
cerita dimulai ketika Kara mengajak Nadia berjalan jalan ke taman, Kara mendudukan Nadia disebuah ayunan dan dirinya mendorong Nadia perlahan. mereka tampak membicara kan sesuatu dan menunjuk kesuatu arah.
"itu lihatlah anak itu sangat lucu!" Nadia menunjuk seorang balita yang berjalan lucu, Kara tersenyum melihat Nadia seperti itu.
"tapi dia lebih lucu!" ucap Kara, Nadia mencari cari dimana yang dimaksud Kara.
"mana?"
"belum ada!" ucap Kara dan berlutut dihadapan Nadia.
"kok bilang imut?" ucap Nadia yang masih bingung.
"disini, imut seperti mu. pasti nanti ada dan secepatnya." Kara memegang perut Nadia, Nadia tersenyum malu dengan itu.
"hm.. kira kira mau berapa?" tanya Nadia melipat tangannya, Kara tampak berpikir.
"kalau 10 bagaimana?" Nadia terkejut dengan itu.
"kau pikir aku kucing!" ucap Nadia mencubit hidung Kara, Kara pun tertawa lalu menggendong Nadia dikursi roda.
"kita pulang ya, mendung takutnya hujan." Nadia tersenyum dan mengangguk.
"diam disana, aku akan mangambil mobil dulu!"
"iya, cepat ya!" saut Nadia, Kara dari jauh mengangguk.
Nadia sedang menunggu Kara, ia bermain hp nya. tiba tiba sebuah menggelinding tepat didepan kakinya, Nadia melihat anak anak yang sedang bermain itu melihat kearah Nadia.
"tante tendang bola nya kesini!" ucap salah seorang anak, Nadia memperhatikan bola itu.
Nadia mencoba menggerakkan kakinya, ia berusaha sekeras mungkin untuk menyentuh bola itu. Kara yang melihat itu terus melihat dan membiarkan Nadia mencobanya, Kara tampak fokus melihat kaki Nadia yang berusaha bergerak. Nadia masih fokus menggerakkan kakinya
"ayo.. bisa, sentuh bolanya!" gumam Nadia yang masih berusaha, tiba tiba terlihat jempol Nadia bergerak bahkan Kara juga melihatnya Kara tampak tersenyum, disaat bersamaan seorang anak mengangkat bola itu membuat Nadia terkejut dan Kara pun juga.
"maaf tante, aku tidak tahu." ucap anak itu, Nadia pun tersenyum dan menyentuh rambut anak itu.
"tidak masalah, pergilah bermain lagi!" anak itu langsung berlari dan melanjutkan bermainnya. Kara mendekat kearah Nadia.
"Kara.. apa kau tahu tadi ada bola dan jempolku bergerak aku bahagia Kara..." Kara langsung memeluk Nadia, Kara bisa merasakan bahwa Nadia sangat bahagia.
"aku melihat semuanya, sudah kukatakan cepat atau lambat pasti akan sembuh. aku mencintaimu.." ucap Kara mencium kening Nadia, Nadia pun tersenyum.
"iya, aku percaya. aku juga mencintaimu!" ucap Nadia mencium tangan Kara.
mereka pun pulang kerumah, setelah beberapa menit kara membawa Nadia masuk kerumah. terlihat Febriyan dan Bagas sedang asik menonton tv, Risa sedang membaca majalah dimeja makan bersama ibu Kumala
"hei kalian sudah pulang?" ucap ibu Kumala ketika melihat Nadia.
"iya ibu, soalnya mendung jadi takut hujan." jelas Nadia mendekat kearah meja makan.
"dimana Kara?" tanya Risa, yang masih asik memakan kacang.
"dia tadi mendapat telfon dari Reno jadi langsung masuk ke kamar." Risa hanya beroh.
"ma.. tadi kaki Nadia sudah mulai bergerak," Nadia menceritakan apa yang terjadi padanya saat ditaman itu, ibu Kumala terlihat sangat bahagia, beda dengan Risa yang malas menanggapi Nadia.
"wah.. mama sangat senang mendengarnya, mama akan selalu mendoakan kamu sembuh sayang," ucap ibu Kumala mencium Nadia, Nadia tersenyum
"terima kasih ma..." ucap Nadia.
"mama akan bilang sama mama kamu, tunggu ya.." ibu Kumala langsung keluar dari rumahnya untuk menemui ibu Sabilah.
"aku juga senang!" singkat Risa,
"terima kasih." Nadia tersenyum. lalu terlihat Kara sudah rapi turun tangga, mencari keberadaan Nadia.
"Kara aku disini!" teriak Nadia, Kara pun mendekati Nadia.
__ADS_1
"sayang aku kekantor bentar ya, mau ambil berkas nanti cepet balik!" ucap Kara, Nadia mencium tangan Nadia.
"iya, cepet pulang soalnya mau hujan takutnya hujannya deras terus kamu nyetirnya ga keliatan!" Kara mengangguk, dan mencium dahi Nadia.
