
Halo pembaca yang setia menunggu, terima kasih ya sebelumnya sudah menunggu dengan setia episode ini untuk up, dan maaf up nya lama hehe... Dan terima kasih juga karena semangat dari kalian ujianku berjalan lancar 😚 maaf gak bisa balas komentar kalian ya🤗 tanganku gatel dari kemaren pengen up😂
Selamat membaca🤗❤
---------------------------------------------
Malam yang bersamaan Risa sedang melamun diatas tempat tidurnya, ia mematikan dan menghidupkan lampu kamar itu berulang kali. Risa membayangkan bagaimana dulu dirinya bertunangan dengan Kara sampai pada akhirnya semua itu telah berakhir, Risa mengingat gaun yang digunakan Nadia begitu indah pemberian Kara, membuat Risa menjadi marah.
"sekarang mereka bermalam disebuah hotel, apa mereka akan... tidak, tidak akan kubiarkan Kara menjadi milik orang lain. dulu aku pernah membiarkan Angel memilikinya tapi sekarang tidak akan kubiarkan siapapun, jika aku tidak bisa memilikinya maka tidak ada yang bisa memilikinya, termasuk Nadia sekalipun." ucap Risa penuh kebencian pada Nadia,
****
pagi harinya Nadia dan Kara sedang tidur pulas dikamar hotel itu, Kara tidur memeluk Nadia dari belakang. terlihat disana tubuh mereka terbungkus selimut hanya meninggalkan kepala mereka yang terlihat. Nadia terbangun saat merasakan tubuhnya dipeluk erat oleh seseorang, Nadia berbalik dan melihat wajah Kara dari dekat, Nadia mengusap pipi Kara dan tersenyum.
aku tidak percaya, aku benar benar menjadi istrimu. aku sangat bahagia Kara, benar benar bahagia.
Nadia kembali memeluk Kara dengan erat, Kara pun membalas pelukan Nadia. beberapa menit kemudian Kara terbangun, hal pertama yang ia lihat adalah istrinya sedang tertidur disebelahnya. Kara memandangi wajah Nadia yang begitu cantik waktu tidur, saat Kara ingin mencium Nadia tiba tiba suara Nadia terdengar.
"selamat pagi!" ucap Nadia tersenyum lalu membuka mata, Kara tersenyum melihat itu.
"selamat pagi sayangku..." ucap Kara mencium pipi Nadia, Nadia merasa geli dengan itu.
"Kara ambilkan bajuku..." Kara membantu Nadia duduk dan tersenyum jail, melihat Nadia masih menutupi dirinya dengan selimut.
"hm.. kenapa, buka saja selimutnya, aku sudah melihat semuanya!" Nadia melotot kearah Kara.
"Kara jangan mesum!"
Kara tertawa dengan itu, Nadia menutup dirinya dengan selimut. lalu Kara berdiri untuk mengambil pakaian Nadia, tapi niatnya terhenti dan menelfon seseorang. Nadia melihat Kara yang telanjang dada begitu banyak bekas lipstiknya dan kissmark yang ia buat, Nadia tertawa dengan itu.
" aku sudah memesan baju untukmu, kenapa kau tertawa?" tanya Kara mengambil baju Nadia dan menaruhnya dimeja.
"Kara kemarilah, aku akan mengelap bekas lipstik itu." Kara melangkah duduk disebelah Nadia, Nadia ingin membersihkan tapi Kara memegang tangannya.
"tidak, aku suka bekas ini, kalau perlu akan ku foto!" Nadia memukul dada Kara, Kara menarik kaki Nadia agar terbaring.
"apa yang kau lakukan!" ucap Nadia terkejut, Kara langsung mencium Nadia.
"mari lakukan sekali lagi!" ucap Kara, Nadia hanya melotot mendengar itu dan juga melepas ciuman Kara.
"tidak, aku..." ucap Nadia terhenti ketika Kara menciumnya lagi.
"aku mau..." bisik Kara saat mencium leher Nadia, Nadia merasa sangat panas pada wajahnya.
Tok tok tok
saat Kara sedang sibuk dengan Nadia tiba tiba suara ketukan pintu kamar hotel terdengar, Nadia tertawa puas, Kara kesal ia menenggelamkan wajahnya pada leher Nadia.
"haha.. Kara cepat buka pintunya, pakai bajumu dulu." Kara berdiri dan langsung mengarah ke pintu.
