
malam harinya dirumah Nadia sedang tidur didalam kamar bawah, setelah ibu Kumala membantunya berbaring Nadia siap tidur. saat ibu Kumala sudah keluar dari kamar itu Nadia membuka matanya dan melihat kearah jam.
"hm.. kenapa Kara tidak menelfonku!" ucap Nadia kesal melihat hp nya.
"apa dia melupakan aku, Kara memang menyebalkan sekali." Nadia memaki foto Kara yang ada dihpnya, beberapa saat kemudian Nadia terkejut dengan hp nya yang berdering, telfon yang ia nantikan telah hadir.
"hubby!!" ucap Nadia tersenyum, dan langsung mengangkatnya.
Nadia: "Kara apa kau melupakan aku!"
Kara: "Assalamualaikum ibu dokter."
Nadia: "hm.. maaf, Waalaikumsalam bapak bodyguard." Nadia menahan tawa, saat mengatakan Kara bodyguard
Kara: "apa aku seperti bodyguard?"
Nadia: "hahaha... tentu saja!"
Kara: "dasar kau! apa kau sudah makan?."
Nadia: "sudah, ibu tadi sudah membantuku."
Kara: "kau tidur dimana?"
Nadia: "hm.. aku tidur dikamar bawah, karena tidak mungkin ibu menggendongku keatas."
Kara: "oh.. itu lebih baik! apa kau menunggu telfonku?"
Nadia: "tentu saja!, eh.. maksudku kau kan sudah berjanji akan menelfonku saat sampai jadi aku menunggu."
Kara: "haha.. entahlah aku merindukanmu!" Nadia hanya diam tidak menjawab.
Kara: "Nadia apa sudah tidur?"
Nadia: "hm.. b..belum, tadi kau bilang apa?"
Kara: "apa kau merindukan aku?"
Nadia: "tidak!"
Kara: "haha benarkah, aku akan pulang secepatnya, aku berjanji!"
Nadia: "tidak perlu terburu buru, aku juga tidak terlalu merindukanmu."
Kara: "berarti kau merindukan aku meski tidak banyak" terdengar suara tawa Kara diseberang.
Nadia: "rasanya ingin kupukul kau dengan vas bunga!"
Kara: "baiklah, istirahat lah sekarang sudah malam."
Nadia: "aku ingin bicara banyak denganmu!"
Kara: "hm... baiklah, bersiaplah tidur tidak usah dimatikan telfonnya. kita akan mengobrol sampai kita tertidur bagaimana?"
Nadia: " iya, aku sudah bersiap tidur jangan mematikan telfon nya."
Kara: " iya ibu dokter. kita ganti video call saja."
Nadia: "oke!'
Kara mengganti telfon itu dengan video call, mereka mengobrol sepanjang malam, sampai akhirnya Nadia tertidur. Kara melihat wajah Nadia sudah tertidur pulas
"selamat malam Nadia!" ucap Kara, ia tertidur juga tanpa mematikan video call itu.
pagi harinya Nadia bangun, ia terkejut saat tangannya memegang hp nya saat tidur. Nadia melihat masih terhubung video call dengan Kara, Nadia memandang wajah Kara yang tertidur nyenyak.
"sudah puas mendangiku?" Nadia terkejut dengan suara Kara, Kara membuka matanya dan tersenyum.
"sejak kapan kau bangun?" tanya Nadia.
"sejak kau masih dialam mimpi." jawab Kara tersenyum.
"Kara aku akan membersihkan diri, kau harus bekerja disana dengan baik jangan sampai sakit atau telat makan."
"iya baiklah terima kasih, sampai jumpa istriku.."
"sampai jumpa suamiku."
setelah Kara mematikan Nadia menggapai charger dan memasangnya, Nadia bingung bagaimana dia akan kekamar mandi kalau dirinya saja tidak bisa berdiri.
"hai butuh bantuan?" Risa mengejutkan Nadia, Nadia pun mengangguk.
"hm... aku tahu kau pasti butuh. karena itu aku kesini!" Risa mulai mengangkat Nadia duduk dikursi roda.
"hm.. terima kasih Risa, aku akan mandi sekarang." Risa mengangguk, Nadia masuk kedalam kamat mandi.
__ADS_1
Risa memilih untuk menunggu Nadia, ia duduk dikursi tanpa sengaja hp Nadia menyala mendapat pesan dari Kara, Risa mengambil hp itu dan melihatnya.
Hubby : istriku makan yang banyak, aku tidak mau saat aku pulang badanmu kurus. <3
Risa kesal dengan itu, ia *** hp Nadia dengan kebencian.
"aku yang pantas untuk Kara, bukan dirimu wanita cacat. lihat saja akan kubuat kau celaka lebih dari ini." gumam Risa melihat foto Nadia
setelah beberapa menit Nadia keluar dari kamar mandi mendapati Risa yang memegang hp nya, Nadia pun menghampiri Risa.
