My Love Story 2

My Love Story 2
99. Janji Adnan.


__ADS_3

keesokan harinya, ditempat Rosa sedang mempersiapkan semua kebutuhan untuk kembali ke London, Adnan duduk masih memikirkan keadaan ibunya. semua pelayan melayani Adnan dengan ramah, tapi sifat diam dari Adnan telah kembali seperti dulu.


Adnan memegang sebuah kalung berbentuk love, Adnan berpikir untuk memberikan kalung itu pada Naira. Adnan memikirkan perasaan Naira yang tidak tahu bahwa dirinya telah ingkar janji, pasalnya ia mengatakan pada Naira tidak akan pernah meninggalkannya.


Rosa melihat Adnan yang sedari tadi terdiam, Rosa berpikir Adnan masih memikirkan tentang Amelia. Rosa mendekat kearah Adnan, kehadiran Rosa membuat Adnan merasakan takut kembali.


"jangan takut, kenapa kamu takut dengan nenek?" ucap Rosa tersenyum, Adnan menghindar saat Rosa ingin menyentuh kepalanya.


"Anan kenapa kamu membenci nenek?" tanya Rosa, Adnan menatap neneknya itu dengan tatapan marah.


"jangan panggil aku Anan, namaku adalah Adnan. hanya satu orang yang bisa memanggil nama itu." ketus Adnan lalu pergi dari sana, Rosa melihat itu menyeringai.


"halo, buat penerbangan hari ini. aku tidak ingin lama lama disini, urus semuanya." ucap Rosa di telfon, Rosa berniat untuk mengajak Adnan secepatnya untuk meninggalkan jakarta.


"Adnan kamu akan melupakan semua yang ada disini, sekarang hanya nenek yang akan kamu punya!" gumam Rosa tersenyum.


Adnan telah diberitahu untuk kembali Ke London, siang ini. Adnan bingung harus apa, Adnan sangat ingin menghubungi Amelia tapi tidak karena Adnan tidak mau neneknya itu menyakiti Amelia.


yang dipikirkan Adnan adalah Naira, yang belum bertemu dengan Naira. Adnan diam diam keluar dari rumah itu, terlihat beberapa penjaga menjaga rumah itu dengan ketat. yang ada dipikiran Adnan tidak ingin kabur dari neneknya, Adnan hanya berpikir untuk menemui Naira yang terakhir kali.


tapi langkah Adnan kalah cepat dengan orang suruhan Rosa, Adnan kembali tertangkap oleh orang suruhan Rosa. dua orang bertubuh kekar mengangkat Adnan, Adnan meronta untuk dilepaskan.


"tuan muda, nyonya mengatakan anda tidak boleh pergi kemana pun!"


"lepaskan, aku tidak ingin kabur. aku hanya ingin bertemu seseorang.!!" teriak Adnan, ia berusaha melepaskan diri.


"siapa yang ingin kamu temui!" ucap Rosa tiba tiba, Adnan melihat itu menjadi diam. Rosa melangkah mendekat kearah Adnan, Adnan menatap Rosa dengan tatapan kebencian.


"Adnan, nenek sedang bertanya!" ucap Rosa tenang, dan memerintahkan untuk melepas Adnan.


"Aku ingin bertemu Naira, ijinkan aku bertemu dengannya. aku tidak akan kabur, setelah menemuinya aku janji akan ikut bersamamu." ucap Adnan memohon, Rosa melihat itu merasa ibah.


"nenek akan membawanya kemari, katakan dimana rumahnya?" tanya Rosa dengan angkuh.


"dia tidak dirumah sekarang, Naira ada disekolah!" saut Adnan, Rosa memanggil beberapa orang suruhannya


"katakan dimana sekolahnya?" tanya Rosa lagi,


"sekolah sd melati." saut Adnan, beberapa orang itu langsung pergi atas perintah Rosa.


"aku saja yang kesana, aku mohon." saut Adnan memohon.


