My Love Story 2

My Love Story 2
24. ciuman itu


__ADS_3

Nadia membuka matanya dipagi hari, ia merasakan pusing pada kepala nya dan berusaha mengingat apa yang terjadi padanya.


"akhh!!!!!!"


Nadia terkejut saat mendapati Kara tidur disampingnya, ia berpikir sejak kapan Kara tidur disana dan apa yang mereka lakukan.


"kau ini kenapa pagi pagi berteriak seperti itu." ketus Kara yang masih menutup matanya.


"apa yang kau lakukan!" Nadia mengecek pakaian, ia merasa lega saat pakaian itu yang ia pakai saat dipesta.


"aku tidur, ini kamarku!" jawab Kara acuh ia menutup selimut nya, sampai kepala.


"hei bangunlah!" Nadia menarik tubuh Kara, tapi saat menarik Kara malah mendorong Nadia. Akhirnya Kara menindihi Nadia, Nadia menutup matanya karena wajah Kara sangat dekat dengannya.


degh degh degh


jantung Kara berdetak tidak karuan, begitu juga dengan Nadia jantungnya tidak mau terkontrol. Kara memandang wajah Nadia khas orang bangun tidur, Nadia pun mendorong tubuh Kara.


"mulai sekarang aku akan tidur diatas kasur, " ucap Kara, Nadia menatap kearah Kara.


"jangan melihatku seperti itu, tenang saja aku tidak akan dekat dekat denganmu." Nadia hanya membuang muka saja.


"eh.. apa yang terjadi padaku?" Nadia mulai bertanya


"apa yang kau minum saat dipesta?" tanya Kara balik.


"aku tidak tahu, rasanya aneh karena kesal aku meminum semuanya." Kara mengira Nadia kesal karena melihat Vano, Kara pun berdiri dan mengarah kearah kamar mandi.


setelah beberapa menit ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Nadia sedang mesusahan membuka resliting bajunya.


"apa butuh bantuan?" ucap Kara, Nadia pun menggelengkan kepala.


"tidak terima kasih!" Nadia masih berusaha membukanya, tapi tiba tiba tangan Kara menyentuh punggungnya itu.


"Kara apa yang kamu lakukan?" tanya Nadia terkejut.


"tenanglah, akan kubantu. aku akan menutup mata dan tidak melihat tububmu." Nadia melihat kecermin dan benar Kara menutup matanya saat membuka reslitingnya, entah kenapa Nadia merasa sangat panas pada wajahnya, jantungnya juga berdetak tidak karuan.


"hm.. terima kasih!" Nadia meninggalkan Kara dan masuk dalam kamar mandi.


dikamar mandi Nadia memegang dadanya, ia merasakan sesak dalam dadanya.


"apa ini?" gumam Nadia memegang pipinya.


Kara menatap dirinya kearah cermin, ia melihat tangan yang menyentuh punggung Nadia tadi.


"apa ini, aku tidak pernah merasakan ini!" gumam Kara, ia mengusap rambutnya kasar dan keluar dari kamarnya.


Nadia turun dari kamarnya, Nadia berjalan kearah ibu Kumala. ibu Kumala menyuruhnya untuk memberikan kopi pada Kara diruang kerja Kara, Nadia pun mengiyakan lalu membawa kopi itu. Nadia mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban akhirnya Nadia masuk dalam ruang kerja Kara, terlihat Kara sedang tidur.


"Kara, jika kau mengantuk kenapa kau tidur disini!" ucap Nadia menaruh kopi itu, Nadia mendekat kearah Kara.


"kau berteriak pagi pagi, jadi aku terbangun." ucap Kara yang masih menutup mata.


Nadia melihat lihat ruangan Kara itu, Kara hanya membuka matanya satu ia melihat Nadia yang memilah malah buku dirak, lalu Kara menutup matanya lagi.


"Kara hari ini hari minggu, kenapa kau terus bekerja?" ucap Nadia duduk dikursi.

__ADS_1


"hidupku adalah bekerja, tidak ada hari libur!"


"foto siapa itu?" Kara langsung membuka matanya dan melihat kearah Nadia, Nadia mengambil foto yang ada dimeja itu.


"berikan itu!" Nadia menaruh itu, tapi saat Nadia ingin berbalik pergi tangannya menyenggol foto itu hingga jatuh.


"Kara maaf, aku tidak sengaja ini..." belum selesai Nadia bicara Kara mengambil foto itu.


"keluar!!" Kara berteriak, Nadia terkejut.


"Kara.. aku.."


"aku bilang keluar!, jangan pernah menyentuh barang barangku lagi!"


"kenapa kau harus berteriak!" Nadia berlari keluar dari sana, Kara pun merasa bersalah telah membentak Nadia.


****


Malam itu Kara sedang melihat Nadia sedang berkutik dengan laptopnya, Kara memilih diam tidak mengganggunya. Sebenarnya Kara merasa bersalah saat membentak nya beberapa jam yang lalu.


"Aku ada acara makan malam, karena temanku ulang tahun." ucap Nadia tiba tiba


"Dimana?" tanya Kara.


"Di restoran Z, mungkin pulang tidak malam!" Kara mengangguk, Nadia pun pergi kekamar mandi, setelah beberapa menit Nadia keluar.


"Apa perlu ku antar?" Nadia menggelengkan kepala.


"Baiklah!" (aku kan juga akan kesana?) batin Kara.


