My Love Story 2

My Love Story 2
98. Extra Part 5


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Vano menikahi Amelia, semua orang sangat bahagia dengan itu. terlihat keluarga Kara hadir untuk menjadi keluarga Vano, bahkan keluarga Nadia bersedia menganggap Amelia menjadi bagian keluarga mereka. terlihat Vano duduk dipelaminan bersama Amelia dengan begitu bahagia, mereka saling menatap dengan penuh cinta.


"selamat untuk kalian!" ucap Nadia memeluk Amelia, Vano berpelukan dengan Kara.


"akhirnya kau menikah!" ucap Kara, Vano tersenyum dan mengangguk.


"jadi mau buat satu lagi?" tanya Risa, Amelia merasa malu saat Nadia dan Risa berusaha menggodanya.


"tentu saja, adik untuk Adnan!" ucap Kara tertawa, Nadia, Risa dan Febriyan ikut tertawa.


"kalian ini, seharusnya kau yang buat adek untuk Naira." ucap Vano, Kara memukul perut Vano pelan.


terlihat Bagas, Adnan, Naira dan Riana. berjalan kearah mereka, Kara yang melihat Naira langsung menggendongnya begitu juga dengan Febriyan yang menggendong Riana. Adnan berjalan mendekati Vano dan Amelia, Vano tersenyum dan berjongkok dihadapan Adnan.


"halo jagoan!" ucap Vano, Adnan menyentuh pipi Vano.


"papa!" ucap Adnan, semua orang tersenyum lebar mendengar itu. Vano memegang tangan Adnan dan menciumnya.


"iya sayang, sekarang aku adalah papamu. aku akan melindungi kamu dan mama kamu." ucap Vano, Adnan menangis dengan itu.


"kenapa menangis, papa pernah bilang. anak laki laki tidak boleh menangis," ucap Vano lagi menyeka air mata Adnan.


"papa akan melindungi mama kan?" tanya Adnan, Vano mengangguk dan tersenyum.


"papa akan melindungi kalian!" saut Vano, Adnan langsung memeluk Vano.


"aku percaya sama papa!" ucap Adnan, semua orang tersenyum dan merasa terharu.


****


setelah acara pernikahan dan satu bulan tinggal, kemudian Vano berpamitan pada keluarga Kara untuk kembali kerumah nya sendiri, karena Vano akan tinggal bersama Amelia dan Adnan sebagai keluarga kecilnya.


siang itu semua orang berkumpul, Vano berpamitan kepada satu persatu orang disana. sayangnya tidak ada ibu Kumala dan pak Wijaya, mereka kembali ke Semarang setelah hari pernikahan Vano dan Amelia.


"ingat, sering sering kesini ya!" ucap Kara, Vano pun mengangguk.


"kalau ada kabar baik hubungi aku!" ucap Nadia pada Amelia, Amelia hanya tersenyum.


"baiklah, semuanya kami akan sering kesini nanti." ucap Vano, semuanya pun mengangguk.


"aku pergi dulu." ucap Amelia, Nadia dan Risa mengangguk.


Vano pun membawa Amelia dan Adnan pergi dari sana, mereka menuju rumah besar milik Vano. saat sampai dirumah itu mereka terkejut saat melihat mobil ada didepan rumah mereka dan terdapat beberapa pria berpakaian serba hitam, mereka segera turun dan melihat mobil siapa itu dan siapa mereka.


"Vano ini mobil siapa?" tanya Amelia, Vano menggelengkan kepala.


"kalian siapa?" tanya Amelia, orang itu menunduk sopan.


"nyonya telah menunggu kalian didalam." saut orang itu, mereka bergegas masuk.


mereka dikejutkan dengan seseorang yang berdiri disana, seorang wanita berpakaian elegan. Vano dan Amelia merasa penasaran pasalnya wanita itu membelakangi mereka, Adnan juga heran.


"maaf anda siapa, kenapa masuk kedalam rumah orang tanpa ijin?" tanya Vano tenang, wanita itu tersenyum lalu berbalik. Amelia sangat terkejut saat melihat wanita itu, ia merasa bagai tertimpa ribuan batu dari atas langit.


"mami??.." ucap Amelia, Vano mendengar itu langsung menatap Rosa, wanita itu adalah Rosa ibu mertua Amelia.