"baiklah, pergilah. tapi ingat jika kau menemui yang lain dari dia, nenek bisa melakukan apapun!" ucap Rosa angkuh, Adnan langsung pergi menuju mobil yang sudah disiapkan.


Adnan merasa tidak percaya pada neneknya itu. Rosa bahkan tega tidak membiarkan Adnan bertemu dengan ibunya, Adnan menyeka air matanya yang hampir menetes.


"mulai hari ini aku tidak akan menangis, aku akan mengingat pesan mama dan papa. nenek jangan salah kan aku jika suatu saat aku menjadi egois, aku tidak akan memanggilmu sebagai nenek lagi!" gumam Adnan, terlihat wajah kebencian pada dirinya.


***


pagi yang sama Vano datang bersama Amelia kerumah Kara, Nadia dan Risa mencoba menemani Amelia untuk bicara. sedangkan Vano bicara dengan Kara, terlihat Amelia masih saja sedih dengan itu.


"Amelia jangan sedih, kami yakin Adnan akan kembali nanti." ucap Nadia, Amelia masih duduk dengan pikirannya


"Amel jangan dipikirin ya, seorang nenek tidak akan menyakiti cucunya. percayalah, Adnan pasti baik baik saja." saut Risa tersenyum begitu juga dengan Nadia tersenyum, Amelia masih terdiam.


"lihat ini adalah adik untuk Adnan, setelah dia kembali Adnan pasti sangat senang. benarkan Nadia," ucap Risa, Nadia tersenyum. Amelia mengelus perutnya, ia teringat pada Adnan lalu meneteskan air mata.


"iya, aku harap Adnan tidak akan melupakan aku dan kita!" ucap Amelia, Nadia dan Risa tersenyum.


"dia tidak akan melupakan ibunya yang hebat ini, sudah ayo tersenyum." mereka merasa senang saat Amelia tersenyum, dari jauh Kara dan Vano ikut tersenyum.


***


Adnan telah sampai disekolah Naira, Adnan langsung keluar dari mobil untuk mencari Naira. Adnan melihat jam sudah menunjukkan waktu kelas Naira istirahat, Adnan segera mencari Naira.


Adnan berhenti ketika melihat Naira yang sedang duduk disebuah bangku, Naira duduk sendirian tanpa ditemani siapapun. Adnan memegangi kalung berbentuk love itu, Adnan mendekati Naira.


"Nara!" panggil Adnan, Naira menoleh dan tersenyum lebar ketika melihat Adnan.


"kak Anan!!" teriak Naira senang lalu memeluk Adnan, Adnan membalas pelukan itu.


"kak Anan disini, Naira belum pulang. nanti dirumah saja mainnya." ucap Naira, Adnan tersenyum.


"aku ingin menemui Nara disini, karena mau kasih ini!" saut Adnan menunjukkan kalung yang ia bawa.


"wahh canti sekali, ini buat Nara?" ucap Naira senang, Adnan memasamgkan kalung itu pada leher Naira. Naira sangat senang dengan kalung itu, begitu pun Adnan yang senang melihat kalung itu cocok untuk Naira.


"ini hadiah dari kakak, lihat disini ada nama Nara dan Anan. Naira ingat ya, jangan lepas kalung ini. kalau kamu melepasnya, kakak akan sedih!" ucap Adnan, Naira tersenyum dan mengangguk.


"iya Naira janji, kalungnya sangat cantik!" ucap Naira tersenyum lebar, Adnan mengelus rambut Naira.


"aku tidak punya hadiah untuk kakak, aku akan kasih besok ya buat kakak!" ucap Naira, Adnan tersenyum laluenggelengkan kepala.


"tidak, besok kakak tidak disini. nanti kakak mau jalan jalan naik pesawat, kakak akan pergi nanti siang!" Naira terkejut dengan itu.


"Naira ikut, Naira juga ingin naik pesawat terus jalan jalan sama kak Anan!" saut Naira, Adnan mendudukan Naira.


