My Love Story 2

My Love Story 2
87. akan kulakukan


__ADS_3

didalam ruangan Nadia mencoba menidurkan anak laki laki itu, Nadia melihat anak itu lalu mengingat pertama kali bertemu dengan Bagas. tiba tiba pintu terbuka dan masuk seorang wanita, Nadia terkejut.


"Adnan! sayang kamu kenapa, sayang maafin mama." ucap wanita itu, Nadia ingin bertanya tapi Nadia melirik Vano.


"dia ibunya?" tanya Nadia, Vano mengangguk.


"Vano apa dia baik baik saja?"


"tenanglah, putramu tidak apa. mungkin dia hanya kaget, dan beberapa luka kecil dikaki nya." ucap Nadia lembut.


"lalu kenapa dia tidak sadar?"


"aku mencoba menenangkannya, setelah bangun akan baik!" saut Nadia lagi, Nadia melirik Vano yang sedari tadi menatap dengan tatapan kosong.


"kok bisa tau namamu?" bisik Nadia, Vano menoleh.


"aku mengenalnya, namanya Amelia. dia wanita yang terkena masalah saat di mall." saut Vano, Nadia mengangguk. wanita itu adalah Amelia dan anak laki laki itu adalah anak dari Amelia bernama Adnan.


"maafkan aku, aku tidak sengaja hampir menabraknya." ucap Vano, Amelia menoleh kearah Vano.


"begini, bisa kalian bicara diluar. anak ini butuh istirahat dan ketenangan." ucap Nadia, Vano mengangguk. mereka keluar secara bergantian.


Amelia duduk dikursi, ia berusaha menghapus sisa air matanya. Nadia mengisaratkan Vano untuk memberikan air pada Amelia, setelah itu Vano memberikan air putih pada Amelia, Amelia tersenyum dan menerima air itu. Nadia berpamit untuk pergi.


"terima kasih!" ucap Amelia menerima air itu, Vano duduk disamping Amelia.


"kamu tenanglah, anakmu baik baik saja dan juga aku minta maaf." Amelia melihat Vano dan tersenyum.


"bukan salahmu, aku yang membuatnya berlari hingga kejalanan." saut Amelia, Vano menatapnya.


"apa yang terjadi?" tanya Vano, Amelia tersenyum tapi meneteskan air mata.


"aku pergi dari London, karena teburu buru pergi aku tidak membawa pakaian untuknya. lalu kemarin aku ke mall berniat untuk mencarikannya baju dan meninggalkannya sendiri di apartemen. saat aku pulang, aku teringat tidak membelikannya baju. pagi ini dia bangun, aku berusaha minta maaf tapi dia malah menangis dan berlari keluar." jelas Amelia, Vano masih tidak mengerti.


"dimana suamimu?" tanya Vano, Amelia melamun sejenak.


"dia sudah pergi ke surga." ucap Amelia, Vano terkejut dan terdiam.


"kenapa kalian harus tinggal diapartemen?" tanya Vano lagi.


"mau tinggal dimana, aku tidak punya tempat tinggal disini." saut Amelia.


"kenapa kau harus tinggal sendirian disini, dimana keluargamu?" tanya Vano, Amelia menatap Vano.


"oh maafkan aku, aku terlalu banyak bicara. ini kesalahanku, seharusnya aku tidak mengijinkan Naira membawamu kemarin." ucap Vano, belum sempat Amelia menjawab terlihat Nadia menghampiri mereka.


"apa kau sudah tenang?" tanya Nadia, Amelia mengangguk.


"anakmu baik baik saja, kau bisa membawanya pulang jika dia bangun." ucap Nadia, Amelia terlihat lega tapi menatap wajah Nadia heran


"apakah kita pernah bertemu?" ucap Amelia, Nadia dan Vano saling melihat.


"dimana, aku tidak tahu?" tanya Nadia heran, Amelia mencoba mengingat.


"entahlah, tapi aku merasa pernah melihatmu disuatu tempat?!" ucap Amelia lagi, Vano berpikir Amelia telah melihat Naira.


"hm.. mungkin kamu melihat Naira?" ucap Vano, mereka berdua melihat kearah Vano.


