
Vano Amelia story...
1 bulan berlalu, keluarga itu bahagia bersama. Amelia sudah dianggap sebagai keluarga oleh Nadia dan Kara, bahkan Adnan sangat dekat dengan Naira, Riana dan juga Bagas. jika pagi hingga sore Amelia dan Adnan selalu datang kesana, sore itu terlihat Amelia sedang bermain bersama anak anak.
secara kebetulan Vano pulang dari kantor, Vano memperhatikan Amelia yang sedang bermain dengan Naira. Vano tersenyum sendiri melihat itu, entah perasaan apa yang terjadi pada Vano saat melihat Amelia.
"Vano?"
Vano tidak mendengar suara seseorang memanggilnya, Vano sibuk memperhatikan Amelia.
"Vano!!!"
Vano akhirnya terkejut dengan suara teriakan itu, Vano menoleh ternyata Kara berdiri dibelakangnya.
"kenapa kau berteriak?!" ucap Vano, Kara sangat kesal.
"kenapa kau melamun disini, minggir jangan berdiri di depan pintu." saut Kara melewati Vano, Vano hanya menatap Kara. Kara sebenarnya tahu kalau Vano memperhatikan Amelia, bahkan Kara dan Nadia berniat untuk mendekatkan mereka.
"Amelia ayo akan ku antar pulang!" ucap Vano, Amelia pun tersenyum melihat Vano.
" iya, Adnan ayo kita akan kembali lagi besok." ucap Amelia, Naira memegang tangan Adnan.
"tidak, biarkan kakak Anan tidur disini." rengek Naira, Adnan tersenyum.
"Naira besok kak Adnan akan datang lagi, sekarang sudah sore sayang." ucap Amelia, bukannya melepas tangan Adnan, Naira malah memeluk Adnan.
"tidak mau, kakak Adnan mau disini kan?, tidur dengan Naira!" ucap Naira, membuat Vano terkejut.
Nadia dan Kara saling memandang, mereka mempunyai rencana untuk Vano dan Amelia. mereka berpikir ide Naira sangat hebat, jika Adnan berada dirumah itu tidur dengan anak anak, Amelia dan Vano bisa menjadi dekat. Kara memberikan isyarat pada Nadia, Nadia mengerti pada isyarat itu.
"sepertinya Naira sangat menyukai kak Adnan!" ucap Nadia tersenyum.
"iya Naira suka pada kakak Anan, biarkan dia tidur dengan Naira. papa bolehkan?!" rengek Naira, Kara tersenyum.
"Amel biarkan Adnan disini, kamu pulang saja besok baru kembalilah!" ucap Nadia, Amelia merasa tidak enak.
"hm.. tapi dia akan menyusahkan!"
"menyusahkan apa, lihatlah anak itu hanya diam saat dipeluk Naira. sepertinya dia juga suka pada Naira," ucap Kara semuanya tertawa.
"baiklah, Adnan jangan nakal ya. besok mama akan jemput kamu," ucap Amelia, Adnan mengiyakan itu.
"baiklah aku akan mengambil jaketku dulu." ucap Amelia pergi, Kara mendekati Vano.
__ADS_1
"yeah! kak Anan nanti bobok sama Naira ya..." ucap Naira senang, Adnan tersenyum dan mengangguk.
"ada kesempatan buat kencan, jangan sia sia kan itu." bisik Kara, Vano menatap wajah Kara yang tertawa kecil.
"diam, nanti ku habisi kau!" saut Vano, Kara tertawa geli.
***
setelah itu Vano mengantar Amelia pulang, dalam perjalanan mereka hanya diam. sesekali Vano melirik Amelia yang diam, Amelia sendiri merasakan angin yang berhembus dari luar jendela.
"sudah makan?" tanya Vano, Amelia tersenyum.
"belum, mungkin makan malam yang belum!" saut Amelia, Vano melihat Amelia yang tersenyum kearahnya.
"apa makanan kesukaanmu?" tanya Amelia lagi, Vano tersenyum.
"hm.. apa saja yang penting halal!" saut Vano, Amelia terkekeh pelan.
"nasi goreng udang?" Vano mengangguk.
"itu favoritku!" saut Vano, Amelia tersenyum.
"setelah ini kamu akan kekantor, malam nanti datanglah kerumah aku akan memasak untukmu." ucap Amelia, Vano menoleh.
"jadi kita akan makan malam berdua?" ucap Vano, Amelia menjadi kelagapan.
"baiklah, aku akan datang nanti malam." ucap Vano tersenyum, Amelia pun mengangguk.
mereka berbicara sepanjang perjalanan menuju rumah Vano, setelah sampai Vano langsung pergi ke kantornya. Amelia terus melihat mobil Vano perlahan menghilang, Vano sendiri melihat Amelia yang berdiri melihatnya..
