
keesokan harinya Amelia berencana pergi untuk menemui Adnan, sebenarnya Amelia tidak khawatir jika Adnan nakal. entah kenapa jika Amelia jauh dari Adnan itu membuatnya takut, Amelia bergegas mencari taksi. saat ingin menghadang taksi Naira mendapat telfon, telfon itu dari Vano.
"halo?" ucap Amelia melihat jalan untuk menghadang taksi.
"halo, nanti siang aku akan datang. aku akan antar kamu jemput Adnan." ucap Vano disebrang.
"aku sudah mencari taksi sekarang jadi kamu tidak perlu datang,"
"hei kenapa, tunggulah aku."
"tidak Vano, kamu urus saja pekerjaanmu. ya sudah ku tutup dulu ya telfonnya."
"baiklah. hati hati dijalan, kalau ada apa apa hubungi aku."
"oke, dah!"
setelah mengatakan itu Amelia menutup telfonnya, taksi yang dipanggilnya pun sudah datang. saat ingin masuk kedalam taksi seseorang memanggilnya,
"nona Amel?" panggilnya, Amelia menoleh kearah suara itu.
"Nikil?"
Nikil adalah asisten dari suami Amelia yaitu Adnan, dulu Nikil sangat dipercaya oleh Adnan. Amelia terkejut saat melihat Nikil di Indonesia, karena selama ini ia berpikir Nikil ada di London.
"k..kamu, ngapain kamu disini?" tanya Amelia gugup, Nikil tersenyum.
"nona bisakah kita bicara?" tanya Nikil, Amelia yang ingin masuk taksi mengurungkan niatnya.
"aku buru buru, maaf!." ucap Amelia singkat, Nikil berusaha menghentikan Amelia.
"nyonya besar ada di Indonesia.!" ucapan Nikil membuat Amelia terkejut, saat mendengar itu nyonya besar yang dimaksud adalah mertuanya. Rosa.
"nyonya jadi masuk atau tidak?" teriak supir taksi didalam mobil,
"maaf pak, silahkan bapak pergi." ucap Nikil tersenyum, taksi itu pun berlalu pergi.
"nona ikutlah saya, kita akan bicara." ucap Nikil lagi, Amelia menurut dengan itu.
Nikil membawa Amelia menuju restoran terdekat, disana mereka mulai duduk bersama dan memesan minuman. Amelia masih memikirkan perkataan Nikil, Nikil mengetahui apa yang sedang dipikirkan Amelia.
"nyonya besar ada di Indonesia, dia sedang mencari anda untuk mengambil tuan muda!" ucap Nikil, Amelia semakin terkejut.
"apa yang kau katakan, bagaimana itu mungkin!" ucap Amelia khawatir, Nikil membenarkan kacamata yang ia pakai.
"nyonya besar terus mencari keberadaan kalian, beberapa saat lalu nyonya menyuruh orang untuk mencarimu dan mengambil tuan muda. tapi, mereka memberi laporan kalau kau tidak sendiri disini. melainkan kau bersama pria lain, nyonya besar marah. dia berniat untuk mengambil tuan muda dengan cara apapun, dan dia datang sendiri kemari untuk melakukan dengan caranya sendiri." jelas Nikil, Amelia tidak tahu harus berkata apa, yang ia lakukan hanya menangis.
"tidak akan kubiarkan dia mengambil putraku, aku ibunya. aku berhak atas putraku, dia tidak berhak mengambil Adnan." kesal Amelia meninggikan suaranya, Nikil berusaha menenangkannya.
"tolong nona tenanglah, tapi tuan muda Adnan adalah pewaris tunggal. karena itu nyonya ingin pewarisnya, nona nyonya besar bisa melakukan apapun. nona tolong berikan saja tuan muda, demi keselamatan dirimu." ucap Nikil, Amelia semakin tidak bisa terkontrol.
"aku tidak peduli dengan diriku, aku bisa lakukan cara apapun untuk melindungi anakku. dan apapun cara yang dia lakukan, aku tidak akan menyerahkan putraku padanya. aku bisa kehilangan semuanya, tapi aku tidak bisa kehilangan putraku." ucap Amelia mengancam.
"saya percaya dengan anda dan saya lega. saya sudah berusaha mencari anda selama satu bulan ini, saya juga berharap untuk menemukan anda lebih dulu sebelum nyonya besar. apa yang saya ingin katakan pada anda sudah saya katakan, saya ingin anda berhati hati. karena saya juga berharap nyonya besar tidak menemukan anda, jika nyonya sudah menemukan kalian, aku tidak bisa melakukan apapun. kalau begitu saya pamit dulu." ucap Nikil pergi dari sana, Amelia terduduk dan diam.
__ADS_1
"tidak, tidak akan kuserahkan Adnan pada nya." gumam Amelia, ia berdiri dan mengambil tasnya. Amelia berlalu pergi dari sana.
