My Love Story 2

My Love Story 2
63. bayi kita


__ADS_3

"akhh, sakit.. perutku sakit.. Kara...."


Nadia meringis kesakitan dan memegangi perutnya, melihat kejadian itu Risa dan Vano berlari kearah Nadia begitu juga ibu Kumala. Febriyan yang mendengar benda jatuh dan suara teriakan Nadia segera keluar dari kamarnya, mereka semua panik saat melihat darah diantara kaki Nadia.


"sakit... Kara..." ucap Nadia lalu tidak sadarkan diri.


"panggil ambulan!" teriak ibu Kumala.


"tidak ada waktu, ayo kerumah sakit." ucap Vano menggendong Nadia, lalu masuk kedalam mobilnya bersama ibu Kumala.


Risa berusaha menelfon Kara tapi tidak ada sahutan,


"Kara kenapa tidak angkat." ucap Risa berusaha menelfon.


"kemana dia?" tanya Febriyan


"dia ada di london kata Nadia berangkat tadi malam." saut Risa.


"sudah ayo kita susul Vano." Risa mengangguk lalu menuju mobilnya bersama Febriyan.


saat sampai dirumah sakit Vano menggendong Nadia dan berteriak memanggil nama dokter, terlihat beberapa perawat langsung membawa Nadia keruangan operasi. ibu Kumala terlihat sangat khawatir, Vano mencoba menenangkan nya.


"tenang lah tante, dia akan baik baik saja." ucap Vano, ibu Kumala tetap menangis.


"bagaimana aku mengatakan pada Kara, aku tidak menjaga istrinya dengan baik bahkan masih satu hari kepergian Kara.." ucap ibu Kumala, Vano memeluknya untuk menenangkan.


beberapa menit Risa dan Febriyan datang, secara bersamaan dokter keluar. dokter itu David.


"bagaimana keadaannya?" ucap ibu Kumala, Vano memeganginya.


"bagaimana ini terjadi?" tanya David


"dia jatuh dari tangga." saut Vano, David terkejut. Febriyan melihat perubahan wajah David.


"ada apa?" tanya Febriyan,


"ini bisa berbahaya bagi bayinya, bahkan dia dalam keadaan kritis." ucap David lalu masuk kedalam ruang operasi lagi, semuanya terlihat khawatir.


"Risa telfon Kara.." ucap ibu Kumala, Risa mengangguk dan menelfon Kara tapi tidak menyahut.


"Kara tidak angkat tante, tadi Risa sudah hubungi om." ucap Risa, ibu Kumala hanya bisa menangis.


"Risa coba telfon Reno, dia kesana bersama Reno kan?" ucap Febriyan, Risa pun tidak terpikirkan itu. Risa langsung menghubungi Reno.


ditempat Kara sudah terlihat tenang, mereka tetap melakukan rapat hingga selesai. karena rapat itu Kara tidak melihat hp nya, ia tidak tahu terdapat beberapa panggilan.


Reno yang ada dikamar mandi mendapat telfon dari Risa, ia merasa penasaran Risa menelfon.


"halo?" ucap Reno.

__ADS_1


"Reno dimana Kara, berikan telfon nya." ucap Risa diseberang.


"hei ada apa, Kara sedang rapat." saut Reno.


"apakah istrinya tidak penting dari pada rapat."


"oke oke, aku akan hubungi kamu lagi nanti."


"usahakan cepat Ren."


"iya Risa."


setelah itu Reno keluar dari kamar mandi untuk menghampiri Kara, terlihat Kara sudah selesai dengan rapatnya. Kara duduk dikursi merenggangkan ototnya dan menutup mata, dia merasa lelah karena begitu datang langsung melakukan rapat tidak sempat istirahat.


"Kara, apa kamu tidak melihat hpmu?" ucap Reno, Kara pun teringat kalau dirinya belum menghubungi Nadia.


"oh iya, dimana hpku." ucap Kara mencari hpnya, saat menemukan hpnya ia melihat panggilan tidak terjawab dari Risa.


"Risa menelfonku, katanya kau disuruh menelfonnya segera." ucap Reno, Kara pun mencoba menghubungi Risa.


"halo, ada apa kau menelfonku?"


"Kara, terjadi sesuatu pada Nadia!."


"apa yang terjadi padanya?" ucap Kara terlihat khawatir, Reno pun menghampiri Kara.


Kara terkejut mendengar perkataan Risa, Kara terdiam.


"Kara, cepat pulang jika kamu sudah selesai."


"bagaimana keadaannya, apa dia terluka, dimana dia?" ucap Kara menahan emosinya.


"dia masih diruang operasi."


Kara mematikan telfon nya, Reno mencoba bertanya pada Kara.


"ada apa, siapa yang terluka?" ucap Reno,


"kita pulang sekarang, pesan tiket pulang Reno." ucap Kara merapikan pakaian nya.


"Kara tapi..." ucap Reno mendapatkan tatapan tajam dari Kara.


