My Love Story 2

My Love Story 2
62. tengah malam


__ADS_3

"aku akan ke london."


Nadia yang hendak tidur langsung membuka mata mendengar perkataan Kara, Nadia menatap Kara.


"ngapain?" tanya Nadia.


"ada pertemuan dengan klien, juga mengurus perusahaan disana." jelas Kara.


"aku ikut." ucap Nadia, Kara melihat ke arah Nadia


"tidak bisa." saut Kara,


"aku hanya ikut Kara, tidak akan mengganggumu." rengek Nadia.


"dengar, kamu akan lelah nanti. dan juga kamu kan sedang hamil." jelas Kara, Nadia kesal dengan itu.


"setelah pulang aku janji padamu, akan kubawa kamu jalan jalan, gimana?" ucap Kara, Nadia tidak meresponnya.


"hm.. aku akan mengajakmu ke london nanti untuk liburan, untuk sekarang karena pekerjaan kamu tidak bisa ikut." Nadia akhirnya menyerah.


"jangan lama lama pulangnya." ucap Nadia, Kara tersenyum dan mengusap rambut Nadia.


"iya, mungkin 2 sampai 3 minggu saja." saut Kara, Nadia mengangguk.


beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah, Nadia dan Kara langsung masuk kedalam kamar. Kara membersihkan dirinya sedangkan Nadia sedang memebereskan kamar mereka.


"Reno siapkan tiketnya, kita berangkat besok lusa." ucap Kara saat menelfon, setelah menutup telfon Kara mendekati Nadia.


"berangkat lusa?" tanya Nadia, Kara memeluk Nadia dari belakang dan mengangguk.


"biarkan aku tidur denganmu malam ini!" ucap Kara mengelus perut Nadia.


"iya, lepaskan pelukanmu, aku harus kekamar mandi." ucap Nadia, Kara pun menurut.


setelah beberapa menit mereka tidur berpelukan, mereka masih mengobrol malam itu.


"Kara nama apa yang akan kamu berikan pada anak kita?" tanya Nadia, Kara tampak berpikir.


"kalau perempuan akan kuberikan nama Naira!" saut Kara.


"kenapa?" tanya Nadia, Kara tersenyum.


"Naira itu Nadia dan Kara.." Nadia tersenyum dengan itu.


"kalau laki laki?" tanya Nadia lagi.


"kalau laki laki, Aidan." Nadia terkejut karena Kara mengatakan itu.


"Kara.. Aidan itu kakak laki laki ku, hahaha..." ucap Nadia tertawa, Kara yang tidak tahu hanya tersenyum.


"Kara aku tidak bisa tidur." ucap Nadia, Kara teringat sesuatu ia pun berdiri dan mengambil sesuatu dilaci, Nadia memperhatikan Kara.


"apa itu?" ucap Nadia, saat Kara menunjukkan sebuah cd.


"tunggu, kemarilah." ucap Kara, Nadia pun melangkah mendekati Kara.


"apa kita akan melihat film?" ucap Nadia saat melihat Kara mulai memutar cd itu.


"bukan film, ini musik. baik untuk mu dan anak kita." ucap Kara tersenyum, Nadia mengalungkan kedua tangan nya pada bahu Kara.

__ADS_1


"lagu apa ini?" tanya Nadia, Kara menikmati lagu itu.


"yang hamil aku, kenapa kamu yang menikmati musik nya?" tanya Nadia, Kara membuka mata dan tersenyum.


Nadia mendudukan dirinya diatas kasur, begitu juga dengan Kara mengikuti Nadia.


"dengarkan dengan baik." ucap Kara, Nadia meletakan tangannya dibahu Kara.


"aku tidak tahu lagu apa ini. satu hal yang aku tahu, kamu tidak menemukan cara yang lebih baik untuk membuatku bosan." ucap Nadia, Kara menatap wajah Nadia.


"kamu bosan?" tanya Kara, Nadia mengangguk.


"ini bagus Nadia, kau tahu guru yoga waktu itu mengatakan, jika seorang wanita yang sedang hamil mendengarkan lagu ini, bayinya akan sangat aktif nanti, bukankah perutmu sudah mau 3bulan?" Nadia memegang perutnya.