"tidak, Naira tidak boleh ikut. kak Anan jalan jalannya jauh, terus pulangnya lama. Naira tunggu saja sampai kak Anan datang!" ucap Adnan, Naira merasa sedih.


"jadi kak Anan mau ninggalin Naira sendirian, Naira gak mau ditinggal!" rengek Naira, Adnan mengusap pipi Naira.

__ADS_1


"kak Anan gak ninggalin Naira kok, kak Adnan akan kembali untuk Naira dan yang lain." belum selesai Adnan bicara, seorang pria datang menghampiri mereka, pria itu Nikil.


"tuan muda, nyonya meminta kita kembali." ucap Nikil, Adnan menoleh ketawa Nikil.


"iya om, Naira ingat jangan katakan pada siapapun kalau kakak disini!" ucap Adnan, Naira mengangguk.


"tidak akan, setelah selesai jalan jalan harus pulang ya." ucap Naira, Adnan mengangguk.


"iya, pergilah kelasmu sudah dimulai!" ucap Adnan, Naira mengangguk lalu melangkah pergi. sesekali Naira menoleh kebelakang melihat Adnan, Adnan tersenyum dan melambaikan tangan.


"mari tua muda, aku percaya tuan muda akan kembali kesini suatu hari nanti. tuan muda bisa melakukan apapun yang dinginkan tuan muda nanti, tuan muda jangan menyerah." ucap Nikil, Adnan tampak memikirkan perkataan Nikil.


"iya om, Adnan janji tidak akan menyerah!" ucap Adnan, Nikil mengangguk. mereka masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.


***


siang harinya Vano menemani Amelia sampai tertidur, Vano menatap wajah Amelia yang terlihat begitu sedih. Vano berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Amelia, apapun yang terjadi dan dimana pun itu.


"aku mencintaimu. aku yakin, putra kita akan menjadi orang yang hebat dan berhasil. dia akan kembali untuk menemui kita, menemui ibunya."ucap Vano mencium dahi Amelia, Vano menutup tubuh Amelia dengan selimut lalu melangkah pelan keluar dari kamar itu.


Amelia yang belum tidur pulas membuka mata, ia mendengar apa yang dikatakan Vano. Amelia meneteskan air matanya, ia masih merasa tidak rela dengan kepergian Adnan. Amelia menyentuh perutnya.


"aku mencintaimu Vano, aku harap yang kamu katakan itu akan terjadi." ucap Amelia menangis.


Vano melangkah menjauh, Vano melewati kamar Naira dan Riana, Vano berpikir ingin menemui Naira yang dari tadi tidak ia lihat. Vano melihat kamar itu kosong, tidak ada Naira atau pun Riana.


lalu Vano teringat bahwa hari sudah siang dan mereka belum kembali. Vano segera turun kebawah, ia bertemu dengan Nadia.


"apa Naira sudah pulang?" tanya Vano, Nadia menoleh.


"oh belum, mereka masih dijemput mas Riyan!"


belum selesai bicara Febriyan masuk dengan menggendong Riana, Vano tersenyum melihat itu. tapi Vano heran saat tidak melihat Naira disana, Vano menghampiri Febriyan.


"mas dimana Naira?" tanya Vano, Febriyan menoleh dan menurunkan Naira.


"bukankah Naira sudah pulang?" ucap Febriyan, karena pasalnya Naira sudah tidak ada disekolah. dan sekarang tidak ada dirumah.


"apa maksudmu, bagaimana kau bisa meninggalkan Naira disekolah!" ucap Vano sedikit meninggikan suaranya, Febriyan menatap Riana.


"Riana kamu bilang Naira sudah pulang, kamu bohong sama papa!" ucap Febriyan pada Riana, Riana diam dengan itu.


"Riana jawab papa, apa papa pernah mengajari kamu berbohong. Riana ingin dihukum ya!"


"enggak pa, Riana gak mau dihukum." saut Riana, Vano berjongkok dihadapan Riana dan bertanya dengan lembut.


" sayang, kemana Naira?" tanya Vano lembut, Riana menggelengkan kepala.


