My Love Story 2

My Love Story 2
27. mencintainya


__ADS_3

sudah 1 minggu Nadia berada dikota lain, Kara tinggal sendiri didalam rumahnya. mulai dari makan dan membersihkan rumahnya hanya ada 2 prt disana, Kara sedang duduk sarapan pagi ia mengingat Nadia yang selalu menyiapkan makanannya.


"aku terbiasa dengannya, lalu bagaimana jika kami berpisah!" gumam Kara.


"ya jangan berpisah kalau seperti itu!."


Kara melihat suara itu dan sudah berdiri Febriyan disana dengan menggendong Bagas, Kara pun menghampiri mereka.


"om.. Bagas kangen sama bunda dokter.." ucap Bagas saat Kara menggendongnya menuju meja makan.


"bunda dokter akan kembali setelah semuanya selesai jagoan, jadi kamu harus makan biar bunda dokter senang, oke!" Bagas tersenyum dan mengangguk. Kara menyuruh prt untuk membantu Bagas sarapan, dan ia berjalan mendekati Febriyan.


"hm.. kenapa kau kesini?" tanya Kara memberikan teh pada Febriyan.


"tidak papa tadi hanya mau jalan jalan tapi Bagas meminta kesini!" Kara hanya ber oh saja.


"apa kau punya niatan berpisah dengan Nadia?"


"hm.. iya, kami menandatangani surat kontrak menikah selama 1 tahun." jawab Kara dengan santai.


"Kara kau tidak akan menemukan wanita seperti Nadia, Nadia sangat baik bahkan Angel akan senang melihatmu bersama Nadia." sejenak Kara mengingat Angel dan Nadia secara bersamaan, Kara menutup matanya.


"kak Kara..."


Angel tersenyum kearah Kara, Kara terkejut melihat Angel ia pun mencoba mendekati Angel.


"tidak, jangan mendekatiku!"


"kenapa, kau istriku!


"dulu, sekarang dia adalah istrimu."


Kara mengikuti arah yang ditunjuk oleh Angel, ternyata Angel menunjuk kearah Nadia yang sedang tersenyum kearahnya.


"dia adalah istrimu sekarang, kamu harus menjaganya, aku akan bahagia kak... dia akan mencintaimu seperti aku mencintaimu, dan cintailah dia seperti kamu mencintaiku!"


"tidak, aku tidak bisa melakukan itu."


"*kau bisa kak, kau sudah mencintainya hanya saja kamu belum menyadarinya. kak... aku tidak menyuruhmu untuk melupakan aku, aku menyuruhmu untuk menyadari cintamu padanya, aku tau benar kau sudah mencintainya, bahkan dia mencintaimu dalam diam."


"aku sangat bahagia*... "


*


*


"Kara! Kara!" Kara membuka matanya, ia terkejut dengan suara Febriyan


"kau ini tidak sopan, aku sedang bicara kau malah tidur!" grutu Febriyan, Kara hanya terdiamdan tersenyum.


"mimpi apa itu..." batin Kara.


****


Nadia sedang memeriksa anak anak di tempat pengungsian, beberapa menit kemudian para dokter masuk ke tenda dimana semua tentara beristirahat. semua dokter diperintahkan untuk memeriksa kesehatan tentara itu semua, agar bertahan saat menjalani tugas.

__ADS_1


"hm.. lukanya sudah kering, tapi akan aku bungkus terus karena biar tidak infeksi disini terlalu banyak debu!" ucap Nadia ketika membalut luka Rudi kembali.


"ya.. terima kasih, aku juga sudah tidak merasakan sakit." jawab Rudi, Nadia pun tersenyum.


"dokter siapa namamu?" ucap tentara lain, Nadia pun tersenyum sangat manis membuat mereka terpana.


"namaku dokter Nadia, nah sudah selesai Rud. sekarang ini boleh terkena air." ucap Nadia, Rudi pun mengiyakan.


"baiklah, ijinkan aku memeriksa tensi darahmu." Rudi memberikan lengannya,


"akhh!!"


tapi pada saat Nadia akan berdiri mengambil alat tensi ia tersandung kaki Rudi dan hampir saja jatuh jika Rudi tidak menangkapnya. tanpa mereka sadari mereka menjadi perhatian semua dokter dan tentara disana. Rudi memandangi wajah Nadia, begitu juga Nadia mencengkram erat lengan Rudi yang terluka.


"akhh maafkan aku, apa sakit?" ucap Nadia berdiri, dan memegang lengan Rudi


"tidak sakit, maaf kakiku menghalangimu!"


"tidak tidak aku yang ceroboh, terima kasih sudah menahanku." Rudi hanya mengangguk, Nadia mulai memeriksa tensi Rudi dan para tentara lainnya.


Rudi memperhatikan gerak gerik Nadia yang telaten memeriksa semua orang, bahkan tersenyum tidak mengeluh sama sekali, meskipun banyak dokter tapi seperti nya dokter yang sibuk hanya Nadia. saat Rudi sedang memperhatikan Nadia dr David memperhatikan Rudi, ia merasa tidak senang saat Nadia dipandangi seperti itu. David pun mengikuti Nadia yang sedang menyiapkan obat.


"dokter Nadia, apa kau mengenal tentara itu?" Nadia melihat kearah David


"kapten Rudi?" David mengangguk pelan.


" hm.. ya dokter aku mengenalnya, kami berkenalan saat aku membersihkan lukanya dan dia menyuruhku untuk memanggil namanya, jadi ya gitu deh." terang Nadia, David pun mendekat kearah Nadia.


