My Love Story 2

My Love Story 2
46. positif 2


__ADS_3

"positif apa Wi?"


"kata David kemarilah, tanpa Kara."


"baiklah siang nanti aku akan kesana!"


"oke, aku tutup dulu ya.."


"iya.."


Kara dan Nadia turun kebawah, Kara mendudukan Nadia disofa dan dirinya kembali mengambil kursi roda Nadia. Nadia masih memikirkan perkataan Dewi yang positif, Nadia belum mengerti apa maksud Dewi.


"melamunkan apa?" ucap Kara mengejutkan Nadia.


"hm.. tidak," jawab Nadia, Kara pun menuntun Nadia duduk dikursi roda lalu mendorongnya mendekati meja makan.


"ayo sarapan dulu." ucap ibu Kumala, terlihat semuanya sudah duduk di meja makan.


Nadia tidak berselera melihat makanan yang ada diatas meja, ibu Kumala melihat raut wajah Nadia yang sedikit pucat,


"apa Nadia sakit." tanya ibu Kumala pada Kara yang sedang mencuci tangan, Kara melihat kearah Nadia yang tidak menyentuh makanannya.


"tidak, ma!" saut Kara, ia pun mendekati Nadia.


"kenapa tidak dimakan?" tanya Kara, Nadia hanya tersenyum.


"aku tidak berselera, aku akan makan buah saja."


Kara mengeryitkan dahi nya.


"tadi pagi kau muntah muntah, sekarang tidak mau makan." ucap Kara, mereka semua melihat kearah Kara dan Nadia.


"kenapa, kenapa muntah muntah?" tanya pak Wijaya.


"hm.. mungkin masuk angin pa.." saut Nadia, Kara berdecak kesal.


"Kara biar lah, dia kan tidak mau makan. mama akan iriskan apel bagaimana Nadia?" Nadia tersenyum.


" iya, tapi Nadia juga pengen omlet ma. mama mau buatkan tidak?" ucap Nadia pelan, ibu Kumala pun tersenyum.


"tentu saja, tunggu ya mama akan buatkan." Nadia tersenyum senang, Kara, Risa dan Febriyan merasakan keanehan pada Nadia.


"Kara aku mau menemui Dewi, boleh ya?" ucap Nadia,


"iya, tapi aku tidak bisa menemanimu."


"iya tidak perlu, turunkan saja disana aku akan menemui Dewi sendiri." Kara pun mengiyakan, setelah beberapa menit terlihat ibu Kumala membawa omlet pesanan Nadia.


"oke, ini permintaanmu!" Nadia menerima omlet itu dan mulai memakannya.


" sangat enak, terima kasih ma.." ucap Nadia selagi memakan omlet, Kara mengacak rambut Nadia pelan.


***


siang hari Kara membawa Nadia kerumah sakit untuk bertemu Dewi, Nadia masuk keruangannya Dewi. Dewi terlihat senang melihat Nadia, tapi tidak senang melihat Kara.


"hai Nad, Kara juga disini?" Nadia mengerti maksud Dewi.


"iya hanya mengantar, dia ada rapat jadi akan pergi." ucap Nadia, Kara pun mengangguk dan berpamitan pergi pada mereka berdua.


"Nad aku pikir Kara tidak mau meninggalkanmu." ucap Dewi selagi menutup pintu


"apa maksudnya positif?" tanya Nadia, Dewi tersenyum.


"tunggu David ya,"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian terlihat David mengetuk pintu lalu masuk, David membawa sebuah amplop ditangannya dan memberikan nya pada Nadia, Nadia merasa bingung.


"apa ini?" tanya Nadia, David dan Dewi saling melempar senyum.


"aku akan punya keponakan!" ucap Dewi, Nadia terkejut dengan itu. Nadia pun membuka amplop itu, Nadia terkejut membaca hasil tes darahnya yang menyatakan positif hamil.


