My Love Story 2

My Love Story 2
58. maaf


__ADS_3

"Vano/Nadia"


ucap mereka bersamaan, Risa merasa heran dengan mereka berdua.


"apa kalian sudah kenal?" ucap Risa, Nadia melihat kearah Risa.


"itu..." Nadia serasa tidak bisa berbicara, Vano pun tersenyum.


"haii aku Vano," ucap Vano, Nadia hanya menatap Vano.


"Nadia ini Vano yang nolong aku, dan Vano ini Nadia dia saudariku.." ucap Risa. Vano mengulurkan tangannya, Nadia menerima uluran tangan itu.


"iya terima kasih sudah menolong Risa, aku Nadia." ucap Nadia, Vano hanya tersenyum.


Nadia mengingat saat Vano memciumnya dengan paksa, Nadia melepas tangan itu.


"Risa aku harus pulang, hari sudah sore..." ucap Nadia mengambil tasnya.


"eh.. kok buru buru, kamu naik apa?" ucap Risa mengikuti langkah Nadia.


"aku bersama pak supir, aku pulang dulu ya.." jawab Nadia masuk dalam mobilnya.


"baiklah, hati hati ya.." Nadia melambaikan tangan pada Risa, begitu juga dengan Risa. Vano hanya berdiri disamping pintu melihat kepergian Nadia, Risa menghampiri Vano.


"maaf ya, dia sedang terburu buru." ucap Risa tersenyum, Vano melempar senyuman juga.


Vano masuk dalam kamarnya, ia membuka sebuah laci kecil pada mejanya. terlihat sebuah foto disana, dimana foto itu ada dirinya dan juga Nadia semasa kuliah. Vano mengusap foto itu, Vano merasakan benar benar merindukan Nadia.


****


hari berlalu begitu cepat Risa bertemu dengan Bagas dalam 3 hari, pada saat itu Risa menemani Bagas membeli es krim. awalnya Risa tidak setuju, karena Bagas mengatakan Febriyan tidak menjemputnya Risa pun menyetujuinya.


"mama Risa, aku akan makan banyak." ucap Bagas, Risa tersenyum.


"iya makanlah yang banyak, tapi jangan berlebihan ya.." ucap Risa, Bagas asik memakan es krim.


disekolah Bagas, Febriyan sedang mencari cari keberadaan Bagas, Febriyan menanyakan pada guru Bagas mereka mengatakan Bagas pergi bersama seorang wanita, Febriyan menjadi sangat khawatir. Febriyan berpikir itu Nadia tapi pada saat menelfon, Nadia ada dirumah sejak pagi.


"kamu bersama siapa Bagas!" gumam Febriyan, Febriyan mencari menelusuri jalan.


sampai pada saatnya Bagas duduk memakan eskrim bersama seorang wanita terlihat oleh Febriyan, tapi Febriyan tidak melihat wanita itu. Febriyan segera menghampiri mereka,


"Bagas, papa cari kamu kemana mana!" ucap Febriyan, Risa terkejut dengan suara Febriyan. Febriyan belum menyadari wanita itu adalah Risa.


"Bagas, papa bicara sama kamu. maaf anda siapa?" tanya Febriyan, Risa malah pergi tanpa menjawab, saat Febriyan ingin mengejar wanita itu, Bagas berkata.


"papa, Bagas hanya ingin makan es krim dengan mama.." Febriyan terkejut dengan perkataan Bagas, ia berpikir wanita itu adalah Risa.


"Risa!!"


teriak Febriyan terdengar oleh Risa, Risa terus berjalan dan menangis. Febriyan terus memanggilnya, tapi Risa tidak menghiraukannya.


"Risa berhenti!" teriak Febriyan.


"maaf mas.. aku belum bisa bertemu denganmu sekarang." gumam Risa terus berjalan, Febriyan terus mengejar Risa.


"Risa!!"


saat sudah berada diseberang jalan Risa berbalik, dia berpikir Febriyan tidak bisa mengejarnya. Febriyan melihat Risa begitu bahagia sampai ia berjalan tidak menyadari kalau dirinya berjalan dijalan raya, Risa terkejut dengan itu.


"mas Riyan apa yang kamu lakukan!" teriak Risa, Febriyan hanya tersenyum karena melihat Risa.


"mas.. kembalilah!" teriak Risa lagi.


"tidak, aku sudah mencarimu Risa. aku tidak mau kehilangan jejakmu lagi." ucap Febriyan tiba tiba ada sebuah mobil melaju begitu kencang, Risa melihat itu.


"mas.. awas!!"


brakk!!!


"mas Riyan!!!!"

__ADS_1


Risa berlari kearah Febriyan saat melihat sebuah mobil menabrak tubuh Febriyan hingga terpental, Risa menopang tubuh Febriyan.


"mas.. mas Riyan ini aku Risa..." ucap Risa menangis, Febriyan membuka matanya.


