My Love Story 2

My Love Story 2
84. papa Naira


__ADS_3

2 hari kemudian Nadia berkutik didalam dapur, terlihat Nadia sedang membuat sarapan. Risa mendekati Nadia, mereka saling melempar senyum.


"apa yang harus dimakan Kara?" tanya Risa,


"aku sudah buat bubur, ini bagus untuk pencernaan nya. didalam laporan Kara, pencernaannya selama ini kurang bagus." ucap Nadia, Risa tersenyum.


"tentu saja kurang bagus, saat kamu pergi dia hanya akan tidur sesempat dia. itu pun tidur didalam ruang kerjanya, pencernaan? dia bahkan melewati sarapan pagi, makan siang dan juga makan malam. kalau dia juga sempat dia akan makan, dia banyak diam ketika merasa kehilangan." jelas Risa, Nadia terdiam.


"dia sangat bersedih ketika kamu tidak ada." ucap Risa lagi.


"em.. a.. aku pergi dulu, aku akan bawa sarapan Kara." ucap Nadia lalu pergi dari sana, Risa hanya terdiam melihat Nadia pergi.


Nadia membawa sarapan ke kamar Kara, terlihat Kara sedang duduk dan disampingnya ada Naira yang sedang bermain. Nadia menghampiri mereka, dan meletakkan sarapan Kara diatas meja.


"Naira bersiaplah sekolah, kenapa malah bermain disini. dan ini kenapa banyak mainan disini, ini pasti punya Riana ayo kembalikan." omel Nadia merapikan mainan Naira, Naira berdiri diatas Kasur.


"mama ini bukan punya Riana, ini milik Naira. om ganteng yang berikan!!" rengek Naira merebut boneka dari tangan Nadia.


"om ganteng?, siapa lagi itu?" tanya Nadia melihat Kara.


"dia Reno, tadi pagi pagi sekali dia kemari aku memintanya untuk membawakan mainan ini untuk Naira." saut Kara.


"oke ini simpan dulu, sekarang bersiaplah sekolah. Riana pasti sudah siap!" ucap Nadia,


"Riana tidak kesekolah, dia ada diluar bersama om Riyan!" saut Naira.


"Nadia,, biarkan saja, hanya sehari." ucap Kara, Nadia menatap mereka berdua.


"anak dan bapak sama saja." gumam Nadia, Kara dan Naira bertos untuk itu.


"kamu harus makan teratur, kamu tahu hasil laporan kesehatanmu mengatakan kamu ada masalah pencernaan, sejak kapan itu terjadi?" tanya Nadia saat siap menyuapi Kara.


"tidak tahu, mungkin saat kamu pergi." saut Kara tersenyum, Nadia terdiam meniupi bubur disendok. Kara melihat perhatian Nadia padanya, Kara merasa bahagia dengan itu.


Nadia menyuapi Kara untuk makan, Kara menikmati makananan nya sambil bermain dengan Naira. Nadia melamun saat melihat mereka, perasaan hangat keluarga yang belum pernah Nadia rasakan selama 6 tahun bersama Vano, sekarang ia rasakan saat bersama Kara. memang tidak seharusnya seorang ayah dipisahkan dari putrinya, begitu pun sebaliknya.


"apa kamu memikirkan aku?" tanya Kara, Nadia tersadar lalu menyuapi Kara lagi.


"tidak, aku hanya memikirkan betapa nakalnya putriku saat ini." celetuk Nadia, Naira menatap Nadia.


"aku tidak nakal ya, papa.. mama itu selalu memarahiku." ucap Naira mengadu pada Kara.


"tentu saja marah, jika kamu nakal. jika kamu tidak nakal mama tidak akan memarahimu." saut Kara mencubit pipi Naira.


"tentu Naira tidak akan nakal, papa Vano juga bilang gitu." saut Naira, Kara tersenyum.


"Naira suka papa Vano atau papa ganteng?." tanya Kara, membuat Nadia menatap kearahnya.


