My Love Story 2

My Love Story 2
92. bagus!!


__ADS_3

2 hari kemudian Vano telah membawa Amelia dan Adnan pergi kerumahnya, setelah beberapa menit mereka sampai dirumah besar Vano. Amelia melihat rumah itu menurutnya sangat indah dan lumayan besar, Vano menyuruh beberapa pelayan membawa barang barang milik Amelia.


"ayo masuk, ini rumahku." ucap Vano, Amelia tersenyum. dengan menggandeng Adnan, Amelia masuk kedalam rumah itu.


"rumahmu sangat bagus, kenapa tidak kamu tinggali?" ucap Amelia, Vano tersenyum.


"aku tinggal dengan keluargaku, kamu boleh melakukan apapun disini." ucap Vano, Amelia tersenyum.


"maaf kami merepotkanmu!" ucap Amelia, Vano tersenyum lalu menggendong Adnan.


"tidak, kalian tidak merepotkan sama sekali. oh iya apa kamu masih tidak mau bicara?" tanya Vano, Adnan hanya terdiam.


"baiklah, apa kau lapar?." tanya Vano lagi, Adnan mengangguk pelan.


"aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan, kamu pasti suka!" ucap Vano membawa Adnan kemeja makan, Amelia berjalan mengikuti mereka.


"kalian makanlah, setelah itu beristirahat. aku akan pergi." ucap Vano,


"mau kemana?" tanya Amelia, Vano menoleh kearahnya.


"maksudku kenapa buru buru, setidaknya makanlah." ucap Amelia, Vano tersenyum.


"aku tidak lapar, aku harus pulang." ucap Vano, Amelia pun mengangguk.


"baiklah, aku pulang dulu. anggap saja ini rumahmu, jika butuh bantuan panggil pelayan atau telpon aku kalau perlu." ucap Vano, Amelia mengangguk.


"iya, terima kasih Vano." saut Amelia, Vano tersenyum dan pergi dari sana.


Amelia melihat Adnan yang sedang makan, Amelia merasa sangat bahagia dengan itu apalagi bertemu dengan Vano yang sangat baik menurutnya.


"Adnan, apa kau menyukainya?" tanya Amelia, Adnan mengangguk pelan.


***


1 minggu telah berlalu, Vano telah menceritakan tentang Amelia pada Nadia dan juga yang lainnya. mereka meminta Vano untuk membawa Amelia dan putranya untuk bertemu mereka, agar bisa merasakan kebahagiaan bersama saat acara pernikahan Nadia dan Kara, Vano pun setuju.


siang itu Vano pulang kerumahnya untuk bertemu Amelia, Vano masuk kedalam rumahnya tidak melihat siapapun. Vano pergi ke ruang tengah, terlihat Adnan sedang menonton tv disana. Vano mendekat kerah Adnan dengan membawa beberapa buah, Adnan melihat kedatangan Vano.


"hai, aku membawa buah untukmu." ucap Vano duduk disebelah Adnan, Adnan melihat buah itu.


"dimana mamamu?" tanya Vano, Adnan hanya menunjuk kearah dapur.


"kenapa kamu tidak mau bicara?" tanya Vano, Adnan hanya terdiam lagi.


"Adnan kemarilah," Vano membawa Adnan duduk dipangkuannya.


"jika kamu tidak bicara, semuanya tidak akan tau apa yang kamu mau sayang. Adnan anggap aku adalah temanmu, katakan padaku apa yang kamu inginkan?" tanya Vano, Vano terkejut ketika Adnan memeluknya dan menangis.


"ada apa, kenapa kamu menangis?" tanya Vano, ia mengelus punggung Adnan.


"nenek.., dia.. memukuli.. mama..."


Vano terkejut ketika mendengar suara Adnan yang gemetar, Vano melepas pelukan itu dan menyeka air mata Adnan.


"Adnan melihat mama menangis, Adnan sangat takut." ucap Adnan lagi, Vano merasakan kesedihan anak itu.


"Adnan ingin papa, agar papa melindungi mama..." ucap Adnan, Vano memeluk anak itu.

