
2 minggu berlalu setelah kecelakaan Nadia, Kara selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa pulang lebih awal untuk melihat Nadia, Kara terus melihat arah jam saat bekerja bahkan saat rapat pun Kara terlihat tidak tenang.
"Kara kenapa kau merasa tidak tenang seperti itu?" tanya Reno mengikuti langkah Kara.
"aku mau pulang cepat Ren, Nadia pasti pengen sesuatu dirumah." ucap Kara.
"kau ini dirumah ada tante, dia tidak sendiri!" Kara berhenti melangkah melihat kearah Reno.
"ya tapi entahlah, sepertinya aku tidak mau diganggu sekarang, pergilah rapikan semua berkas berkas tadi!" Kara lalu meninggalkan Reno yang kesal.
"Kara apa yang kau lakukan, ck... dasar!" ucap Reno kesal.
Kara masuk ruangannya dan mulai sibuk dengan pekerjaannya lagi, seseorang mengetuk pintu ruangan Kara.
"pak, ada yang ingin bertemu denganmu!" ucap seorang wanita
"sudah saya bilang jangan ada yang mengganggu saya!" wanita itu merinding entahlah kenapa.
"p..pak dia ingin.. bertemu bapak katanya penting..." Kara pun melihat kearah lawan bicaranya.
"bawa dia masuk kemari," wanita itu keluar dan menyuruh orang yang ingin bertemu Kara.
"tuan Kara, apa ada waktu sebentar?"
Kara mengenali suara itu, Kara pun melihat kearah suara itu. terlihat seorang pria bertubuh gagah dan tinggi berdiri didepan pintu, Kara terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"kamu!" ucap Kara, pria itu melangkah mendekati Kara.
"kita bertemu lagi, bagaimana kabarmu?"
"aku baik, tidak perlu basa basi bagaimana kau tahu kantorku?" tanya Kara mempersilahkan duduk pria itu.
"aku tahu, siapa yang tidak tahu tentang suami Nadia yaitu Kara Wijaya." Kara tersenyum tipis,
"jadi seorang kapten memiliki waktu diluar!"
"dimana Angel?"
***"
Nadia sedang duduk dihalaman rumahnya dia sedang memegang bunga melati, Nadia melamuni tentang kakinya ia masih merasa sedih dengan itu. Nadia terkejut dengan kedatangan Bagas yang memeluknya dari depan, Bagas tersenyum bahagia.
"bunda dokter, Bagas kangen..." Nadia tersenyum dan mengelus pipi Bagas.
"bunda juga kangen sayang, dengan siapa kamu disini?" tanya Nadia perlahan.
__ADS_1
"dengan papa..." Bagas menunjuk arah belakang Nadia, sudah berdiri Febriyan disana.
"haii.." ucap Febriyan melangkah mendekati Nadia.
"haii.." jawab Nadia tersenyum.
"apa kau baik?" tanya Febriyan duduk disebuah bangku.
"sangat baik!" jawab Nadia tersenyum, tapi Febriyan melihat kesedihan disana.
"wajahmu mengatakan hal lain!" Nadia hanya tersenyum sekilas.
"papa ayo beli es krim dengan bunda.." Nadia dan Febriyan saling pandang.
"Bagas... bunda dokter tidak bisa kemana kemana sayang.."
"tidak, aku bisa. kau hanya tinggal membantuku masuk dalam mobil dan keluar dari mobil setelah itu membantuku mendorong kursi ini!" Febriyan pun mengiyakan dan mulai mendorong Nadia dan juga membantunya masuk mobil.
saat berada dimobil Nadia duduk memangku Bagas, Bagas terus bergerak diatas oangkuan Nadia. Nadia tidak merasakan apapun pada kakinya, Febriyan melihat itu ia merasakan sedih juga.
"Bagas... jangan banyak bergerak.." ucap Febriyan. Bagas malah memeluk Nadia. hp Nadia terus berdering bertuliskan nama hubby disana, Kara lah yang menelfon.
beberapa saat kemudian mereka sampai disebuah restoran, Febriyan membantu Nadia untuk turun dan mulai mendorong kursi rodanya. saat memasuki restoran Nadia menjadi perhatian semua orang, banyak orang yang mencemooh dirinya.
"hei lihatlah wanita itu cacat."
Febriyan marah dengan itu rasanya dirinya ingin memukul semua orang yang ada disana, tapi Nadia memegang tangannya dan tersenyum.
"kita pergi saja. jika kau merasa tidak nyaman!' ucap Febriyan.
"tidak, aku baik baik saja. ayo mulai pesan es krimnya, Bagas pasti menunggu." Bagas tersenyum dengan perkataan Nadia, Febriyan pun mengiyakan.
