My Love Story 2

My Love Story 2
85. Amelia


__ADS_3

setelah mereka masuk didalam mall, Naira sangat senang dan gembira. mereka memasuki toko demi toko sesuai keinginan Naira, mereka bahkan sampai lupa waktu. Nadia juga begitu bahagia saat melihat kebersamaan Kara dan Naira.


"Naira lapar,!" ucap Naira dalam gendongan Kara.


"baiklah kita cari restoran, kita akan makan sambil menunggu papa Vano." saut Kara, Naira mengangguk.


"kenapa dengan Vano?" tanya Nadia yang berjalan disamping Kara.


"aku memintanya kemari, dan dia juga bilang akan menyusul." saut Kara, Nadia hanya ber oh.


sampainya direstoran mereka sudah mendapatkan meja, Nadia dan Naira sibuk memilih makanan. sedangkan Kara sedang berusaha menghubungi Vano.


"Vano tidak angkat telfonnya." ucap Kara, Nadia menoleh kearah Kara.


"mungkin di kantor." saut Nadia.


"dia sudah pulang siang tadi, sekarang sudah jam 5 pasti dirumah." ucap Kara lagi yang tetap berusaha menelfon Vano.


"aku akan keluar mungkin tidak ada jaringan." ucap Kara lalu melangkah keluar dari restoran itu.


setelah beberapa menit Kara belum kembali, Nadia merasa penasaran kemana Kara pergi. Nadia menyuruh Naira untuk diam ditempat, kemudian Nadia pergi untuk menghampiri Kara. saat Nadia sudah diluar dia mencari keberadaan Kara dimana mana, Kara tidak terlihat dimata Nadia.


"kau mencariku?"


Nadia terkejut dengan suara Kara yang tiba tiba terdengar, Nadia menoleh sedikit telihat kesal pada wajahnya.


"apa menelfon harus selama itu?" tanya Nadia ketus, saat Nadia ingin melewati Kara, Kara memegang tangannya.


Nadia terkejut saat Kara memasukkan cincin pada jari manis Nadia, Nadia memandang Kara yang sedang tersenyum.


"sudah kuduga, sangat cocok." ucap Kara, Nadia melihat cincin itu. batin Nadia mengatakan itu memang sangat indah.


"a..apa ini?" tanya Nadia gugup.


"saat menelfon Vano aku melihat cincin ini, jadi aku berniat membelikannya untukmu." ucap Kara, Nadia merasa sangat bahagia tapi juga malu.


"em.. Naira me.. menunggu ayo pergi.." ucap Nadia, Kara tidak tahu wajah Nadia yang memerah sekarang.


***


Vano telah sampai pada mall yang dituju Kara, sebenarnya Vano tidak ingin datang karena tidak mau melihat kebersamaan mereka, tapi Kara tetap memaksanya untuk tetap datang.


Vano mencari cari keberadaan Kara yang mengatakan disebuah restoran, tiba tiba Vano melihat keributan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Vano mencoba mendekati keributan itu, terlihat seorang wanita ribut dengan beberapa petugas keamanan.


"aku benar benar tidak mencuri!" ucap seorang wanita.


"tapi jelas jelas dompet ini ada dalam tasmu!" Vano melihat wanita itu sampai menangis mengatakan tidak bersalah.


"nona mari ikut kami ke kantor." seorang petugas keamanan mencoba menarik wanita itu dengan paksa, wanita itu tetap mengatakan tidak mencuri.


"tunggu!" ucap Vano, mereka menoleh kearah Vano. Vano berjalan mendekati mereka.


"jika dia bilang tidak mencuri kenapa kalian menuduhnya!" ucap Vano,


"jika tidak mencuri buktinya dompetku ada di tasnya." ucap seorang wanita paruh baya, atau pemilik dompet.


"tidak, aku tidak mencuri. aku bersumpah untuk itu, aku baru datang dari London. aku kemari untuk belanja, setelah itu seseorang menabrakku hingga tasku jatuh. aku tidak tahu kenapa dompetnya bisa diantara barang barangku." jelas wanita itu melihat Vano, semua orang mencibirnya.


"dia hanya membuat alasan, bawa dia pak!" ucap pemilik dompet, wanita itu ditarik lagi oleh petugas keamanan.


"tuan percayalah padaku!." teriak wanita itu lagi memegang lengan Vano.


"apa mall sebesar ini tidak memiliki cctv, kenapa kalian tidak mencari tahu lewat cctv." ucap Vano. petugas keamanan itu saling memandang, dan mengangguk.


