
kejadian Risa tidak sadarkan diri, Febriyan membawanya kekamar dan menidurkan Risa. Febriyan mengusap pipi Risa, Febriyan mendekatkan wajahnya pada Risa. tiba tiba bayangan Ina mendatanginya, Febriyan langsung berdiri dan pergi meninggalkan Risa.
***
malam sudah larut semua teman dan kerabat sudah meninggalkan pesta, setelah membersihkan semuanya mereka beristirahat.
"Risa dimana?" tanya Reni yang melihat Febriyan duduk meminum minuman dingin.
"tadi dia ada dikamar tidur." jawab Febriyan.
"oh iya dia kenapa mas, kok kayaknya ada masalah!" ucap Reni, Febriyan hanya tersenyum tipis.
"iya, dia sedang tidak enak badan jadi seperti itu." Reni hanya mengangguk.
"Yasudah kalian semua istirahat sekarang, besok pagi kita kembali ke jakarta." ucap pak Wijaya, semua pun mengiyakan dan masuk kedalam kamar masing masing.
terlihat Nadia berdiri didekat tangga menunggu Kara yang mencuci tangan, Kara menghampiri Nadia ia memegang tangan Nadia hendak menggendong.
"bantu aku berjalan!" ucap Nadia, Kara malah terdiam.
"emang bisa?." tanya Kara.
"tentu saja,"
akhirnya Kara memapah Nadia perlahan menaiki anak tanga satu persatu,
"bagaimana kau bisa berjalan?" tanya Kara, Nadia tersenyum.
"tadi pagi, sebelum kamu menjemputku." jawab Nadia.
"apa dokter tahu?" tanya Kara lagi.
"tahu!" jawab singkat Nadia.
"lalu kenapa tidak beritahu aku?" Nadia tertawa, dan mulai menceritakan semuanya.
flashback
Nadia bangun dipagi hari, dokter datang untuk memeriksa kesehatan Nadia. saat dokter mengatakan Nadia sudah boleh pulang seorang perawat membawa air lalu tumpah pada tubuh Nadia, karena terkejut Nadia berdiri dari kasur tidur itu.
"maaf nyonya, saya tidak sengaja." ucap Perawat itu.
"iya.. sudah tidak apa apa, aku hanya terkejut." ucap Nadia yang belum sadar dirinya berdiri.
__ADS_1
"nyonya, apa kau bisa berjalan. suami mu mengatakan padaku kalau kakimu..." Nadia tersadar bahwa dirinya sedang berdiri dengan benar.
"dokter saya berdiri.. saya benar benar berdiri..." ucap Nadia, dokter tersenyum dan mengangguk.
"aku.. aku tidak menyangka.."
"akan kuperiksa duduklah." Nadia duduk ditempat tidur, Nadia senang ia menggerak gerakan kakinya.
"kakimu telah sembuh, kakimu juga bisa berjalan dengan normal tapi saya harap untuk berhati hati." ucap Dokter, Nadia mengangguk dan tersenyum.
"dokter, jangan katakan pada suamiku. karena saya ingin mengatakan sendiri padanya, oke?" ucap Nadia, dokter itu pun mengangguk.
"tentu saja, " mereka saling melempar senyum.
flashback off
"jadi karena itu dokter tidak mengatakan padaku?" tanya Kara, Nadia mengangguk dan tersenyum.
"iya gitu, jika dokter mengatakan itu, kamu tidak akan terkejut kan?" Kara menggelengkan kepala, ia langsung menggendong Nadia.
"kalau begitu berikan aku hadiah yang lain." ucap Kara selagi menggendong Nadia masuk dalam kamarnya, Nadia merasa merinding.
"Kara.. kau.." Kara menutup pintu kamarnya.
Febriyan masuk dalam kamarnya, ia melihat Risa yang masih tidur. Febriyan mendekati Risa dengan membawa air hangat dalam baskom, ia duduk didekat Risa. Febriyan mulai mengkompres pipi Risa, membuat Risa terbangun.
