
Risa masih mencari rumah untuk ia tinggali, tapi tidak ada rumah yang cocok dengannya. hari semakin siang, Risa berniat pulang tapi saat perjalanan pulang Risa melewati sekolah Bagas. Risa pun turun dan ingin sekali melihat Bagas karena ia melihat ini adalah waktunya Bagas pulang sekolah.
beberapa menit kemudian Risa benar, terlihat semua murid keluar dari sekolah itu begitu juga dengan Bagas. Nadia menghampiri Bagas.
"Haii anak mama.." ucap Risa, Bagas menoleh ke arah Risa lalu tersenyum.
"mama..." ucap Bagas berlari kearah Risa, Risa langsung memeluk Bagas.
"mama Risa merindukanmu sayang.." ucap Risa memeluk Bagas.
"Bagas juga kangen sama mama Risa, mama kapan pulang?" ucap Bagas, Risa tersenyum.
"mama belum bisa pulang, ini mama bawa coklat." Bagas menerima coklat itu, Risa khawatir Febriyan akan datang dan melihatnya.
"dengar Bagas, kamu jangan bilang pada papa kalau kamu bertemu sama mama Risa, oke." ucap Risa.
"kenapa..."
"sayang, kalau kamu bilang, kamu gak akan ketemu mama lagi, mau?" Bagas menggelengkan kepala.
"karena itu jangan bilang papa ya.."
"iya, tapi mama janji akan nemuin Bagas ya.." Risa mengangguk dan mencium Bagas.
Risa segera pergi dari sana dan masuk kedalam taksi, terlihat mobil Febriyan datang menjemput Bagas. Risa sangat bahagia melihat Febriyan dan Bagas sekaligus, Risa memegangi perutnya.
"aku tidak tahu apa reaksimu ketika tahu aku sedang hamil mas,.." ucap Risa, Risa berpikir Febriyan tidak pernah mencintainya.
***
Nadia bangun dipagi hari, ia mencari Kara dan mengingat kembali perkataan Kara. Nadia mencoba menelpon Kara ke kantor dan dia tahu bahwa Kara tidak di kantor.
"di mana Kara?" ucap Nadia pada ibu Kumala
"diberangkat ke bandung, apa dia tidak memberitahumu?." jawab ibu Kumala,
"ya dia memberitahu, tapi aku lupa." ucap Nadia bohong
"dia akan kembali 2 hari lagi ." saut ibu Kumala lagi, Nadia merasa sangat marah karena Kara tidak memberitahunya.
Nadia duduk di tempat tidur memikirkan tindakan Kara dan perkataan Kara yang menyatakan ada wanita lain. Nadia menitihkan air mata di matanya .
"tidak mungkin Kara melakukan itu, Kara jika aku tahu benar aku akan menghajarmu." gumam Nadia.
tok tok tok
__ADS_1
suara pintu kamar Nadia diketuk, terlihat ibu Kumala masuk kamar Nadia. Nadia tersenyum dan mempersilahakan ibu Kumala masuk.
"Nad ini ada kiriman buat kamu!" ibu Kumala memberikan sebuah kotak pada Nadia.
"dari siapa ma?" tanya Nadia menerima kotak itu.
"hm.. mama tidak tahu, eh mama lupa sedang memanasakan air." ibu Kumala langsung pergi begitu saja, Nadia penasaran ia pun mencoba membuka bungkusan itu.
Nadia membaca tulisan yang ada diatas kotak itu, "untuk istriku tercinta." Nadia tersenyum membacanya, ia pun dengan segera membuka bungkusan itu. Nadia membuka nya dan terlihat sebuah boneka cantik, Nadia tertawa dengan itu.
"hm.. lumayan, sangat cantik!" gumam Nadia, saat Nadia menyentuh bagian dada boneka itu berbunyi.
"Nadia.. aku sangat mencintaimu.. dari suamimu..."
suara boneka itu, Nadia tertawa. Nadia tidak menyangka Kara memberikan boneka itu, Nadia tersenyum sendiri mengingat kedekatannya bersama Kara. tiba tiba perkataan Kara menggema ditelinga Nadia, Nadia menjadi sedih lagi.