"hm.. Naira suka semuanya, tapi Naira lebih suka dengan papa Naira." saut Naira, Nadia terdiam.


"si.. siapa papa Naira?" tanya Nadia, Naira mendekat kearah Kara.


"dia papa Naira, semua orang bilang seperti itu. kata papa Vano juga, dia itu papa Naira." saut Naira, Kara tersenyum dan menyeka air matanya.


"iya, Naira mau kan. kalau papa ganteng jadi papa Naira?" Naira tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"iya Naira mau, " ucap Naira memeluk Kara, Nadia berdiri beralasan mengambil air untuk Kara, padahal Nadia ingin menghapus air matanya.


diluar kamar itu Vano mendengar aktivitas mereka, Vano merasa senang Naira mau menerima Kara sebagai ayahnya.


****


satu minggu Nadia tinggal dirumah Kara, semua tampak baik baik saja. meskipun hubungan Nadia dan Kara masih saja berjauhan, Kara yang sudah sembuh mulai melakukan aktivitasnya lagi seperti biasa. siang hari itu Naira sedang bermain bersama Riana saat pulang sekolah. Vano datang menghampiri mereka.


"hm.. apakah aku bisa ikut bermain?" ucap Vano tersenyum, kedua anak itu menoleh dan tersenyum saat melihat Vano.


"papa..." ucap Naira, Naira berlari saat memanggil papa. bukannya kearah Vano, Naira berlari melewati Vano. Vano melihat ternyata Naira berlari kearah Kara, Vano pun tersenyum.


"papa kok udah pulang?" tanya Naira dalam gendongan Kara.


"iya dong hari ini hari minggu, jadi papa pulang lebih awal agar bertemu kamu." saut Kara mencium pipi Naira.


"hei Vano tidak bekerja?" tanya Kara berjalan kearah Vano.


"sama sepertimu, setiap hari minggu aku selalu pulang awal untuk melihat Naira." saut Vano, Kara tersenyum.


"iya sekarang aku punya dua papa, jadi itu sangat seru." ucap Naira senang, Vano dan Kara tertawa.


"bagaimana kalau hari minggu ini jalan jalan ke mall?" ucap Vano, Naira melihat kearah Kara dan mengangguk.


"iya ayo pergi, ajak mama." ucap Naira.


"hm.. ide bagus, tapi Nasdia ada dirumah sakit." ucap Kara melihat Vano.


"begini saja, kamu jemput Nadia bersama Naira. nanti aku menyusul." ucap Vano, Kara menatap Vano.


"Naira cepat minta tante Risa untuk ganti baju, ajak Riana.." ucap Kara menurunkan Naira, Naira mengangguk lalu berlari bersama Riana kearah Risa.


"Vano aku tahu, kamu ingin mendekat kan aku dengan Nadia kan?" ucap Kara, Vano tersenyum.


"selama aku bisa akan kulakukan itu." ucap Vano menepuk pundak Kara dan berlalu pergi, Kara hanya diam menatap Vano pergi.


****


setelah beberapa jam Kara menemui Nadia dengan menggendong Naira. disana Kara hanya bertemu David, David merasa gemas dengan kelucuan Naira.


"heh!! jangan dicubiti, nanti ku kuliti kau!" ucap Kara, David pun tertawa.


"haha aku sangat gemas, padahal Dewi juga akan melahirkan anak perempuan nanti. melihat putrimu ini aku merasa gemas, seperti Nadia versi kecil." ucap David, Naira menatap David.


"om dokter, aku memang cantik. makanya mama mirip denganku." celetuk Naira, David tertawa mendengar itu.


"haha... sifatnya sama sepertimu, percaya diri dan narsis sekali. lihatlah dia sedang menatapku." ucap David lagi, ia semakin gemas melihat Naira menatapnya seperti tatapan Kara.


"kau ini, aku mencari Nadia. dimana dia?" tanya Kara, David menggelengkan kepala.