"Bagas jangan makan terlalu banyak ya... nanti kamu demam.." Bagas hanya mengangguk dengan perkataan Nadia dan asik memakan es krim, lagi lagi hp Nadia berdering bertuliskan nama hubby tapi Nadia tidak mengetahui nya.
beberapa waktu kemudian mereka telah selesai memakan eskrim, Febriyan meninggalkan Nadia dan Bagas untuk membayar dikasir. Bagas sedang berlari kesana kemari, Nadia bingung dibuatnya.
pyarr...
Bagas menabrak seseorang yang membawa makanan, Nadia memajukan kursi rodanya untuk menghampiri Bagas.
"Bagas kamu gak papa kan sayang?" ucap Nadia Bagas hanya menggelengkan kepala dan berdiri mendekati Nadia
"maafkan putraku, papanya akan mengganti ini!" ucap Nadia.
"hei apa kau tidak bisa menjaga putramu, bagaimana bisa kau membiarkan putramu berlarian!" ucap seseorang disana
__ADS_1
"bagaimana bisa, dia berdiri mengambil putranya saja tidak bisa..."
"kau pasti menyusahkan suamimu, awas saja suamimu itu berpaling pada wanita lain." semua orang disana tertawa, Nadia menunduk akan menangis.
bruaakk!!!.
sebuah meja terbalik dengan semua isi diatasnya, semua orang terkejut bahkan Nadia pun terkejut. terlihat Kara berdiri dengan kemarahan disana, Nadia tidak percaya Kara datang. Kara melangkah mendekati Nadia. setelah dekat Kara berlutut dihadapan Nadia dan menghapus air mata Nadia yang akan jatuh.
"k..kau kenapa ada disini..." Kara tersenyum mendengar perkataan Nadia.
"apa aku tidak boleh menemui istriku?" Nadia hanya menggelengkan kepala, Kara berdiri menghadap kearah orang yang menertawakan Nadia sebelumnya.
"bukankah itu KR?"
"iya benar, itu KR apa dia itu istrinya."
"benar! kalian mengenal aku, kenapa kalian tidak mengenal istriku. dia, dia adalah istriku istri dari KR yang kalian hina. apa untungnya kalian menghina nya, apa kalian mendapatkan penghargaan dengan menghinanya. memang orang jaman sekarang bisanya hanya berucap tapi tidak berpikir." Kara berlutut dihadapan Nadia.
"wanita dihadapan ku ini sangat mulia, dia adalah wanita yang kuat. dia bahkan tidak pernah mengeluh dengan apapun yang terjadi padanya, aku beruntung mendapatkannya. kalian tadi bilang suaminya akan berpaling pada wanita lain, itu tidak akan terjadi, suaminya akan selalu menemaninya sampai kapanpun." Nadia menangis dengan perkataan Kara, Kara menghapus air mata itu.
"terima kasih, terima kasih Kara..." ucap Nadia mencium tangan Kara, Kara tersenyum dengan itu. semua orang terdiam dengan perkataan Kara, mereka satu persatu keluar dari restoran itu.
"kau!" Kara melihat Febriyan yang berdiri menggendong Bagas, Kara menghampiri Febriyan.
"siapa yang menyuruhmu untuk membawanya pergi hah!" Febriyan takut dengan kemarahan Kara, ia langsung mengarahkan Bagas kearah Kara.
"oh.. kau takut padaku. jadi kau menyerahkan putramu." Kara menggendong Bagas dan memukul perut Febriyan.
"Kara kenapa kau memukul ku, akhh.." ucap Febriyan.
"pelajaran untukmu, meninggalkan istriku sendirian." Kara tertawa membawa Bagas pergi dalam gendongannya dan mendorong Nadia keluar meninggalkan Febriyan sendirian.
didalam mobil Kara masih menggendong Bagas yang tertidur pulas, untung saja Kara membawa supir saat datang.
"bagaimana kamu tahu aku ada direstoran itu?" Kara tersenyum mengusap rambut Nadia.
"aku melacak gps mu, jika hpmu itu tidak berguna kau buang saja bagaimana?" Nadia bingung dengan perkataan Kara
"lihat hpmu istriku," Nadia terkejut saat melihat panggilan tak terjawab dari Kara begitu banyak, Nadia tersenyum bodoh.
"maaf kan aku.." Kara gemas dengan Nadia yang tersenyum bodoh, Kara pun mengalihkan pandangannya kearah luar mobil.
setelah beberapa menit mereka sampai dirumah, Kara memberikan Bagas pada Nadia dan dirinya mendorong kursi roda Nadia.
"Kara!!!"
__ADS_1
suara seorang wanita memanggil nama Kara, Kara mengenali suara itu saat ia melihat asal suara itu, seorang wanita langsung memeluk dirinya. Kara terkejut begitu juga dengan Nadia, Kara mendorong wanita itu.
"kamu!!"