
Nadia pergi menaiki taksi, beberapa menit kemudian Nadia sampai ditempat yang dikatakan Vano. Nadia terkejut saat disana restoran itu tidak ada satu pun orang, seorang pelayan datang dan menyuruh Nadia duduk di meja yang sudah dipesan untuknya, beberapa menit terlihat Vano datang dengan elegan menghampiri Nadia.
"ada apa ini?" tanya Nadia dengan ketus, Vano tersenyum.
"saya berterima kasih, kamu mau datang." ucap Vano, mereka duduk.
"Vano katakan pada saya, apa syarat mu. jangan bermain main seperti ini, kenapa harus menyewa restoran ini?" ucap Nadia, Vano tetap tersenyum.
"baiklah, saya akan memberitahu kamu sekarang. saya ingin membantu Kara dan kamu setuju, tapi saya meminta syarat pada kamu. syaratnya temani saya hari ini, setelah ini saya tidak akan bertemu dengan kalian terutama padamu." jelas Vano tersenyum, Nadia terkejut.
"maka sekarang ijinkan saya seperti ini sekali saja untukmu, sebelum kita tidak saling bertemu." ucap Vano, Nadia terdiam.
"kamu tahu, jika Kara tahu tentang ini dia tidak akan diam." saut Nadia hendak pergi, Vano mencegahnya.
"jangan pergi saya mohon, saya tahu ini salah, tapi saya hanya ingin ini mengatakan sesuatu padamu hari ini." ucap Vano, Nadia menatapnya.
"saya tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan, apa kamu berniat menjadi orang ketiga dalam hubungan kami?" tanya Nadia.
"tentu tidak, saya tidak ingin menjadi orang ketiga. saya hanya meminta ini untuk syarat, setelah itu saya akan pergi dari kehidupan kalian!" saut Vano, Nadia hendak pergi Vano menarik tangan Nadia.
"saya ingin minta maaf padamu Nadia, maafkan kesalahan saya dimasa lalu, maafkan kesalahan saya waktu itu. saya ingin mendengar kamu telah memaafkan saya, karena semua itu menjadi beban rasa bersalah saya selama ini." jelas Vano, Nadia menatap Vano.
"apa yang kamu lakukan dimasa lalu atau pun waktu itu tidak bisa dimaafkan tapi saya masih bisa memaafkan kamu. " ucap Nadia.
"saya harus pergi, saya akan menceritakan semua ini pada Kara. termasuk kamu yang menolong nyawa Kara, entah saya tidak tahu apa yang akan dilakukan Kara setelah tahu itu. saya juga berterima kasih tentang itu." ucap Nadia,
"terima kasih telah memaafkan saya, terima kasih." ucap Vano,
"saya memaafkanmu karena ingin melupakanmu." ucap Nadia setelah itu pergi meninggalkan Vano.
Nadia tidak tahu kalau dari jauh Kara melihat kejadian seperti itu, Kara berdiri dengan marah ketika melihat restoran itu yang terkesan romantis untuk pasangan.
"Nadia, beraninya kamu menemuinya lagi seperti ini." ucap Kara dengan kemarahan ia melajukan mobilnya untuk kembali kerumah.
Nadia pulang kerumah dan tidak melihat siapapun, Nadia berpikir semua orang tertidur. sampainya dikamar Nadia belum melihat Kara, dan berpikir Kara belum pulang. Nadia masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah beberapa menit Nadia keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Kara yang sudah berdiri depan pintu.
"Kara aku menunggumu dari tadi, Kara aku ingin mengatakan sesuatu padamu." ucap Nadia tersenyum, tapi tidak dengan Kara yang terlihat marah.
"aku sudah tahu." saut Kara, Nadia heran. Kara mengunci pintu.
"aku tahu kamu kemana hari ini, dan melakukan apa hari ini." ucap Kara lagi, Nadia terkejut. ia berpikir Kara tahu kalau dirinya telah pergi kerestoran bersama Vano.
"Kara kamu melihatku direstoran?" tanya Nadia
"iya, aku melihatmu dan aku juga melihat apa yang kalian lakukan disana!" saut Kara, Nadia terkejut karena Kara tidak mendengar apa yang Nadia dan Vano bicarakan.