****
saat sampai dirumah Kara, Amelia melamun dengan pikirannya sendiri. Amelia benar benar takut jika Rosa ibu mertuanya itu mengambil putranya, Amelia tidak bisa merasakan kehilangan putranya.
terlihat Vano berdiri tidak jauh dari Amelia, Vano heran kemana Amelia pergi. saat Amelia mengatakan ingin pergi menemui Adnan, Vano langsung bergegas pergi. sampainya Vano dirumah, ia tidak melihat Amelia. dan sekarang Vano malah melihat Amelia yang sedang melamun, Vano segera menghampiri Amelia.
"ada apa?" tanya Vano, Amelia menatap Vano kemudian melihat Adnan. Amelia langsung berlari kearah Adnan dan memeluknya.
"Adnan, kamu harus janji sama mama. kamu gak boleh ninggalin mama, mama akan berusaha melindungi kamu bagaimana pun caranya. mama tidak mau jika kamu harus menjauh dari mama, Adnan janji sama mama. mama sangat menyayangi kamu, mama gak mau kamu ninggalin mama." ucap Amelia memeluk Adnan, Adnan yang tidak mengerti hanya terdiam melihat Amelia menangis.
"Adnan berjanjilah!" ucap Amelia, Adnan menghapus air mata ibunya.
"Adnan tidak akan meninggalkan mama, mama jangan menangis." ucap Adnan, Amelia memeluk Adnan lagi.
"iya, jangan pernah meninggalkan mama."
Vano tidak mengerti maksud Amelia, Vano memilih untuk diam dan membiarkan Amelia untuk tenang. Vano berpikir ada sesuatu yang terjadi padanya.
beberapa saat kemudian Amelia duduk bersama Nadia dan Kara, juga ada Vano disana. Amelia menceritakan kejadian saat dirinya bertemu dengan Nikil, Nadia ikut merasakan apa yang dirasakan Amelia. Nadia mencoba menenangkan Amelia. Kara memerintahkan beberapa orang untuk memberikan penjagaan pada Adnan dan Amelia jika pergi kemana pun, begitu juga dengan Vano.
"aku sangat takut Nadia, waktu itu karena Vano putraku masih ada bersamaku. sekarang aku takut, dia akan benar benar mengambil putraku." ucap Amelia terdengar khawatir.
" kamu tenanglah, jangan tertekan. kamu ibu yang kuat, tidak ada yang bisa memisahkan seorang anak pada ibunya sendiri." ucap Nadia duduk disebelah Amelia, Amelia tersenyum.
"aku bisa merasakan kesedihanmu. Kara dan Vano bisa melakukan cara apapun, untuk melindungi kalian." ucap Nadia lagi, Amelia mengangguk.
"aku tidak tahu, harus membalas kalian dengan apa. kalian sangat baik, aku beruntung bertemu kalian. terima kasih Nadia," ucap Amelia menangis, Nadia memeluk Amelia.
"apa yang kamu katakan!" ucap Amelia mengelak,
"kamu tahu apa yang sedang aku katakan!" jawab Nadia, Amelia menatapnya dan tersenyum.
"aku tau posisiku, aku hanya seorang wanita membawa seorang putra berumur 9 tahun, yang membutuhkan pertolongannya. aku tidak pantas mengharapkan lebih." ucap Amelia.
"dia peduli padamu, apakah kamu tidak menyadari kalau dia sangat mencintaimu." saut Nadia.
"dia peduli karena kasihan, bukan karena cinta Nadia. aku mencintainya, tapi aku tidak pernah mengharapkan dia mencintaiku. bahkan dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, aku hanya bisa merepotkan." ucap Amelia meneteskan air mata, Nadia ikut merasa sedih.
"aku bisa melihat mata Vano, dia sangat mencintaimu." gumam Nadia pelan, Amelia menutup wajahnya karena merasa lelah dengan semuanya.
Kara sadar Vano memperhatikan Amelia dengan tatapan sendu. Vano sendiri tidak tahu harus berbuat apa, yang Vano tahu harus berusaha untuk selalu melindungi Amelia dan Adnan.
"kau sangat bodoh!" ucap Kara, Vano menoleh kearah Kara.
"apa yang kau katakan?" tanya Vano, Kara menggelengkan kepalanya.
"sampai kapan kamu menyembunyikan perasaanmu, kau sangat mencintainya. Vano ini kesempatan untukmu, dia membutuhkan seseorang untuk melindunginya terutama untuk putranya. jadilah orang paling penting untuknya, jadilah orang yang selalu ada setiap kali dia membutuhkan mu." jelas Kara, Vano terdiam.
