
1 minggu berlalu Kara dan Nadia berlibur, Nadia sangat bersenang senang di London. selama itu Kara takut Nadia bertemu dengan Vano, sore itu Kara keluar dari kamar untuk mengambil dompetnya yang ketinggalan dimobil. pada saat keluar Kara melihat Vano secara bersamaan mereka naik lift yang sama, Vano berusaha ingin menyapa Kara tapi Kara acuh.
"jangan berusaha mendekati istriku!" ucap Kara, Vano menoleh kearah Kara.
"aku tidak akan mendekati istrimu, lagi pula aku sudah bahagia melihat dia bahagia." saut Vano, Kara menatap Vano.
"iya aku juga tahu, kau diam diam melihat istriku dari jauh!" saut Kara.
"Kara kenapa kau takut aku mendekati Nadia, seharusnya kau percaya pada dirimu sendiri, lagi pula Nadia juga tidak pernah mau bicara denganku." ucap Vano lagi, setelah lift terbuka tanpa menjawab Kara berjalan meninggalkan Vano.
Nadia yang tidak sabar menunggu Kara datang ia ikut turun mencari Kara, Nadia mengomel sendiri didalam lift karena Kara tidak kunjung datang. Nadia menuju lobby hotel untuk menunggu Kara, secara bersamaan terlihat Vano berjalan dengan beberapa orang.
"Kara, mengambil dompet saja butuh waktu lama." gumam Nadia berjalan tanpa melihat jalan.
"(bahasa inggris) katakan pada yang lain juga, tentang apa yang saya bicarakan tadi." ucap Vano bicara dengan beberapa orang.
tanpa sengaja mereka bertabrakan, dengan cepat Vano menangkap tubuh Nadia sehingga ia tidak terjatuh. Nadia terkejut melihat Vano dihadapannya, bahkan Vano juga terkejut. sejenak mereka saling pandang, Nadia mengingat lagi kejadian Vano yang meninggalkannya hingga menciumnya dengan paksa tempo hari. tiba tiba Nadia merasakan pusing dan tidak sadarkan diri, Vano mengangkat tubuh Nadia.
"(bahasa inggris) panggil dokter, cepat!." teriak Vano, bawahannya segera melaksanakan perintahnya.
setelah beberapa menit dokter datang dan memeriksa Nadia, Vano melihat itu sangat khawatir. dokter selesai memeriksa dan mendekati Vano.
"(bahasa inggris) siapa dia?" tanya dokter,
"(bahasa inggris) seorang tamu." saut Vano.
"(bahasa inggris) kau harus mencari keluarganya, aku harus tahu apa yang sedang dia alami sebelumnya. sepertinya stres berat!" Vano terkejut dengan perkataan dokter, karena sebelumnya Vano tahu Nadia terpukul saat kehilangan bayinya.
"(bahasa inggris) sekarang sepertinya dia mengingat suatu hal yang membuatnya tidak sadarkan diri. aku harus bicara pada suaminya, dimana kah dia?" ucap dokter lagi, Vano mengiyakan.
"(bahasa inggris) iya, aku akan memanggil suaminya!" ucap Vano lalu keluar dari kamar itu. Vano pergi untuk menghubungi Kara, beberapa menit kemudian Kara terlihat berlari kearah Vano dan menatap Vano.
"apa yang terjadi padanya?" tanya Kara, Vano menyuruh Kara masuk. Kara melihat Nadia yang tertidur, Kara pun mendekati Nadia.
"(bahasa inggris) dia pingsan dan biasanya hal ini datang karena ingatan buruk, apakah ada hal buruk yang terjadi sebelumnya. saya Harap menjauhkan dia dari stres dan membuatnya bahagia." ucap dokter, Kara mengangguk lalu dokter pergi.
perlahan Nadia membuka mata, Kara melihat Nadia yang melihat sekelilingnya, Nadia tersenyum ketika melihat Kara.
__ADS_1
"apa yang terjadi?" tanya Kara, Nadia mendudukan dirinya.
"mungkin aku kelelahan karena terlalu bersenang senang disini." ucap Nadia, Kara mencium kening Nadia.
"apa karena bertemu Vano?" tanya Kara, Nadia menatap Kara.
"hm.. aku tidak tahu Kara, waktu itu dirumah bertemu dengannya biasa saja, tapi pada saat dia menyentuh tanganku tadi semua ingatan bersamanya muncul, membuatku merasa pusing." jelas Nadia, Kara berdiri melangkah keluar untuk menemui Vano. Nadia berpikir Kara dan Vano bisa saja bertengkar, Nadia berusaha mengejar Kara.
Kara mencari keberadaan Vano, Vano duduk dilobby memikirkan sesuatu. Vano melihat kedatangan Kara dengan kemarahan, Vano berdiri dari duduknya.
" apa yang sudah kau lakukan, bukankah aku katakan jangan pernah dekati Nadia. bukan berarti kau bisa menyentuhnya." ucap Kara, Vano bingung dengan itu.
"aku tidak menginginkan hal ini, apa maksudmu menyentuhnya?" tanya Vano, Kara mengepalkan tangannya.
