
Kara yang ada dikantor memikirkan Nadia yang sedang marah padanya, kemudian Kara mengingat jika berjanji pada Nadia untuk membawanya ke london. Kara berpikir untuk berlibur kesana untuk menghilangkan ingatan Nadia tentang bayinya, Kara juga berpikir akan membuat hidup baru bersama Nadia dan mencoba memiliki bayi lagi.
"Reno pesankan tiket ke london, aku akan mengajak Nadia berlibur." ucap Kara ditelfon lalu menutup telfonnya, Kara tersenyum melihat foto Nadia.
Nadia berada dirumah bersama Risa, meskipun masih terlihat sedih Nadia berusaha seperti biasanya. Risa dan ibu Kumala senang dengan itu. tiba tiba Vano datang menyapa Febriyan dan Bagas yang sedang bermain, Risa menghampiri Vano.
"Vano, kenapa ada disini?" tanya Risa, Vano tersenyum dan melihat kearah Nadia.
"aku ingin melihat kesehatan Nadia, karena aku tidak kesini selama 2 bulan. bagaimana keadaannya?" ucap Vano, Risa tersenyum.
"dia sudah sehat, Nadia.. Vano ingin melihatmu, kemarilah!" teriak Risa memanggil Nadia, perlahan Nadia berjalan kearahnya.
"iya?" ucap Nadia, Vano tersenyum.
"bagaimana kabarmu, ini untukmu." ucap Vano memberikan buah dalam keranjang, Nadia menerimanya dan tersenyum.
"saya baik, terima kasih." saut Nadia lalu pergi, Vano tersenyum tipis.
"hm.. dia memang seperti itu akhir akhir ini, duduklah akan kubuatkan teh." ucap Risa, Vano mencegah Risa yang hendak pergi.
"tidak perlu, aku akan pergi?" ucap Vano, Febriyan datang dengan menggendong Bagas.
"kenapa buru buru, duduklah dulu." ucap Febriyan, Vano tersenyum.
"tidak mas, aku mau pergi kepanti asuhan." saut Vano.
"eh kebetulan, Nadia juga akan kepanti asuhan. bareng saja ya kan Nad!" ucap ibu Kumala. Nadia melihat ke arah Risa, Vano menunggu keputusan Nadia.
Nadia berpikir jika harus menunggu Kara dia tidak tahu kapan Kara akan kembali, Nadia pun setuju dan pergi mengganti baju. beberapa menit kemudian Vano dan Nadia menuju panti asuhan yang mereka maksud, disepanjang jalan Nadia hanya diam, sesekali Vano melirik Nadia.
Nadia terlihat senang bertemu dengan anak anak dipanti, Vano melihat Nadia merasa ikut bahagia.
Kara pulang lebih sore kerumah, Kara mencari cari keberadaan Nadia tapi tidak menemukan. Kara berpikir Nadia pergi dengan Risa ataupun ibunya, tapi Kara melihat Risa sedang bermain dengan Bagas. Kara berpikir Nadia pergi dengan ibu Kumala, semenit kemudian Kara terkejut melihat Nadia datang bukan bersama ibu Kumala melainkan dengan Vano.
"dari mana?" tanya Kara, Nadia melihat kearahnya.
__ADS_1
"hm.. Kara aku membawanya ke..." ucap Vano, Kara menghentikan perkataan Vano dengan cepat.
"aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada istriku." saut Kara, Vano terdiam.
"mereka dari panti asuhan, mama yang menyuruhnya untuk mengantar Nadia, karena satu tujuan." saut Febriyan, Kara memandang Nadia yang terdiam.
"kenapa tidak bicara, apa mendadak bisu!" ucap Kara, Nadia menatap wajah Kara. Nadia tahu Kara sedang marah padanya, perlahan Nadia mendekati Kara.
"maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain. aku takut kamu pulang malam, jadi aku setuju ikut dengannya." saut Nadia, Kara melihat kejujuran dimata Nadia.
"begitukah?" ucap Kara, Nadia mengangguk pelan.
"yasudah, bersihkan dirimu." Nadia mengangguk lalu pergi kekamarnya, Kara melihat kearah Vano.
"aku tidak melarangmu jika setiap kali kamu datang, tapi jika kamu mencoba mendekati istriku dalam keadaan seperti ini, kau akan melihat apa yang akan kulakukan." ucap Kara, Vano menepuk pundak Kara.
"tenang saja, aku hanya memberinya bantuan. aku percaya dia bahagia bersamamu." ucap Vano, lalu berpamitan pada Febriyan dan pergi dari sana. Febriyan merasa aneh ketika melihat mereka berbicara, Febriyan ingin menanyakan pada Kara, tapi ia urungkan niatnya.
malam harinya Nadia duduk bersama ibu Kumala dan Risa sedang melihat acara ditv, Nadia hanyut dalam pikiranya sendiri. Nadia memikirkan saat dirinya dan Kara meributkan tentang warna kamar bayi mereka, ibu Kumala dan Risa melihat Nadia yang seperti itu berusaha menghiburnya.