"iya Naira, dia Nadia ibunya." ucap Vano, Amelia melihat kearah Nadia yang tersenyum kepadanya.


"benarkah, itu artinya dia istrimu?" tanya Amelia, Nadia dan Vano saling melihat kemudian tersenyum.


"bukan!!" ucap Vano dan Nadia bersamaan, Amelia sedikit bingung


"Naira menganggapku sebagai papanya, dia ini temanku hanya tinggal bersama saja." jelas Vano, Amelia hanya mengangguk.


"apa putriku mengganggumu?" tanya Nadia, Amelia tersenyum.

__ADS_1


"tentu tidak, kau sangat manis karena itu anakmu begitu manis." ucap Amelia, mereka tertawa bersama.


***


siang itu Kara yang sibuk rapat semua orang merasa heran, karena melihat Kara yang tersenyum dengan melihat perban yang dibalut oleh Nadia. Kara yang selalu acuh, Kara yang selalu membuat orang tegang sekarang sedang tersenyum. sebenarnya banyak gosip beredar istri dari direktur mereka telah kembali, karena itu sedikit perubahan dari Kara.


ting...


tiba tiba suara hp terdengar, semua orang panik dengan itu. mereka telah mendapat perintah jika rapat harus menyalakan mode getar, mereka semakin terkejut ketika mengetahui suara hp itu adalah dari hp Kara. Kara melihat hpnya ternyata pesan dari Istriku.


Istriku: Kara aku akan datang mengantar makan siang, jika kamu sibuk aku tidak akan datang. balas pesanku langsung jika sudah melihatnya.


Kara tersenyum melihat itu, apalagi melihat nama yang masih tertera sebagai Istriku. Kara melihat kesemua orang yang hadir rapat, perlahan Kara berdehem.


"ehem.. bisakah rapatnya ditunda sampai makan siang?" ucap Kara, semuanya mengangguk.


"baiklah, selesai. kita lanjutkan lagi nanti!" ucap Kara Kara berdiri lalu pergi dari sana, semua orang berbisik tentang dirinya.


***


Sidia: datanglah, aku tidak sibuk. aku menunggumu.


"akhirnya dibalas," ucap Nadia lalu menjalankan mobilnya.


setelah beberapa menit Nadia sampai dikantor Kara, Nadia langsung masuk kedalam gedung bertingkat itu. Nadia merasa risih saat beberapa orang melihatnya, sampai di depan lift Nadia melihat dirinya dari atas sampai bawah, ia merasa tidak ada yang aneh.


"apa kau istrinya direktur?" ucap seseorang, Nadia menoleh. Nadia bingung menjawab itu, Nadia tidak tahu apa status nya sekarang.


"iya aku ibu dari anaknya." saut Nadia menjawab asal, saat lift terbuka Nadia langsung masuk tidak memperdulikan siapapun.


setelah keluar dari lift, Nadia langsung berjalan acuh. semua orang disana melihat kearah Nadia, Nadia langsung masuk keruangan Kara tanpa mengetuk pintu.


terlihat disana Kara sedang duduk manis, tersenyum melihat Nadia datang. Nadia menghampiri Kara, dan meletakkan kotak makan siang itu.


"menyebalkan, pertama kali kesini mereka semua menatapku!" ucap Nadia kesal, Kara menatapnya.


"aku teringat lukamu, jadi aku kesini untuk.."


"untuk menyuapiku?" saut Kara, Nadia terdiam.


"kemari atau kumakan sendiri?" ucap Nadia, Kara berjalan kearah Nadia yang duduk disofa.


"ayo aa..." ucap Nadia, Kara malah menatap Nadia.


"kenapa aku seperti Naira?" tanya Kara,


"Naira bahkan lebih baik darimu, tanganku pegal jika seperti ini." ucap Nadia, Kara pun tertawa lalu membuka mulutnya.