"apa kabar menantuku, wahh suaminya sangat kaya ya.." ucap Rosa mendekat kearah Amelia, Adnan memeluk kaki Vano dengan erat.


"aku dengar kau menikah, jadi aku mencarimu untuk mengucapkan selamat. kau hebat dalam memilih orang kaya,!" ucap Rosa lagi, Amelia menahan emosinya.


"apa yang mami lakukan disini, bagaimana mami nisa ada disini?" tanya Amelia bergetar, terlihat Amelia takut bicara dengan mertuanya itu.


"aku bisa pergi kemanapun, aku bebas!" saut Rosa.


"a..apa yang mami inginkan?!" tanya Amelia khawatir, Rosa tersenyum.


"aku ingin mengambil cucuku." ucap Rosa tersenyum menyeringai, Amelia terkejut dengan itu.


"tidak, dia itu putraku!" teriak Amelia, Vano mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"dia keturunan keluargaku, dia pewaris keluargaku, dia putra anakku. sekarang kau sudah menikah dengan orang lain, maka kau tidak berhak lagi Amelia!" saut Rosa, Amelia menatapnya dengan rasa marah.


"aku berhak karena aku ibunya, dia butuh ibunya. lagi pula aku tidak akan menyerahkan putraku pada orang sepertimu!" teriak Amelia lagi, Rosa hanya tertawa dan menatap Adnan.


"Adnan apa kamu tidak mau bersama nenek?" tanya Rosa lembut, Vano merasakan tubuh Adnan yang gemetar.


"pergi dari rumah saya, ini adalah rumah saya. sampai kapanpun Adnan tidak akan aku serahkan, sekarang aku adalah papanya." teriak Vano, Rosa hanya tersenyum.


"baiklah, tapi aku bermimpi jika aku pergi dari sini, maka cucuku akan pergi bersamaku." saut Rosa berjalan kearah Adnan, Amelia dan Vano merasa curiga.


"apa yang kamu katakan pada Adnan?" tanya Vano, Rosa hanya tersenyum.


"apa aku mengatakan sesuatu padamu?" tanya Rosa, Adnan terdiam dan mengingat satu bulan lalu saat bertemu dengan Rosa.


Flashback.


malam dimana Adnan dan Naira sedang menikmati es krim, seorang wanita menghampiri mereka. terlihat wanita itu sangat elegan berjalan, dan diikuti beberapa orang dengan berpakaian serba hitam.


"hai Anan, apa kau tidak merindukan aku?" ucap Wanita itu, sontak membuat Adnan dan Naira menoleh secara bersama an. Adnan terkejut melihat siapa wanita itu, wanita yang selalu dihindari kini berdiri dihadapannya.


"Anan ini adalah nenek, apa kamu lupa?" tanya wanita itu. Wanita itu adalah Rosa, nenek Adnan atau ibu mertua Amelia sebelumnya.


"ne..nenek... kenapa nenek ada disini?" tanya Adnan gemetar, Naira hanya diam tidak mengerti.


" nenek tidak aka menculik kamu, Anan nenek sangat kangen sama kamu, wanita murahan itu membawa kamu pergi dari nenek!." ucap Rosa memeluk Adnan, bukannya membalas pelukan itu. Adnan memdorong tubuh Rosa, tidak mau memeluk neneknya itu.


"tidak. Adnan tidak kangen sama nenek, mama itu malaikat." teriak Adnan, Naira sedikit terkejut.


"nenek ini siapa, kak Anan sangat takut padamu. pergilah jangan ganggu dia." ucap Naira, Rosa sedikit tersenyum melihat Naira.


"Anan pulang bersama nenek ke London, kamu adalah cucu nenek. nenek butuh kamu sayang, ayo ikut nenek!" ucap Rosa lembut, Adnan hanya diam. Rosa memikirkan hal licik untuk membuat Adnan menurut padanya, agar Adnan tidak pernah menolaknya.


"nenek bisa melakukan apapun untuk mendapatkan kamu sayang, meskipun harus melukai ibumu." ucap Rosa lagi mengancam, Adnan terkejut.


"a..apa yang akan nenek lakukan pada mamaku, nenek ga boleh menyakiti mama!." teriak Vano, Rosa tersenyum. Rosa merasa berhasil ketika mengetahui kelemahan Adnan, yaitu mengancam dengan melukai Amelia.