"apa Naira pergi ke kantor Kara?" tanya Vano, Febriyan berusaha menghubungi Kara. tapi Kara tidak menyahut, Febriyan kesal dengan itu.


"Kara tidak mengangkat, mungkin sedang sibuk." ucap Febriyan, Nadia dan Risa datang ketika mendengar Naira tidak ada.


"Vano cari disekolahnya, anak itu memang nakal!" ucap Nadia, Vano mengangguk lalu pergi dari sana.


Naira sendiri pergi untuk menemui Adnan yang mengatakan ada dibandara. Naira berjalan kaki menuju bandara, dengan berani Naira berjalan sendirian dari sekolah menuju bandara. karena memang letaknya tidak jauh, tapi bagi usia Naira itu akan sangat jauh.


saat sampai dibandara Naira masuk bandara itu dan melihat sekeliling untuk mencari Adnan, Naira melihat setiap anak laki laki yang dia kira adalah Adnan. Naira bertanya kepada setiap orang yang berdiri, tapi mereka tidak tahu dengan apa yang dikatakan Naira.


secara bersamaan Adnan duduk disebuah kursi tunggu, terlihat Adnan sedang bersama Nikil disana. Adnan melihat seseorang yang menurutnya mirip Naira, tapi Adnan berpikir itu hanya halusinasinya. bukan hanya Adnan, Nikil pun melihat Naira sendirian.


"tuan muda itu kan gadis kecil tadi!" ucap Nikil, Adnan terkejut dengan itu. karena bukan hanya dia yang melihat Naira tapi Nikil melihatnya, Adnan yakin bukan halusinasi.


"Naira!!" teriak Adnan, Naira yang merasa namanya dipanggil Naira pun menoleh. Naira senang saat melihat Adnan, ia pun berlari.


"kak Anan!!" teriak Naira berlari kearah Adnan, dan langsung memeluknya.


"Nara ngapain disini, Nara sama siapa?" tanya Adnan melihat sekeliling, Naira menggelengkan kepala.


"Naira tidak bawa siapapun, Naira kesini sendirian." ucap Naira tersenyum polos.


"itu bahaya, om Nikil antar dia pulang!" ucap Adnan, Nikil mengangguk saat ingin menggendong Naira menolak.


"tunggu dulu, Naira mau kasih ini!" ucap Naira memberikan sesuatu pada Adnan, Adnan membuka bungkusan itu. terlihat sebuah gelang yang sangat indah bertuliskan nama Kak Anan & Nara


"tadi disekolah Naira melihat ini, terus Naira bilang sama penjualnya untuk menulis nama kak Anan dan Nara. kaka suka kan?" ucap Naira, Adnan mengangguk dan tersenyum.


"suka sekali, terima kasih Nara. kakak akan selalu menyimpannya, kakak janji!" ucap Adnan meneteskan air mata.


"kenapa menangis, kakak harus pulang cepat ya. Naira gak mau jika kakak pergi lama lama!" ucap Naira menyeka air mata Adnan, Adnan tersenyum.


"kak Anan akan kembali, kakak janji. kak Anan akan menemui disini lagi nanti, kakak menyayangimu." ucap Adnan mencium pipi Naira, Naira membalas ciuman Adnan pada pipinya.


"Naira juga sayang kak Anan!" ucap Naira mencium pipi Adnan, mereka berpelukan.


terlihat Rosa datang melihat mereka berpelukan, Rosa tersenyum dan berjalan dengan angkuh menghampiri mereka.


"Adnan ayo berangkat!" ucap Rosa, Adnan melepas pelukan dari Naira.


"nenek cepat kembali ya, jangan terlalu lama kalau jalan jalan." ucap Naira, Rosa tersenyum.


"mungkin saja kak Adnanmu ini gak kembali, jadi kamu harus lupain kak Adnanmu." Naira yang polos hanya diam dengan itu, Adnan menatap Rosa dengan tajam.

