My Love Story 2

My Love Story 2
23. menunggu kamu


__ADS_3

kejadian 5 tahun yang lalu...


kala itu dikampus mengenalnya sebagai Nadia gadis tercantik dan termanis jurusan kedokteran, gadis yang berkelas juga angkuh dan sangat giat saat belajar. tidak ada yang berani menggoda Nadia kala itu, hanya Vano yang bisa mendapatkan hati nya.


akhirnya Vano menjadi kekasih dari Nadia semasa kuliahnya mereka sering menghabiskan waktu semasa kuliah, mulai dari pergi kekampus, nonton, belanja dan lain lagi. kisah cinta mereka menjadi sangat populer dikampus, mereka selalu dijuluki pasangan serasi dan selalu menempel, seperti takdir sudah menjodohkan mereka berdua.


"Van lihatlah bunga itu sangat cantik!" ucap Nadia, Vano pun tersenyum dan mengambil bunga itu untuk Nadia, Nadia pun merasa senang.


"terima kasih.."


"sama sama sayang, apa yang tidak untukmu.." Nadia tersenyum kearah Vano, begitu juga Vano.


beberapa bulan kemudian Nadia sedang menunggu Vano di taman kampus, ia terlihat menikmati udara disana. Vano datang mengejutkan Nadia dengan memberikan bunga, Nadia pun tersenyum melihat itu.


"hai.." ucap Vano


"hai.." jawab Nadia.


"apa sudah lama menunggu?"


"tidak juga hehe..." Nadia bersandar pada bahu Vano.


"saya ingin mengatakan sesuatu sayang?" Nadia pun hanya menutup mata merasakan idara yang sejuk menjernihkan batinnya.


"sayang, saya akan belajar ke amerika." Nadia terkejut dengan perkataan Vano, Nadia berdiri membelakangi Vano


"hm.. kamu sudah memutuskan ya.." Vano memeluk Nadia dari belakang.


" kapan kamu akan pergi?" tanya Nadia menahan tangis, Vano mengeratkan pelukannya.


"malam ini sayang.." jawab Vano, Nadia pun berbalik menatap Vano.


"sayang jaga dirimu baik baik" ucap Vano, Nadia pun sudah tidak tahan menahan air matanya, ia pun menangis.


"hiks.. saya tidak ingin menangis, saya sangat bahagia, jaga dirimu juga sayang, jaga kesehatan" Vano memeluk Nadia dengan erat.


"saya sudah menguatkan diri, jika suatu hari mengatakan ini semua pada saya, saya tidak akan menangis." ucap Nadia lagi, Vano pun mencium pipi Nadia.


"saya akan kembali secepatnya, saya janji.. tunggu saya Nadia tunggu saya pasti kembali pada kamu..." ucap Vano memeluk Nadia.


"iya, saya akan menunggu kamu!" Nadia membalas pelukan itu.

__ADS_1


Nadia menunggu kepulangan Vano hingga 3 tahun, tapi tidak ada kabar sama sekali dari Vano, Nadia ingin sekali mengirim surat atau mengirim email tapi niatnya selalu tertunda.


setelah tahun ketiga Nadia lulus dan mendapat gelar sebagai dokter ahli, semua orang mengucapkan selamat dan memberikan hadiah. Nadia mendapatkan kiriman paket dari Vano, ia merasa senang sekali Vano mengingat hari kelulusannya. Nadia dengan segera membuka paket itu dan melihat isinya, Nadia terkejut Vano mengirim sebuah foto pernikahan, yaitu pernikahan Vano di amerika.


"maaf Nadia, saya tidak bisa menepati janji kepada kamu, saya telah mengkhianati kamu, mari kita putus dan lupakan hubungan kita. saya sudah menikah disini, saya harap kamu melupakan saya dan tidak berharap lagi.


Vano. "


Nadia menangis membaca surat itu, Nadia tidak percaya selama 3 tahun Nadia menunggu surat dan kabar dari Vano, tapi saat Vano memeberinya kabar itu adalah kabar duka bagi Nadia. setelah saat itu Nadia tidak ingin bertemu dengan Vano lagi, sampai kapanpun Nadia membuang paket itu dan membakarnya.


****


"Vano/Nadia!"


Nadia terkejut melihat Vano berdiri dihadapannya, Kara memegang tangan Nadia dan membawanya ke arah Vano.


"sayang apa itu KR teman bisnismu?" Vano masih terdiam karena melihat Kara dan Nadia mendekat kearahnya.


"happy birthday nyonya Alatas.." ucap Kara, istri Vano tersenyum


"panggil saja Sifa, tidak perlu sungkan!" Kara pun mengangguk, dan memeluk Vano.