"Kara dengarkan aku," Nadia memegang tangan Kara, tapi Kara menepis kasar tangan Nadia.
"kau diam diam bertemu denganya, hal romantis seperti itu seharusnya kau katakan saja padaku. apakah kau masih mencintainya?" tanya Kara, Nadia terkejut mendengar itu.
"Kara kenapa kamu mengatakan ini, aku datang kesana karena dia ingin meminta maaf padaku, dan.."
"dan kau memaafkannya karena kau masih memiliki hati untuknya, cinta pertama sulit untuk dilupakan, benarkan Nadia?" Nadia semakin menangis mendengar perkataan Kara.
"iya aku memaafkan nya bukan karena itu, karena aku ingin melupakannya."
"jadi selama ini kamu belum melupakannya?" tanya Kara mengepalkan tangannya, Nadia berpikir Kara semakin salah paham padanya.
"kenapa kau diam, katakan padaku apakah kau belum melupakannya selama ini?" tanya Kara memegang bahu Nadia dengan kasar, Nadia menangis dan tidak menjawab.
"benar, benar dugaanku." ucap Kara lagi, ia melepas bahu Nadia dengan kasar.
"Kara tidak seperti itu.. hiks..." ucap Nadia menangis,
"apakah ini sebuah penghianatan Nadia, kamu telah membohongiku." ucap Kara menangis, dimata Kara terdapat kesedihan dan kemarahan menjadi satu.
"tidak, aku tidak menghianatimu." saut Nadia,
"kenapa kamu sangat marah seperti ini, dengarkan aku sekali." ucap Nadia lagi, Kara menepis tangan Nadia.
"aku tidak ingin melihatmu, pergilah dari hadapanku, pergilah!" teriak Kara, Nadia terkejut Kara sekasar itu padanya. Nadia menangis mengingat perkataan Kara yang tidak akan menyuruhnya menjauh.
"apakah kamu menyuruhku untuk menjauh,?"
"ya menjauhlah dari ku, aku benci orang yang berkhianat padaku, pergilah." teriak Kara lagi, Nadia sangat terluka mendengar itu Nadia menangis. Kara pergi dari kamarnya, meninggalkan Nadia yang menangis.
"kenapa kamu tidak... mendengar.. kan aku Kara, dengarkan aku sekali saja." ucap Nadia menangis.
Nadia menunggu kepulangan Kara, Nadia berpikir Kara sedang marah jadi Nadia akan jelaskan setelah Kara kembali. jam menunjukan pukul 3 dini hari, tapi Kara tidak juga datang. Nadia khawatir Kara berbuat hal yang tidak baik dalam kemarahan, Nadia menelfon Kara berulang kali tapi tidak ada jawaban.
"Kara jawab, aku mohon Kara.." Nadia berusaha menelfon Kara.
Kara sedang duduk disebuah bar, Kara menenangkan dirinya dengan minuman. Kara terlihat frustasi saat berpikir melihat Nadia dan Vano direstoran, Kara minum disana hingga dirinya tidak sadarkan diri.
siang hari datang dan masuk pada jendela kamar Nadia, Nadia terbangun dan terkejut hari sudah siang. Nadia mencari keberadaan Kara dan tidak ada tanda tanda kehadiran Kara, Nadia melihat hpnya dan melihat Kara mengirim pesan untuknya.
"nyonya datanglah ke hotel bintang, kamar nomer 203 suamimu berada disana, dia mabuk semalam sampai tidak sadarkan diri."
Nadia terkejut melihat pesan itu, Nadia berlari kearah kamar mandi dan bersiap menyusul Kara. Nadia meluar dari rumah tanpa pamit, menuju hotel keberadaan Kara.
__ADS_1
Nadia sampai dihotel, Nadia mencari kamar yang diberitahu pada pesan itu. saat sampai dikamar itu Nadia langsung membuka kamar itu, Nadia terkejut saat melihat Kara tidur dengan seorang wanita disebelahnya.
"Kara..." ucap Nadia menutup mulutnya dan menangis, Nadia pergi dari sana.
Nadia menangis saat keluar dari hotel, Nadia tidak pernah berpikir Kara melakukan ini padanya. Nadia bahkan tidak memperdulikan tatapan semua orang. saat sampai dirumah Nadia masuk kedalam kamarnya dan mengemas barang barangnya, Risa yang melihat itu menghampiri Nadia.