"Kara, pakai bajumu." Kara mengacuhkan Nadia, dan membuka pintu. terlihat seorang pelayan hotel memberikan setelan baju yang dipesan Kara, lalu Kara menutup pintunya kembali.
"ini pakaian mu.." ucap Kara menaruh pakaian itu diatas meja.
"hm.. angkat aku kekamar mandi." saut Nadia, Kara pun mengangkat Nadia yang masih terbungkus selimut.
"kita akan mandi bersama." ucap Kara sembari masuk ke dalam kamar mandi
"Kara kita hanya akan mandi, jangan selebihnya loh!" Kara tertawa lagi dengan itu, ia mencium pipi Nadia dengan gemas.
"iya sayangku..." Nadia tersenyum dengan itu.
__ADS_1
mereka pun masuk dalam kamar mandi dan mandi bersama, sesekali terdengar suara Nadia tertawa dari dalam kamar mandi, entah apa yang mereka berdua lakukan didalam.
Divilla semua sudah menyiapkan sarapan pagi, mereka semua menunggu kedatangan Nadia dan Kara. Risa merasa gelisah, ia sangat penasaran berada dimana mereka semalam, Risa beberapa kali mondar mandir melihat kearah pintu.
"Entah aku tidak tahu apa yang dilakukan mereka berdua semalam, kenapa tidak datang datang!" gumam Risa, Febriyan melihat kegelisahan Risa ia pun mendekati Risa.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Febriyan, Risa terkejut dengan itu.
"Tidak, aku hanya khawatir pada Nadia, katanya sudah dalam perjalanan kenapa tidak sampai sampai!" jawab Risa tersenyum kaku, Febriyan merasa curiga dengan itu. lalu mereka mendengar suara mobil yang datang, dan itu mobil Kara.
"Assalamualaikum.." ucap Nadia dan Kara saat masuk.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang, mereka tersenyum melihat Nadia sangat cantik.
"Lama sekali!" ucap ibu Kumala mengambil Nadia dari dorongan Kara.
"Iya ma tadi jam 7 sudah siap pulang, dijalan macet akhirnya jam 9 baru sampai!" jawab Nadia tersenyum, Risa memperhatikan pakaian yang digunakan Nadia, ia melihat pakaian itu berbeda dari sebelumnya.
"Nadia, bajumu berbeda dari kemarin?" Nadia melihat kearah Kara, begitu juga dengan Kara. Risa memperhatikan mereka menjadi kesal.
"Ya.. Itu.. Bajuku kotor!"
"Kenapa?!!" Nadia terkejut saat semuanya serempak mengatakan kenapa.
"Tanyakan Kara ma.. Dia yang membuat baju Nadia kotor!" Kara menjadi kelagapan dengan pernyataan Nadia.
"Hm... Apa perlu kuceritakan Nadia?" tanya Kara, Nadia melototinya.
"Sudah sudah itu urusan kalian, mungkin kalian bermain dikasur." ucap pak Wijaya
"Ya memang itu benar.." gumam Kara tapi didengar semua orang.
"Apa!!" Nadia terkejut lagi saat mereka serempak mengatakan apa.
"Lihatlah, putriku lapar. Mari kita sarapan!" ucap ibu Kumala, Nadia hanya tersenyum malu.
Mereka semua berkumpul saru meja makan untuk memulai sarapan, Kara terus memperhatikan Nadia dan tersenyum sendiri. Ibu Kumala tidak sengaja melihat putranya itu sedang tersenyum,
"Kara apa kamu baik baik saja nak..." Nadia menoleh kearah Kara, Kara hanya berdehem dan mengangguk.
***
Siang harinya Nadia sedang membaca buku novel dalam kamarnya, dan Kara sedang mengerjakan pekerjaan. Sesekali Kara memperhatikan Nadia yang tertawa membaca buku itu, Kara jadi suka tersenyum dengan itu.
"Apa buku itu sangat lucu?" Kara mendekat ke arah Nadia,
"Tentu, aku suka sekali membaca novel. Oh iya dikamar ku banyak sekali novel, Kara kita pindahkan itu kekamar kita ya besok?" Kara tersenyum.
"Iya kalau perlu akan kubelikan lagi buku lainnya." Nadia senang dengan itu, ia langsung memeluk Kara.
