
keesokan harinya Kara sengaja mengantar Riana hanya untuk bertemu dengan Nadia, Kara tidak menceritakan pada siapapun tentang pertemuannya dengan Nadia.
dugaan Kara salah, saat mengantar Riana ia malah bertemu Vano yang mengantar Naira. Vano melihat Kara mereka saling menatap, Kara mendekat kearah Vano.
"apa kalian menikah?" tanya Kara, Vano melihat Kara.
"menurutmu?" ucap Vano, Kara menatap Vano.
"kenapa kau melakukan ini?" tanya Kara lagi.
"bukan aku, tapi kau. karena kau penderitaan terjadi padanya." saut Vano, Kara tertawa.
"salah paham, dia salah paham padaku." Vano tidak mengerti maksud Kara.
"seperti aku yang salah paham padanya, dia juga salah paham padaku." ucap Kara lagi.
"apa maksudmu?" tanya Vano.
"dalam kemarahan aku mengatakan semuanya, dan dia marah hingga meninggalkan aku!" ucap Kara.
"bukan, dia marah karena kau tidur dengan wanita lain!" saut Vano, Kara teringat pada wanita yang tidur dengannya tanpa sengaja.
"aku tidak tidur dengan wanita itu, wanita itu mengantarku karena tidak sadarkan diri, dan dia tidak sengaja tidur bersamaku. aku tidak tahimu Nadia datang, bahkan tidak membangunkan aku." jelas Kara, Vano melihat kejujuran dimata Kara.
"jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Vano, Kara menatap Vano.
"aku akan mendapatkannya lagi, aku akan memohon maaf padanya, aku akan meminta dia kembali padaku." saut Kara, Vano tersenyum.
"kalian saling mencintai, tapi juga saling menyakiti." ucap Vano,
"ceraikan Nadia!" saut Kara, Vano tertawa.
"bagaimana bisa aku ceraikan, kalau menikahi saja belum." jawab Vano, Kara terkejut.
"apa?"
"buktikan padaku, kalau kau benar benar ingin dia kembali. perbaiki kesalahanmu, jika kau membuktikannya aku sendiri yang akan menyerahkan Nadia padamu."
***
__ADS_1
Nadia mendapatkan undangan untuk datang kerumah sakit tempat dia bekerja dulu, Nadia sangat berharap bisa melakukan pekerjaan itu lagi disana.
setelah itu Nadia mendapatkan panggilan lalu mendapatkan sebuah surat keputusan, Nadia merasa ragu untuk membuka itu. sampai akhirnya ketemu Dewi,
"Nadia,!" panggil Dewi, Nadia pun menoleh.
"oh hai," ucap Nadia, Dewi melihat amplop yang dipegang Nadia.
"apa itu?" ucap Dewi, Nadia menjadi gugup lagi.
"ini surat ijin praktekku, aku takut membukanya. aku pikir jika membukanya akan menghancurkan harapanku." ucap Nadia, Dewi tersenyum.
"oh ayolah buka, aku juga pengen tahu. jangan takut, aku percaya padamu." ucap Dewi, Nadia mengangguk lalu perlahan membuka amplop itu.
"apa katanya?" tanya Dewi penasaran, Nadia masih fokus membacanya.
"yeah!!!" teriak Nadia membuat Dewi terkejut.
"aku.. aku dapat ijin, lihat aku akan bekerja disini lagi." ucap Nadia senang, Dewi pun ikut senang.
"tuh kan aku sudah yakin padamu, selamat!!" ucap Dewi girang, kedua sahabat itu sangat girang sampai Beberapa orang melihat kearah mereka.
Nadia bergegas untuk pulang dan memberitahukan pada Vano dan Naira.
Vano sedang duduk didalam ruangannya, ia melihat foto Naira dan Nadia. Vano tersenyum sendiri dengan itu, tanpa ia sadari seseorang datang mendekat kearah nya.
"kau mencintainya, kenapa tidak katakan padanya?" ucap seseorang, Vano melihat orang itu dan ternyata sahabatnya Lukman.
"dulu, aku tidak mencintai Nadia sekarang, aku hanya mencintai putrinya!" saut Vano, Lukman duduk dihadapannya.
"wah, aku tidak menyebut namanya, lalu kenapa kau menyebut Nadia." ucap Lukman menggoda, Vano melempar pulpen kearah Lukman.
"bodoh, apa yang kau lakukan disini!" ucap Vano, Lukman tertawa melihat wajah Vano kesal.
"hotelmu kembali, perusahaan KR tidak jadi membelinya." Vano tidak merasa heran, karena ia sudah tahu Kara mengembalikannya.
"iya sudah tahu, lalu apa lagi?" tanya Vano,
"hm.. jadi kau tidak berniat menikahinya?" tanya Lukman, Vano tersenyum.
__ADS_1
"kau ini benar benar menyebalkan!" ucap Vano, Lukman terus memandang Vano.
"aku hanya ingin membantunya, dia juga mempunyai suami bahkan anak. aku menghormati hubungannya dengan suaminya." jelas Vano, Lukman menggelengkan kepala.
tiba tiba seseorang membuka pintu ruangan Vano, terlihat Naira berlari kearah Vano, diikuti Nadia dibelakangnya. Vano langsung memeluk dan menggendong Naira, Nadia tersenyum kearah teman Vano.
"kenapa kesini?" tanya Vano, Nadia tersenyum.
"aku bawa makan siang, setelah jemput Naira langsung kesini." ucap Nadia, kemudian Lukman berpamit untuk pergi.
Nadia menyiapkan makanan untuk Vano, Vano sedang asik bicara dengan Naira.
"Vano aku dapat surat ijin praktek lagi," ucap Nadia, Vano terlihat senang.
"benarkah, dimana?" tanya Vano
"dirumah sakit yang dulu saat aku bekerja, besok sudah diijinkan untuk datang." ucap Nadia lagi, Vano tersenyum.
"baguslah, Naira apa kamu betah tinggal disini?" tanya Vano pada Naira.
"tentu saja, Naira juga punya teman baru." saut Naira, Nadia dan Vano pun tersenyum.
"mama kalau bekerja jangan menyuntik seseorang ya, nanti orang itu marah." celetuk Naira, Vano menahan tawa.
"apa maksudmu marah, kamu pikir mereka sepertimu saat disuntik akan menangis lalu marah." saut Nadia,
"aku tidak takut, aku hanya tidak suka dengan jarum nya." saut Naira lagi, Nadia semakin gemas dengan Naira.
"oh iya, itu sama saja dengan penakut, kau penakut!" ucap Nadia lagi, Naira malah menjulurkan lidahnya.
"mama memang kejam, orang tidak sakit disuntik wekkk..." ucap Naira, Nadia mengejar Naira yang berlari dengan meledeknya.
"kesini kamu, mama akan berikan kamu suntikan!" ucap Nadia mengejar Naira.
Vano hanya tertawa melihat mereka berdebat seperti itu, Vano berpikir kapan lagi dia akan mendengar semua itu setelah menyerahkan mereka pada Kara.
***
jangan bosen ya...😍
__ADS_1
jangan lupa like dan komen kalian😍