"dia pingsan karena mengingat kejadian disaat kau menyakitinya, kenapa kau harus menyentuhnya!" ucap Kara sedikit berteriak, semua orang yang melihat hanya diam dan berbisik karena Vano dan Kara berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
"Kara dia hampir jatuh, aku berusaha memegangnya. aku tidak tahu kalau semuanya terjadi!" jelas Vano
"Kara!" teriak Nadia, menghentikan kemarahan Kara.
"tidak, aku tidak tahu kalian ada disini. aku membangun hotel ini 2 tahun lalu, aku kemari untuk melihat perkembangannya. lalu aku melihat kalian, aku menyuruh semua staf melayani kalian dengan baik. aku ingin membuat kalian bahagia." jelas Vano, Nadia melihat kejujuran Vano.
"tidak, itu hanya kebohongan. kamu sengaja melakukan ini mengikuti kami." ucap Kara, Nadia mencoba menenangkan Kara.
"saya membuat kesalahan padamu Nadia, karena itu Kara tidak mempercayaiku, apakah kami mempercayai saya?" ucap Vano terlihat melas, Nadia iba dengan itu. Kara memegang tangan Nadia.
"kami akan pergi, Nadia bereskan barang barang kita. sudah cukup liburannya, kita pulang." ucap Kara menarik tangan Nadia, Vano menghentikan Kara.
"tidak, ini bulan madu kalian. aku yang akan pergi, Nadia jelaskan padanya!" ucap Vano, Nadia melihat kearah Kara.
"Kara jangan seperti itu, Vano maaf liburan kami memang sudah habis. terima kasih kamu mengistimewakan kami disini, mungkin lain kali itu tidak perlu terjadi." ucap Nadia lembut, Vano berusaha tersenyum. Kara menarik Nadia pergi dari sana, saat didalam lift Nadia masih melihat kemarahan Kara.
"kenapa kamu sangat marah?" tanya Nadia, Kara melihat Nadia.
"aku tidak tahu, aku sangat marah saat mengingat dia berusaha melecehkanmu waktu itu." ucap Kara, Nadia mencium pipi Kara sekilas.
"dia hanya menunjukkan rasa bersalahnya, jadi lupakan hm..?" ucap Nadia tersenyum, kemarahan Kara hilang dalam hitungan detik.
__ADS_1
"iya, setelah ini bersiaplah kita pulang, kamu sudah lelah." ucap Kara mengusap rambit Nadia, Nadia tersenyum lalu mengangguk.
setelah berkemas Nadia dan Kara menuju bandara menggunakan mobil, didalam mobil Nadia merasa sedih karena meninggalkan London. Kara bingung harus membuat Nadia tersenyum, ia berpikir keras mencari cara. setelah itu mereka melewati sebuah permainan anak anak, Kara menghentikan mobilnya dan mengajak Nadia turun.
"Kara ada apa, bagaimana pesawatnya?" ucap Nadia, Kara tersenyum.
"bermain ini dulu, kita lomba mendapatkan boneka. pesawat masih lama, masih ada waktu disini!" saut Kara.
"kau yakin?" tanya Nadia tidak percaya, Kara tersenyum dan mengangguk.
mereka memainkan menangkap boneka, Nadia sangat serius mencoba menangkap boneka, Kara hanya tertawa melihat kekesalan Nadia.
"Kara.. mesin ini rusak, aku lelah sudah beberapa kali tetap tidak bisa." kesal Nadia, Kara tertawa dan mengambil alih.
"kamu ini bodoh, sini aku saja." ucap Kara lalu mencoba memainkannya.
setelah beberapa menit Kara tidak mendapatkan apapun, Nadia tertawa puas menertawakan Kara. Kara kesal tapi juga senang melihat Nadia akhirnya tertawa, Kara mengacak rambut Nadia.
"jika aku tahu pemiliknya, aku akan membeli semua dengan mesinnya sekalian!" ucap Kara, Nadia masih saja tertawa.
mereka masuk dalam mobil, mereka melaju menuju bandara. Kara menelfon Reno.
"Kara nanti ada orang yang akan mengambil mobilmu di bandara!"
"iya aku menuju kesana!" ucap Kara lalu menutup telfon
saat melaju dengan tenang tiba tiba ada sebuah mobil melaju dengan sangat kencang, Kara mengarahkan mobilnya kesisi lain tapi pada akhirnya mobil kencang itu menabrak bagian belakang mobil Kara hingga membuat mobilnya terpental menjauh tidak terkontrol,
Kara yang terkejut menutupi tubuh Nadia dengan tubuhnya, Nadia memeluk Kara dengan ketakutan. sampai akhirnya mobilnya berhenti menabrak tiang listrik, suara pecahan dan kerusakan mobil terdengar sangat keras. Kara terlihat menahan sebuah benda, Nadia melihat itu dan menangis saat melihat darah keluar dari punggung Kara.
"Kara!!!" teriak Nadia, Kara tersenyum lalu tidak sadarkan diri.
"tolong!!!, tolong kami!!!"
****
jangan lupa like dan komen kalian😍 oh iya beri aku vote kalian😁
__ADS_1