My Love Story 2

My Love Story 2
81. papa


__ADS_3

Nadia sudah kembali bekerja sebagai dokter, dirumah sakit lamanya. semua orang terlihat senang dengan kehadiran Nadia, bahkan masih banyak yang menyukai Nadia.


"Nad, semangat ya.." ucap Dewi, Nadia tersenyum.


"kapan lahiran?" tanya Nadia memegang perut Dewi, Dewi tersenyum.


"perkiraan David dua minggu lagi." jawab Dewi, Nadia terlihat senang saat merasakan tendangan bayi itu.


"seharusnya libur, ini sudah besar." ucap Nadia.


"tidak apa, jika mau lahiran kan enak sudah dirumah sakit, tidak jauh haha..." saut Dewi tertawa, Nadia pun ikut tertawa.


"apa jenis kelaminnya?" ucap Nadia lagi.


"perempuan, hehe yang pertama sudah laki laki sih!"


"sepertinya sangat aktif, ya.." ucap Nadia lagi, Dewi mengangguk.


"tentu, aku sangat lelah kadang merasa kesal dan bahagia juga sih." ucap Dewi tertawa, Nadia ikut tertawa.


"iya sama seperti anakku yang tidak bisa diam, untung aku kuat." ucap Nadia, Dewi hanya diam dan tersenyum.


"ya.. kau sangat kuat." Nadia tersenyum.


***


dirumah Kara sedang melakukan sarapan pagi. semua orang berkumpul dimeja makan, tiba tiba saja ibu Kumala terpeleset lalu tidak sadarkan diri. Kara membawa ibu Kumala untuk pergi kerumah sakit, semua orang terlihat khawatir.


mereka semua mengantar ibu Kumala untuk ke rumah sakit, sampainya dirumah sakit Kara menggendong ibu Kumala dan berteriak pada semua perawat.


"dokter ada pasien yang datang, seorang wanita paruh baya." ucap perawat, Nadia menyuruh Dewi untuk tetap duduk dan dirinya langsung berlari mengikuti perawat.


Nadia terkejut saat melihat Kara, Febriyan dan juga Risa berdiri, perlahan Nadia mendekati mereka. Risa terkejut melihat Nadia yang berdiri begitu juga dengan Kara dan Febriyan.


"Nadia?" ucap Risa, belum Nadia menjawab seorang perawat menghampirinya.


"dokter, wanita itu mengalami darah tinggi cepat tangani." ucap perawat, Nadia langsung masuk dalam ruang igd.


didalam Nadia terkejut melihat ibu Kumala yang berbaring, Nadia menyeka air matanya dan mulai membantu pernafasan pada ibu Kumala. Nadia tidak kuasa menahan air matanya saat melihat ibu mertua yang ia rindukan sedang terbaring sakit,


"mama.. lihat Nadia disini, Nadia merindukan mama..." ucap Nadia menyuntik sesuatu pada tangan ibu Kumala, perlahan denyut Nadi ibu Kumala kembali normal.


"dokter, denyutnya sudah normal." Nadia bersyukur mendengar itu.


"dokter apakah kau punya hubungan dengannya?" tanya suster itu lagi, Nadia tersenyum.


"iya, dia ibuku. dia ibu terbaik bagiku setelah ibu kandungku." jawab Nadia menyeka air matanya.


perlahan Nadia keluar menghampiri Kara dan yang lainnya, Risa menghampiri Nadia.


"Nadia katakan, bagaimana keadaannya?" tanya Risa, Nadia tersenyum.


"tenanglah, beliau baik baik saja. hanya saja darahnya langsung tinggi, untung cepat dibawa kesini." ucap Nadia, semuanya merasa lega.


"ka..kalian bisa temui beliau nanti." ucap Nadia mereka pun mengangguk. Kara menatap Nadia sedari tadi, Nadia berusaha tidak melihat Kara.


"Nadia aku sangat merindukanmu, Nadia kemana saja kau selama ini?" tanya Risa memeluk Nadia.


"aku juga merindukan mu, aku pergi dulu." ucap Nadia melihat kearah Kara, Kara hanya terdiam dan menatap.


Nadia berjalan melewati Kara, Kara menatap wajah Nadia yang tidak melihatnya. Kara memegang tangan Nadia dan menariknya pergi, Risa dan Febriyan membiarkan mereka pergi.