Setelah sudah rapi Nadia keluar dari kamar itu dan mengendarai mobilnya, menuju tempat yang dituju. Nadia sampai direstoran yang dituju, teman temannya sudah memesan tempat karaoke disana.


Nadia menoleh kearah suara yang memanggilnya, dan ternyata itu dr. David.


"Dr. David ada disini?" tanya Nadia, David pun tersenyum


"Tentu, hari ini Dewi ulang tahun dia mengundangku juga.."


"Hm.. Baiklah ayo kita kesana sekarang.."


Nadia dan yang lain sedang senang saat bernyanyi nyanyi, Nadia memperhatikan David yang terus melihat kearah Dewi, Nadia pun berniat menggoda Dewi.


"Wi, dr. David liatin kamu tuh!" Dewi menoleh ke arah David, tapi David malah membuang muka membuat Nadia tertawa.


"Apasih kamu Nad!" ucap Dewi kes, Nadia semakin tertawa.


"Nadia ayo bernyanyi, aku akan memutar lagu kesukaanmu." ucap Luna, Nadia pun terkejut.


"Tidak tidak, menyanyilah sendiri!" saut Nadia, dan berpamitan untuk ke toilet.


Nadia merasa pusing pada kepalanya, ia berjalan menuju toilet. Saat menuju toilet ia melihat seseorang yang ia kenal, orang itu Vano dan ia sadar kehadiran Nadia, mereka sama sama terkejut.


"Kita bertemu lagi." ucap Vano.


"Ya.." singkat Nadia.


"Nadia bisa kah kita berteman?" Nadia menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Bisakah kamu mengobati hati saya?" Vano hanya diam mendengar itu.


"Mari kita mulai dari awal..."


"Apa kau gila, saya sudah berkeluarga begitu juga dengan kamu!" Nadia menahan amarahnya.


"Saya terpaksa menikahinya, karena saham papa saya." Nadia tertawa dengan perkataan Vano.


"Dulu saya tidak pernah menyangka kalau Vano bisa melukai hati Nadia haha..." Nadia tertawa dalam tangisnya


"Maafkan saya."


"Begitu mudah kamu mengatakan maaf, lalu katakan pada saya bagaimana saya akan memaafkanmu, bagaimana katakan!" Nadia menarik narik jas yang dipakai Vano.


"saya menderita karena terlalu mencintai mu, kenapa kamu mengkhianati saya, kenapa..." Nadia menutup wajahnya ketika menangis, Vano malah mendorong Nadia kearah tembok dan ia langsung mencium Nadia dengan paksa.


"Lepaskan! emmmmm, uhh lepas mmmm" Vano terus mencium Nadia, Nadia berontak tapi kekuatannya kalah dari Vano.


Vano terus mencium Nadia dengan paksa, sampai turun keleher. Nadia tidak bisa berbuat apa apa karena tenanganya kalah kuat dengan Vano, air mata jatuh pada pipi mulus Nadia.


"Vano kamu brengsek ahh..." ucap Nadia saat Vano menggigit lehernya, Vano tidak perduli dengan pemberontakan Nadia.


"Siapa, siapa yang akan menolongku hiks..." gumam Nadia lan, ia menangis


*Srett..


Bugh


Bugh*


Dengan cepat Kara menarik tubuh Vano dan memberikannya pukulan bertubi tubi, terlihat Nadia menangis saat Vano sudah melepaskannya, Nadia merosot kelantai dan memeluk lututnya sendiri.


"Beraninya! Berani sekali kau menyentuh istriku hah!" Kara terus memukul wajah Vano, Vano hanya diam pasrah mendapat pukulan itu.


"Kenapa kau menyentuhnya!" Kara menarik kera kemeja Vano, terlihat api kemarahan pada diri Kara.


"Maaf, aku salah!" hanya itu yang dikatakan Vano, Kara pun melepas Vano,


"Pergi! Jangan pernah kita bertemu lagi, pertemanan kita kau hancurkan karena berusaha menyentuh istriku!" ucap dingin Kara, Vano pun berlalu pergi dengan penyesalan nya. Kara memperhatikan Ang yang ada dipojok tembok.


Terlihat Nadia masih menangis dan memeluk lututnya sendiri, ia menutupi tubuhnya yang sudah disentuh paksa oleh Vano. Kara mendekat merah Nadia, ia memberikan jas nya untuk menyelimuti Nadia.


"Tidak.. Lepaskan saya Vano, saya sudah mempunyai suami.... hiks... " Nadia berusaha memberontak, ia tidak tahu bahwa Kara yang ada dihadapannya.


"Sstt... Tenanglah, ini aku kucing liar!" Nadia membuka mata saat mengenali suara Kara, dengan cepat Nadia memeluk Kara dan menangis sejadi jadinya.


"Gorila, dia mengambil ciumanku hiks... Seharus nya aku memberikan ciuman itu pada suamiku hiks..." ucap Nadia membuat Kara merasa geli.


"Aku tidak keberatan!"


"Apa?"


"Aku tidak keberatan jika tidak mendapat ciuman itu, aku bisa me dapat ciuman lain karena aku suamimu." ical Kara menggoda Nadia, wajah Nadia langsung memerah.


"Kara berhenti menggodaku!" saut Nadia kesal, Kara tertawa dan memakaikan jas nya pada Nadia. Kara menjadi sangat kesal saat Vano memberikan kissmark pada leher Nadia, dan itu terlihat seperti gigitan yang kuat.


***

__ADS_1


semoga kalian suka dan gak bosen ya ...


jangan lupa like dan komen kalian😍


__ADS_2