"kamu sudah makan?" ucap Kara disela makannya, Nadia mengangguk.


selama makan mereka hanya diam, Kara meperhatikan wajah Nadia yang masih mencintainya. Kara ingin memperbaiki hubungannya dengan Nadia, Kara berpikir tidak ingin melanjutkan kesalah pahaman ini lebih lanjut. dirinya sangat membutuhkan Nadia, bahkan ia berpikir Nadia sangat membutuhkan dirinya, begitu juga Naira membutuhkan kedua orang tuanya.


"Nadia jika aku menyuruhmu menunggu, apa kamu mau?" tanya Kara, Nadia membersihkan bekas makan Kara.


"tidak mau!" saut Nadia.


"hm.. kalau kusuruh untuk datang mau?" Nadia menatap Kara.


"tergantung, datang kemana?" saut Nadia, Kara tersenyum.


"kepelaminan?" ucap Kara, Nadia menggelengkan kepala.


"aku sudah pernah kesana," saut Nadia lagi.


"kalau begitu mari kesana lagi."


"kalau aku tidak mau?"

__ADS_1


"akan aku paksa!"


"kamu gila!"


"aku memang gila karena mu!"


dugh..


saat Nadia ingin membalas Kara lagi, kakinya menendang meja. Nadia merasakan sakit luar biasa, Kara membawa Nadia untuk duduk disofa.


"kamu harusnya hati hati!" ucap Kara, Nadia meringis kesakitan.


"gara gara kamu, haduh meja ini keras sekali." ucap Nadia, Kara menggelengkan kepala.


"meja ini dari kayu tentu saja keras, mana ada meja dari gabus!" saut Kara,


"sudah sudah aku pergi dulu, aku harus kembali kerumah sakit." Kara tidak mendengar Nadia, Kara sibuk memijat kaki Nadia.


"Kara lepaskan!" ucap Nadia, Kara mendongak ke atas melihat wajah Nadia.


"akan ku bantu, ayo." Nadia menerima tawaran Kara.


Kara menelfon supirnya untuk menjemput Nadia, Nadia masuk dalam mobil Kara. Kara melihat mobil yang membawa Nadia hingga pergi menjauh, Kara tersenyum.


****


Vano menemani Amelia dan putranya pergi mall, awalnya Vano ingin mengantar mereka pulang, tapi Vano merasa bersalah saat Amelia menceritakan masalahnya. terlihat Vano menggendong Adnan, dan disampingnya terdapat Amelia.


"bagaimana kamu senang?" tanya Vano, Adnan mengangguk.


"terima kasih!" ucap Amelia, Vano pun mengangguk dan tersenyum. Amelia melihat Vano mudah akrab dengan siapa saja, bahkan pada putranya yang pendiam pun Vano bisa mengajaknya bicara.


setelah beberapa jam Vano mengantar mereka pulang, Amelia meminta Vano untuk mampir, Vano pun mengiyakan. Vano melihat apartemen itu sedikit terlihat mewah, Vano bertanya tanya berapa harga sewanya.


"hm.. Mel aku punya rumah, tapi tidak aku tempati. bagaimana kalau kalian tempati?" ucap Vano ia berpikir agar rumahnya memiliki penghuni, Amelia menatap Vano saat memberikannya air.


"tidak, bagaimana bisa kamu membantu orang yang baru kenal sepertiku!" ucap Amelia, Vano tersenyum.


"aku memang sering membantu orang, seperti Nadia dia juga sama sepertimu, aku membantunya saat dia hamil dulu. sampai anaknya menganggapku sebagai papanya, aku juga merasa senang dengan itu." ucap Vano,


"kamu mencintainya?"


Vano terdiam, Amelia mengerti akan hal itu.


"aku berusaha melupakannya," saut Vano.


"kalau tidak bisa?"


"akan ku coba terus."


"harus bisa?"


"tentu saja!"


"apapun caranya?"


"apapun itu!"


"kalau begitu menikahlah?"


"akan kulakukan!"


Vano terkejut dan melihat kearah Amelia, Amelia tertawa pelan.


"maksudmu?" tanya Vano.


"coba lah mencari istri, agar bisa membantumu untuk melupakannya!" ucap Amelia, Vano hanya tersenyum dan menghempaskan tubuhnya disofa.

__ADS_1


****


__ADS_2