"iya, Assalamualaikum.." ucap Kara lalu melangkah menjauh
"Waalaikumsalam.." ucap Nadia dan Risa..
"om mau kemana?" ucap Bagas menghentikan Kara.
"mau ikut?" Bagas mengangguk dan berlari kearah Kara, Kara langsung menggendong Bagas.
"apa, kau juga mau ikut?" ketus Kara melihat Febriyan.
"hm.. iya deh, lagian aku nganggur." ucap Febriyan melangkah keluar.
"ck.. makanya.." belum selesai bicara Febriyan memotong perkataan Kara.
"hei cepatlah nanti kau telat!" ucap Febriyan masuk kedalam mobil Kara.
"hei Bagas jangan seperti ayahmu, tambah tua sangat menyebalkan!" ketus Kara, Bagas hanya tertawa.
Nadia melanjutkan pekerjaan ibu Kumala yang memotong sayuran, Risa memiliki pemikiran apakah Nadia bisa memasak dengan keadaannya yang cacat.
"Nadia apa kau bisa memasak?" ucap Risa, Nadia pun tersenyum.
"hm.. iya, waktu kau disini aku belum pernah memasak karena sakit."
"bagaimana kalau sekarang, meneruskan masakan tante Mala?" Nadia tampak berpikir.
"akan kubantu bagaimana?" Nadia pun mengangguk, Risa langsung berdiri dan mendorong kursi roda Nadia.
"apakah sangat enak?" ucap Risa, Nadia masih mengumpulkan bahan bahan memasak.
"hm.. tidak tahu, tapi papa sangat suka!" Risa hanya ber oh, Risa memperhatikan wajah Nadia, yang sibuk mencuci sayur.
Risa mempunyai rencana untuk mencelakakan Nadia, Risa sudah benar benar membenci Nadia. pelan pelan ia menumpahkan minyak yang mudah terbakar, disekeliling kompor tanpa sepengatahuan Nadia. Risa juga menuangkan minyak disekeliling dapur, Risa melakukannya dengan terburu buru agar Nadia tidak tahu.
"Risa kau kenapa?" tanya Nadia, Risa terkejut ia meletakkan minyak itu keasal nya.
"ini tadi jatuh," saut Rusa, Nadia pun kembali fokus memasukkan sayuran ke panci.
"akhh..." teriak Risa sengaja menjatuhkan jus yang ia minum, Nadia pun melihat Kearah Risa
"Risa kau kenapa?" tanya Nadia, Risa mengelap jus itu.
"tidak, tunggu ya aku tinggal sebentar, aku ganti baju dulu." ucap Risa, dan keluar dari dapur.
sampai diluar Risa tersenyum menyeringai, ia mengelap tangannya pada bajunya.
"kita lihat Nadia, bagaimana caramu menyelamatkan dirimu sendiri, jika tidak kau akan hangus!" gumam Nadia, tersenyum puas.
didalam Nadia masih mencuci sayur itu, setelahnya Nadia mencari korek api untuk menyalakan kompor. Nadia menyalakan korek itu dan mengarahkan pada kompor seketika api menyala disekeliling kompor itu.
"oh tidak, kenapa begini!" Nadia mencoba menutup api itu dengan kain lap tapi tidak bisa, karena kain lap terkena minyak yang dituang oleh Risa.
dengan cepat api itu merambat keseluruh lantai, Nadia sangat panik ia sangat takut menjalankan kursi rodanya.
"ya Allah apa ini, Risa!!" Nadia panik berteriak nama Risa tapi tidak kunjung datang, dikamarnya Risa sedang asik mandi dan membayangkan apa yang terjadi pada Nadia.
"akhh.. tidak tidak tolong padamlah hiks..!" ucap Nadia mulai menangis, Nadia bingung tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Nadia terus mencari jalan keluar tapi tidak semua api itu merambat begitu cepat, Nadia menyiramkan air yang ada didekatnya tapi percuma air itu tidak cukup.
"tolong!! hiks... tolong aku... Risa!!" Nadia semakin menangis karena ia ingat tidak ada orang, hanya Risa yang sedang berganti pakaian.
"Kara... akhh... mama... hiks.. Risa... hikss.. apa yang terjadi, pintu gudang ini juga terkunci.." Nadia terus menangis, Nadia semakin menangis ketika pintu itu dikunci dari atas dan ia tidak bisa meraihnya.
"tolong, Kara.. uhuk.. uhuk... apa ada orang, si mbok... uhuk.. mama..." Nadia terus berteriak tapi tidak ada seorangpun yang mendengarnya.
__ADS_1
hal yang tak terduga Kara, Febriyan dan Bagas kembali dengan cepat, mereka asik mengobrol memasuki rumah. mereka belum sadar dengan kejadian yang terjadi pada Nadia. didalam dapur Nadia sudah tidak bisa bernafas, ia lemas dan jatuh dari kursi roda, ia terus memanggil nama Kara.