__ADS_1


"jangan menangis, kamu tidak akan melihat mamamu menangis lagi. kamu tidak boleh lemah, anak laki laki tidak diciptakan untuk lemah!" ucap Vano mengelus punggung Adnan yang sedang menangis sesenggukan.


"anak laki laki ditugaskan untuk menjaga mamanya jika dewasa, kalau kamu lemah seperti ini bagaimana dengan mamamu?" tanya Vano menyeka air mata Adnan.


"kamu harus kuat, jika kamu besar nanti kamu harus kuat untuk melindungi mamamu!" ucap Vano lagi, Vano melepas pelukan itu.


"ayo berjanji padaku, jangan lemah lagi. kamu harus kuat untuk melindungi mamamu, kamu harus berani. papamu akan sedih jika melihat kamu lemah dan tidak bisa melindungi mamamu." ucap Vano


"iya Adnan akan kuat, Adnan akan melindungi mama. Adnan tidak akan membuat mama menangis lagi," ucap Adnan, Vano tersenyum lebar.


"anak laki laki tidak boleh menangis, ayo hapus air mata mu!" ucap Vano menyeka air mata itu, Adnan mengelap air matanya.


"iya Adnan tidak akan menangis, Adnan janji tidak akan menangis lagi setelah ini." ucap Adnan.


"bagus!!" saut Vano, mereka saling bertos tangan.


Vano tidak tahu dari jauh Amelia melihat itu, Amelia sangat bahagia saat mendengar suara putranya. sebelumnya Amelia akan mendengar suara tangisan dari putranya, tapi sekarang putranya itu tidak sedang menangis, melainkan bicara dengan Vano.


Vano melihat Amelia yang berlari kedapur, Vano menghampiri Amelia. entah apa yang dirasakan Vano, hatinya merasa sakit ketika mendengar tangisan Amelia.


"terima kasih Vano, terima kasih banyak!" gumam Amelia menangis di dapur, Vano memegang pundak Amelia.


"kenapa kamu menangis, anakmu ingin kamu tidak menangis lagi. lalu kenapa kamu menangis disini, aku sudah berusaha menguatkan anakmu, tidak mungkin ganti kamu menjadi lemah." ucap Vano, Amelia menangis sesenggukan.


"terima kasih, aku beruntung bertemu denganmu. aku sangat beruntung, hiks.. hiks.." ucap Amelia, entah apa yang dilakukan Vano. ia memeluk Amelia dalam pelukannya.


"aku tidak tahu harus membalasnya seperti apa?" ucap Amelia menangis dalam pelukan Vano.


"aku tidak butuh balasan apapun, aku hanya menginginkan kamu tidak lemah didepan putramu." ucap Vano, Amelia memeluk Vano dengan erat dan menangis.


setelah beberapa menit Vano dan Amelia sadar mereka sedang berpelukan, perlahan mereka melepas pelukan itu. keduanya jadi canggung satu sama lain, Amelia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


"hm.. maksudku, Nadia kamu pasti sudah bertemu dengannya. aku sudah menceritakan kamu padanya, Nadia meminta untuk membawa kalian." ucap Vano, Amelia tampak berpikir.


"Nadia akan menikah, ia ingin kamu juga merasakan kebahagiaannya. kamu mau ikut kan?" tanya Vano


"tapi aku tidak memiliki pakaian yang bagus, keluarga kalian pasti orang elit." ucap Amelia, Vano tertawa.


"tidak ada seperti itu, mereka orang yang baik. bagi mereka semuanya sama, tidak memandang status." ucap Vano, Amelia pun tersenyum.


"baiklah, aku ikut denganmu." saut Amelia, mereka pun saling melempar senyum.


***


hari pernikahan semakin dekat, semua orang sibuk mengurus semua itu termasuk Kara dan Nadia. terlihat Naira sedang berlarian bersama Riana, Nadia melihat itu sangat kesal. banyak orang yang berlalu lalang, tapi dua bocah itu malah asik bermain.


"Bagas hentikan mereka, aku akan menghukum mereka nanti!" ucap Nadia, Bagas pun mengangguk.