"tidak, itu salah. jika anak kita mendengar lagu ini dia akan malas Kara, begini saja jika ingin memainkan musik pasang musik rock saja atau musik jazz pasti aktif." ucap Nadia senang, ia tidak tahu wajah Kara yang muram.


"ya.. aku tahu sekarang kenapa kamu memiliki sifat seperti itu, ternyata mama mertuaku sering mendengarkan lagu rock dan jazz, kenapa tidak dangdut sekalian." saut Kara, Nadia mengambil boneka beruang yang ada dikamarnya.


"dia mengataiku, kurang ajar sekali." ucap Nadia, Kara tertawa geli melihat itu.


Nadia mengambil remot dan mematikan musik itu, ternyata malah tersambung lagu yang romantis untuk mereka. Kara dan Nadia berhenti berdebat lalu mendengarkan lagu itu, Kara dan Nadia tidur diatas kasur sesekali mereka bercanda.


Nadia memegang pipi Kara, Kara tersenyum lalu memeluk Nadia dengan erat. Nadia melihat ayunan yang ada dikamar mereka, ayunan itu sengaja ditaruh untuk menimang anak mereka kelak jika sudah lahir. Kara tersenyum melihat itu, Kara mengelus perut Nadia, hingga mereka tertidur.


hari sudah menunjukkan tengah malam, Nadia tidak bisa tidur ia hanya membolak balikan tubuhnya diatas tempat tidur. Nadia menyalakan lampu lalu berusaha membangunkan Kara, Kara yang dibangunkan terkejut langsung mendudukan dirinya.


"ada apa Nadia, apa ada yang sakit. aku akan panggil dokter, apa sakit akan melahirkan. ayo kerumah sakit sekarang, ayo! " ucap Kara, Nadia menggelengkan kepala.


"hentikan, biarkan aku bicara Kara." ucap Nadia, Kara menatap wajah Nadia khawatir.


"kenapa kamu takut pada hal kecil, lagi pula mana ada hamil 3 bulan, sudah melahirkan." ucap Nadia, Kara memegang perut Nadia.


"aku lapar, dan ingin makan sesuatu yang pedas dan asam." jawab Nadia tersenyum. Kara melihat ke arah jam dinding, lalu menatap Nadia.


"ditengah malam seperti ini, lihat jam. ini jam 2 dini hari." ucap Kara menjatuhkan tubuhnya dikasur, Nadia menarik Kara hingga terduduk kembali.


"bayi kita yang ingin, dia kan tidak tahu ini malam atau pagi!" saut Nadia, Kara melihat wajah Nadia yang berharap lalu pindah melihat pada perut Nadia berulang kali.


"ada asam jawa di dapur , ayo ikut aku.." ucap Kara, tapi Nadia memotong perkataan nya.


"tidak, aku ingin rujak asam, manis, pedas." Kara terkejut mendengar itu.


"dimana aku mencari itu, ini sudah tengah malam." ucap Kara, Nadia malah tidak mau tahu, yang ia tahu hanya ingin makan keinginannya.


Kara merasa kesal, Kara menelfon Reno. Kara mengatakan pada Reno apa yang diinginkan Nadia, pasalnya Reno terkejut dan ingin bilang tidak, tapi melihat suara Kara terlihat kesal Reno mengiyakan permintaan Kara. setelah menelfon Kara mendekati Nadia.


"ayo kita keluar Kara, makan ditempatnya lebih baik." ucap Nadia, Kara semakin terkejut dengan perkataan Nadia.


"mana ada sih jam segini rujak, Nadia benar benar merepotkan!" gumam Kara, Nadia memukul Kara.


"anak kita yang meminta, kamu bilang dia merepotkan!." ucapnya lalu menyuruh Kara memegang perutnya, Kara memegang perut itu dan melihat Nadia tampak sedih.


"aku akan memberitahu anak ini kalau papanya tidak mengerti perasaannya." ucap Nadia.


"hei kenapa kamu bisa bilang begitu." saut Kara, Nadia mengelus perutnya dengan sedih.


"(menghela nafas) yasudah, kita akan pergi cari. aku yakin tidak ada." ucap Kara menyerah, Nadia tampak senang.


"mungkin saja ada." ucap Nadia mengambil jaket, Kara tersenyum dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


saat hendak pergi Kara mendapat telfon dari Reno, Kara segera mengangkatnya.