"bagaimana kalau kamu berlibur dengan Kara." ucap ibu Kumala, Nadia menoleh.
"tidak, Kara sibuk disini. aku tidak akan menganggunya." saut Nadia, lalu pergi dari sana. beberapa menit Kara datang melihat Nadia pergi, ibu Kumala mencoba bertanya pada Kara.
"ada apa Kara?" tanya ibu Kumala, Kara duduk disamping ibu Kumala.
"aku ingin mengajaknya liburan, tapi aku bingung harus bilang apa." Kara menunjukkan tiket pada ibu Kumala,
"mama yang akan bilang, pilihanmu tepat sayang." ucap ibu Kumala merebut tiket itu, Kara dan Risa bingung dibuatnya.
ibu Kumala mendatangi Nadia yang membersihkan kamarnya, Nadia tersenyum melihat ibu Kumala.
"maaf ma Nadia pergi dari sana, Nadia ingin istirahat." ucap Nadia, ibu Kumala tersenyum dan mengelus rambut Nadia.
"tidak apa, lihat mama sudah pesankan tiket untukmu." ucap ibu Kumala menunjukan dua tiket.
__ADS_1
"bersiaplah, mama sedih melihat kamu seperti ini. mama ingin kalian berlibur, bagaimana?" ucap ibu Kumala, diluar kamar Nadia terdapat Kara, Risa dan Febriyan sedang menunggu keputusan Nadia. Nadia sendiri berpikir tidak ingin ibu Kumala sedih karena dirinya, perlahan Nadia mengangguk.
"iya ma, nanti Nadia coba bilang pada Kara." saut Nadia tersenyum, ibu Kumala merasa senang dengan itu. diluar kamar mereka juga merasa senang, Kara tersenyum.
"mama sudah bilang, Kara setuju. kamu perlu bersiap saja, oke?" Nadia mengangguk, ibu Kumala memberikan tiket pada Nadia lalu pergi dari sana.
keesokan harinya Nadia dan Kara sudah ada di bandara, Nadia menunggu Kara. setelah Kara datang Kara menggandeng tangan Nadia untuk naik ke pesawat, Nadia masih dalam pikiran lain Kara berhenti dan menatap Nadia.
"hal terbaik yang harus dilakukan sekarang melupakan masa lalu dan kita memulai hidup yang baru setelah ini, katakan kamu mau memulai hal baru denganku. " ucap Kara tersenyum, Nadia tersenyum meneteskan air mata.
"iya Kara, aku mau. maafkan aku, aku akan berusaha melupakan semuanya." ucap Nadia menangis, Kara mengelap air mata itu dan mulai berjalan lagi.
beberapa jam kemudian mereka sampai dilondon, Kara senang karena Nadia bersikap biasa padanya meskipun terkesan bisa dibilang pendiam tapi itu lebih baik dari sebelumnya.
sampainya dilondon, Kara dan Nadia berjalan jalan. mereka mengunjungi tempat tempat yang membuat Nadia senang, Kara bahagia dengan itu. Kara pergi kehotel dan menyewa sebuah mobil untuk membawa Nadia, Nadia yang sudah kelelahan menyenderkan kepalanya dibahas Kara, Kara mencium kening Nadia.
"aku mencintaimu!" ucap Kara, Nadia tersenyum tipis.
"aku juga mencintaimu." saut Nadia, Kara tersenyum.
mereka sampai disebuah restoran, Nadia memilih makanan yang akan ia pilih, Kara memandangi Nadia dengan tersenyum. Nadia melihat kearah Kara, yang tersenyum sendiri.
"apa yang kau lihat, pilihlah." ucap Nadia, Kara masih tersenyum.
"(bahasa inggris) aku pesan salat buah saja dengan jus lemon, dan berikan dia salat sayur dengan jus jeruk." ucap Nadia pada pelayan restoran, Kara melotot kearah Nadia.
"Nadia aku tidak suka salat sayur, ganti." ucap Kara, ia mengambil daftar menu dari tangan Nadia.
"(bahasa inggris) ganti pesanan satu steak saja, dengan jus lemon, lalu salat buah campur sayur, dengan jus lemon jangan terlalu manis." ucap Kara, pelayan itu lalu pergi dengan pesanan mereka.
"kamu akan sehat memakan itu." ucap Kara. Nadia tersenyum melihat Kara, Kara heran kenapa Nadia tersenyum.
"ada apa?" tanya Kara memegang pipi Nadia, Nadia menggelengkan kepala.
"tidak apa." saut Nadia, mereka pun saling tersenyum.
__ADS_1
"aku ingin melihat Nadia yang seperti ini setiap hari, apakah aku bisa melihatnya?" ucap Kara, Nadia mencium tangan Kara.
"akan kuusahakan!" saut Nadia, lalu seorang pelayan membawa pesanan mereka. mereka mulai menikmati hidangan mereka.