
" Nadia!"
"Risa!" ucap Nadia, Nadia langsung memeluk Risa.
"Risa akhirnya aku menemukanmu, Risa kemana kau pergi selama ini." ucap Nadia disaat memeluk Risa, Risa membalas pelukan itu dan menangis.
"hai Nadia.. apa.. kabarmu.. hiks..." ucap Risa menangis, Nadia pun menangis.
"Risa ayo kemobilku, kita bicara." Risa pun mengangguk dan mengikuti langkah Nadia.
didalam mobil Nadia dan Risa saling pandang dengan bahagia, batin Nadia sangat senang bisa menemukan Risa. Risa sangat bahagia saat Nadia tidak marah dan tidak membencinya.
"Risa, kau tinggal dimana?" tanya Nadia, Risa tersenyum.
"ada seseorang yang menolongku, dia sangat baik Nadia. aku tinggal dirumahnya, dan dia selalu menolongku saat aku membutuhkan pertolongan." jelas Risa.
"jadi, kau mau kemana ini?" tanya Nadia lagi.
"aku ingin mencari rumah, aku tidak bisa bergantung pada orang itu terus." jawab Risa, Nadia menggengam tangan Risa.
"Risa pulanglah, kami semua mencarimu. kau tahu mas Riyan sangat menderita mencarimu, ikut aku pulang ya?" Risa malah menggelengkan kepala.
"tidak Nad, aku terlalu malu disana. aku tidak pantas bersama orang orang baik seperti kalian." jawab Risa memandang kearah luar jendela.
"aku akan mengantarmu pulang." ucap Nadia,
"tidak turunkan aku didepan, aku.."
"apa aku orang asing?" Risa menggelengkan kepala
"biarkan aku mengantarmu, aku sangat haus." ucap Nadia membuat alasan, karena sebenarnya Nadia ingin tahu dimana Risa tinggal sebenarnya.
"baiklah, jalan mekar no 12." supir Nadia mengangguk, mereka pun melaju menuju rumah Vano.
****
dikantor Kara...
Kara sangat marah ketika perusahaannya mengalami masalah, semua orang menjadi ketakutan dengan keadaan Kara, selama rapat Kara terlihat murung dan aura suram disekitarnya.
"jadi," ucap Kara, membuat semua bawahannya gemetar.
"i..itu pak.. " ucap seseorang terhenti ketika Kara menatap dengan tajam.
"Reno!" teriak Kara.
terlihat Reno berjalan cepat kearah Kara setelah mendengar teriakan Kara memanggilnya
"iya?" ucap Reno, Kara berdiri membenarkan pakaiannya.
__ADS_1
"urus semuanya, jika tidak selesai pecat mereka semua yang ada disini, aku tidak butuh pekerja yang malas." tegas Kara meninggalkan ruang rapat, semua karyawan menjadi takut.
"kenapa tuan KR menjadi dingin seperti dulu huhu.." ucap seorang karyawan, Reno hanya diam .
Kara melangkah dengan angkuh menuju ruangannya, suara David selalu terngiang ditelinganya, bahkan wajah Nadia yang penuh tanda tanya muncul dikepalanya. sampai nya diruangan Kara membuka jasnya dan melempar jas itu kesembarang tempat, ia mendudukan dirinya diatas sofa.
"apa yang harus aku katakan padamu Nadia!" gumam Kara mengusap wajahnya kasar.
"apa yang terjadi padamu?" ucap seseorang, Kara melihat kearah suara itu dan ternyata Febriyan.
"hm.. tidak ada." jawab singkat Kara, Febriyan duduk disebelah Kara.
"kau terlihat kacau, tidak perlu memikirkan Risa. aku akan mencarinya." Kara hanya tersenyum tipis.
"bukan itu yang kupikirkan!"
"lalu.."
akhirnya Kara menceritakan apa yang diberitahukan David, Febriyan tampak berpikir.
"lebih baik katakan pada Nadia, agar tidak menjadi kesalahan pahaman." Kara pun terdiam.
"Kara jika kau diam, Nadia akan terluka percayalah padaku."
****
dirumah Vano.
"ini rumah pria itu." ucap Risa, Nadia pun meminum air yang diberikan Risa.
"benarkah, lumayan." Risa tersenyum.
"kau mau bertemu dengannya, dia akan pulang malam nanti. sementara itu aku akan buat makan malam dulu, nanti kita makan bersama." ucap Risa.
"hm.. kalau gitu mari masak bersama." Risa pun mengiyakan, mereka memulai masak.
di malam hari Kara pulang kerumah, Kara mencari keberadaan Nadia tapi tidak menemukannya. Kara pun pergi kearah ibunya.
"ma.. dimana Nadia?" tanya Kara
"hm.. Nadia tadi sore pergi, katanya mau supermarket tapi entahlah belum pulang." jawab ibu Kumala, Kara menjadi khawatir.