"aku yakin, kau pasti sangat mencintaiku, kau tidak akan melakukan semua itu Kara." ucap Nadia, Nadia menutup boneka itu dan menaruhnya dilemari.
"aku akan menghubungi Risa saja, aku akan tenang jika bercerita padanya." Nadia mulai menelfon Risa.
"halo.."
"halo Risa, kamu dimana?"
"aku ingin menemuimu, bisa kan?"
"kenapa suaramu terdengar seperti banyak masalah, baiklah aku tunggu dirumah ya.."
"oke."
setelah menutup telfon Nadia bersiap siap untuk pergi menemui Risa, Nadia terus melihat hp nya karena menunggu Kara menelfon tapi tidak, Kara tidak menghubunginya sama sekali.
setelah beberapa menit, Nadia sampai di rumah Vano atau tempat Risa. Risa memeluk Nadia begitu juga sebaliknya, Risa mempersilahkan Nadia masuk.
"mau minum apa?" tanya Risa, Nadia tersenyum.
"apa saja, oh iya dimana orang yang menolongmu?" tanya Nadia, Risa sibuk membuatkan air untuknya
"dia ada didalam, aku tadi sudah katakan padanya kalau kau akan datang." jawab Risa, Nadia mengangguk.
"oh iya Risa aku bawa bunga yang kemarin lebih bagus, yang ini buang ya.." Risa hanya mengangguk, Nadia membuang bunga itu dan menaruhnya bunga yang baru.
"kau begitu menyukai mawar putih?" tanya Risa membawa air untuk Nadia.
"iya, aku sangat suka." jawab Nadia.
__ADS_1
"oh iya kamu kemana tadi?" tanya Nadia, Risa teringat dirinya menemui Bagas.
"aku bertemu Bagas, dan aku melihat mas Riyan juga." jawab Risa, Nadia hanya diam.
"Nadia kenapa aku merasa wajahmu ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Risa, Nadia terdiam.
"Nadia, katakan padaku apa ada masalah dengan Kara?" tanya Risa, Nadia pun menarik nafas.
"Kara memiliki wanita lain!" ucap Nadia, Risa terkejut.
Nadia menceritakan semua kejadian dan pembicaraan nya bersama Kara kemarin, sampai Kara yang pergi tanpa mengatakan padanya.
"tidak, pasti ada alasan lain Nadia." ucap Risa.
"dia mengatakan sendiri padaku seperti itu.." saut Nadia, Risa memberikan air putih.
"pasti ada alasan lain, dia sangat mencintaimu. dengar aku jangan berpikir negatif dulu kau akan stres nanti, pasti ada sesuatu yang disembunyikan Kara." ucap Risa, Nadia pun memeluk Risa.
"aku sudah meyakinkan diriku Risa," Risa tersenyum dan membalas pelukan itu.
"iya, oh iya ada yang belum aku ceritakan padamu!" ucap Risa, Nadia melepas pelukan itu.
"apa, apa serius?" tanya Nadia, Risa memegang tangan Nadia lalu mengarahkannya pada perut Risa.
"ini..." Nadia terkejut, Risa mengangguk senang.
"aku tidak percaya, itu..."
"sungguh Nadia, sehari setelah aku pergi aku sakit dirumah ini. pria itu membawa dokter lalu memeriksa ku, dokter mengatakan kalau aku hamil sudah 1 minggu." jelas Risa, Nadia sangat senang.
"aku ikut bahagia,.." ucap Nadia, mereka berpelukan kembali.
terlihat Vano menuruni anak tangga, ia mencari keberadaan Risa. Vano pun melihat Risa sedang memeluk seseorang diruang tamu, Vano menghampiri mereka.
"Risa.. apa dia saudarimu?" ucap Vano, Risa melihat Vano dan tersenyum.
"eh iya, ini saudariku." ucap Risa melepas pelukan dari Nadia, Nadia membelakangi Vano. tapi Nadia merasakan suara yang familiar di telinganya.
"siapa?" tanya Nadia, Risa tersenyum.
"pria yang menolongku." ucap Risa, Nadia pun tersenyum.
dengan senang Nadia membalikkan tubuhnya untuk melihat pria yang dimaksud Risa, dan saat itu juga Nadia terkejut saat melihatnya begitu juga dengan sebaliknya.
"Vano/Nadia"
__ADS_1