"Nadia kamu kenapa, mau kemana kamu?" tanya Risa, Nadia menangis mengemas barang barangnya.
"Nadia katakan sesuatu?"
"tidak ada yang perlu dikatakan!" saut Nadia menangis, semua orang yang ada dibawah mendengar suara Nadia, segera menghampiri Nadia.
"ada apa ini, Nadia kamu mau kemana nak?" tanya ibu Kumala, Nadia menangis semakin keras.
"mama... hiks.. "
***
Kara terbangun, kepala nya terasa sangat berat. Kara melihat sekeliling, dan ia tidak ingat apa yang terjadi padanya. tiba tiba seorang wanita keluar dari kamar mandi, Kara terkejut.
"siapa kau?" tanya Kara, wanita itu tersenyum.
"maaf, aku sudah membawamu kesini. dan aku sudah mengirim pesan pada istrimu, dan maafkan aku, aku tertidur disampingmu." jelas wanita itu.
"apa terjadi sesuatu?" tanya Kara menatap tajam.
"oh ayolah, aku bukan wanita murahan. tidak terjadi apapun pada kita, aku menunggu kau bangun sampai malam. oh iya aku pergi dulu dan tunggulah istrimu." saut wanita itu lalu pergi dari sana.
Kara terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan malam hari Kara keluar dari hotel itu, semua orang menatapnya. banyak orang berbisik tentang dirinya.
"aku melihatnya tadi pagi, wanita itu keluar dan menangis, pasti itu istrinya." ucap seorang wanita.
"bukan kah itu KR, ya ampun dia bermain wanita." ucap lainnya,
Kara terkejut dan mengingat wanita yang bersamanya mengatakan telah mengubungi Nadia. Kara mengingat kejadian semalam yang telah emosi pada Nadia, Kara segera meninggalkan hotel itu.
dirumah Nadia menceritakan semuanya tentang Vano bahkan tentang semalam yang terjadi, ibu Kumala menenangkan nya. Nadia berpamit pergi, semua orang mencegahnya.
"Nadia jangan pergi, ini hanya salah paham."
"Nadia dengarkan tante Kumala, kami disini sangat menyayangimu." ucap Risa, Nadia memeluk Risa.
"Nadia ini salah paham." ucap Febriyan, Nadia menggelengkan kepala.
"iya, tapi tidak dengan Kara, Kara tidur dengan wanita itu." ucap Nadia berjalan membawa tas, disaat itu juga Kara datang dan berlari kearah Nadia.
"benarkah, tidur dengan wanita seksi dihotel, tanpa baju. apa kamu bersenang senang sampai malam baru pulang!" ucap Nadia, Kara melihat kebencian dimata Nadia.
"bukan seperti itu, Nadia dengarkan aku." Nadia berdiri mengambil tasnya.
"apakah kamu pernah mendengarkan aku sekali saja, Kara kau menyakitiku, aku sangat terluka Kara." ucap Nadia menangis.
"saat aku ingin menjelaskan semuanya kau marah dan pergi, lebih parahnya kamu tidur bersama wanita lain dihotel. kau sangat menjijikan sangat menjijikan Kara..." ucap Nadia berteriak dan menangis.
"Vano menyelamatkan nyawamu, Vano membuat syarat untuk tidak bertemu denganku lagi agar kita bisa bahagia, kau malah menuduhnya yang tidak tidak, bahkan dia lebih baik darimu. kau yang mengkhianatiku, kau berkhianat padaku." teriak Nadia lagi, Kara terdiam.
"kau mau kemana?" tanya Kara melihat koper besar milik Nadia.
"aku akan menjauh darimu, kamu tidak ingat apa yang kamu katakan semalam." Kara mengingat perkataan yang menyuruh Nadia pergi.
"tidak tidak aku mengatakan itu karena marah, Nadia maafkan aku." Kara memegang tangan Nadia.
"lepaskan tanganku, sekarang kamu tidak berhak menyentuhku." ucap Nadia
"sesuai permintaanmu aku akan pergi, aku akan menjauh darimu. bukankah dulu aku mengatakan jika kamu menyuruhku menjauh, aku akan menjauh darimu, aku tidak akan ada dihadapanmu lagi." ucap Nadia menahan tangisnya, Kara meneteskan air mata.