Kara terus menarik tangan Nadia, Nadia terus meronta untuk dilepaskan. Kara bertemu David dan mengatakan untuk meminjam ruangannya, David awalnya terkejut melihat Nadia tapi ia membiarkan Kara memakai ruangannya.


Kara membawa masuk keruangan David, Nadia melepaskan tangan Kara dari tangannya.

__ADS_1


"apa yang kau lakukan, aku ingin pergi minggir." saat Nadia ingin pergi, Kara memeluk Nadia dari belakang.


"Kara lepaskan apa yang kau lakukan!" ucap Nadia berusaha melepaskan dirinya, Kara semakin memeluk Nadia semakin erat.


"Nadia.. aku merindukanmu, sangat merindukanmu!" ucap Kara terdengar berat, Kara menenggelamkan wajahnya pada rambut Nadia. Nadia hanya diam merasakan pelukan itu, pelukan yang selalu ia rindukan. Nadia meneteskan air mata, Kara membalikkan tubuh Nadia menghadap dirinya.


"Naira anak siapa?" tanya Kara, Nadia menatap kearah Kara


"dia putriku, aku yang melahirkannya." saut Nadia tanpa melihat wajah Kara, Kara memegang kedua bahu Nadia.


"maafkan aku, aku minta maaf." ucap Kara menunduk, Nadia melihat kesedihan Kara.


"kau menyakitiku, dan itu tidak bisa dilupakan." ucap Nadia mulai menangis, Kara menyeka air mata itu.


"bagaimana bisa aku melupakan itu, katakan?" ucap Nadia lagi dan pergi dari sana, Kara membiarkan Nadia untuk pergi.


"bagaimana caranya aku menjelaskan padamu!" gumam Kara, lalu keluar menghampiri ibu Kumala.


beberapa jam kemudian terlihat ibu Kumala sudah bangun, Kara dan semua nya terlihat bahagia.


"Kara.. mama merasakan kehadiran Nadia, apakah mama benar?" ucap ibu Kumala, Kara memegang tangan ibunya.


"iya, dia ada disini." ucap Kara tersenyum.


"dimana dia, mama ingin menemuinya Kara." ucap ibu Kumala lagi, Kara hanya terdiam.


"mintalah dia kesini, dia pasti mau." ucap Febriyan, Kara pun mengangguk.


Kara mulai mencari keberadaan Nadia, tapi ia tidak melihat Nadia dimana mana. beberapa menit terlihat Nadia bicara dengan seseorang, Kara tersenyum melihat itu. Kara melihat Nadia masih terlihat cantik, Kara mendekat kearah Nadia. Nadia merasakan kehadiran Kara, ia pun berbalik dan melihat Kara.


"ada yang ingin kamu katakan lagi?" ucap Nadia,


"mama ingin bertemu denganmu, pergilah." ucap Kara, Nadia terkejut dengan itu.


"ke..kenapa?" tanya Nadia, Kara menatap wajah Nadia yang gugup.


"Nadia.."


"aku akan pergi." ucap Nadia lalu pergi meninggalkan Kara.


****


Vano menjemput Naira dari sekolah, Naira terlihat sangat senang dengan kedatangan Vano.


"baik princes ku, bagaimana sekolahmu?" ucap Vano membantu Naira masuk kedalam mobil.


"baik, papa Vano tadi Riana menangis." ucap Naira.


"hm.. kenapa?" ucap Vano.


"kata bu guru tidak ada yang menjemputnya karena neneknya masuk rumah sakit, tadi dia menangis terus." jelas Naira, Vano berpikir untuk mengantar Riana pulang.


"tunggu disini, papa akan masuk membawa Riana oke?" Naira mengangguk, beberapa menit kemudian Vano datang dengan menggendong Riana lalu memasukkannya dalam mobil.


"Riana, jangan menangis, om akan membawamu kepada nenekmu ya?" Riana mengangguk, dengan lucunya Naira menyeka air mata Riana.


"jangan menangis, papa bilang tidak boleh cengeng!" ucap Naira, Riana tersenyum.


Vano mulai menyalakan mobilnya untuk melaju ke rumah sakit, Vano berpikir sekalian untuk bertemu dengan Nadia.


****


Nadia dengan ragu masuk kedalam ruangan ibu Kumala, ketika Nadia masuk ibu Kumala melihatnya dan langsung menangis, dengan segera Nadia melangkah cepat kearah ibu Kumala.