"iya benar, mari ikut kami."

__ADS_1


mereka mengikuti petugas keamanan menuju ruang cctv, Vano melihat ketakutan diwajah wanita itu. wanita itu berdiri dibelakang Vano dengan memegang lengan jas Vano, Vano hanya tersenyum melihat itu.


sesampainya diruang cctv mereka melihat adegan mengapa dompet itu bisa berada diantara barang milik wanita itu, ternyata mereka melihat seseorang yang membawa dompet berlari menabrak wanita itu. saat menabrak tas wanita itu terjatuh sehingga membuat semua isinya keluar dari dalam tasnya, secara kebetulan dompet itu terjatuh didekat tas wanita itu, sang pencuri berlari dari sana.


saat itulah semua orang datang saat pemilik dompet berteriak melihat dompetnya dekat tas wanita itu.


"sekarang sudah jelas, wanita ini tidak mencuri." ucap Vano, wanita itu menatap Vano.


"seharusnya lain kali kalian cari tahu dulu, jangan langsung menyimpulkan dan menuduh orang lain." ucap Vano lagi.


"maafkan kami nona, itu hanya kesalah pahaman." ucap petugas, wanita itu mengangguk pelan.


"maafkan aku, aku sudah menuduhmu." ucap pemilik dompet.


setelah itu Vano membawa wanita itu keluar setelah mengambil tasnya, Vano teringat sedang mencari Kara. saat Vano hendak pergi wanita itu menarik tangannya, Vano menoleh lalu melihat wanita itu tersenyum.


"em.. terima kasih, aku tidak tahu jika kamu tidak disana." ucap wanita itu, Vano tersenyum dan mengangguk.


"sudahlah, aku hanya kebetulan lewat." ucap Vano, wanita itu tersenyum.


"hm.. namaku Amelia, senang bertemu denganmu." ucap wanita itu memperkenalkan diri, Vano pun tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"iya namaku Vano, senang bertemu denganmu." ucap Vano, mereka saling melempar senyum.


****


ditempat Kara dan Nadia sedang menunggu kedatangan Vano sampai makanan mereka habis, mereka keluar dari sana. Nadia melihat sekeliling mall tidak terlihat Vano sama sekali, Kara berusaha menghubungi Vano tapi tidak tersambung.


"tidak bisa dihubungi." ucap Kara, Nadia menoleh. pandangan Nadia tidak mengarah pada Kara, tapi mengarah pada Nadia sedang asik memainkan jenggot Kara.


"Naira kamu ngapain?" tanya Nadia, Naira tidak menggubrisnya.


"haha biarkan saja, dia bilang merasa geli saat memegang daguku!" ucap Kara tertawa, Naira ikut tertawa.


"aku suka saat papa menciumku, pipiku terasa geli oleh ini." ucap Naira, Nadia menggelengkan kepalanya.


"tentu, nanti akan kucium mama mu." saut Kara tersenyum, seketika wajah Nadia memerah.


"benarkan Nadia, aku akan menciummu nanti?." ucap Kara lagi ingin menggoda Nadia, Nadia kesal.


"Kara kamu..." belum selesai mengatakan sesuatu, Vano berhenti dihadapan mereka.


"maaf apa mengganggu?" ucap Vano, mereka menoleh kearah Vano.


"papa Vano dari mana, kami sangat menunggu lama." ucap Naira, Vano mengambil alih untuk menggendong Naira.


"maaf sayang, tadi papa Vano ada masalah sedikit." ucap Vano tersenyum.


"masalah, masalah apa?" tanya Kara.


"tadi ada keributan disana, tapi sudahlah." ucap Vano, Kara tidak bertanya lagi.


"baiklah kita akan kemana?" tanya Vano, Naira tampak berpikir.


"pulang!" ucap Nadia, belum sempat Naira menjawab.


"tidak, aku ingin es krim." ucap Naira, Naira dan Nadia saling memandang.


"ini sudah sore, besok lagi Naira." ucap Nadia, Naira merengek.


"sudah sudah, Vano bawa dia pergi." ucap Kara, Vano pun mengangguk.


"yeah!!, dasar mama pelit." ejek Naira, Nadia ingin membalasnya, Vano membawa Naira menjauh.


sekarang hanya tinggal Kara dan Nadia yang sedang berdiri berjauhan, Kara sangat ingin menggandeng tangan Nadia tapi ia takut Nadia akan marah. Nadia melihat Kara yang sedari tadi diam.