"Nadia!, kau dimana?" teriak Kara, Risa mendengar suara teriakan Kara.
"oh tidak Kara kembali begitu cepat, rencanaku akan gagal." ucap Risa bergegas memakai pakaiannya, ia keluar dari kamarnya dan menuju dapur dengan cepat.
"aku harus berpura pura panik!" gumam Risa melihat dapur sudah terbakar, Kara masih belum menyadari itu.
"kebakaran! kebakaran! siapapun kebakaran!" teriak Risa, Kara terkejut dengan teriakan Risa, ia langsung berlari kearah dapur begitu juga dengan Febriyan.
"Risa minggir!" ucap Kara, Risa pun minggir
"Kara, Nadia ada didalam. tadi kami sedang memasak lalu..."
"Nadia!!" teriak Kara, ia panik melihat Nadia tergeletak dilantai.
"Nadia bertahan lah!"
Nadia mendengar suara Kara, ia pun membuka matanya dan tersenyum.
"Karah.. ahkuh.. tauh.. kamu.. ahkan.. datang.." lirih Nadia, terlihat Kara sangat panik, begitu juga Febriyan.
"Kara aku akan mengambil alat pemadam dulu!" ucap Febriyan.
"iya cepat!" Kara tidak bisa menunggu Febriyan, ia pun melompat kedalam api itu menghampiri Nadia.
"Nadia, Nadia ini aku.. " ucap Kara menepuk pipi Nadia, ia membuka jas nya danenyelimuti Nadia dengan jas itu.
dengan cepat Kara menggendong Nadia dan membawanya keluar dari api itu, terlihat Risa kesal rencananya gagal. Febriyan datang ia lega dengan Kara yang membawa Nadia keluar, ia masuk kedapur untuk memadamkan api. Kara menidurkan Nadia diatas sofa, dan berusaha membangunkannya.
"Nadia buka matamu, Nadia. bagaimana dia ada disana?" tanya Kara pada Risa.
"kami sedang memasak, tanpa sengaja bajuku ketumpahan jus lalu Nadia menyuruhku berganti pakaian setelah itu aku tidak tahu dan pasti api merambat begitu cepat tadi aku melihat minyak gas itu tumpah..." ucap Risa berpura pura tidak tahu apapun yang terjadi, Kara terkejut dengan itu.
"Nadia buka matamu..." Kara menggosok kaki dan tangan Nadia.
"Kara ada apa ini, suara teriakanmu sampai dari luar." ucap ibu Kumala.
"dapur kebakaran, Nadia sedang memasak disana!" ibu Kumala terkejut saat melihat Nadia tidur diatas sofa.
"uhuk uhuk.. uhuk.. Kara..." Nadia akhirnya sadar Kara pun lega dan memeluk nya.
"aku sangat takut, takut Kara.." ucap Nadia terisak, Kara memeluk Nadia lalu melepasnya. Febriyan datang memberikan air minum pada Nadia.
"semua sudah baik, aku ada disini sayang, minumlah." Kara menyodorkan air putih yang dibawa Febriyan, Nadia pun meminumnya sedikit.
"bagaimana dapur bisa terbakar?" tanya ibu Kumala memegang tangan Nadia.
"bukan itu yang dibicarakan, kenapa Nadia ada didapur siapa yang menyuruhnya memasak!" semua orang terdiam bahkan prt dan yang lainnya berkumpul takut mendengar teriakan Kara, Nadia mencoba menenangkan Kara.
"si mbok tidak tahu tuan, si mbok sedang menjemur pakaian!" Kara melihat kearah ibunya.
"mama tadi kerumah sebelah ingin menceritakan suatu hal pada ibunya Nadia." Kara merasakan Nadia menyentuh tangannya.
"Kara aku yang ingin memasak, bukan salah siapa siapa aku yang ceroboh." Kara berusaha menenangkan kemarahannya.
"aku tegaskan Nadia tidak boleh pergi kedapur jika butuh apa apa si mbok ada disini, panggil dia." tegas Kara dengan lantang, Nadia tahu Kara kesal.
"baik tuan, si mbok pasti melayani nyonya Nadia." ucap si mbok.
Kara memeluk Nadia, Nadia mencoba menghilangkan kemarahan Kara.
"sudah jangan marah, aku tidak apa apa!" ucap Nadia, Kara pun mencium pundak Nadia.
"aku sangat khawatir padamu, jangan lakukan itu lagi." ucap Kara, Nadia pun mengusap wajah Kara.
"iya maaf ya, aku tidak akan lakukan itu lagi oke.." Kara mengangguk lalu mencium dahi Nadia.
__ADS_1
Risa kesal dengan kemesraan mereka apalagi rencana nya yang gagal, Febriyan sedari tadi memandang Risa penuh dengan kemarahan karena ia tahu pasti ini perbuatan Risa, tidak mungkin jika api datang sendiri seperti itu.