"apa dia menelfon?" tanya Kara lagi, ibu Kumala hanya menggelengkan kepala.
Kara masuk dalam kamarnya, ia berniat membersihkan dirinya dulu setelah itu ia akan menghubungi Nadia.
*
Nadia dan Risa sedang menunggu kedatangan Vano, Nadia sangat penasaran siapa pria yang sudah menolong Risa sejauh itu. tiba tiba telfon rumah itu berdering, tidak ada yang menjawab telfon itu karena Risa sedang dikamarnya, Nadia pun berniat mengangkat telfon itu.
__ADS_1
"halo!"
"halo!"
Risa datang menghampiri Nadia, Nadia memberikan telfon itu.
"siapa?" tanya Risa.
"aku tidak tahu, dia diam saja tapi masih tersambung kok!" jawab Nadia, Risa pun berbicara dengan sipenelfon.
Nadia kembali duduk disofa, sambil menunggu Risa ia duduk melihat tv. beberapa menit kemudian Risa datang menghampiri Nadia.
"Nad, pria itu lembur. mending kamu pulang sekarang." ucap Risa.
"hm.. yaudah deh, besok.. boleh aku kemari lagi?" ucap Nadia, Risa pun tersenyum.
"boleh, kenapa tidak." Nadia memeluk Risa, Risa pun membalas pelukan itu.
"oh iya aku membeli bunga kesukaanku, lihat." ucap Nadia menunjukan bunga ditasnya, tapi terlihat sudah rusak.
"tidak apa sini, aku akan merawatnya. lagi pula lihatlah vas itu kosong." Nadia tersenyum, lalu melangkah keluar dari rumah itu.
Risa melambaikan tangannya begitu juga Nadia yang didalam mobil, Nadia berpikir tidak akan menceritakan ini pada Kara. lagi pula Risa tidak ingin pulang, mungkin Risa ingin Febriyan yang menjemputnya, pikir Nadia.
"pak, nanti jika ditanya tuan Kara, bilang saya ada dirumah sakit ya.." ucap Nadia pada supirnya.
"iya nyonya, siap." Nadia pun tersenyum,
setelah beberapa menit Nadia sampai dirumah, terlihat Kara sedang menunggunya diruang tamu. Nadia berharap Kara belum pulang saat dirinya baru datang sangat larut, tiba tiba lampu ruang tamu itu menyala, Nadia terkejut dibuatnya.
"Kara..." Kara mendekati Nadia.
"kemana kamu pergi?" tanya Kara, Nadia terdiam karena tidak mungkin dirinya membohongi Kara.
"aku tadi dirumah sakit!" jawab Nadia, Kara menatap Nadia.
"pergilah, bersihkan dirimu. jangan terlalu lelah pergi jalan jalan, ingat kau sedang hamil." ketus Kara, Nadia terkejut saat Kara bicara ketus padanya. Kara masuk dalam kamarnya, Nadia pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Nadia pergi kekamarnya, ia melihat Kara yang sudah tidur. sebenarnya Kara tidak tidur, ia hanya berpura pura tidur. Nadia mengganti pakaiannya dan tidur disamping Kara, Nadia memperhatikan wajah Kara sampai akhirnya ia menutup mata. Kara membuka mata dan melihat Nadia sudah tidur ia pun mematikan lampu kamar itu, Nadia langsung membuka mata.
"jangan dimatikan, aku takut jika gelap." ucap Nadia, Kara pun menoleh.
"apa bedanya saat kau tidur?" jawab Kara, Nadia memasang wajah melas, Kara pun menyerah akhirnya menyalakan lampu itu lagi, Nadia tidur membelakangi Kara.
"aku tidak takut, jika tidur dalam pelukanmu. tapi sekarang keadaannya kau tidak mau memelukku." ucap Nadia pelan tapi masih didengar Kara, Nadia bangun dari tempat tidur.
saat Nadia ingin melangkah kakinya tersangkut pada karpet, dengan cepat Kara menangkap Nadia. Mereka berpandangan dan mereka mulai terbawa suasana, Kara akan mencium Nadia. tapi Kara mengingat ucapan David.
"Nadia ini jam 11 aku harus pergi bekerja besok, mari kita tidur." ucap Kara mendirikan Nadia. Nadia kecewa tapi dia menurut dan tidur.
__ADS_1
Kara melihat Nadia dan mendekatinya. Lagi-lagi Kara mengingat perkataan David, Kara takut saat mendekati Nadia dirinya bernafsu dan melakukan hubungan dengan Nadia, Kara pun mundur, Nadia memegang tangan Kara dalam tidurnya. Kara takut bahwa dia tidak bisa tinggal jauh dari Nadia, jadi Kara berpikir untuk tidur di sofa. Kara menempatkan alarm agar bisa bangun sebelum Nadia dan kembali ke tempat tidur sebelum Nadia bangun.