
hari kedua mereka diswis, memutuskan untuk pergi berjalan jalan. hawa yang dingin membuat negara itu selalu berkabut dan turunnya salju. dengan bahagia Kara selalu mendorong Nadia menyusuri jalan, dengan diikuti Risa dan Febriyan. lalu mereka berhenti disebuah toko mainan, dan melihat lihat.
"Nadia apa kau ingin ini?" ucap Kara menunjukkan sebuah boneka beruang.
"tidak.." jawab Nadia tersenyum.
"ini sangat cantik, kita beli ya.." Kara tetap merayu Nadia untuk membeli boneka itu.
"Kara.. kalau kita sudah punya anak baru beli ini oke." ucap Nadia perlahan, akhirnya Kara menyerah dengan itu.
"kenapa kau sedih, belilah itu dan berikan pada Bagas. bagaimana?" ucap Febriyan.
"hei apa kau gila, apa iya boneka pink diberikan Bagas. ayah macam apa kau itu, keterlaluan!" ucap Kara, mereka semua tertawa.
Kara menaruh kembali boneka itu pada tempatnya, lalu tatapannya tertuju pada sebuah ular mainan yang ada disana. Kara jadi ingat kalau Nadia itu takut dengan yang namanya ular, Kara berniat untuk membeli ular mainan itu. Kara berniat membuat rencana untuk menakuti Nadia dengan itu, agar Nadia terkejut lalu Nadia berdiri dan berlari kearahnya.
"Kara kenapa kau melamun?" Kara menoleh ketawa Nadia dan tersenyum.
"tidak hanya aku berpikir memberikan boneka pink tadi untuk Bagas saja." celetuk Kara, Febriyan melotot kearah Kara. Kara hanya tertawa dengan itu.
"kita sudah lama diluar, ayo kembali ke hotel!" ucap Febriyan.
"ha.. iya benar kalian kembalilah dulu, aku akan membeli barang untuk keluarga kita. aku akan menyusul kalian setelah selesai bagaimana?" saut Kara, Nafia dan Febriyan mengiyakan tapi Risa tampak bingung dengan itu.
kenapa Kara tidak mengantar Nadia ke hotel dulu, apa yang akan dia lakukan, ada yang tidak beres.
Kara kembali ke toko mainan itu setelah mengantar Nadia kemobil, Risa beralasan untuk membeli sesuatu, Febriyan pun menyetujuinya. Risa mengikuti langkah Kara yang menuju toko mainan itu, Risa bingung ke apa Kara kembali kesana.
"(bahasa inggris) berikan aku ular mainan itu." ucap Kara pada penjual, Risa terus memperhatikan nya.
"(bahasa inggris) anda butuh berapa tuan?"
"(bahasa inggris) berikan satu saja yang besar." penjual itu memberikan ular mainan yang cukup besar mirip ular sungguhan, Kara melihat ular mainan itu dengan membayangkan Nadia berdiri dan berlari memeluknya saat terkejut melihat itu.
"apa yang Kara lakukan, kenapa dia membeli ular mainan itu." gimana Risa yang masih melihat dari jauh, Risa memutuskan untuk mendekati Kara.
"Kara.. Nadia khawatir kau kedinginan, cepat sedikit." Kara terkejut saat mendengar perkataan Risa,
"eh iya Ris, aku bayar ini dulu." Kara memberikan uang pada penjual itu.
"kenapa kau membeli mainan itu Kara?" Kara diam mendengar pertanyaan Risa, dan akhirnya Kara menceritakan rencananya pada Risa.
"apa salahnya kan dicoba?" Risa tersenyum dan mengangguk.
"iya tidak salah, coba saja." Kara tersenyum
"ya sudah ayo.." Kara pergi menyusul Nadia, sedang Risa masih tersenyum ditempat.
"wah.. Kara terima kasih, kau memberiku ide yang sangat bagus. bukannya untuk membantu berjalan, itu akan membantu Nadia tertidur selamanya. " gumam Risa tersenyum penuh arti.
***
__ADS_1
Risa pergi kesebuah pertunjukan yang menampilkan seorang pawang ular memainkan ular kobra dipinggir jalan.
"(bahasa inggris) berapa harga ular ini?" ucap Risa pada orang itu.
"(bahasa inggris) kenapa nona?" tanya orang itu.
"(bahasa inggris) aku butuh ular ini, berikan padaku akan kubayar berapa pun." orang itu tampak berpikir.
"(bahasa inggris) bisakah menggunakan dolar?" ucap Risa lagi,
"(bahasa inggris) 200 dolar ?" ucap orang itu lagi.
"(bahasa inggris) oke deal!" Risa tersenyum dan memberikan uang tunai pada orang itu, orang itu memberikan sebuah kotak kecil yang berisi ular kobra beracun itu.
"selamat Nadia, selamat jalan nanti!" gumam Risa memegang kotak berisi ular itu.
setelah beberapa menit Risa mencari mereka didalam mobil tapi tidak ada dan ternyata mereka ada disebuah restoran, Risa menghampiri mereka.
"dari mana?" tanya Nadia saat melihat Risa duduk disamping nya
"aku tadi ingin membeli sesuatu tapi tidak jadi karena tokonya ramai." jawab Risa membuat alasan, Nadia hanya ber oh saja.
