
tidak terasa hari semakin larut, Naira tidur dalam gendongan Amelia. Vano mengantar Amelia pulang ke apartemennya,
"sudah sampai!" ucap Vano menghentikan mobilnya tepat diluar gedung apartemen milik Amelia.
"terima kasih, tapi sepertinya aku tidak bisa turun." saut Amelia, Vano melihat kearahnya dan melihat Naira yang tidur nyenyak.
"berikan padaku, terima kasih sudah menggendongnya." ucap Vano, saat ingin mengambil Naira tidak mau melepaskan Amelia.
"dia akan terbangun, takutnya nanti dia menangis." ucap Amelia,
"tidak masalah, aku bisa menenangkannya."saut Vano. Amelia pun mengangguk lalu memberikan Naira.
"hiks.. jangan ganggu Naira bobo..." ucap Naira mengigau, membuat Vano dan Amelia menahan tawa.
"baiklah, aku turun ya. sekali lagi terima kasih, semoga kita bertemu lagi." ucap Amelia turun dari mobil lalu tersenyum manis, Vano mengangguk.
"iya maaf merepotkanmu, kalau begitu aku pulang dulu. dahh..." ucap Vano lalu menyalakan mobilnya, Amelia melambaikan tangannya.
"hm.. melihat anak itu, aku jadi merindukan nya." gumam Amelia saat melihat mobil Vano sudah menjauh.
***
Nadia dan Kara sedang duduk bersama disebuah taman, Nadia melihat betapa indahnya langit yang cerah. Nadia merasakan bulan sedang melihatnya, Nadia tersenyum sendiri dengan itu. Kara memperhatikan wajah Nadia yang tersenyum melihat bulan, Kara pun tersenyum sendiri.
"kenapa kau tersenyum?" tanya Nadia saat tahu Kara tersenyum sendiri.
"melihatmu tersenyum, jadi aku tersenyum." saut Kara melihat bulan, Nadia pun juga melihat bulan.
"bulan tersenyum padaku, jadi aku tersenyum." ucap Nadia mereka sama sama melihat kearah bulan.
"dulu aku berpikir setiap malam, aku kehilangan Angel, lalu kehilanganmu. apa salahku sebenarnya?" ucap Kara tetap melihat ke arah bulan, Nadia memandangi wajah Kara dan mengingat perkataan Risa.
dia banyak diam ketika merasa kehilangan, dia sangat bersedih ketika kamu tidak ada.
"ada apa?" tanya Kara, Nadia pun menggelengkan kepala.
"bukan kah kita sedang kencan, lalu bagaimana kau bisa kehilanganku" tanya Nadia, Kara tersenyum kearahnya.
"kau sangat mirip istriku." saut Kara
"jadi kau punya istri, kenapa masih merayuku?" tanya Nadia dengan wajah kesal.
"istriku marah padaku, karena itu dia meninggalkanku." saut Kara, Nadia terdiam.
"setiap malam aku selalu berharap agar istriku kembali secepatnya, aku juga berharap istriku hanya marah dan tidak membenciku." ucap Kara lagi,
"istrimu tidak membencimu, dia hanya marah." gumam Nadia pelan, tapi didengar oleh Kara.
"jika dia marah akan ku rayu, agar dia tidak marah lagi." saut Kara, Nadia tersenyum.
setelah Kara merasa larut, ia mengajak Nadia pulang. didalam mobil mereka membicarakan hal yang tidak penting. setelah beberapa menit mereka sampai dirumah, Nadia turun dari mobil.
"terima kasih sudah mengantarku!" ucap Nadia, Kara turun dari mobil.
"bisakah kita jalan lagi lain waktu?" tanya Kara, Nadia melipat kedua tangannya.
"akan kupertimbangkan." ucap Nadia, Kara tersenyum.
"bisakah kamu memberikan kesempatan padaku, agar aku bisa memperbaiki kesalahanku?" tanya Kara,
belum sempat Nadia menjawab terlihat Vano sampai dirumah, Vano turun dengan hati hati menggendong Naira yang sedang tidur. Nadia melihat itu langsung berlari kearah Vano dan melihat Naira tidur.
"kalian dari mana saja!" bisik Nadia, mengambil Naira dari gendongan Vano.
"dia dapat teman baru, jadi keasikan memilih boneka. lihatlah bagasi mobilku penuh dengan boneka Naira." saut Vano, Nadia menggelengkan kepala.
"teman baru?" tanya Nadia berjalan diikuti Vano.