"Risa, aku mencintai..mu.. " Risa terkejut dengan pengakuan Febriyan, Risa berteriak minta tolong.


"tolong panggilkan ambulan!"


"tolong, tolong suamiku!"


"apa ini putramu?" ucap seseorang menggendong Bagas, Risa langsung membawa Bagas.


"iya ini putraku." ucap Risa,


beberapa menit ambulan datang dan langsung membawa Febriyan, Risa dan Bagas juga ikut disana.


****


mendengar Febriyan kecelakaan Nadia dan ibu Kumala pergi terburu buru kerumah sakit, terlihat Risa menangis begitu banyak darah pada bajunya. Risa menyadari kehadiran Nadia, ia pun langsung memeluk Nadia dan menangis, ibu Kumala terkejut melihat Risa lalu membawa Bagas.


"Nadia ini salahku... hiks.. salahku, seharusnya saat dia memanggilku aku berhenti... tapi tidak aku malah.. menjauh.. hiks..." Nadia berusaha menenangkan Risa.


"tidak akan terjadi apapun!"


Nadia merasa sedih saat dirinya sebagai dokter tidak bisa melakukan apapun, karena beberapa waktu lalu dirinya sakit dia sudah tidak mendapat ijin.


beberapa menit kemudian dokter keluar, dokter itu adalah David dan Dewi. Nadia melihat itu langsung menghampiri mereka.


"bagaimana?" tanya Nadia, David hanya diam begitu juga dengan Dewi.


"apa.. apa yang terjadi?" tanya Risa.


"aku akan melihatnya!" ucap Nadia langsung masuk diikuti David dan Dewi.


"jantungnya berdetak lemah Nadia, kami tidak tahu harus apa lagi."


Nadia terus melihat alat detak jantung Febriyan, David dan Dewi saling pandang dan hanya diam.


dengan cepat Nadia mengejutkan jantung Febriyan tapi tidak ada perubahan, hingga David mengatakan sudah terlambat. Nadia tidak menyerah, Nadia naik pada tubuh Febriyan dia memompa dada Febriyan.


"ayo.. mas bangun.. hah hah... bangun..." ucap Nadia terus menekan dada Febriyan.


"bangun... Risa ada disini, bukan kah kau ingin bertemu dengannya... bangun.... Risa sedang hamil anakmu... bangun.." Nadia terus menekan dada Febriyan, David mencoba menenangkan Nadia tapi Nadia tidak memperdulikannya.


"uhuk.. uhuk..." Febriyan terbatuk membuat Nadia tersenyum, Nadia langsung turun, Nadia mengejutkan dada Febriyan sekali lagi.


semenit kemudian jantung dan denyut nadi Febriyan kembali normal, Nadia bersyukur, Dewi pun memeluk Nadia.


"Nadia kamu berhasil, kamu berhasil." ucap Dewi, semua perawat bertepuk tangan dengan kerja Nadia.


Nadia keluar dari ruang operasi itu, Risa langsung menghampiri Nadia.


"dia baik, kamu tidak perlu khawatir." ucap Nadia, Risa langsung memeluk Nadia.


terlihat beberapa perawat memindahkan Febriyan pada ruang rawat, David menghampiri Nadia dan Risa disana juga ada ibu Kumala dan Bagas.


"berkat usaha Nadia, semua baik baik saja." ucap David, Risa tersenyum kearah Nadia.


"Nadia bisa keruanganku, ada sesuatu yang ingin kami katakan!" ucap David, Dewi tersenyum disampingnya.


"iya, aku akan kesana." jawab Nadia, lalu David dan Dewi pun pergi.


ibu Kumala melihat Risa, ia berusaha menenangkan Risa.


"kamu kemana saja.." ucap ibu Kumala. Risa menangis.


"maafin Risa tante, Risa terlalu malu untuk bertemu kalian!" jawab Risa ibu Kumala memeluk Risa.


"Riyan selalu mencarimu, dia hampir frustasi mencarimu." Risa tidak pernah berpikir kalau Febriyan mencarinya.


"iya Risa salah, hiks..." Risa menangis dalam pelukan ibu Kumala.

__ADS_1


diruangan David.


disana terlihat Nadia, Dewi dan juga David. Nadia duduk dikursi, Dewi memberikan air untuknya.


"jadi, masih mau jadi dokter?" ucap Dewi,


"aku tidak tahu, aku belum bilang pada Kara." jawab Nadia, David mengingat apa yang dia katakan pada Kara beberapa hari yang lalu.


"dimana Kara?" tanya David.


"luar kota, katanya pulang kemarin tapi entahlah, tadi mama mertuaku telfon dia akan segera datang." jawab Nadia, Dewi merasa ada masalah diantara mereka.


"kemarin aku menelfonnya untuk memberitahu tentang keadaan kandunganmu yang sudah 2 bulan." ucap David.