"Nadia jangan tinggalkan aku, aku mohon!" ucap Kara memohon dan menangis.
Nadia terus berjalan melangkah keluar, Nadia menangis.
"berhenti!" teriak Kara, Nadia menghentikan langkahnya.
"jika kau sekali lagi melangkah keluar, jangan pernah kembali lagi!." teriak Kara mengancam.
Nadia tersenyum dalam tangisnya, Nadia melangkahkan kakinya keluar rumah. semua orang terkejut bagitu juga dengan Kara, ibu Kumala menangis dalam pelukan Risa.
"Kara kejar dia, kalian hanya salah paham." teriak ibu Kumala, Kara masih terdiam. Febriyan menghampiri Kara dan dengan cepat memberikan pukulan pada Kara.
"brengsek, kejar dia atau kau akan kehilangan dia!" teriak Febriyan, Kara menangis.
"aku tidak sungguh sungguh mengatakan itu, Nadia memang ingin pergi dariku!" ucap Kara berdiri lalu berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu dengan keras.
Nadia menangis meninggalkan rumah Kara, Nadia tidak pergi kerumah ibunya malah pergi menjauh dari kedua rumah itu. Nadia menangis saat mengingat hal kebersamaan nya bersama Kara, Nadia semakin terluka mengingat Kara tidur dengan wanita lain. Nadia memegang perutnya, ia berpikir belum sempat mengatakan pada keluarga nya tentang kehamilan kedua nya.
"mama.. akan menjagamu sayang... hiks.. mama akan berusaha itu..." ucap Nadia menangis,
Nadia hilang dalam pikirannya, Nadia berjalan tanpa tahu ia berjalan ditengah tengah jalan raya. tiba tiba sebuah mobil ingin menabrak dirinya, beruntungnya mobil itu tepat berhenti dihadapan Nadia.
"hei apa yang.. Nadia?" ucap seorang pria, mendengar namanya dipanggil Nadia tersadar dan melihat.
__ADS_1
"Nadia kenapa kamu disini, dan apa ini?" ucap pria itu, Nadia menatap dan menangis.
"Nadia saya akan mengantarmu pulang,!" Nadia menolak, saat ingin pergi Nadia merasa pusing dan tidak sadarkan diri.
"Nadia.. buka matamu, Nadia!!"
****
4 bulan berlalu Kara yang terluka dengan kepergian Nadia menjadi orang yang pendiam, Kara hanya menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Kara mendapat telfon bahwa Risa akan melahirkan dan sudah dibawa kerumah sakit, Kara datang dan melihat Febriyan disana.
"bagaimana?" tanya Kara, Febriyan terlihat cemas.
"entah, kelahirannya awal. dokter bilang harus melakukan operasi, karena itu aku sangat cemas." saut Febriyan Kara duduk mengatur nafasnya.
"Kara, apa kau tidak mencari Nadia?" Kara menatap Febriyan yang tiba tiba menyebut Nadia.
"keluarga Nadia tidak tahu putri mereka telah pergi, bahkan keluarga Nadia tidak ada dirumah, mereka sedang ada di amerika. pikirkan jika mereka tahu, putri mereka pergi karena masalah kalian!" jelas Febriyan, saat Kara ingin menjawab dokter keluar menghampiri Febriyan.
"selamat kau sudah menjadi ayah, anakmu perempuan yang mungil, kau boleh menemui istrimu dan putrimu." ucap dokter, Febriyan bahagia dan memeluk Kara. mereka masuk untuk melihat Risa dan bayinya.
Febriyan menangis saat mengumandangkan adzan dan menggendong putri kecilnya terlihat tangis bahagia dimatanya. Kara tersenyum dan ikut merasakan kebahagiaan mereka, Risa terharu melihat Febriyan.
"Risa terima kasih, aku sangat bahagia. bayi ini sangat imut, sama sepertimu. papa cinta padamu sayang, unchh.." ucap Febriyan mencium putrinya dengan gemas, Risa tersenyum.
"berapa usiamu, kenapa kau jadi seperti Bagas." saut Kara, Risa tertawa pelan.
"Kara cari Nadia, kita akan bahagia bersama." ucap Risa, Kara tampak berpikir.