"iya seorang wanita yang terkena masalah," saut Vano, Nadia hanya diam. Nadia masuk kedalam rumah dengan cepat membawa Naira.
"bagaimana sudah dekat?" tanya Vano saat ada didekat Kara.
__ADS_1
"sepertinya kesalahanku tidak bisa dia lupakan." saut Kara, Vano menepuk pundak Kara.
"semangat, jangan menyerah. seorang wanita memang seperti itu." ucap Vano.
"dekati anaknya, jika tidak bisa mendekati ibunya." ucap Vano lagi, Kara melihat kearah Vano semenit kemudian mereka tertawa bersamaan.
Kara mendatangi kamar Naira, terlihat Naira yang sedang pulas tertidur. Kara tersenyum saat melihat putrinya itu tidur sangat menggemaskan, Kara menyelimuti tubuh Naira lalu mencium kening Naira.
"semoga mimpi indah sayang." ucap Kara, dari pintu Nadia melihat itu lalu tersenyum.
"pergilah istirahat," ucap Nadia, Kara mengangguk.
"jadi, siapa namamu nona?" tanya Kara, Nadia tersenyum.
"Nadia, ingat itu." ucap Nadia tersenyum lalu menutup pintu.
"aku ingat, selamat malam." ucap Kara, dibalik pintu Nadia masih berdiri.
"selamat malam." ucap Nadia tersenyum.
****
pagi harinya Kara keluar dari kamarnya, terlihat Nadia sedang memasak di dapur. dimeja makan terlihat Riana, Naira dan Bagas yang siap berangkat sekolah sedang sarapan. perlahan Kara mendekati mereka, saat ketiga anak itu ingin menyapa Kara mengisaratkan untuk tidak berisik, mereka pun mengangguk.
perlahan Kara mendekat kearah Nadia karena ingin mengejutkannya, pada saat bersamaan Nadia berbalik ingin menaruh sup panas.
"akh!!" teriak Kara saat sup panas itu mengenai lengannya, Nadia terkejut dan meletakkan paci diatas kompor lagi.
"Kara kamu tidak apa kan, maaf aku tidak tahu kamu dibelakangku." ucap Nadia panik, ia menarik Kara dan mencoba membasuh lengan Kara dengan air, Kara meringis karena merasa perih.
"kenapa kau ada dibelakangku, pasti sakit ya.." ucap Nadia, Kara mengangguk. Nadia meniupi tangan Kara, Nadia mencari kotak p3k.
"kemari, aku akan mengoleskan ini." Kara menurut dan duduk disamping Nadia.
"itu hukuman untuk papa, karena ingin mengerjai mama." celetuk Naira, membuat Bagas dan Riana tertawa. Nadia melotot kearah Kara.
"ya itu memang pantas, rasakan!" ucap Nadia, Kara hanya meringis.
"Naira kenapa terlalu jujur?" ucap Kara, Naira tersenyum.
"jadi kau mengkhawatirkan aku?"
"tentu!"
"kau merasakan sakit juga?"
"iya!"
"kau masih mencintaiku?"
"tentu saja!"
Nadia terkejut dan menatap wajah Kara, terlihat wajah Kara tersenyum padanya.
"menyebalkan!" ucap Nadia menekan luka Kara.
"akhh!!" ucap Kara meringis kesakitan, Nadia meninggalkan Kara.
terlihat Vano datang menghampiri mereka, Vano sempat heran melihat tangan Kara yang terbalut perban.
"ada apa, kenapa diperban?" tanya Vano duduk disamping Kara.
"tidak apa!" saut Kara,
"kemana yang lain?" tanya Vano memakan apel.
"mama sama papaku lagi keluar kota, gatau dengan mas Riyan dan Risa!" jawab Kara, Nadia menghampiri mereka dengan membawa Nasi.
"mas Riyan pergi mengajar, Risa sedang membersihkan kamarnya!" saut Nadia, Nadia menyiapkan nasi untuk Vano dan Kara.
Kara bingung saat tangannya terluka sebelah kanan ia tidak bisa makan, Vano menahan tawa melihat itu.
__ADS_1
"Nad bagaimana aku makan kalau tanganku terluka karena mu?" tanya Kara, Nadia menatap Kara. belum Nadia menjawab Naira pindah duduk disebelah Kara, Naira mengambil sendok dan berniat menyuapi Kara.
"Naira akan suapi papa.." ucap Naira, Nadia terkejut dengan itu. Kara pun tersenyum dan membuka mulut.
"hanya papa Naira?, apa papa Vano tidak disuapi?" ucap Vano, Naira menoleh kearah Vano dan menyodorkan makanan pada Vano.