"Risa ada apa?" Risa terkejut ia langsung melihat kearah Nadia.
"em.. hpmu tadi berbunyi jadi aku mengeceknya!" Risa memberikan hp itu pada Nadia.
"oh ini pesan dari Kara, Risa aku sudah selesai ayo kita hampiri mama..."
"iya ayo..." Risa mendorong kursi roda untuk keluar.
diluar terlihat semuanya sedang duduk dimeja makan, menunggu Nadia untuk sarapan.
"pagi om,tante!" ucap Risa dengan membawa Nadia.
"pagi sayang, bagaimana kabarmu?" ucap pak Wijaya
"Risa baik om. Nadia duduk disebelah ku ya.." Nadia mengangguk pelan.
"Nadia kapan Kara kembali?" tanya pak Wijaya pada Nadia
"kata Kara dia kembali setelah satu minggu pa..." jawab Nadia, pak Wijaya hanya mengangguk.
"kita pergi ke puncak yuk, hari weekend!" ucap Risa tiba tiba.
"wah ide bagus!" jawab Nadia.
"Nadia inget gak ada Kara sekarang!" saut ibu Kumala
"Kara kan akan dibandung, nanti Nadia bilang ke Kara siapa tahu dia langsung nyusulin kesana!" jawab Nadia, pak Wijaya hanya manggut manggut saja.
"apa om setuju?" ucap Risa.
"ya.. aku setuju, selama kalian senang aku juga senang." jawab pak Wijaya, Nadia dan Risa sangat senang dengan itu.
pagi itu semuanya melakukan acara sarapan, setelah selesai terlihat pak Wijaya pergi ke kantor. Risa tetap menemani Nadia, ia membawa Nadia untuk duduk dihalaman rumah.
"hm.. udaranya sejuk karena mendung!" ucap Risa melihat langit.
"Nad aku akan mengambil selimut dulu, udara nya sangat dingin kita akan masuk angin nanti." Nadia mengangguk, Risa pun melangkah untuk masuk kerumah.
"ya.. tunggu saja aku, aku akan senang jika kamu sakit." gumam Risa tersenyum licik.
"kenapa Risa lama sekali, aku akan masuk saja." Nadia mulai mendorong sendiri kursi rodanya, karena halaman rumah itu beralaskan rumput Nadia susah mendorongnya.
"ya Allah susah ternyata, pasti Risa mendiringku sekuat tenaga." Nadia terus berusaha mendorong,
"akhh!!!"
saat berusaha mendorong roda itu melewati sebuah batu membuat kursi roda itu tidak seimbang, Nadia hampir saja jatuh jika seseorang tidak menahannya. Nadia melihat siapa yang sedang menahannya, dan ternyata itu Febriyan.
"ada apa denganmu, kenapa disini sendirian!" ucap Febriyan mencoba membantu Nadia dan mendorongkan kursi roda itu
"aku bersama Risa, tapi Risa masuk untuk mengambil selimut. aku berpikir untuk masuk saja." jelas Nadia.
"Risa?"
"iya Risa, teman Kara itu loh mas masak kamu gak kenal?" belum Febriyan menjawab Risa berlari kearah mereka.
"Nadia maafkan aku, aku mencoba mencari selimut tapi tidak ketemu lalu aku mendengar suaramu dari dalam apa kau baik baik saja?" ucap Risa, Nadia pun menggelengkan kepala.
"tidak kok, aku gak papa!"
"syukurlah, eh mas Riyan kapan datang?"
"baru saja, dengar diluar sangat dingin ayo masuk kedalam!" Febriyan mendorong kursi rida Nadia, Risa merasa kesal saat melihat Nadia tidak jadi jatuh, ia melihat semuanya diatas.
"Risa kapan datang?" tanya Febriyan
"kemarin mas." jawab Risa, Febriyan hanya ber oh saja.
"Riyan kapan datang?" tanya ibu Kumala menghampiri mereka.
"barusan tante!" jawab Febriyan mencium tangan ibu Kumala
"dimana Bagas?"
"Bagas ada disekolah, aku sedang tidak mengajar jadi aku kesini." ibu Kumala hanya beroh saja.
__ADS_1
"mas kita akhir pekan mau ke puncak, mas Riyan sama Bagas ikut ya.." ucap Nadia.
"eh.. emang Kara ngijinin?"
"hm.. Nadia belum bilang Kara, tapi nanti coba Nadia bilang!"
"hm.. oke deh kalau gitu, mas ngikut aja sekali sekali kita semua refreshing, Bagas pasti senang!" Nadia tersenyum dengan perkataan Febriyan, Risa tersenyum penuh arti.
entah lah kita akan bahagia atau tidak disana, Nadia Kara hanya milikku.