__ADS_1


"om Nikil antarkan dia pulang, jangan sampai terluka ya." ucap Adnan, Nikil mengangguk lalu menggendong Naira.


"siap tuan muda!" ucap Nikil melangkah menjauh.


Adnan dan Naira saling melihat, Adnan menunggu hingga Naira sudah tidak terlihat lagi. setelah Naira hilang dibalik pintu, Adnan berbalik untuk pergi. Adnan dengan berat hati meninggalkan kota itu, kota yang terdapat ibunya, keluarganya bahkan Naira yang sangat ia sayangi.


Aku akan kembali, aku janji itu.


***


Nikil membawa Naira untuk pulang kerumahnya, Naira mengarahkan Nikil yang menyetir untuk kearah rumahnya. Nikil melihat Naira yang begitu menggemaskan, Nikil berpikir karena itu tuan mudanya itu sudah menyukai Naira.


di tempat lain Kara kembali setelah mendengar Naira belum kembali, Vano yang mencari disekolah tidak menemukannya. mobil Nikil telah sampai dirumah itu, membuat semua orang terkejut ketika melihat Naira berada digendongannya.


"Naira!!" teriak Nadia berlari kearah Naira, Amelia terkejut saat melihat Nikil.


"kamu siapa, bagaimana kamu bisa membawa putriku!" tanya Nadia, Nikil tersenyum dan memberi hormat pada Amelia.


"Nikil kenapa kamu disini, kenapa Naira bersamamu." tanya Amelia pelan, Vano memegang tubuh Amelia.


"nyonya Amelia, gadis kecil ini telah datang untuk menemui tuan muda di bandara, atas perintah tuan muda saya mengantarnya dengan selamat." ucap Nikil, Amelia terkejut saat mendengar menemui Adnan di bandara.


"nyonya, nyonya besar membawa tuan muda untuk kembali ke London hari ini. dan pesawatnya sudah berangkat pukul 12 siang tadi!" ucap Nikil lagi, Amelia semakin terkejut ketika mendengar putranya telah pergi.


"dia benar benar membawa putraku hiks.. aku harus melihatnya!" teriak Amelia, Vano menahan Amelia dan menggelengkan kepala, Amelia menangis histeris.


"Adnan, dia telah meninggalkan aku. bagaimana bisa Adnan meninggalkan aku, Vano bawa Adnan kembali..." ucap Amelia menangis, semua orang merasa sedih untuk itu begitu juga dengan Nikil.


"saya yakin tuan muda akan kembali nyonya, itu janji tuan muda pada kalian. sebelumnya tuan bilang padaku, kalau kalian tidak perlu mengkhawatirkannya. suatu hari nanti tuan muda akan kembali untuk menemui kalian, dia berjanji akan menjadi orang hebat." ucap Nikil, Amelia menangis dalam pelukan Vano


"kalau begitu saya pergi dulu, terima kasih telah menjaga nyonya Amelia." ucap Nikil, saat ingin pergi Amelia menahan Nikil.


"Nikil boleh aku meminta sesuatu padamu." Nikil mengangguk.


"jaga putraku, buat dia menjadi orang yang dihormati. buat dia seperti ayahnya, buat dia selalu dijalan yang benar. jangan pernah membuatnya bersedih ataupun menangis, Nikil aku percaya kamu bisa mengurus anakku, tolong anggaplah anakku seperti anakmu. pergilah bersamanya kemana pun dia pergi, bisakah kamu berjanji itu padaku." jelas Amelia menangis, Nikil mengangguk dan tersenyum.


"saya janji, jangan khawatir." tegas Nikil, Amelia merasa lega dengan itu meskipun masih tidak rela Adnan meninggalkannya atau pergi bersama mertuanya.


****


satu tahun telah berlalu, kehidupan mereka berjalan dengan lancar, bahkan Vano dan Amelia merasa bahagia dengan kelahiran putri mereka. meskipun masih merasa sedih, Amelia tidak ingin membuat kesedihannya berpengaruh pada semua orang termasuk bayinya.