"tentu saja, Naira akan menyuapi semua papa Naira." saut Naira, Vano dan Kara pun tertawa. Nadia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
***
Vano pergi mengantar anak anak itu kesekolah satu persatu, kemudian mengantar Kara ke kantor, karena tangan Kara yang terluka. setelah mengantar Kara, Vano pergi ke kantornya. saat diperjalanan Vano melewati apartemen milik Amelia, Vano jadi membayangkan wajah Amelia yang semalam tersenyum padanya, Vano tersenyum sendiri.
tanpa Vano sadari selama menyetir ia melamun, beberapa menit kemudian Vano terkejut ketika hampir menabrak seorang anak kecil, Vano berhenti dan turun dari mobil untuk melihat anak itu.
"hei tuan bagaimana kau ini,!" teriak seseorang, Vano menghampiri anak laki laki itu. terlihat sekitar umur 8 tahun.
"apakah kamu baik baik saja?" tanya Vano, anak kecil itu menoleh.
"tidak apa!" jawabnya, Vano melihat anak itu seakan mengingatkannya pada seseorang.
"bawa dia kerumah sakit, takutnya dia merasa shock" ucap seseorang, Vano mengangguk lalu menggendong anak laki laki itu masuk kedalam mobilnya dan pergi dari sana dengan cepat.
seorang wanita keluar dari sebuah apartemen, wanita itu melihat sekeliling dengan kebingungan.
"pak apa anda melihat anak laki laki umur 8 tahun, berlari dari sana." ucap wanita itu, beberapa orang berbisik.
"aku melihatnya tadi ditabrak sebuah mobil, mobil itu membawa anak itu kerumah sakit." saut seorang pria, wanita itu terkejut.
"apa, dirumah sakit mana?, dia putraku pak!" ucap wanita itu, pria itu memberitahukan rumah sakitnya. wanita itu langsung memanggil taksi dan pergi dari sana.
Vano membawa anak itu pada rumah sakit tempat Nadia bertugas karena lebih dekat, Vano menghampiri Nadia dengan menggendong anak itu.
"apa yang terjadi?" tanya Nadia, Vano memijat dahinya.
"entahlah, ada hal yang kupikirkan. dia berlari lalu berada dihadapan mobilku!" ucap Vano, Nadia memberi anak laki laki itu minum.
"dia hanya terkejut, dan lecet pada kakinya." ucap Nadia, Vano merasa lega.
"dimana keluarganya?" tanya Nadia lagi, Vano sempat lupa dengan keluarga anak itu.
"ya ampun aku lupa, aku akan mencarinya dulu." ucap Vano melangkah keluar, Nadia menggelengkan kepala dan mendekati anak itu lagi.
"hai siapa namamu?" tanya Nadia, anak laki laki itu terlihat sangat takut.
"aku dokter Nadia, kamu sangat tampan. dari mana asalmu?" tanya Nadia lagi, anak itu tetap diam.
"baiklah, sekarang istirahatlah. om tadi sedang mencari ayahmu!" Nadia terkejut saat anak itu menggelengkan kepala dan sedikit menangis.
"hei ada apa, tenanglah." ucap Nadia memeluk anak itu.
Vano berjalan cepat untuk meninggalkan rumah sakit, Vano mendengar seseorang membuat keributan didepan resepsionis. Vano melihat itu seperti mengenali suaranya.
"permisi apakah anakku ada disini?"
"maaf nyonya atas nama siapa?"
"Adnan!"
"maaf nyonya tidak ada nama itu."
"dia korban kecelakaan, sebuah mobil menabraknya. tolong dicari lagi." resepsionis itu menggelengkan kepala.
Vano mendengar itu, ia berpikir itu adalah keluarga dari anak kecil itu. Vano mendekati wanita itu, untuk memberitahukannya.
"maaf aku tahu putramu ada dimana!" ucap Vano, wanita itu mendengar dan menoleh kearah Vano.
Vano terkejut saat melihat wanita itu, begitu juga dengan wanita itu yang terkejut melihat Vano.
***
yang bilang mirip film KASAM itu memang benar adanya, tapi author ga jiplak ceritanya kok, author cuman terinsipirasi dari film itu. dan memang episode SENTUHAN, author suka aja waktu liat adegan itu jadi author masukin dalam cerita ini. maaf ya sebelumnya kalau memang ada mirip film🙏🏼
__ADS_1
semoga kalian masih suka dan ga bosen sama ceritanya, dan sabar menunggu up nya.😇
makasih😊