"Nadia..." panggil ibu Kumala, Nadia tersenyum.

__ADS_1


"mama..." ucap Nadia meneteskan air mata.


"kamu kemana saja, apa kamu melupakan mama?" ucap ibu Kumala, Nadia menggelengkan kepala


"Nadia selalu mengingat mama, Nadia tidak pernah melupakan mama." saut Nadia mencium tangan ibu Kumala.


"maafin Nadia ma, maaf..." ucap Nadia, ibu Kumala merasa bahagia melihat kedatangan Nadia.


"tante selalu merindukanmu, tante selalu menyuruh kami untuk mencarimu tapi kami tidak tahu mencarimu kemana." ucap Risa, Nadia menangis memeluk ibu Kumala


"apa mama selama ini sehat?" tanya Nadia, ibu Kumala mengangguk pelan.


"Nadia pulang bersama kami, kamu masih menantu mama."


brugh!!


suara benda jatuh membuat semua orang menoleh kearah suara itu, terlihat Vano berdiri dengan menggandeng tangan Naira dan Riana. semua orang terkejut melihat Vano, Risa mengambil Riana.


"bagaimana bisa denganmu?" ucap Risa mengambil Riana


"mama, itu teman Riana namanya Naira!" ucap Riana, semua orang melihat kearah Naira.


Naira melepas tangan Vano dan berlari kearah Nadia, semua orang heran.


"mama!" ucap Naira, semua orang terkejut dengan itu.


"tadi Riana menangis kata buguru neneknya masuk rumah sakit, terus papa membawanya kesini. ini nenek Riana ya." ucap Naira, semua orang terkejut saat Naira memanggil Vano papa dan Naira mama.


"ma.. ini putri Nadia namanya Naira, umurnya 6 tahun. Naira salam sama nenek dan semua orang." ucap Nadia, Naira tersenyum pada semua orang.


"Naira, Riana ikut om mau?, kita beli es krim?" ucap Kara, Riana dan Naira terlihat senang.


"mau!!" ucap kedua anak itu, Kara menggendong keduanya lalu pergi dari sana.


"Nadia bisa cerita ke mama, apa semua ini. kalian memiliki anak?" ucap ibu Kumala,


pada akhirnya Nadia menceritakan semua kejadian 6 tahun lalu setelah dirinya pergi, semua orang hanya bisa merasakan kesedihan Nadia.


"Vano yang selalu membantu Nadia, sampai akhirnya Naira lahir dan memanggil Vano sebagai papanya. aku membiarkan itu ma, karena aku pikir Naira bahagia dengan itu." jelas Nadia.


"terima kasih Vano, kamu selalu menolong keluarga kami." ucap ibu Kumala, Vano tersenyum.


"tidak perlu sungkan, apa salahnya membantu." ucap Vano, mereka tersenyum.


"jadi Naira adalah cucu mama.." Nadia mengangguk, terlihat Risa dan Febriyan merasa senang.


"Nadia tinggal lah dengan kami lagi, akan sangat bahagia jika keluarga kita kumpul kembali." ucap ibu Kumala, Nadia memandang Vano.


"mama, Nadia akan pikirkan itu nanti." ucap Nadia.


diluar Kara mendengar bahwa Naira adalah putrinya, Kara mendekat kearah Naira yang asik memakan eskrim. Kara memanggku Naira dan menatapnya, Naira melihat Kara yang terlihat menangis.


"kenapa om menangis, apa ada yang menyakitimu?" tanya Naira menyeka air mata Naira, Kara mencium tangan Naira.


"apa kamu bahagia sayang?." ucap Kara, Naira mengangguk.


"tentu saja, ada mama, ada papa Vano. Naira bahagia, sekarang Naira punya Riana dan om ganteng!" saut Naira, Kara tersenyum lebar.


"mau enggak kalau om ganteng ini jadi papa kamu?" Naira menoleh dan mengangguk.


"mau, Naira mau punya dua papa, papa Vano dan papa ganteng." ucap Naira, Kara memeluk Naira dan menyeka air matanya.


"janji mau panggil om dengan sebutan papa?" Naira mengangguk, Kara tersenyum lebar.


"janji papa..." ucap Naira, Kara tersenyum lebar dan mencium pipi Naira.

__ADS_1


papa janji akan membahagiakan kamu dan mama sayang.


***


__ADS_2