Febriyan langsung mencari keberadaan Risa. terlihat Risa mengelus Bagas, Risa merasakan firasat buruk karena Febriyan menatapnya. Febriyan masuk dan langsung menarik Risa menjauh dari Bagas, Risa terkejut dengan itu.
"lepaskan aku, apa yang kau lakukan!" ucap Risa, Febriyan terus menarik tanpa menghiraukannya. Febriyan melempar Risa masuk dalam kamarnya, hingga Risa terpental diaksur.
brakkk..
Risa dikejutkan dengan Febriyan yang menutup pintu dengan kasar.
"mas Riyan apa yang kau lakukan!" ucap Risa berdiri
"kau yang merencanakan itu?" ucap Febriyan pelan, Risa memalingkan wajahnya.
"tidak." singkat Risa, Febriyan memegang kedua bahu Risa dengan erat.
"lihat aku dan katakan itu." Risa terkejut melihat kemarahan Febriyan.
__ADS_1
"iya, aku yang merencanakannya." ucap Risa dengan ketus, Febriyan semakin marah mendengar jawaban Risa.
plakk!!
satu tamparan mendarat dipipi Risa, Risa terkejut ia memegangi pipinya. Risa meneteskan air matanya.
"kenapa! kau tahu apa yang kau lakukan!" teriak Febriyan lagi, Risa menghapus air matanya
"karena aku membenci kalian, kau tahu aku sangat membenci kalian." saut Risa, Febriyan terdiam.
"kalian tidak mengerti dengan perasaanku, aku ingin kalian menderita, seperti apa yang aku rasakan. kehilangan cinta lagi dan lagi." ucap Risa berteriak.
plak!!
satu tamparan lagi mendarat dipipi Risa, Risa menatap tajam Febriyan dengan matanya yang memerah karena menangis.
"kau salah, pikiranmu telah dipenuhi oleh pikiran jahat." ucap Febriyan
"tidak, dia yang salah saat menjadi istri Kara, dia salah saat bahagia bersama Kara, dia salah menjadi menantu rumah ini, itu salah seharusnya itu semua aku, hanya aku.. semakin aku melihat dia bahagia aku.. semakin membencinya... sangat membencinya..." ucap Risa jatuh kebawah ia menangis.
"kenapa.. aku hanya ingin bahagia bersamanya... kenapa tidak bisa... katakan padaku mas..." ucap Risa lagi, Febriyan mendirikan Risa.
"kau yang salah, kau terlalu obsesi dengan cintamu pada Kara, dan kau tidak bisa menentang apa yang sudah ditentukan oleh Allah Risa. kau bisa bahagia jika kau melupakan Kara, biarkan dia bahagia bersama Nadia. jika kau memisahkan mereka itu percuma saja kau menghancurkan 3 hati, hati Kara, hati Nadia dan juga hatimu." jelas Febriyan, Risa tidak berdaya mendengar itu.
"kau berpikir setelah mereka terpisah, kau akan mendapatkan Kara, tidak. karena meskipun mereka berpisah hati mereka sudah satu." Risa menangis dengan perkataan Febriyan,
"kau bahkan hampir melenyapkan bayi yang tidak bersalah." Risa menatap Febriyan,
"Nadia hamil." Risa terkejut, ia menangis.
"apa yang sudah kulakukan, hiks.. aku tidak sejahat itu.. hiks... hiks... aku sangat mencintainya, sampai aku gila seperti ini..." Risa menangis dalam pelukan Febriyan, ia merasakan kenyamanan dalam pelukan itu.
"Risa sadarlah, perbaiki dirimu. terimalah kenyataan yang telah ditentukan oleh Allah, minta maaf lah, karena Allah akan menerima permintaan maafmu." ucap Febriyan, Risa masih menangis.
"aku benar benar tidak tahu siapa diriku, aku bukan Risa seperti itu..." ucap Risa lirih, Febriyan mengangkat wajah Risa dan menghapus air matanya.
"aku tahu, kau sangat baik. kembalilah menjadi Risa, Risa yang sebenarnya." Risa tersenyum dengan perkataan Febriyan, Febriyan mendirikan Risa dan mendudukannya di kasur, Febriyan keluar dari kamarnya. beberapa menit kemudian Febriyan kembali membawa kompres, Febriyan mengompres pipi Risa yang bengkak karena tamparan nya.
"maaf, aku menamparmu karena marah." ucap Febriyan, Risa memperhatikan wajah Febriyan yang fokus mengompres kedua pipinya.
"aku sangat bodoh, sangat naif. jika aku mencintai Kara seharusnya aku membiarkan Kara bahagia.. hiks.. meskipun itu tidak bersamaku.. hiks.. aku sangat kejam.. sangat kejam.. hiks.. aku terus membuat rencana mencelakai mereka, bahkan juga berencana mencekaimu.. hikss.." ucap Risa menangis, Febriyan menghapus air mata Risa.
"berjanjilah padaku berubahlah, lupakan masalah yang sudah berlalu karena semua baik baik saja." ucap Febriyan.
"bagaimana aku harus mengatakan pada mereka?" Febriyan menggelengkan kepala.
"tidak perlu, kita akan katakan pada waktu yang tepat." Risa mengangguk, Febriyan terus mengompres pipi Risa.
"masih sakit?" Risa menggelengkan kepalanya, Febriyan berdiri ingin meletakan baskom itu dimeja.
"pantaskah aku mendapatkan cinta?" ucap Risa, Febriyan menghentikan langkahnya.
"tentu saja, semua orang berhak mendapatkan cinta, begitu juga dengan kamu, kamu juga berhak mendapat cinta siapapun." ucap Febriyan dan berlalu pergi.
"semoga aku mendapat cinta seperti apa yang kau katakan padaku." gumam Risa
Febriyan pergi kekamar Bagas dan mandi air dingin disana, Febriyan mengutuk dirinya sendiri karena telah menampar Risa karena kemarahannya.
__ADS_1
"apa yang ku lakukan," ucap Febriyan melihat telapak tangannya.
"semoga kau menyadari kesalahanmu Risa." ucap Febriyan ia merasakan dinginnya air yang mengguyur tubuhnya.