"apakah ini benar?" ucap Nadia, ia tersenyum matanya berkaca kaca. Dewi mendekati Nadia dan mengangguk.


"iya itu benar, usianya 5minggu." Nadia menangis memeluk Dewi.


"terima kasih, aku akan bilang pada Kara."


"jangan, kau harus memberinya kejutan." ucap David, Nadia pun bingung dibuatnya.


"apa kau tidak mau memberikan kado padanya saat hari ulang tahunnya?" Nadia baru ingat bahwa tiga hari lagi Kara berulang tahun.


"iya, kau benar." ucap Dewi, Nadia pun mengangguk.


sore harinya, dikantor Kara sedang duduk melamun dalam ruang kerjanya, bahkan Kara tidak menyadari Reno masuk dan mendekatinya. Reno melihat Kara yang melamun ia jadi penasaran dibuatnya.


"Kara tiga hari lagi ulang tahunmu?" perkataan Reno mengejutkan Kara dari lamunannya.


"lalu?" saut Kara singkat.


"ayolah kita berlibur bersama keluarga, bagaimana?" Kara berpikir sejenak.


"hm.. boleh, bagaimana kalau kita kepuncak?" ucap Kara, Reno pun mengiyakan.


"kita berangkat besok saja, jadi kita menginap disana sampai hari H mu?"


"iya, nanti ikutlah kerumah. aku akan katakan pada papa dan mama." Reno mengiyakan,


"sudah tidak ada pekerjaan lagi Kara, sebaiknya kau pulang beristirahat." Kara menutup laptop nya, dan merapikan jasnya.


"ngapain?" ucap Reno mengikuti langkah Kara,


"bertemu Dewi, entah lah ada apa!" Reno hanya ber oh.


***


dimalam hari semuanya berkumpul diruang santai, terlihat semua keluarga lengkap dengan kesenangan mereka masing masing. terlihat Bagas sedang bermain dengan pak Wijaya, Risa dan ibu Kumala sedang didapur membuat minum, dan Febriyan sendiri sibuk dengan kertas kertas didepannya. Nadia duduk di sofa dan di sebelahnya Kara yang sedang bermain laptop karena pekerjaannya, Nadia menjadi kesal karena itu.


"Kara sebenarnya siapa istri dan keluargamu?" ucap Nadia, Kara melihat ke arah Nadia yang duduk disampingnya.


"dia istri keduaku!" ucap Kara mengangkat laptopnya, Nadia hanya berdecak kesal.


"dasar, gila kerja." grutu Nadia, Kara tertawa dan menutup laptopnya.


"oh iya besok mari kepuncak!" semuanya melihat kearah Kara, dan bingung dengan ajakan Kara tiba tiba.


"mau ngapain?" ucap Nadia, Kara tersenyum.


"karena kita akan liburan sampe hari minggu." saut Kara.


"oh iya minggu Kara ulang tahun." ucap Risa, semua orang baru menyadarinya.


"kalau begitu kita siapkan sekarang, maka besok tinggal berangkat." ucap ibu Kumala, mereka pun mengiyakan.


"Nadia, mama mau kasih tau mama kamu dulu ya.." ucap ibu kumala, Nadia pun mengangguk.


ibu kumala pun keluar ke rumah sebelah begitu juga dengan semua orang kembali kekamar masing masing untuk menyiapkan barang barang yang akan dibawa, Kara dan Nadia pun juga sibuk berbenah.


setelah beberapa menit selesai berbenah, Nadia dan Kara duduk diatas kasur. Nadia melihat ke arah Kara yang fokus pada laptopnya lagi, ia sangat bahagia dan tidak sabar bagaimana melihat reaksi Kara saat tahu dirinya hamil. Kara sadar saat Nadia tersenyum sedari tadi, Kara pun menyentuh hidung Nadia.


"ada apa?" Nadia hanya senyum dengan pertanyaan Kara.