"tidak usah Reno, aku akan cari sendiri." ucap Kara.


"Kara ada masalah, kita harus pergi ke london sekarang. ada masalah disana, perusahaan kacau. klien meminta mu untuk datang, jika tidak semua akan hancur."


Kara terkejut dengan perkataan Reno, Nadia melihat keseriusan wajah Kara.


"oke kita berangkat sekarang, pesan tiketnya saja."


"aku sudah pesan, kamu datang saja ke bandara sekarang."


Kara menutup telfon dan mendekati Nadia, Nadia memperhatikan wajah Kara yang terlihat serius.


"ada apa?" tanya Nadia, Kara tersenyum dan memegang perut Nadia.


"maaf sayang, papa tidak bisa membawa kalian hari ini. " ucap Kara mencium perut Nadia, lalu Kara melihat wajah Nadia.


"aku harus pergi ke london sekarang, Reno bilang ada masalah. maafkan aku." ucap Kara, Nadia tersenyum.


"pergilah, pekerjaan itu penting. tidak usah pikirkan aku, aku akan membantumu." ucap Nadia, Kara tersenyum dan mencium pipi Nadia.


Nadia menyiapkan barang yang dibutuhkan Kara, Kara keluar dari kamar mandi dan memakai bajunya. Nadia juga mengantar Kara turun sampai masuk dalam taksi yang sudah ia pesan, Kara mencium kening Nadia dan berlalu pergi, Nadia berdiri didepan pintu hingga taksi yang ditumpangi Kara menghilang.


"hm.. sayang, besok kita akan makan rujak yang banyak." ucap Nadia memegang perutnya, lalu ia masuk kedalam kamarnya.


***


keesokan harinya, Nadia pergi ke dapur untuk mengambil asam jawa, kebetulan Risa juga datang untuk mengambil asam jawa.


"ada apa?" tanya Nadia, Risa tersenyum.


"hm.. aku juga mauu.." ucap Risa, Nadia tersenyum dan memberikan pada Risa.


"benar benar menyenangkan jika sama sama hamil, benarkan?" ucap Nadia, Risa tersenyum mereka menikmati asam jawa itu bersama.


tidak lama kemudian seseorang memencet bel rumah itu, Nadia berjalan membuka pintu. Nadia terkejut saat melihat Vano tersenyum kearahnya, Nadia membalas senyum itu lalu menyuruh Vano masuk.


"hm.. akan ku panggilkan Risa." Vano mengangguk, Nadia menuju dapur menemui Risa.


"Risa ada Vano, kamu ada janji?" ucap Nadia, Risa membersihkan wajahnya.


"iya, aku mau mengembalikan uang yang aku pinjam padanya, tapi sepertinya dia tidak mau." saut Risa, Nadia menyiapkan teh untuk Vano.


"ini teh, aku tinggal dulu ya..." ucap Nadia, Vano dan Risa mengiyakan.


Nadia sangat kesal pada Kara karena tidak menelfonnya, Nadia berusaha menelfon Kara, berdering tapi tidak diangkat.


disisi lain Kara sibuk rapat dengan pengusaha ternama yang ada perusahaannya (london), Kara dan Reno sedang membahas pentingnya pekerjaan mereka hingga tidak melihat hp masing masing.


terlihat Kara sangat marah dalam rapat itu, beberapa pebisnis juga. tanpa sengaja Kara menekan tombol aktif untuk mengangkat telfon Nadia yang terus menelfonnya.


"halo Kara..."


"kenapa seperti ini, kalian bertanggung jawab untuk ini kenapa tidak bisa saya percaya. (bahasa inggris)"


Nadia merasa heran ketika mendengar itu, suara Kara terlihat marah. Nadia terus mendengar suara dalam hp nya, Nadia larut dalam pikirannya hingga tidak tahu dengan tangga. Nadia terkejut dan jatuh, tubuh Nadia terguling dari lantai atas hingga lantai bawah. Vano dan Risa terkejut begitu juga ibu Kumala yang baru datang. saat dibawah Nadia berteriak dan memegang perutnya.


"akhh, sakit.. perutku sakit.. Kara...."

__ADS_1


__ADS_2