My Love Story 2

My Love Story 2
89. flashback


__ADS_3

2 hari berikutnya semua berjalan seperti aktivitas biasanya, semua orang melihat sifat Nadia yang sudah kembali seperti dulu pada Kara. Vano ikut merasakan senang dengan itu, terlihat pak Wijaya dan ibu Kumala datang karena mendengar kabar dari Kara, semua keluarga dikumpulkan termasuk Vano.


"jadi kalian mau rujuk kembali?" tanya pak Wijaya, Kara menatap Nadia.


"iya pa, demi cinta kami dan putri kami Naira!" saut Kara, Nadia tersenyum.


"maafin Nadia pa, jika Nadia tidak pergi waktu itu, mungkin tidak akan seperti ini!" ucap Nadia, saat Nadia ingin menangis Kara memegang tangannya dan tersenyum.


"itu sudah terjadi, itu semua juga kesalahan kalian yang tidak mau dibicarakan baik baik. karena ego kalian seperti itu, dan sekarang adalah hal baik kalian bisa menyadari semuanya. lupakan masa lalu, buat masa depan kalian dengan kebahagiaan." saut pak Wijaya, terlihat semua orang sangat senang dengan itu.


"Nadia bagaimana dengan orang tua mu?" tanya pak Wijaya.


"papa dan mama ada di Amerika, sebelumnya mereka sudah mengetahui semuanya pa. mereka berharap yang terbaik buat Nadia, jadi keputusan semuanya diserahkan pada Nadia. sekarang Nadia berharap papa bisa melakukan semua ini, membuat keputusan yang terbaik buat kami." jawab Nadia tersenyum kearah Kara, pak Wijaya melihat cinta dan kasih sayang dari keduanya.


"keputusan papa kalian harus bersama untuk kebahagian kalian bukan hanya itu, untuk kebahagiaan Naira putri kalian." ucap pak Wijaya tersenyum.


"jadi pa, kami boleh menikah lagi?" tanya Kara, semua orang terdiam mendengar pertanyaan Kara yang bodoh.


"tapi ada syaratnya..." jawab pak Wijaya membuat semua orang menunggu. begitu juga dengan Kara dan Nadia.


"apa syaratnya?" tanya Kara.


"kamu harus membahagiakan keluarga kecilmu, jangan pernah menyakiti istrimu. jika kalian ada masalah bicarakan baik baik, jangan turuti ego kalian." jawab pak Wijaya, semua orang merasa bahagia.


"satu lagi, bahagiakan cucuku. jika cucuku menangis, aku tidak akan diam." ucap pak Wijaya lagi, Kara tersenyum.


"tentu, Kara akan menjaga keluarga kecil Kara. Kara akan membahagiakan mereka selagi Kara bisa pa, aku tidak akan membuat mereka menangis kecuali menangis karena bahagia." ucap Kara melihat Nadia dan memegang tangannya.


"Nadia aku berjanji kali ini aku akan membahagiakan kalian, kalian adalah prioritasku. bukan hanya sekarang, tapi juga besok dan selamanya." Nadia tersenyum dengan itu.


"iya Kara, aku percaya padamu." saut Nadia, mereka saling melempar senyum.


"haiihh... kalian mengingatkan aku selagi masih muda, benarkan istriku." ucap pak Wijaya, ibu Kumala mengangguk. mereka semua tertawa dengan itu.


"kalian akan menikah sebelum mama dan papa pergi ke Surabaya, jadi kalian akan menikah 2 minggu lagi. kita persiapkan semuanya mulai sekarang," semua orang mengiyakan.

__ADS_1


" aku memberikan tugas pada mu, bukan hanya Kamu tapi kalian semua juga untuk menjaga rumah ini kelak, kami sudah tua. kedua kakak mu itu sudah memiliki kehidupan masing masing, jadi kalian jangan pernah bertengkar dengan masalah apapun. untuk Vano tetap menjadi bagian dari keluarga kami." ucap pak Wijaya pada Kara dan Vano.


"iya om, saya janji. saya akan membantu kalian semua menjaga rumah ini, terima kasih sudah menganggap saya sebagai keluarga." ucap Vano, pak Wijaya berdiri dan memeluk Vano. semua orang merasa senang.


"jadi kapan kamu mengenalkan padaku seorang wanita, hm?" ucap pak Wijaya, Vano terdiam dengan itu, tiba tiba saja ingatannya mengingat Amelia dan Adnan.


"Vano?" panggil ibu Kumala, Vano pun tersadar.


"pasti memikirkan wanita itu?" saut Nadia, Vano menatapnya.


"oh ternyata sudah ada, tinggal berkenalan saja." ucap pak Wijaya, mereka semua tertawa saat Vano tidak bisa menjawab ejekan dari mereka.