"iya bunda!" saut Bagas lalu berlari kearah Riana dan Naira.


"Naira Riana jangan lari lari, banyak orang!" teriak Bagas, tapi tidak dihiraukan oleh kedua adiknya.


"Riana ayo tangkap aku!!" teriak Naira yang sedang dikejar oleh Riana.


"Naira aku lelah, berhentilah biarkan aku menangkapmu." ucap Riana, Naira malah meledeknya.


"tidak mau wleehh!!!" teriak Naira tertawa dan meledek.

__ADS_1


brugh!!!


tiba tiba Naira menabrak seseorang, Bagas panik dengan itu. Bagas berlari kearah Naira begitu juga dengan Riana.


"sakit.. hiks..." rengek Naira memegang lututnya.


"Naira, kamu baik baik saja. mana yang sakit?" tanya Bagas, Naira menunjuk lututnya. terlihat lutut nya bengkak dan sedikit berdarah.


"ada apa?" tanya Vano tiba tiba, Naira menangis dalam gendongan Vano.


"dia menabrakku, aku jatuh kakiku berdarah. hiks..." ucap Naira menangis, Vano mengelus punggung Naira.


"siapa yang menabrakmu?" tanya Vano, Naira menunjuk seorang anak laki laki. yang tidak lain adalah Adnan yang berdiri diam, disampingnya terdapat Amelia juga.


"beraninya bohong, bukankah mama bilang jangan lari lari. tapi kamu masih lari, sekarang kamu yang menabrak orang yang kamu salahkan." ucap Nadia marah, Naira memasang wajah melas yang begitu menggemaskan.


"apa benar itu?" tanya Vano lembut, Naira perlahan mengangguk.


"kenapa bohong, sekarang minta maaf pada kakak itu!" ucap Vano menurunkan Naira, Naira mengelap air matanya.


"ayo katakan, bukanya Naira anak yang baik?" ucap Vano, Naira memandang Adnan yang diam.


"kakak maafkan Naira, Naira tidak sengaja." ucap Naira mengulurkan tangan, Adnan tidak mengulurkan tangannya.


"Adnan katakan sesuatu!" ucap Vano, Adnan melihat Amelia yang mengangguk.


"iya, tidak apa!" ucap Adnan perlahan mengulurkan tangannya.


"siapa nama kakak?" tanya Naira lagi, Adnan melihat lutut Naira yang terluka.


"Adnan Pratama!" ucap Adnan lalu melepas tangan Naira, Naira tersenyum.


"namaku Naira Putri, kakak sangat ganteng!" semua orang terkejut saat Naira mengatakan itu, lalu Vano mencubit pipi Naira karena gemas.


"Bagas obati lutut Naira!" pinta Nadia, Bagas menggandeng tangan Naira. saat ingin pergi Naira menarik tangan Adnan.


"kakak ayo ikut Naira!" ucap Naira, Adnan hanya diam tidak mau berjalan.


"kakak Bagas ajak, kakak itu!" rengek Naira, Bagas tersenyum kearah Adnan.


"hei ayo ikutlah," ucap Bagas, Adnan hanya diam.


"Adnan, mereka semua temanmu. ikutlah mereka, mereka sangat baik." ucap Amelia, perlahan Adnan berjalan saat Naira menarik tangannya.


mereka tersenyum dengan itu, Nadia melihat kearah Amelia. ia mendekati Amelia dan tersenyum, Kara bingung melihat Amelia.


"siapa dia?" bisik Kara pada Vano.


"seorang wanita!" jawab Vano, Kara menatap Vano yang tersenyum meledek.


"hai, kita pernah bertemu!" ucap Nadia, Amelia tersenyum.


"iya namaku Amelia, dan yang tadi itu putraku Adnan." ucap Amelia, Nadia memeluknya.


"aku sudah mendengar ceritamu dari Vano, aku merasa ikut sedih. tapi tidak perlu khawatir, anggap kami keluargamu. kamu tidak sendirian, ada kami dan juga ada putramu." ucap Nadia, Amelia tersenyum.


"iya terima kasih, Vano benar kau sangat baik." ucap Amelia, mereka saling tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2