****
hari sabtu telah tiba keluarga itu siap pergi kepuncak, bahkan ibu dan ayah Nadia turut ikut serta. Nadia sedang memangku Bagas, Bagas memainkan rambut Nadia.
"Bagas mau jalan jalan ya.." ucap Nadia, Bagas tersenyum senang dan mengangguk.
"iya Bagas mau jalan jalan sama bunda, " Risa mendekati mereka yang sedang asik bicara
"kenapa dia memanggilmu bunda?" Nadia tersenyum kearah Risa.
"tentu aku suka panggilan itu." Risa memutar bola matanya.
"baiklah sudah siap semua, ayo masuk mobil dan kita berangkat." ucap pak Wijaya.
satu persatu dari mereka masuk kedalam mobil, Nadia diangkat oleh ayahnya untuk masuk kedalam mobil Febriyan. Febriyan, Bagas, Risa dan Nadia dalam satu mobil sedangkan ke empat orang tua itu ada dimobil lain.
"Nad, apa sudah bilang Kara!" ucap Febriyan, Nadia malah terdiam.
"Nad mas Riyan lagi ngomong?" ucap Risa saat Nadia hanya diam.
"hm.. Nadia belum bilang mas, Kara pasti gak ijinin kalau aku bilang."
"ya.. tapi mas udah bilang!" Nadia terkejut dengan apa yang dikatakan Febriyan.
"terus Kara bilang apa mas?"
"katanya dia minta maaf gak bisa nyusulin kita karena sibuk disana." Nadia nampak sedih, Risa tersenyum kemenangan.
"tenang Nad kan masih ada kita!" Nadia tersenyum kearah Risa.
setelah beberapa jam kemudian mereka sampai dipuncak dan tinggal divilla besar milik pak Adi yaitu ayah Nadia. semuanya memasukkan barang milik mereka masing masing dikamar, Nadia memilih tidur sendiri bersama Bagas.
sore itu Nadia duduk disebuah halaman villa itu, ia merasa sedih ketika Kara mengatakan pada Febriyan tidak bisa datang. lalu Risa menghampirinya dan memberikan Nadia teh.
"apa kau sedih Kara tidak datang?" Nadia tersenyum dengan pernyataan Risa.
"hm.. kau ini, apa Kara pernah bilang mencintaimu?" Nadia terkejut dengan perkataan Risa, memang pasalnya Kara tidak pernah mencintainya.
Risa mendorong kursi roda Nadia untuk berjalan jalan dan berbincang, jalan itu terkesan seperti jalan menanjak dan begitu banyak jurang di samping jalan itu. batin Risa ingin sekali melepas kursi roda itu agar menggelinding sendiri dan masuk kejurang bersama Nadia.
"hm.. Risa tidak perlu kesana, seperti nya jalannya licin!" ucap Nadia yang melihat jalan itu seperti licin.
"iya itu bahaya sekali jika sampai kita jatuh, atau mungkin kursi rodanya yang tergelincir!" Nadia mengangguk.
itu yang ku inginkan Nadia, kau tergelincir hingga jatuh kejurang, makan Kara akan menjadi milikku.
"Nad tunggu ya antingku terjatuh entah dimana?" ucap Risa mencari alasan.
"eh benarkah, iya carilah." Risa berpura pura mencari anting yang sebenarnya tidak jatuh sama sekali, tangan Risa melepas kursi roda Nadia hingga roda itu berjalan sendiri.
"Risa, rodanya berputar tolong Risa!" Nadia berteriak panik ketika kursi roda itu mulai menggelinding, Risa tersenyum dengan itu.
"Nadia!!" teriak Risa berpura pura panik, Nadia terus berteriak.
"Risa!!"
"Nadia!!!"
"tolong hiks, tolong Nadia, papa.. mama... Risa!!!" Nadia berusaha menghentikan roda nya tapi tangannya malah terluka.
"ya Allah siapa yang akan menolongku.. papa..." Nadia panik hingga menangis, Nadia terus berusaha menahan rodanya ia tidak peduli luka pada tangannya, tapi tetap saja roda itu berputar.
semuanya keluar ketika mendengar teriakan Nadia dan Risa, mereka terkejut ketika melihat kursi roda Nadia berjalan sendiri.
"om.. kursi rodanya berputar karena licin!"
Febriyan langsung berlari menyusul Nadia.
kejar saja, kau tidak akan sampai pada Nadia mas. enyah saja kau Nadia, aku sangat membencimu.
"tolong!! siapa saja.. papa Nadia takut, hikss Kara!.." Nadia mendelik ketika melihat jurang dihadapan nya, ia semakin panik dan menangis.
"Kara!!, maafkan aku, aku tidak akan bertemu denganmu lagi, aku mencintaimu" ucap Nadia ketika sudah mendekati jurang.
"Akhh!!!" teriak Nadia,
__ADS_1
"Nadia!!!"