"Vano dia membutuhkan seseorang dalam hidupnya, begitu juga denganmu. tidak mudah seorang wanita hidup sendiri untuk melindungi putranya, hanya wanita hebat yang bisa melakukan itu. kamu tidak akan menemukan wanita seperti itu lagi. sudah cukup untuknya menderita, apa kau tidak bisa lihat betapa dia mengharapkanmu untuk mencintainya?" ucap Kara lagi, Vano meneteskan air matanya.
"aku bahkan bisa melihat perasaanmu selama ini bukan hanya kasihan padanya, melainkan kamu sudah mencintainya dari awal. Vano aku mendukung mu, kamu bisa melindunginya." ucap Kara lagi.
__ADS_1
"iya kamu benar, aku sangat bodoh. tidak akan kubiarkan wanita seperti itu pergi dariku, wanita itu membutuhkanku. aku sudah mencintainya sejak awal, aku akan melindunginya dan putranya dengan cara apapun. terima kasih telah mendukungku." ucap Vano, Kara tersenyum dan mengangguk.
"bisa kau membantuku?" tanya Vano, Kara mengangkat kedua bahunya.
"katakan apa yang kau butuhkan!" ucap Kara, Vano tersenyum.
"buat dia datang kerumahku sendiri malam ini, hanya sendiri tanpa Adnan!." ucap Vano, Kara mengerti apa yang dimaksudkan Vano.
"siap, tapi apa yang akan kau lakukan?" tanya Kara berpura pura tidak tahu, Vano tahu Kara sedang menggodanya.
"bercinta!" saut Vano dengan kesal, Kara tertawa dengan itu.
"haha... oke oke aku mengerti," ucap Kara, Vano mengangguk lalu pergi dari sana.
****
Kara ingin menghampiri Amelia, tapi langkahnya terhenti ketika melihat anak anak sedang bermain. Kara tersenyum ketika melihat Naira yang terus menempel pada Adnan, bahkan Adnan tidak keberatan dirinya dinakali oleh Naira.
Kara terkejut ketika melihat Naira menginjak sebuah mainan dan terjatuh, saat Kara ingin menghampirinya terlihat Adnan langsung menenangkan Naira.
"apa ini sakit?" tanya Adnan, Naira menangis saat merasakan kakinya sakit.
"sakit sekali, gendong aku." ucap Naira, Adnan tersenyum lalu menggendong Naira.
"jadi ini hanya alasan, agar kamu bisa digendong!" ucap Bagas, Naira tertawa.
"iya, tapi ini benar sakit. lihatlah!" ucap Naira, Bagas melihat kaki Naira yang sedikit memar.
"tidak apa, nanti sembuh." ucap Bagas, Naira mengangguk.
"kakak aku juga mau digendong!" ucap Riana pada Bagas, Bagas tersenyum lalu menggendong adiknya itu.
Kara tertawa melihat kelucuan anak anak itu, Nadia dan Amelia menghampiri Kara yang tertawa. mereka juga melihat apa yang dilakukan anak anak itu, Nadia menyenggol tangan Kara.
"eh kamu, lihatlah tingkah bocah bocah itu." ucap Kara masih tertawa.
"iya aku lihat, kenapa?" tanya Nadia heran melihat Kara yang masih tertawa.
"Naira jatuh, lalu minta gendong pada Adnan. setelah itu Riana juga meminta pada Bagas untuk menggendongnya. sekarang bayangkan jika tidak ada Adnan, Naira minta gendong pada Bagas. lalu Riana juga ingin digendong, tulangnya akan remuk menggendong mereka." jelas Kara tertawa, Nadia dan Amelia pun ikut tertawa. Kara teringat pesan Vano saat melihat Amelia tertawa.
"oh iya Mel, nanti pergilah kerumah Vano sendiri." ucap Karal, Amelia merasa penasaran begitu juga dengan Nadia.
"kenapa, nanti aku bawa Adnan juga kok." saut Amelia, Kara bingung harus bilang apa lagi pada Amelia.
"oh begini, biarkan Adnan tinggal disini. mertuamu itu bisa melakukan apapun dan kapanpun semaunya, jika dia melihat kalian lalu mengambil Adnan. itu berbahaya, mending Adnan jangan dibawa keluar." jelas Kara mencari alasan, Amelia tampak berpikir.
"itu benar, ide Kara sangat bagus." saut Nadia, Kara lega saat Nadia ikut bicara.
"baiklah, aku titip Adnan disini." ucap Amelia, Nadia dan Kara mengangguk.
Kara tersenyum bahagia saat sudah bisa mengatasi Amelia, Kara sangat yakin Amelia terbaik untuk Vano begitupun sebaliknya. Kara berdoa agar mereka bisa hidup bersama, dan menjadi keluarga yang bahagia.
****
__ADS_1
**jangan lupa like dan komen kalian, karena itu semangat buat Author😍 jangan lupa buat vote juga ya🤗
jangan bosen ya...😍**