"kalian hanya salah paham, kalian harus menyelesaikan masalah kalian dengan kepala dingin." saut Febriyan juga, Kara mengingat kebersamaan nya bersama Nadia.
"apa dia akan memaafkan aku?" ucap Kara, Febriyan dan Risa tersenyum. Kara keluar dari sana ia mencoba mencari Nadia, tidak tahu dimana Nadia dia akan mencari Nadia.
secara bersamaan Kara dan Vano datang dari arah yang berlawanan, mereka saling menatap. Vano sedikit terkejut melihat kedatangan Kara, Kara menatap Vano.
"Kara kau salah paham!" ucap Vano, Kara menghentikan langkahnya.
"Kara, Nadia tidak bersalah aku yang bersalah. dan kenapa kau melakukan itu padanya." ucap Vano lagi.
"kau tahu?" tanya Kara.
"ya aku tahu semuanya, dia juga pergi meninggalkanmu." Kara terkejut Vano mengetahuinya.
"aku akan mencarinya!" saut Kara lalu pergi, Vano terdiam melihat Kara.
"Reno cari tahu keberadaan Nadia, aku ingin menemukannya." ucap Kara pada telfon, Vano mendengar itu.
"Kara kau sangat egois, dengan sifatmu seperti ini kau tidak akan menemukan Nadia, kepastikan itu." gumam Vano melangkah pergi.
Vano masuk kedalam ruang pemeriksaan ibu hamil, Vano tersenyum melihat seorang wanita sedang duduk.
"jadi apa jenis kelaminnya?" tanya Vano tersenyum.
"hm.. perempuan, dan sangat aktif kata dokter!" saut seorang wanita.
"haha.. sabarlah, saya akan membantumu." ucap Vano, wanita itu sedang hamil.
"bayinya sangat sehat, tolong jangan dibuat stres ya pak." Vano mengangguk, wanita itu tersenyum. mereka keluar dari sana, Vano berjalan dibelakang wanita itu.
"terima kasih, jika malam itu bukan kamu, saya tidak tahu apa yang akan terjadi." ucap nya, Vano tersenyum.
"sudahlah, saya yang terima kasih. kamu mau dengan kebaikan saya, dan kamu mau memaafkan saya." saut Vano, wanita itu terus tersenyum
"kenapa kamu memaafkan saya, jika bukan karena saya kamu tidak akan seperti ini." tanya Vano.
"lupakan itu, ini takdir tidak ada yang bisa disalahkan." jawab wanita itu.
"apa kamu tidak berniat kembali padanya?" tanya Vano, wanita itu mengelus perutnya.
"tidak, saya masih terluka dengan semua yang dia lakukan, lagi pula dia yang menyuruhku untuk pergi, dan juga ini kemauannya. saya akan berusaha membesarkan putri saya, meskipun sendirian." jawab wanita itu.
"saya akan pergi ke bandung, saya ingin kamu ikut denganku. apa kamu setuju?" ucap Vano, wanita itu berhenti dan menatap Vano.
"pergilah, saya tidak mau merepotkan kamu Vano."
"tidak, tolong ikut denganku, saya tidak bisa melihatmu sendirian tanpa seseorang." Vano berusaha meyakinkan.
"baiklah, kebaikan seseorang tidak boleh diabaikan!" Vano tersenyum, mereka melanjutkan langkah mereka pergi dari rumah sakit.
"mari kita berteman." ucap Vano.
"baiklah, mari berteman. lupakan masa lalu.." wanita itu menerima uluran tangan Vano, Vano tersenyum dan bersyukur.
Kara aku tidak bermaksud dengan ini, aku hanya ingin menolongnya.
secara bersamaan Kara keluar dan melihat seseorang yang di carinya, saat Kara hendak ingin menghampiri oramg itu, Kara melihat dia masuk kedalam sebuah mobil. Kara terkejut melihat Vano yang keluar, membuka kan pintu untuk orang tersebut. Kara sangat marah, dan menelfon Reno.
"halo, tidak perlu mencarinya. biarkan dia melakukan apa yang dia suka dan dia mau, tidak perlu susah mencarinya." ucap Kara lalu mematikan telfon itu.
"kamu yang mau ini, pergilah semoga kau bahagia." ucap Kara menghapus air matanya lalu pergi.
__ADS_1