"lihatlah, Nanda sudah bisa tersenyum melihatku!" ucap Vano, Amelia tersenyum.


"iya, nanti juga akan memanggilmu papa lalu berjalan dan berlari kearahmu." saut Amelia, Vano tersenyum dan mencium kening Amelia.


"iya aku sangat bahagia, jangan bersedih lagi ya." ucap Vano, Amelia mengangguk dan tersenyum.


"iya."


saat Vano ingin mencium Amelia hpnya berdering, terlihat Kara menelfonnya. Vano sangat malas untuk mengangkatnya, Amelia tertawa.


"angkatlah, itu Kara.." ucap Amelia lembut, Vano mencium pipi istrinya.


"dia orang paling menyebalkan yang aku temui, " ucap Vano lalu pergi mengangkat telfon.


"Kara kenapa kau menggangguku," ucap Vano kesal pada telfon Kara.


"apa Naira dirumahmu?"


"tidak, sekarang kan waktunya pulang sekolah. pasti dia disekolah!" ucap Vano melihat jam ditangannya.


"dia tidak ada di sekolah, aku sudah mencaeinya kemana mana. bahkan dia tidak bilang pada Riana kalau akan pulang atau pergi, Vano bantu kau cari dia."


"aku tahu dia kemana, kamu ingat kan saat Adnan pergi dia kemana, aku akan kesana." ucap Vano lalu mematikan telfonnya, Vano mengambil kuci mobil dan berpamitan pada Amelia.


Vano segera pergi keluar untuk Naira, Vano selalu merasa khawatir saat mendengar Naira tidak kembali kerumah. Vano tahu benar sifat Naira yang keras kepala dan berani, Naira bisa melakukan apapun yang dia mau. Vano juga berpikir Naira sedang di bandar menunggu kepulangan Adnan, Vano bergegas pergi ke bandara.


Naira sendiri sedang berdiri diluar bandara, Naira menunggu Adnan yang mengatakan akan pulang. Naira menjadi sedih ketika tidak melihat Adnan datang, Naira terus melihat sekelilingnya.


Vano sampai di bandara, dan benar ia melihat Naira yang sedang berdiri memakai seragam sekolah dan lengkap dengan tasnya. Vano segera menghampiri Naira.


"Naira!" teriak Vano, Naira menoleh terlihat wajah sedih disana.


"papa Vano!" ucap Naira, Vano langsung menggendong Naira.


"ngapain kamu disini?" tanya Vano, Naira menangis.


"kak Anan bohong sama Naira, kata kak Anan dia akan pulang. kenapa dia tidak pulang, apa kak Anan melupakan Naira?" ucap Naira menangis, Vano melihat kesedihan Naira yang tidak melihat Adnan selama setahun ini.


"dia tidak lupa, kak Anan akan pulang untuk bertemu Naira. ingat Naira gak kesini lagi sendirian, ayo papa akan antar Naira pulang. Naira tau papa Naira sedang khawatir, jika mau kesini bilang dulu." ucap Vano melangkah kearah mobilnya, Naira terdiam melihat ke arah bandara yang masih berharap Adnan datang.


"aku sudah menemukannya, tidak perlu khawatir." ucap Vano pada telfon, setelah Vano mematikan telfon ia menjalankan mobilnya untuk pergi dari bandara. Vano melihat Naira terus melihat ke arah Bandara, Vano teringat pada Adnan.


Adnan papa harap kamu baik baik saja disana, dan kamu ingat dengan janjimu pada kami untuk kembali. bukan hanya kami, tapi juga pada Naira yang kau janjikan padanya. papa harap kamu dapat menepati janji janji itu, kami semua menyayangimu.


(END)


****


halo semua.. terima kasih sudah selalu setia menunggu up dan membaca My Love Story 2 dari awal hingga akhir, maaf jika ada kesalahan dalam cerita atau lainnya. terima kasih untuk dukungan, vote, like dan komen kalian😘 tunggu story selanjutnya dari author ya, terima kasih..🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2