****
malam hari pun tiba. Vano keluar dari kantornya, ia teringat janji pada Amelia untuk datang makan malam. Vano mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, saat dalam perjalanan selalu terlintas wajah Amelia di ingatannya. Vano merasa itu terjadi ketika dirinya mencintai Nadia dulu, tapi Vano tidak yakin bahwa dirinya benar benar jatuh hati pada Amelia. bahkan Vano tidak pernah merasakan apapun dulu saat bersama mantan istrinya, kali ini berbeda.
Vano telah sampai dirumahnya, setelah memarkirkan mobilnya Vano keluar dari mobilnya. tidak lupa Vano membeli sebuket bunga, ia berpikir kenapa seperti sedang ingin bertemu kekasihnya.
belum sempat bel terpencet, pintu rumah itu sudah terbuka. terlihat Amelia yang membuka dan tersenyum melihat Vano, Vano sedikit tertegun melihat penampilan Amelia yang sangat natural. menurut Vano Amelia sangat cantik meskipun tidak memakai make up, bahkan pakaian yang ia gunakan selalu cocok dengan model apapun.
"Vano?!"
panggilan Amelia menyadarkan Vano dari lamunannya, Vano langsung berpura pura batuk untuk menutupi wajahnya yang gugup.
"bagaimana kamu tahu aku sudah datang?" tanya Vano, Amelia tersenyum.
__ADS_1
"aku mendengar suara mobilmu, jadi siapa lagi yang akan datang selain kamu?" jawab Amelia, pandangan Amelia tertuju pada bunga yang dipegang Vano.
"ini bunga untuk..., untuk vas yang kosong itu." ucap Vano berbohong, Amelia pun kecewa ia berpikir bunga itu untuknya.
"iya kamu masuklah, duduk dulu disini. masakanku hampir siap!" ucap Amelia menerima bunga itu lalu berlalu dari sana.
"Vano bodoh, kenapa mengatakan untuk vas sih. itu kan untuknya, lihat sekarang dia terlihat kecewa." gumam Vano
Vano mengikuti Amelia kedapur, Amelia tidak tahu kalau Vano ada dibelakangnya.
"jadi hanya nasi goreng?" tanya Vano, Amelia terkejut dengan itu.
"Vano aku menyuruhmu duduk, kenapa disini?" saut Amelia, Vano tertawa dan melipat lengan kemejanya.
"kamu mau ngapain?" tanya Amelia, Vano melipat kedua lengan kemejanya hingga sikunya.
"aku akan buat omlet, kamu teruskan masakmu!" ucap Vano, Vano berjalan mengambil beberapa telur di lemari es.
dengan telaten Vano mengupas bawang merah, lalu Vano mulai memotong bawang dan cabai. Amelia terkejut ketika melihat Vano memotong semua itu, seperti chef yang sudah handal.
Amelia tersenyum sendiri, menurutnya wajah Vano yang serius sangat tampan dilihat. meskipun dengan dandanan tidak rapi itu membuat ketampanan Vano bertambah, Amelia membuyarkan lamunannya.
"Vano seharusnya ganti bajumu dulu!" ucap Amelia, Vano tersenyum tapi masih sibuk membuat omletnya.
"tidak masalah." saut Vano, Amelia pun tersenyum.
Amelia melihat keringat pada dahi Vano, entah kenapa Amelia membantunya untuk mengelap keringat itu. Vano terkejut dengan itu, mata mereka saling bertemu satu sama lain.
"akhh!!" teriak Amelia saat tangannya tanpa sengaja menyentuh wajan.
"apa panas, kau ini." ucap Vano terlihat khawatir, Vano mengelap tangan Amelia dengan kain basah. Amelia menatap Vano dengan pikirannya sendiri.
"masih panas?" tanya Vano melihat Amelia, lagi lagi pandangan mata mereka bertemu.
sejenak mereka saling memandang, tiba tiba wajah mereka semakin dekat. jantung mereka saling berdetak kencang, saat mereka hampir dekat bisa dikatakan bibir mereka hampir menyentuh.
Amelia dan Vano merasakan bau gosong, mereka menoleh kearah masakan mereka dan ternyata omlet yang dibuat Vano gosong.
"oh tidak!!!" ucap Vano mengangkat omlet yang gosong, Amelia memegangi dadanya kemudian tertawa.
"gosong, aku akan buat lagi." ucap Vano, Amelia terus tertawa.
"pergi gantilah baju, aku yang akan memasak." ucap Amelia, Vano pun mengangguk.
__ADS_1
saat pergi Vano memegangi dadanya, Vano merasakan hal aneh yang terjadi pada dirinya. begitu juga dengan Amelia didapur yang merasakan hal sama seperti Vano.
"aku jatuh cinta!"