"bagaimana kabarmu?" Vano membalas pelukan itu,


"oh iya apa ini istrimu?" tanya istri Vano, Kara pun mengangguk.


"iya dia istriku, perkenalkan Nadia Salsabillah." Sifa memeluk Nadia, Nadia hanya tersenyum dan membalas pelukan Sifa.


"kalian sangat cocok, aku tidak menyangka kau menikah tuan KR" Nadia dan Kara hanya tersenyum dengan itu, terlihat Vano memandangi Nadia. Nadia merasa risih ia pun meninggalkan mereka, Vano merasa Nadia menghindarinya.


"kenapa aku bertemu dengan nya disini..." Nadia mengambil minuman dan meminumnya hingga habis, ia tidak tahu minum apa yang ia ambil.


"aduh.. kenapa tiba tiba kepalaku pusing!" Nadia memegang kepalanya.


Vano memperhatikan Nadia, ia juga melihat Kara sedang berbincang dengan istrinya. Vano pun menghampiri Nadia,


"Nadia?" Nadia melihat kearah suara yang memanggilnya, Nadia terkejut saat Vano yang memanggilnya. Nadia hendak pergi tapi Vano memegang tangannya, dan membawanya kelain tempat.


"apa yang... kamu lakukan lepaskan saya!" ucap Nadia tidak dihiraukan oleh Vano.


"kamu menyakiti saya!" teriak Nadia, Vano pin melepas tangan itu

__ADS_1


"maafkan saya Nad!" Nadia hanya diam.


"saya tidak bermaksud melakukan itu padamu!"


"untuk apa lagi dibicarakan, kau dan aku sudah berkeluarga tidak perlu dibicarakan lagi.." ucap Nadia menahan tangisnya.


"dengan benar kamu memeberitahu saya agar tidak berharap, jika kamu tidak mengatakan nya mungkin sampai saat ini saya akan menunggu dan mengharapkan kamu!" ucap Nadia meneteskan air mata, Vano hanya melihat nya.


"maaf, maafkan saya Nadia.." hanya itu yang dikatakan Vano.


"sudahlah, saya harap kita tidak bertemu lagi." Nadia meninggalkan Vano, ia berjalan tidak normal karena terpengaruh minuman.


"saya tidak pernah melupakanmu, saya selalu mengingat kamu!" ucap Vano yang hanya memperhatikan Nadia yang pergi meninggalkannya.


tanpa disadari mereka Kara melihat kejadian itu dibalik tembok, Kara melihat Vano membawa Nadia karena itu Kara dengan cepat mengikuti mereka. Kara tidak menyangka mereka sepasang kekasih, Kara segera menyusul Nadia.


"Nad ayo kita pulang.." ucap Kara pada Nadia yang duduk membelakangi nya.


"hm..." Nadia tidak menjawab hanya mengatakan itu.


"Nadia!" Kara memegang bahu Nadia, tapi Nadia malah memeluk Kara.


"Kara, aku lelah huhu..." Kara panik karena bau alkohol dari mulut Nadia.


"apa kau salah minum?" Nadia hanya tertawa, akhirnya Kara menelfon supirnya untuk menjemput. Kara menggendong Nadia dan berpamitan pulang pada istri Vano, didalam mobil Nadia terus menggoda Kara.


"kau itu sangat bodoh!!" ucap Kara


"Kara kau sangat tampan, jangan suka marah seperti itu!." Kara hanya tersenyum tipis dengan ringan tingkah Nadia.


"hm.. biarkan aku duduk dipangkuanmu!" Kara terkejut saat Nadia pindah duduk diatas pahanya.


"jangan mengambil kesempatan ya, aku tidak mau ciuman pertamaku kau ambil!" Nadia sedikit bergoyang saat mendapati jalan tidak rata.


"Nadia jangan bergerak!" Nadia malah memeluk Kara.


"aku tidak bergerak, jalannya yang membuat pergerakan." Nadia terdiam sesaat, Kara berpikir Nadia sudah tertidur tapi tiba tiba Kara mendengar Nadia menangis.


"kenapa... kenapa aku melihatnya lagi hiks... aku sudah melupakannya.. aku tidak menunggu dia lagi..." Nadia tertidur dalam pangkuan Kara, Kara dengan ragu merangkul Nadia.


saat mereka sampai dirumah, Kara menggendong Nadia masuk kedalam kamarnya membaringkan Nadia dan menyelimutinya. Kara melihat wajah Nadia yang memerah akibat minuman, Kara pun menyentil dahi Nadia.

__ADS_1


"hm.. sakit gorila!" Nadia mengigau, Kara pun tertawa ringan.


"kau sangat imut, seperti..." Kara menghentikan perkataannya saat ia ingin mengatakan Nadia seperti Angel, Kara pun masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya.


__ADS_2