
setelah kejadian itu pak Wijaya pulang dengan cepat, ia diberitahu oleh istrinya tentang apa yang terjadi pada Nadia. pak Wijaya memerintahkan pada semua prt untuk mengawasi Nadia, dan dirinya juga bilang jika diperlukan tambah prt untuk kebutuhan lainnya.
keesokan hari nya, disore hari nya Risa keluar dari kamarnya, ia melihat semua keluarga telah berkumpul. Risa berpikir sangat membosankan seiisi rumah ribut dengan insiden Nadia kemarin, bahkan masih terlihat ramai sampai sore, ibu Kumala menghampiri Risa, dan memeluknya.
" maaf tante Risa baru keluar dari kamar, tante ada apa sekarang?" ucap Risa bingung semua orang berkumpul
"aku senang, Febriyan mau menikah dengan mu!" ucap ibu Kumala, Risa terkejut dengan itu ia menatap tajam kearah Febriyan
"ya pernikahan ini akan dilakukan secepatnya, 1 minggu lagi!" ucap pak Wijaya, semuanya setuju dengan itu.
"maaf Risa aku mengatakannya mendadak!" ucap Febriyan, Risa sangat marah tapi ia berusaha tersenyum.
"hm.. Risa wanita yang baik mas, pasti bisa menjaga Bagas. ya kan Bagas mau kan?" Bagas mengangguk dengan perkataan Nadia.
"bagaimana Risa kamu setuju menikah dengan Riyan?" tanya pak Wijaya, Risa hanya menatap ke arah Febriyan.
"bisakah kita bicara 4 mata saja mas." ucap Risa, Febriyan pun mengangguk dan mengikuti langkah Risa masuk kedalam kamarnya.
"apa maksudmu mas Riyan, katakan!" ucap Risa setelah menutup pintu.
"aku tahu apa yang kau lakukan selama ini, aku hanya diam dan aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Nadia, hanya cara ini dengan menikahimu, kau tidak bisa mendekati Kara." ucap Febriyan
"haha, aku tidak terkejut, jadi kau khawatir pada siapa. Kara atau Nadia?." ucap Nadia tertawa, Febriyan berjalan mendekat kearah Risa.
"terserah apa menurutmu!." ucap Febriyan.
"oke, kita lihat bagaimana kau melindunginya. dan oh iya setelah menikah aku pastikan kau akan jatuh cinta padaku setelah itu aku akan meninggalkanmu, agar kau tahu rasanya cintamu tidak dibalas." Febriyan tertawa.
"aku sudah pernah merasakan itu Risa, tapi yang aku tidak yakini adalah jatuh cinta padamu, aku tidak akan jatuh cinta pada wanita seperti mu!" ucap Febriyan.
"oke buktikan!" ucap Risa mantab
"baiklah, itu sebuah tantangan." ucap Febriyan mengulurkan tangan, Risa menerima uluran tangan Risa.
setelah beberapa menit mereka keluar dari kamar itu, mereka menghampiri semua orang. semua orang sudah menunggu keputusan Risa, setuju atau tidak.
"iya Risa mau menikah dengan mas Riyan om,tante!" semua langsung bersorak, Nadia memegang tangan Kara.
__ADS_1
"jadi tante akan jadi mama buat Bagas." ucap Bagas dalam pelukan Nadia, Risa tersenyum pada Bagas dan mengangguk tapi percayalah senyum itu ikhlas dari Risa, karena ia berpikir Bagas hanya anak kecil yang tidak tahu apa apa, Febriyan memperhatikan wajah Risa, dan melihat ketulusan Risa tersenyum kearah Bagas.
****
keesokan harinya, semua orang sudah mempersiapkan pernikahan Risa dan Febriyan, karena menurut mereka waktu 1 minggu itu tidak lama. pagi itu Nadia dan ibu Kumala dengan senang memilih gaun untuk Risa, dan Risa hanya menurut dengan apa yang diinginkan mereka.
terlihat Febriyan turun dari tangga, ia mengarah kearah ibu Kumala.
"tante, Riyan pergi mengajar dulu ada kelas soalnya." ucap Febriyan mencium tangan ibu Kumala.