"aku ingin mengkompres pipimu." Risa diam saat Febriyan memulainya.
"mas.. aku akan membersihkan diriku dulu." ucap Risa berdiri, Febriyan menahan tangan Risa.
"kenapa kau menjadi pendiam, kau tidak harus seperti itu." ucap Febriyan, Risa meneteskan air mata.
"tetaplah menjadi Risa seperti biasa." Risa menangis.
"apa yang harus kulakukan, aku merasa sangat jahat dan.. aku.. hiks.." Febriyan mendudukan Risa dikasur, ia menghapus air mata Risa.
"apa kau tidak lelah menangis." ucap Febriyan lembut, Risa menatap wajah Febriyan dengan wajah sendu.
"kau sangat baik, aku sangat jahat kan saat berpikir untuk melukai suami sebaik dirimu." ucap Risa menangis, Febriyan tersenyum.
"kau jahat karena dipenuhi rasa iri dengki dan kebencian." Risa terdiam sejenak.
"aku sangat malu saat melihat wajahku dicermin, bahkan aku tidak bisa memandang wajahmu, juga wajah semua orang. aku minta maaf mas, aku minta maaf.. hiks..." tangis Risa lagi lagi meledak, Febriyan tidak tahu cara menenangkan Risa. dengan keberanian Febriyan mencium Risa, Risa terkejut dengan itu.
__ADS_1
Febriyan mencium Risa untuk beberapa menit setelah itu ia melepas ciuman itu, Risa menunduk karena malu.
"maafkan aku." ucap Febriyan, Risa memandang wajah Febriyan.
"apakah kau merasa bersalah mencium istrimu?" tanya Risa, Febriyan menatap Risa.
"tidak."
Febriyan kembali mencium Risa, Risa mengkalungkan tangannya pada leher Febriyan. perlahan Febriyan mendorong Risa hingga terbaring, Febriyan masih mencium Nadia. mereka menikmati ciuman itu, Febriyan menggenggam jari jemari Risa.
aku ingin mendapatkan cinta, kumohon beri aku cinta mas Riyan, cinta seorang suami...
maaf Risa, aku tidak tahu apa yang kulakukan. kau adalah istriku, dan aku adalah suamimu.
klik!
***
dikamar Kara dan Nadia, Nadia memeluk Kara yang sedang memejamkan mata. Kara telanjang dada, sedangkan Nadia menyelimuti dirinya hingga pada bagian perutnya.
"Kara.." ucap Nadia memainkan jari di atas perut Kara.
"hm.." jawab singkat Kara.
"aku ingin mengatakan sesuatu, tentang Risa." Kara membuka matanya, dan melihat kearah Nadia.
"katakan, ada apa dengan Risa?" ucap Kara, Nadia mendudukan dirinya.
"Risa menjadi pendiam, oh iya pipinya bengkak Kara."
"kenapa?"
"Risa tidak katakan padaku, tapi saat aku melihatnya tadi. sepertinya itu bekas tamparan." Kara terkejut ia langsung melihat Nadia yang mengangguk.
"siapa yang akan menampar nya Nadia?" ucap Kara, Nadia tampak berpikir.
"mas Riyan?" ucap Nadia, Kara menarik kaki Nadia hingga terbaring.
"mas Riyan tidak akan melakukan itu, mungkin dicium?" Nadia menyentil dahi Kara.
"apa maksudmu, dasar mesum. mana ada sih dicium sampai bengkak keduanya." Kara tertawa,
"hei sayang, kau jangan seperti mama mu yang galak ini, dia sangat cerewet. tiru kecantikan dan kebaikannya saja ya." ucap Kara memegang perut Nadia, Nadia tersenyum. mereka pun berpelukan sampai terlelap tidur dengan sendirinya.
__ADS_1
***
jangan lupa like dan komen kalian😍