"oh iya Nadia pesanlah dengan mas Riyan aku akan kekamar mandi!" ucap Kara, Febriyan pun membawa Nadia menuju tempat pilihan menu.
Kara yang beralasan kekamar mandi malah duduk lagi dan memasukkan ular mainan pada tas Nadia, Risa melihat kejadian itu hanya diam dan tersenyum kearah Kara.
"jangan bilang bilang ya, aku akan ke kamar mandi sebentar.!" ucap Kara, Risa mengangguk. setelah itu Kara pergi kekamar mandi meninggalkan Risa sendiri.
Risa mengambil kotak yang berisi ular itu, ia mengambil tas Nadia dan mengeluarkan ular mainan itu lalu mengganti dengan ular yang ia beli tadi dengan hati hati, setelah itu Risa merapikan tas Nadia kembali.
setelah beberapa menit Febriyan dan Nadia datang begitu juga dengan Kara. mereka secara bersamaan duduk di kursi masing masing.
"Risa aku tidak tahu makanan kesukaanmu, jadi aku memilih yang sama denganku!" ucap Nadia, Risa tersenyum.
"tidak masalah, apapun itu yang penting halal!" jawab Risa, Nadia pun tersenyum.
mereka berbincang bincang, Risa memperhatikan tas Nadia yang bergerak gerak. Risa khawatir semua akan menyadari isi tas Nadia.
"aku sangat lelah, bagaimana kalau kita istirahat setelah makan?" ucap Risa, semuanya pun mengiyakan.
"iya aku juga sangat lelah." saut Nadia.
setelah beberapa jam berada direstoran mereka pun kembali kekamar masing masing, Kara Mendudukan Nadia dikasur.
"Kara tasku bawa kemari." Kara tersenyum, Kara berharap Nadia terkejut.
"ini, aku akan ke kamar mandi." Nadia mengangguk dan mengambil tasnya, Kara masuk dalam kamar mandi.
"dia akan membuka tasnya, cepat panggil aku dan berlari lah kearahku Nadia, aku menunggu." gumam Kara didalam kamar mandi, setelah beberapa menit Kara menunggu tapi Nadia tidak kunjung memanggilnya. Kara memutuskan untuk keluar, saat ia keluar terlihat Nadia tenang membaca buku.
"Kara kau belum mandi?" ucap Nadia yang sadar Kara belum mandi.
__ADS_1
"hm.. apa yang kau lakukan?"
"aku membaca buku?"
"tadi untuk apa meminta tas?"
"oh, aku pikir buku ku ada dalam tas, ternyata ada dimeja. jadi aku hanya membukanya." jelas Nadia, Kara masih melamun.
"Kara!!" Kara terkejut Nadia berteriak memanggilnya.
"hm.. gak papa sayang, aku mandi dulu." ucap Kara tersenyum.
"hm.. dasar aneh kamu!" Kara hanya tertawa dan langsung masuk dalam kamar mandi.
dikamar Risa, Risa sedang menunggu kabar dari Nadia yang digigit ular tapi ia belum mendapatkannya.
"kenapa, apa ularnya tidak berguna!" gumam Risa
"apa yang tidak berguna?" ucap Febriyan membuat Risa terkejut.
"bukan urusanmu!" ketus Risa melewati Febriyan, pada saat berjalan kaki Risa tersangkut karpet, Febriyan dengan cepat menangkap tubuh Risa hingga mereka terjatuh bersama dilantai.
brugh...
Risa memeluk Febriyan yang ada dibawahnya, saat dirinya tidak merasakan sakit Risa membuka matanya. Risa terkejut mendapati Febriyan ada dibawahnya, jantung mereka berdetak sangat kencang.
deg deg deg
"ehem..." Febriyan berdehem, Risa langsung berdiri membersihkan pakaiannya
"apa.. apa yang kau lakukan!" ucap Risa, Febriyan masih terduduk dilantai.
"aku membantumu, apa lagi?" ucap Febriyan dengan enteng.
"ya, terima kasih." ucap Risa berlalu masuk ke kamar mandi, Febriyan hanya tersenyum tipis.
"haduh, kenapa jantungku berdetak gini." gumam Risa di dalam kamar mandi.
setelah beberapa jam Risa keluar kamarnya dan melihat Kara sedang makan malam bersama Nadia, ia sangat penasaran dengan ular yang ada di tas Nadia. Risa berniat untuk masuk kekamar Kara dan Nadia.
"dimana ularnya?" ucap Nadia saat melihat tas Nadia diatas meja, Risa menggoyangkan tas itu tapi tidak ada apapun.
"sialan, ularnya kabur!." ucap Risa kesal, karena ular yang ia taruh tidak ada di tas itu.
"Nadia apa kau sudah kenyang?"
terdengar suara Kara dari luar pintu, belum sempat Risa sembunyi terlihat Kara sudah masuk dalam kamar itu dan melihat Risa.
"Risa, apa yang kau lakukan disini?" ucap Kara, Risa masih terdiam.
"a..aku mencari kalian, saat mengetuk pintu, pintunya terbuka jadi aku masuk. maaf." saut Risa.
__ADS_1
"sudahlah, mas Riyan sedang menunggumu. pergilah." ucap Kara, Risa mengangguk dan berlalu pergi.
"dimana ular sialan itu." gumam Nadia menuju kamarnya.