"iya, apa kau tidak berpamitan dengan calon istrimu." Febriyan menoleh kerah Risa dan mengulurkan tangannya, Risa tahu maksud Febriyan ia menerima tangan itu dan menciumnya.
"sudah pergilah, hati hati." ketus Risa tapi berusaha tersenyum, Febriyan hanya sekilas tersenyum lalu pergi dari sana.
dimalam berikutnya Kara sedang membantu Nadia mengeringkan rambutnya, Nadia sangat senang Kara selalu membantunya dan memperhatikannya. Kara tanpa mengeluh selalu membantu Nadia saat benar benar dibutuhkan.
"Kara.."
"hm?."
"kenapa sayang, hm?" tanya Kara, Nadia tersenyum memegang tangan Kara.
"karena selama itu lah aku selalu menyusahkanmu!" Kara mencium kening nadia.
"apa pernah aku bilang menyusahkanmu, hm?. tidak kan, lalu kenapa kau selalu berpikir seperti itu." ucap Kara menggendong Nadia duduk dikasur.
"hm.. Kara aku merasa seperti itu, karena sepertinya aku tidak berguna. bahkan kejadian kemarin, memasak saja tidak bisa." Kara tertawa dengan itu.
"itu artinya kau harus semangat sembuh dulu, baru memasak dan jangan bilang lagi kalau kau tidak berguna." Kara mencubit hidung Nadia, Nadia kesal dengan itu.
"terima kasih sudah menjadi istriku." ucap Kara mencium pipi Nadia.
"terima kasih juga sudah menjadi suamiku." balas Nadia tersenyum dengan mencubit pipi Kara.
"baiklah ayo cium aku," ucap Kara menutup mata, Nadia pun langsung mendekat kearah Kara. bukannya mencium Nadia malah berbisik.
"Kara kau sangat bauk, pergilah mandi." Kara terkejut dan membuka mata, sedangkan Nadia tertawa lepas.
__ADS_1
"kau sangat nakal ya, akan kuberikan pelajaran." Kara menarik kaki Nadia hingga terbaring lalu mencium Nadia.
"Kara.. tutup pintunya." ucap Nadia, Kara pun langsung menutup pintu.
"dengar suamiku ampuni istrimu ini," Kara menggelengkan kepala dan tersenyum jail, Nadia hanya menyerah.
"baiklah, jangan lupa matikan lampunya, dan cepat peluk aku." ucap Nadia, membuat Kara sangat gemas dan mencium pipinya.
"sabar istriku," Kara lalu mematikan lampunya, mereka pun melakukan apa yang ingin mereka lakukan sepanjang malam itu.
****
tidak terasa satu minggu berlalu hari dimana pernikahan Febriyan dan Risa, pagi harinya mereka sudah melakukan akad nikah semua keluarga terlihat senang. semua keluarga pun berkumpul setelah acara resepsi pernikahan itu.
"Risa anggaplah kami seperti orang tuamu.." ucap Ibu Kumala memeluk Risa.
"iya tante, Risa selalu menganggap kalian orang tua Risa sendiri." ucap Risa tersenyum.
"tante kami akan pulang kerumahku yang sebelumnya." perkataan Febriyan membuat Risa terkejut dan marah sekali ia menatap Febriyan dengan tajam. Febriyan sudah merencanakan itu agar Risa tidak mengganggu hubungan Kara dan Nadia, terlebih lagi menyakiti Nadia.
"hei kenapa, lebih baik disini." ucap Nadia
"iya mas lebih baik berkumpul dengan kami, Bagas juga senang disini!" ucap Kara yang ada disamping Nadia.
"tapi..."
"papa.. Bagas mau sama nenek disini." ucap Bagas tiba tiba, Risa tersenyum penuh arti karena ia merasa Febriyan tidak akan menolak permintaan Bagas.
"iya mas Riyan coba lihat Bagas tidak mau pisah dengan kami." ucap Risa tersenyum pada Febriyan.
"baiklah, (aku takut Risa melakukan sesuatu pada kalian)" semua orang pun senang dengan keputusan Febriyan, Risa pun merasa menang.
***
jangan bosen ya tunggu selanjutnya...
jangan lupa like dan komen kalian😍
__ADS_1