"ada apa?" tanya Nadia, David berpikir Kara sudah memberitahunya.


"Kara sangat khawatir pada kandunganmu yang lemah, dia juga mengatakan untuk tidak memberitahumu." ucap David Nadia menjadi sangat bingung.


"David katakan yang benar!" Ucap Nadia semakin geram.


David memberikan sebuah laporan, Nadia membuka dan membacanya.


"aku menyarankan Kara untuk menjauh dari mu , karena hubungan fisik bisa membahayakan anak kalian. Kara juga terlihat sangat khawatir saat aku mengatakan itu." jelas David.


"tapi dia bilang padaku alasan dia menjauhiku, karena dia memiliki wanita lain!" ucap Nadia, David dan Dewi pun terkejut.


" (menghela nafas) Kara memang bodoh, aku menyuruhnya agar tidak membuatmu stres, kenapa malah bilang kalau dia memiliki wanita lain. padahal maksudku menjauh itu agar berusaha menahan nafsunya." ucap David, Dewi tertawa tapi berhenti ketika mendengar Nadia menangis.


"hiks... Kara memang bodoh.. untung aku tidak percaya kalau dia memiliki wanita lain.. hiks.." ucap Nadia saat menangis. Dewi menenangkan Nadia.


"Kara sangat mencintaimu, tidak mungkin dia lakukan itu." ucap Dewi, Nadia pun tersenyum.


"iya, David kenapa kau baru mengatakan sekarang." David tersenyum.


"aku pikir kamu sudah tahu, jadi aku jelaskan. sebelumnya Kara mengatakan padaku jangan memberitahumu," jawab David, Nadia hanya memandang David kesal.


Nadia pergi keruangan dimana Febriyan dirawat, terlihat disana Risa sudah tenang berada disamping Febriyan. Nadia pamit pada ibu Kumala untuk pulang, setelah itu Nadia berjalan pulang naik taksi.


"aku yang sudah mengatakan ada wanita lain, itu sama artinya aku telah menuduh Kara. maafkan aku Kara, jawablah telfonku." Nadia berusaha menelfon Kara tapi tidak diangkat.


sampainya dirumah Nadia menunggu Kara pulang hingga malam hari, kemudian Kara kembali. Nadia merasakan kehadiran Kara, Nadia pun keluar dari kamarnya dan berlari menuruni anak tangga. Kara melihat Nadia yang berlari, dengan segera Kara berjalan cepat kearah Nadia.


"berhenti! apa yang kau lakukan dengan berlari!" ucap Kara, Nadia langsung memeluk Kara.


"maafkan aku, maaf..." ucap Nadia, Kara tidak mengerti maksud Nadia dia hanya diam.


"aku menuduhmu memiliki wanita lain, aku mengatakan itu sampai membuat kamu marah." ucap Nadia lagi.


"aku tidak marah, karena yang kamu katakan itu benar." ucap Kara membelakangi Nadia, Nadia menangis dmdengan itu.


"sampai kapan kamu akan membohongiku Kara, aku selalu berpikir kau tidak mencintaiku lagi." Kara melihat ke arah Nadia, Nadia menatap Kara dengan wajah sendu.


"aku sudah tahu, kenapa kau tidak bilang padaku, kenapa kamu malah buat alasan memiliki wanita lain, aku menjadi stres karena itu." jelas Nadia menangis, Kara langsung memeluk Nadia.


"tidak, jangan menangis. aku tidak bisa melihatmu menangis, maafkan aku.." Nadia terus menangis.


"aku hanya terlalu mengkhawatirkan mu, sampai aku tidak berpikir saat bertindak." ucap Kara lagi, Nadia memeluk Kara dengan erat.


"aku seharusnya berterima kasih karena kamu melakukan itu untuk kebaikan anak kita, tapi aku malah meragukanmu. aku minta maaf.." Kara menghapus air mata Nadia, ia mencium kening Nadia.


"tidak, ini bukan salahmu." ucap Kara tersenyum, Nadia pun tersenyum.


"kau sangat bodoh! kenapa merahasiakannya padaku, lalu kenapa kau pergi tidak bilang padaku hah! lalu kenapa tidak angkat telfonku." ucap Nadia kesal, Kara tersenyum dengan itu.


"iya, maafkan aku. aku terburu buru kemarin, jadi tidak sempat mengatakan padamu, dan aku tidak tahu kalau kau menelfonku." jawab Kara, Nadia terus menggrutu kesal.


"dengan siapa kau dibandung?" tanya Nadia, Kara berniat menggodanya.


"dengan wanita lain." Nadia langsung melototinya, Kara tertawa dan memeluk Nadia.


"jadi sekarang apa kau tetap akan menjauhiku?" tanya Nadia, Kara melepaskan pelukannya dan melihat Nadia.

__ADS_1


"tidak, tapi kau jangan menggodaku." Nadia tersenyum dan mengangguk.


__ADS_2