****


siangnya Vano pergi kekantor, Vano selalu melewati jalan yang biasa ia lewati. jalanan itu melewati apartemen milik Amelia, Vano sekilas melihat apartemen itu. entah perasaan apa yang membuat Vano ingin sekali mengunjungi Amelia, Vano memutuskan untuk berputar arah dan pergi ke apartemen Amelia.


saat sudah memarkirkan mobilnya Vano menaiki lift untuk sampai dikamar Amelia, setelah lift terbuka Vano melihat keributan beberapa orang. Vano terkejut saat melihat Amelia yang memeluk anaknya, dan beberapa pria berusaha merebut anak itu.


"hentikan!!" ucap Vano berlari kearah mereka, Vano memukuli mereka satu persatu. meskipun mereka membalas, Vano tetap memukul mereka.


"pergi, jangan pernah sentuh mereka lagi!!" teriak Vano, beberapa pria itu pun berjalan meninggalkan apartemen Nadia.


"kalian baik baik saja?" ucap Vano, Amelia dan Adnan menoleh kearah Vano. Vano tersenyum kearah mereka, Amelia memperhatikan wajah Vano yang terluka akibat pukulan


"maafkan aku, kamu terluka. masuklah, akan kuobati." ucap Amelia, Vano memegangi pipinya sedikit nyeri dan memar.


Adnan duduk disofa bersama Vano, sedangkan Amelia sibuk mencari kota p3k. Vano mendekati Adnan yang sedari tadi diam, Vano ingin sekali tahu siapa beberapa pria yang datang itu.


"apa kamu tidak apa?" tanya Vano, Adnan hanya terdiam melihat luka di wajah Vano.


"aku baik baik saja, ini hanya luka kecil." ucap Vano tersenyum, Adnan pun tersenyum tipis.


Amelia menghampiri Vano dengan membawa kotak p3k, Amelia mulai membersihkan luka pada wajah Vano. Amelia sadar kalau Vano terus memperhatikan putranya, Amelia mulai menangis.


"hei kenapa kamu menangis?" tanya Vano menyeka air mata itu, Amelia tersenyum.

__ADS_1


"terima kasih, jika tidak ada kamu mungkin mereka akan membawa putraku." ucap Amelia, Vano masih heran


"siapa mereka, kenapa mereka ingin merebut anakmu. dan juga kenapa kamu harus pergi dari London kemari, apa mertuamu mengusirmu setelah suamimu meninggal?" tanya Vano, Amelia berdiri dan membelakangi Vano.


"ya, kamu benar. 9 tahun yang lalu aku menikahi suamiku diumur 22 tahun, tapi suamiku meninggal karena kecelakaan."


Flashback


disuatu tempat di kota Jakarta, terdapat sebuah taman yang sangat indah dan juga damai. terlihat dua orang sedang duduk merasakan sejuknya angin disore hari itu, yang tidak lain Amelia dan sahabatnya Adnan.


"Amelia menikahlah denganku?" Amelia terkejut saat Adnan mengatakan itu.


"apa yang kamu katakan, jangan bercanda." saut Amelia, Adnan memegang tangan Amelia.


"aku tidak bercanda, sebenarnya aku mencintai kamu. kita telah berteman sejak sma, aku merasa hanya kamu yang cocok denganku, bagiku kamu bukan hanya seorang teman dan sahabat." ucap Adnan, Amelia berdiri membelakangi Adnan.


"mami mu tidak akan menerimaku, dia hanya menganggap aku sebagai temanmu. aku hanya gadis biasa, kamu bisa memiliki gadis yang lebih tinggi dariku." ucap Amelia, Adnan memegang bahu Amelia.


"aku yakin mamiku akan suka padamu, aku tahu kamu memiliki perasaan padaku. biarkan aku menikahimu, biarkan kita menjadi sahabat dan pasangan." ucap Adnan memegang kedua pipi Amelia.


"katakan apa kamu mencintaiku?" tanya Adnan lagi, Amelia memegang lengan Adnan.


"iya, aku sangat mencintaimu." ucap Amelia, Adnan sangat bahagia. mereka pun berpelukan.


keesokan harinya Adnan membawa Amelia kerumah besarnya. disana Amelia merasa sangat takut saat masuk kedalam rumah itu, memang bukan pertama kalinya dia masuk tapi kali ini berbeda.


"ayo, jangan gugup. bukan kah sudah biasa bertemu mami ku?" ucap Adnan, Amelia mengangguk.


mereka berjalan memasuki rumah itu, terlihat Rosa mami dari Adnan sedang duduk membaca majalah. Rosa melihat putranya datang dengan Amelia, ia tersenyum.


"mi ada yang ingin Adnan katakan pada mami!" ucap Adnan, Amelia sangat gugup.


"katakan sayang!" ucap Rosa tersenyum.


"Aku ingin menikahi Amelia." ucap Adnan, Rosa terkejut dan terdiam tidak menjawab.

__ADS_1


Amelia dan Adnan saling memandang menunggu jawaban dari Rosa, beberapa menit kemudian Rosa berdiri dan meletakkan majalah yang ia pegang. Rosa berjalan menghampiri mereka berdua, Amelia masih sangat gugup.


"tidak, kamu tidak boleh menikahi gadis kotor ini."


__ADS_2