"nenek tidak akan menyakitinya, tapi katakan sendiri pada ibumu kalau kamu mau ikut nenek. jika kamu tidak katakan itu, nenek akan menyakiti ibumu dengan cara apapun." ucap Rosa mengancam.


"aku tidak akan mengganggunya, jika kamu menuruti permintaanku." ucap Risa, Adnan terdiam.


"baiklah nenek akan datang lagi lain waktu, pada saat itulah kamu harus bilang pada ibumu. anak manis aku pergi dulu, kau sangat cantik." ucap Rosa lalu pergi dari sana. Naira menatap Adnan yang terdiam.


"kak Anan kenapa?" tanya Naira, Adnan menoleh kearah Naira.


"Naira jangan bilang siapa siapa ya, kalau tadi bertemu nenek itu." ucap Adnan, Naira mengangguk.


"iya, Naira akan diam. tapi nenek itu mau bawa kak Adnan kemana?" tanya Naira, belum sempat dijawab terlihat dari jauh Nadia dan Kara datang dari arah lain.


Flashback off.


Adnan melihat Rosa tersenyum padanya, Rosa berpamitan untuk pergi dari sana. dalam hati Rosa sangat yakin akan mendapatkan Adnan, Rosa melangkah menjauh dengan menghitung angka sampai Adnan bicara.


"Adnan akan ikut nenek!" ucap Adnan. Amelia dan Vano sangat terkejut, Rosa hanya tersenyum licik. Adnan melepas genggaman Vano dan berjalan kearah Rosa.


"Adnan apa yang kamu katakan, apa kamu akan meninggalkan mama?" ucap Amelia mulai meneteskan air mata.


"apa yang mami katakan pada putraku, mami pasti menghasutnya!" teriak Amelia, Rosa hanya tersenyum licik.


"Adnan ada papa disini, kamu tidak perlu takut. papa akan melindungi kalian!" ucap Vano, terlihat wajah sedih pada Adnan.


"Adnan yakin papa bisa melindungi mama, Adnan akan ikut nenek. agar nenek tidak menganggu mama, tidak menyakiti mama!" ucap Adnan, tangis Amelia pecah saat itu.


"papa akan lindungi kalian dari dia, Adnan tidak boleh bersamanya!" ucap Vano memegang tangan Adnan, Amelia menarik tubuh Adnan dan memegang kedua bahunya.


"Adnan kamu tidak boleh meninggalkan mama, Adnan dengar mama. kita akan hidup bahagia, bersama papa Vano dan yang lainnya dirumah Naira. Naira sangat menyukaimu, bagaimana seorang kakak meninggalkan adiknya?" ucap Amelia menangis, Adnan mengingat wajah Naira.


"aku akan pergi sekarang, Adnan selesaikan apa yang ingin kamu katakan." ucap Rosa tanpa dosa, Amelia sangat marah dengan itu.


"ambil apapun yang aku punya, tapi aku mohon jangan ambil putraku. putraku adalah segalanya bagiku, dia hidupku mami. jika kamu menginginkan hidupku, ambil saja. tapi jangan ambil putraku, aku mohon." Ucap Amelia memohon pada Rosa, Rosa merasa dirinya menang untuk itu.

__ADS_1


"aku hanya ingin cucuku, dia adalah pewarisku. aku tidak butuh dirimu, bahkan nyawamu pun aku tidak sudi untuk mengambilnya." saut Rosa, Amelia menangis disana.


"bawa dia!" ucap Rosa memerintahkan pengawalnya untuk membawa Adnan, para pengawal itu pun langsung membawa Adnan.


"lepaskan putraku, Vano lihat mereka membawa putraku!." teriak Amelia, Vano hanya menahan Amelia.


"dengar, bisakah dibicarakan ini baik baik?" ucap Vano, Rosa tidak menggubrisnya.


"Vano putraku, bagaimana dia bisa mengambilnya?" ucap Amelia menangis.


"tenanglah." ucap Vano, Amelia melepas tangan Vano dan mengejar Adnan.


Amelia menggedor pintu mobil yang dinaiki Rosa dan Adnan, Amelia terus memohon untuk melepaskan Adnan.


"mami jangan ambil putraku, mami dia adalah hartaku. mami aku mohon, aku mohon padamu..." rengek Amelia terus menangis, Rosa dengan sombong memasang kacamata nya.