__ADS_1


"tidak apa, aku hanya senang menjadi istrimu." saut Nadia, Nadia menyandarkan kepalanya pada pundak Kara.


"ya aku juga bahagia, kau menjadi penyemangatku." saut Kara, Nadia pun tersenyum.


"oh iya Kara, besok mampir ke makam Angel ya.."


"kenapa?" tanya Kara menyilahkan rambut Nadia.


"aku ingin mengatakan sesuatu padanya." jawab Nadia tersenyum.


"iya, katakan semuanya apa yang kamu katakan. sekarang cium aku!" Nadia langsung mencium pipi Kara sekilas.


"lanjutkan pekerjaanmu, aku akan tidur. selamat malam suami ku." ucap Nadia, Kara mengacak rambut Nadia gemas.


"iya tidurlah, selamat malam istriku." ucap Kara mencium kening Nadia.


dikamar Risa sedang menyiapkan bajunya, terlihat Febriyan masuk dalam kamarnya lalu menutup pintu. Risa tidak memperdulikan Febriyan yang datang, ia fokus melipat baju.


"ini koper siapa?" tanya Febriyan, Risa melihat koper itu.


"kopermu, aku sudah siapkan." ucap Risa singkat.


"hm.. terima kasih." Risa tidak menyahut, Febriyan tersenyum tipis.


"Risa..."


"hm.."


"seberapa besar kamu mencintai Kara?" Risa langsung menghentikan pekerjaannya karena perkataan Febriyan.


"sebanyak kau mencintai Angel, pasti kau tahu rasanya jadi aku." ucap Risa memasukan bajunya dalam koper.


"tapi caramu salah, dia sudah beristri."


"lalu akh..." saat Risa ingin melangkah kakinya tersandung karpet, hingga jatuh menimpah Febriyan diatas kasur.


Febriyan memandang wajah Risa yang seperti ketakutan saat hampir jatuh, Risa memandang wajah Febriyan. perlahan Febriyan menyilahkan rambut Risa yang menutupi wajah cantiknya, Risa hanya memejamkan mata. perlahan juga Febriyan mendekatkan wajahnya pada Risa dan mencium Risa, Risa hanya membuka matanya lebar dirinya tidak bisa melawan. dengan cepat Risa melepas nya dan berdiri, Febriyan pun juga berdiri.


"maaf." ucap Febriyan dan berlalu keluar kamar meninggalkan Risa, Risa memegangi wajahnya yang panas.


semua orang telah tidur nyenyak ditengah malam itu, Nadia membuka mata dimalam hari. Nadia memegang wajah Kara dan membangunkannya pelan.


"Kara.., Kara.. bangun..." ucap Nadia lirih.


"hm... ada apa sayang, apa kau ingin kekamar mandi?" ucap Kara yang masih menutup mata, Nadia menggelengkan kepala.


"aku ingin makan, sangat lapar perutku." Kara membuka matanya perlahan lalu menutup matanya lagi.


"makan apa, katakan?" ucap Kara lagi,


"soto!"


Kara terkejut, ia langsung membuka matanya dan menatap wajah Nadia


"soto?" Nadia mengangguk dan tersenyum.


"Nadia ini jam berapa?" Kara melihat ke arah jam dan melihat nya sudah pukul 2 dini hari.


"tapi aku sangat lapar, dan hanya ingin makan soto." ucap Nadia, Kara memijat dahinya.


"sayang ini sudah jam dua dini hari, tidak akan ada yang jual." ucap Kara pelan, Nadia kesal dengan itu.


"Yasudah tidurlah lagi, aku akan tidur." ucap Nadia menutupi dirinya dengan selimut, Kara hanya menghela nafas. Kara memeluk Nadia dari belakang.


"besok akan kubelikan apa yang kamu mau." bisik Kara, Nadia tidak merespon, Kara tetap memeluk Nadia hingga mereka tertidur lagi.

__ADS_1


__ADS_2