"Terima kasih suamiku, kau yang terbaik!" Kara membalas pelukan itu
"Hm.. Sejak kapan kau sangat nakal begini?." tanya Kara yang melihat Nadia memeluknya
"Sejak.... Kemarin?" Nadia tertawa, Kara menarik kaki Nadia hingga Nadia terbaring.
"Sekarang aku yang akan nakal!"
"Kara, kau ini lepaskan aku!" Nadia mendorong dada
"Kalau bisa lepas akan ku lepaskan!" Selagi Kara menggoda Nadia, suara pintu dikamar mereka terdengar.
__ADS_1
"(Tok tok tok) Kara dengar itu cepat buka sana, siapa tahu ibu." Kara pun berdiri dan mengangkat Nadia duduk dikursi roda, lalu melangkah mendekat ke pintu.
Saat membuka pintu terlihat Risa membawa sebuah nampan berisi teh dicangkir, Kara mempersilahkan nya masuk.
"Haloo Nadia, aku buat teh dan aku ingin kamu mencobanya!" ucap Risa saat masuk, Nadia tersenyum kearahnya.
"Wah.. Benarkah, baiklah aku akan mencobanya!" saut Nadia, Risa pun memberikan secangkir teh.
"Oh iya ini untukmu Kara." ucap Risa memberi Kara teh nya.
"Tidak, terima kasih." jawab Kara singkat, ia fokus pada laptop nya.
"Kara, dia kan sudah buat, minum yah!" ucap Nadia, Kara pun menoleh dan mengiyakan. Risa memberikan teh itu, tapi saat memberikan teh itu Risa sengaja menjatuhkan teh panas tepat pada baju Kara. Kara yang kepanasan spontan membuka bajunya, Nadia panik dengan itu.
"Kara maaf aku tidak..." Risa terkejut melihat begitu banyak tanda di dada Kara, ia meyakini itu semua ulah Nadia.
"Kara kamu baik baik saja?" tanya Nadia mendekat ke arah Kara.
"Tidak, aku tidak apa apa!" ucap Kara memegangi perutnya.
"Kara maaf aku tidak sengaja, berikan padaku akan kucuci baju ini!" belum Kara menjawab Nadia merampas baju itu, Risa menatap ke arah Nadia penuh kebencian dimatanya.
"Tidak perlu Risa, aku istrinya, aku yang akan melakukan itu dan terima kasih teh nya." Nadia tersenyum, Risa pun kesal dan melangkah keluar, Kara langsung menutup pintu itu.
"Wah.. Istriku mulai pintar!" ucap Kara berlutut dihadapan Kara.
"Apa itu melepuh?" Nadia memperhatikan perut Kara, Kara malah menggoda Nadia.
"Iya sakitnya disini juga!" Kara menyentuh dadanya, Nadia menyentuh dada itu
"Disini juga," Kara menunjuk lehernya, Nadia mulai mengerti Kara mempermainkannya.
"Kemudian disini!" Kara menunjuk pipinya, Nadia mengangguk.
"Lalu di..." Kara menunjuk bibirnya membuat Nadia kesal.
"Kara hentikan, sejak kapan kau nakal!" kesal Nadia, Kara pun tertawa dan mendorong kursi roda Nadia.
"Aku nakal sejak mencintaimu." ucap Kara selagi mendorong mundur.
"Kara apa yang kau lakukan!" Kara mengangkat tubuh Nadia dari kursi roda dan menaruhnya dikasur.
"Kara apa yang kau lakukan, kau sangat nakal, Kara itu sangat geli hahaha..."
"Benarkah, akan kuteruskan karena kau terlihat bahagia."
"Kara hentikan... Hahaha... Geli... Kara hentikan!..."
"Tidak, katakan dulu kau mencintaiku.."
"Haha... Iyaa aku... Mencintaimu.. Hahaha.. Kau puas cepat berhenti..."
"aku juga mencintaimu..."
"iyah aku tahu, jangan menciumku lagi.. sangat geli.. haha.."
Diluar pintu kamar mereka Risa masih berdiri disana, dan mendengarkan suara mereka. Risa benar benar marah dengan itu, Risa tidak tahu apa yang terjadi mereka sangat mesra membuatnya semakin kesal.
"Tidak, tidak mungkin. kau hanya milikku Kara, hanya milikku. Nadia akan kuhancurkan dirimu." gumam Nadia mengepalkan tangannya.
****
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen kalian😍