"Adnan katakan selamat tinggal pada ibumu!" ucap Rosa, Adnan menangis melihat Amelia.


"mama jangan nangis, Adnan akan baik baik saja." ucap Adnan, Amelia memegang tangan Adnan.


"sayang jangan ikut nenek, tetap disini bersama mama."


belum sempat selesai bicara Rosa memotong perkataan Amelia.


"setelah pergi dari sini, dia bukan lagi anakmu. lupakan dia, anggap dia sudah mati. pak ayo jalan!" ucap Rosa dengan angkuh, supir itu mulai menjalankan mobilnya.


tanpa perduli Amelia mengejar mobil itu dan terus berteriak, dari dalam mobil Adnan menangis melihat itu. Rosa tersenyum puas saat apa yang ia inginkan, sudah ia dapatkan.


"tenang, kamu akan bahagia bersama nenek!" ucap Rosa, Adnan menatap Rosa.


"apa nenek tidak akan menyakiti mama?" tanya Adnan, Rosa menggelengkan kepala.


"tidak akan dia bukan mamamu lagi, menurutlah pada nenek oke." saut Rosa, yang dipikirkan anak se usia Adnan kini adalah, keselamatan ibunya dari neneknya sendiri.


mama Adnan akan kembali, Adnan akan melindungi mama nanti.


Vano yang melihat Amelia mengejar mobil Rosa, ia pun menghampiri Amelia. Amelia menangis histeris diluar, Vano memeluk tubuh Amelia.


"Vano, dia putraku. kembalikan putraku, hiks... Vano kembalikan..." ucap Amelia kemudian tidak sadarkan diri, Vano menjadi panik.


"Amel, buka matamu..." teriak Vano lalu menggendong Amelia masuk kedalam rumahnya.


***


Nadia datang bersama Kara karena sebelumnya ditelfon oleh Vano, Nadia memeriksa Amelia yang sempat tidak sadarkan diri. Vano sendiri menceritakan pada mereka kejadian sebelumnya, Kara sangat geram dengan itu.


"aku tidak tahu apa yang harus kulakukan!" ucap Vano frustasi, Kara mencoba menenangkannya.


"sudah terjadi, mau gimana lagi. lagi pula Adnan bersedia bersama neneknya, seorang nenek tidak akan menyiksa cucunya sendiri." ucap Kara, Vano mengangguk. Nadia keluar setelah memeriksa keadaan Amelia, Vano terlihat sangat khawatir.


"kabar baik dan kabar buruk, mau yangg mana?" tanya Nadia, Kara dan Vano saling memandang.


"kabar baik?" ucap Vano, Nadia tersenyum.


"Amelia hamil, 1minggu. aku sudah ambil darahnya, untuk memastikan aku akan uji lab." saut Nadia, Vano tersenyum lebar dan memeluk Kara.


"kabar buruk?" tanya Kara, Nadia terlihat khawatir.


"jangan membuatnya stres dan merasa lelah, aku khawatir bisa mengganggu pikirannya dan akalnya." ucap Nadia, Vano terdiam khawatir.


Vano pergi menghampiri Amelia, terlihat Amelia berbaring menangis tertutup oleh selimut. Vano merasakan kesedihan Amelia, Vano mendekati Amelia. Vano mencium pundak Amelia, Amelia semakin menangis dengan itu.


"putraku, kenapa dia tega Vano. kenapa hiks..." tangis Amelia, Vano mendudukan Amelia dan menyeka air matanya.


"maafkan aku, aku sangat bodoh. aku sudah berjanji padamu, tapi aku tidak bisa menepati janji itu. Amelia maafkan aku!" ucap Vano meneteskan air mata, Amelia hanya menatapnya diam.


"aku yakin putra kita akan baik baik saja, Adnan sangat kuat. nanti dia akan datang untuk melihat kita terutama ibunya. dia akan tumbuh menjadi orang hebat, untuk melindungi keluarganya nanti. Amelia jangan bersedih, kita harus berdoa untuk Adnan. aku pastikan Adnan akan kembali suatu saat nanti." tegas Vano memeluk Amelia, Amelia menangis dalam pelukan Vano.


"Vano, putraku.. hiks.. hiks.." tangis Amelia, Vano menangis dalam diamnya. Vano bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Amelia, Vano berusaha untuk menenangkan hati Amelia.

__ADS_1


****


__ADS_2