__ADS_1


"kenapa diam, mari kita pulang saja Kara." ucap Nadia, Kara mengangguk. mereka pun berjalan keluar dari mall itu.


Kara meminta Nadia untuk diam ditempat, karena dirinya akan mengambil mobil setelah itu menjemputnya. Nadia menunggu begitu lama dan akhirnya mobil Kara terlihat.


"hai nona, namaku Kara. bisakah aku tahu namamu?" ucap Kara tiba tiba, Nadia sempat bingung dengan itu.


"kamu sangat cantik, jadi aku ingin berkenalan." ucap Kara lagi, kali ini Nadia mengerti maksud Kara.


"jadi jika aku jelek, kamu tidak mau berkenalan?" ucap Nadia, Kara keluar dari mobilnya.


"tidak begitu, aku tetap akan berkenalan. katakan siapa namamu?" ucap Kara tersenyum, Nadia menahan tawa melihat wajah Kara yang terlihat bodoh


"hm.. aku tidak akan memberitahu namaku, karena aku tidak mengenalmu." saut Nadia melipat kedua tangannya.


"karena itu mari berkenalan, biar kita saling kenal." ucap Kara lagi.


"maaf aku sudah punya anak 1, aku tidak ingin mengenalmu" saut Nadia tetap berdiri.


"tidak masalah, kamu tidak punya suami maka aku akan menerima anakmu itu. " saut Kara, Nadia menahan tawanya.


"baiklah mari kita berkencan sekarang agar kau bisa mengenalku dan aku mengenalmu, masuklah kedalam mobilku." ucap Kara membuka pintu mobil untuk Nadia, Nadia pun masuk. setelah itu Kara melajukan mobilnya pergi dari sana.


***


ditempat Vano sedang mengajak Naira berkeliling, Naira yang ada digendongan Vano sedang asik memakan es krim. Vano merasa senang saat Naira masih mau bersamanya,


"Naira tidak lelah?" tanya Vano, Naira menggelengkan kepala.


"papa Vano, es krimnya sudah habis. Naira pengen pipis." ucap Naira, Vano pun membawa Naira ketoilet.


Vano terpaksa masuk kedalam toilet wanita, Vano merasa lega saat melihat toilet itu kosong. Vano menunggu Naira yang sedang didalam toilet, tapi perasaan Vano tidak enak saat seseorang membuka pintu disamping tempat Naira.


"akkhh!!!" teriak seorang wanita, Vano merasa terkejut dengan itu.


"apa yang kau lakukan ditoilet wanita?" ucap wanita itu, Vano melihat seperti mengenal wanita itu.


"Amelia?" ucap Vano, Wanita itu melihat saat namanya dipanggil.


"Vano?"


ternyata wanita itu adalah Amelia, mereka saling mengenal saat insiden pencurian beberapa menit yang lalu. belum sempat Vano menjawab Naira keluar, Vano menggendong Naira untuk cuci tangan. Amel terus melihat Vano dan Naira secara bergantian.


"papa Vano, tante itu melihat kita terus." bisik Naira, Vano melihat pantulan Amelia dari cermin.


"dia teman papa sayang," saut Vano, Naira pun menatap wanita itu.


"hm.. maaf Mel aku tidak ingin mengintip, aku menemani putriku." ucap Vano, Amelia melihat kearah Naira.


"halo tante, namaku Naira. tante siapa namanya?" ucap Naira, Amelia merasakan kegemasan yang luar biasa.


"lucunya, nama tante Amelia." ucap Amelia, lalu menatap Vano.


"ternyata sudah bapak bapak ya.." celetuk Amelia, Vano tersenyum.


mereka keluar dari toilet, Naira berjalan disamping Vano.


"papa Vano, Naira ingin membeli boneka yang disana!" ucap Naira menunjuk sebuah toko boneka, Vano mengangguk.


"kalau begitu aku permisi ya.." ucap Amelia, saat hendak pergi Naira memegang tangan Amelia.


"tante temani Naira memilih boneka, nanti papa Vano akan membelikanmu boneka juga." Amelia tertawa.


"benarkah,?" tanya Amelia.


"iya kan papa Vano?" tanya Naira melihat Vano, Vano mengangguk.

__ADS_1


"baiklah, ayo kita kesana." ucap Amelia, Naira langsung menarik tangan Amelia meninggalkan Vano.


saat ditoko boneka Vano melihat Naira dan Amelia yang sedang bercanda, Vano tidak terkejut bahwa Naira mudah mengenal orang baru. entah apa yang dipikirkan Vano, Vano tersenyum lebar melihat mereka.


__ADS_2