"apa kau mengatakan kalau kau sudah menikah?" ucap David pelan tapi masih didengar Nadia.


"hm.. belum, untuk apa memberitahunya?" jawab Nadia masih fokus dengan obat obat yang ia siapkan.


"kau ini ada ada saja dokter David." ucap Nadia disela tawanya, David hanya menggelengkan kepala.


mereka saling mengambil obat disana, David terus memperhatikan wajah serius Nadia.


Kara kau sangat beruntung mendapatkannya, semoga kalian langgeng.


*****


pagi harinya semua dokter terlihat tidur dalam kamar yang disediakan begitu juga dengan Nadia, Nadia terbangun saat sinar matahari masuk pada jendela kamarnya. Nadia pun berjalan keluar dari kamarnya, ia merenggangkan otot ototnya.


"hoamm!, akhh sakit sekali pinggangku." Nadia memegang pinggangnya, tapi ia melihat Rudi berdiri memakai kaos biasa.


"uahh... kapan kau berdiri disana?" ucap Nadia berbalik karena menutupi wajahnya yang khas orang bangun tidur.


"hm.. sejak kau keluar dari sana, kau harus olah raga biar pinggangmu tidak sakit." Rudi berjalan mendekati Nadia, Nadia masih berbalik


"hei jangan kesini, aku belum mandi!"


"haha.. cucilah mukamu ayo kita olah raga bersama." Nadia pun berlari membersihkan wajahnya, lalu keluar dengan wajah yang sudah segar. Rudi tercengang melihat wajah Nadia yang cantik natural tanpa polesan, Nadia menyentuh tangan Rudi membuatnya sadar dari lamunannya.


"hm.. ayo mumpung masih pagi!" Rudi pun mengangguk, mereka mulai berjalan dan berlari lari kecil.


setelah Nadia lelah ia berhenti berlari tapi Rudi tetap berlari kecil disebelah Nadia.

__ADS_1


"apa kau lelah?" tanya Rudi lagi berlari.


"hah hah.. lelah sekali, apa kau tidak lelah." Rudi tersenyum dan mulai berjalan disebelah Nadia.


"hm... karena itu tubuhmu sangat kecil." Rudi tertawa melihat Nadia menatapnya tajam.


"bukan karena itu tauk, emang badannya saja yang tidak mau tinggi!" ketus Nadia, Rudi tersenyum dengan itu.


"hei kapten apa kau belum menikah?" Rudi hanya menggelengkan kepala.


"kau kan tampan kenapa tidak menikah, pasti banyak wanita yang mengagumi seorang Kapten Rudi!" saut Nadia, Rudi hanya menghela nafas dan duduk disebuah batu.


"aku tidak tertarik pada siapapun."


"kenapa?" Nadia duduk disebelah Rudi.


"aku mempunyai seorang gadis yang aku cintai mungkin sampe saat ini masih mencintainya, saat aku ingin memperbaiki kesalahanku aku terlambat dan kehilangannya" ucap Rudi memainkan sebuah daun.


"hm.. kemana dia sekarang?" Rudi menggelengkan kepala


" aku tidak tahu kemana dia, saat aku datang kerumahnya, yang kutemui bukan dia tapi orang lain." Nadia melihat Rudi tersenyum tapi Nadia juga melihat wajah sendu disana.


"hm.. ternyata seorang kapten yang tegas memiliki kesedihan terdalam." ucap Nadia, Rudi pun tersenyum dan mengarah pada kaki Nadia.


"jangan banyak bergerak, longsor bisa terjadi kapan saja, kita hampir berada di jurang." Nadia melihat tanah yang ia pijak.


"ini kuat kok, buktinya bisa menahan tubuhmu yang besar ini!" ucap Nadia, Rudi pun tersenyum.


"Nadia, kenapa memilih nama Nadia?" tanya Rudi, Nadia pun tampak berpikir.


"katanya sih artinya awal atau harapan pertama, tapi entahlah kenapa orang tuaku memilih nama itu.!" jelas Nadia, Rudi pun hanya beroh saja.


mereka terdiam beberapa saat karena tidak ada pembicaraan lagi yang harus mereka katakan.


"hm.. kita harus kembali, ayo.." Nadia pun berdiri merapikan bajunya.


"akh!!"


saat berdiri tanah yang dipijak Nadia runtuh, Nadia berusaha memegang tangan Rudi begitu juga Rudi berusaha meraih tubuh Nadia.


"Nadia bertahanlah, aku akan menarikmu!" ucap Rudi yang berusaha menarik Nadia.


"aku tidak tahan, kakiku mati rasa Rud, akh..." rintih Nadia dipinggir jurang itu, Rudi masih sekuat tenaga menarik, ardi berusaha menghubungi seseorang.


"siapapun dengar aku butuh bantuan, ganti." tidak ada jawaban.


"ganti, kapten ada masalah apa. ganti."


"Rudi!!!"


"Nadia!!!"


saat Rudi berusaha menarik Nadia, tanah yang dipijak Rudi bergerak dan longsor begitu saja. Nadia dan Rudi jatuh secara bersamaan, diatas hanya meninggalkan alat komunikasi Rudi.


"*kapten apa sesuatu terjadi, kapten katakan sesuatu. ganti."

__ADS_1


"kapten katakan sesuatu, apa yang terjadi.. ganti. "


"kapten kau mendengar kami, katakan sesuatu. ganti*."


__ADS_2