"aku tidak peduli, istriku jatuh dari tangga sekarang dia sedang membutuhkan aku." ucap Kara melangkah pergi, Reno yang terkejut mendengar Nadia jatuh, ia langsung memesan tiket pulang ke Indonesia.


Kara berjalan menuju bandara, ia menunggu Reno yang sedang sibuk mengurus tiketnya. Kara menghubungi Risa kembali.


"halo, Risa bagaimana keadaannya?" tanya Kara.


"Kara ini mama, pulanglah nak. Nadia ada diruang operasi, dokter belum mengatakan apa apa!" terdengar suara ibu Kumala menangis.

__ADS_1


"(menghela nafas) iya ma Kara pulang sekarang, mama tidak usah menangis. Kara akan cepat menemui Nadia." ucap Kara menutup telfon nya.


Kara duduk di kursi tunggu, Kara teringat sebelum pergi Nadia sangat manja padanya dan bahkan Kara belum memberikan apa yang diinginkan Nadia malam sebelum dirinya pergi. Kara juga mengingat perkataan David yang mengatakan, kandungan Nadia lemah.


"Nadia kamu kuat, tidak akan terjadi apa apa padamu."


****


setelah beberapa jam didalam David akhirnya keluar, ibu Kumala langsung mendekati David dan mulai bertanya.


"bagaimana Nadia?" ucap Ibu Kumala, David membuka maskernya.


"jatuhnya terlihat cukup parah tapi kami sudah menyelamatkannya, sekarang dia butuh istirahat cukup." ucap David, semuanya terlihat tenang dan bersyukur.


"lalu bagaimana bayinya?" tanya Vano, David menghela nafas.


"kami telah melakukan usaha untuk Nadia, tapi dengan bayinya kami tidak bisa menyelamatkannya, maaf." ucap David, mereka yang ada disana terkejut. ibu Kumala menangis, Risa mencoba menenangkan nya.


"apa Nadia tahu?" tanya Febriyan, David mengangguk pelan. Febriyan terlihat lemas, kemudian David pamit untuk pergi.


Nadia terbangun pandangannya kosong melihat ke langit langit ruangan itu, Nadia membayangkan betapa bahagianya dia dan Kara saat membeli perlengkapan bayi. Nadia mulai meneteskan air matanya, dengan pandangan kosong Nadia merasakan sakit telah kehilangan bayinya.


malam telah datang, semua orang melihat Nadia dari luar, Nadia yang sudah dipindahkan dari ruang operasi ke ruang inap semua orang tidak berani masuk untuk melihat Nadia. beberapa jam kemudian terlihat Kara berlari kearah mereka, ibu Kumala langsung memeluk Kara dan menangis.


"bagaimana keadaannya?" tanya Kara,


"dia ada didalam, tadi ibu melihatnya tapi Nadia melihat ke atas dengan pandangan kosong Kara, mama sangat sedih maafkan mama..." ucap ibu Kumala, Kara mendudukan ibu Kumala.


"apa yang terjadi?" ucap Kara lagi pada Febriyan.


"Nadia sempat kritis, tapi berhasil diselamatkan. untuk bayinya, mereka tidak bisa menyelamatkannya." jelas Febriyan, Kara mulai berdiri lemas. Vano mencoba menenangkan Kara.


"tidak bisa menyelamatkan bayinya?" ucap Kara lemah, Febriyan mengangguk.


perlahan Kara berjalan lemas menghampiri Nadia, terlihat Nadia duduk melihat kearah lain dengan pandangan kosong. Kara menangis melihat Nadia seperti itu, Kara duduk disamping Nadia dan menggenggam tangan Nadia. Nadia merasakan kehadiran Kara, Nadia melihat Kara dengan tatapan sendu. Nadia meneteskan air mata, Kara mengelap air mata itu dan tersenyum.


"Kara.. hiks... hiks... bayi kita..." ucap Nadia mulai menangis, Kara memeluk Nadia dan menangis juga.


"aku ceroboh, sangat ceroboh. bayi kita bawa bayi kita kembali Kara..." ucap Nadia lagi, Kara terus menenangkan Nadia.


"aku seharusnya membawamu, seharusnya aku tidak meninggalkanmu." ucap Kara menangis, Nadia bertambah menangis.


terlihat semuanya juga datang dan menangis, ibu Kumala dan ibu Sabila mencoba mengelus pundak Nadia. Nadia pindah dalam pelukan ibunya.


"bayiku ma... kenapa bayiku direnggut dari ku, aku ceroboh ini kesalahanku, aku sangat bodoh!" ucap Nadia, semua orang merasa iba melihat itu, Kara berdiri dan keluar dari sana.


Kara berjalan disetiap lorong rumah sakit, Kara menangis disetiap langkahnya. terlintas di ingatan Kara betapa bahagianya dirinya saat mengetahui Nadia hamil, Kara duduk dikursi rumah sakit yang sepi ia menangis disana.


"kenapa Kau melakukan ini padaku, kenapa!!" ucap Kara menutup wajahnya dan menangis.

__ADS_1


__ADS_2