"kenapa kau bertanya dia padaku, dia ada diruangan Dewi pasti sedang bergosip. kedua sahabat itu kan lama tidak bertemu." saut David,


"kalian?" ucap seseorang, mereka pun menoleh. terlihat Nadia berdiri disana. Naira meminta turun dari gendongan Kara.


"mama, Naira kemari dengan papa untuk menjemput mama." ucap Naira lalu berlari kearah Nadia.

__ADS_1


"jangan berlari, nanti jatuh." ucap Kara,


"baiklah, kamu ikut mama. aku akan membereskan pekerjaanku sebentar." ucap Nadia lalu menggendong Nadia pergi, David menatap Kara yang sedang melihat Nadia menjauh.


"kenapa kau menatapku?" tanya Kara saat tahu David menatapnya.


"kalian berniat rujuk?" tanya David, Kara tersenyum.


"iya, jika sudah waktunya aku akan melamarnya lagi." ucap Kara, David pun tersenyum.


"aku melihat wajahmu yang bahagia setelah beberapa tahun terakhir, memang kebahagiaanmu berasal dari Nadia dengan adanya Naira kebahagiaanmu bertambah." jelas David, Kara tersenyum lagi.


setelah beberapa menit Nadia kembali untuk siap pulang, Nadia menggendong Naira diikuti Dewi.


"ayo salam pada tante dan om" ucap Nadia, Naira pun menyalami Dewi dan David.


"Haduhh aku merasa sangat gemas, aku melihat Nadia versi kecil.." ucap Dewi mencubit pipi Naira.


"anak cantik, tante punya permen banyak untukmu. ambil ini jangan dimakan sendiri ya, bagi bagi pada temanmu." ucap Dewi memberikan sebungkus permen, Naira menerima dengan girang.


"terima kasih. oh iya aku sangat cantik, karena itu mama mirip denganku." celetuk Naira, Dewi tertawa.


"dia lucu sekali Nadia, haha narsis seperti Kara." ucap Dewi tertawa, David pun tertawa.


"tuh kan semua yang melihat dia akan merasa sangat gemas haha..." saut David tertawa.


"sudah ya, kami pulang dulu." ucap Nadia, Kara mengambil alih untuk menggendong Naira.


"iya hati hati ya, kalian yang terbaik." ucap Dewi, Nadia menatapnya. Dewi dan David pun tertawa.


****


Nadia merasa bingung saat Kara menjalankan mobilnya tidak menuju rumah, malah kearah lain. Kara melihat wajah Nadia yang merasa bingung, Kara pun tersenyum.


"Naira?" ucap Kara.


"iya?" saut Naira dari tempat duduk belakang


"kita akan kemana?" tanya Kara,


"ke mall beli mainan!" teriak Naira senang, Nadia menatap Kara.


"jangan menatapku seperti itu, aku hanya mengajak kalian jalan jalan. aku juga ingin menemani putriku bermain!" ucap Kara, Nadia mengehela nafas.


"kamu baru saja sehat, seharusnya tidak perlu seperti ini!" ucap Nadia, Kara tersenyum.


"aku sudah sehat, jika kamu yang merawatku!" saut Kara, wajah Nadia memerah.


"mama kenapa wajah mama merah?" ucap Naira, Nadia semakin malu mendengar itu apalagi Kara yang tertawa.


"Kara jangan tertawa, aku tidak suka godaanmu." kesal Nadia, Kara tetap tertawa.


"mama jangan marahi papa Naira ya, nanti mama cepat tua. papa Vano sering bilang padaku kalau marah marah itu bisa cepat tua." celetuk Naira, Kara semakin tertawa.


"dasar, dia menjadi sekutumu." ucap Nadia mengalihkan wajahnya diluar jendela, Naira dan Kara bertos tangan dan tertawa.

__ADS_1


***


jangan bosen ya.. dan selalu tunggu kelanjutannya. oh iya komen dan like kalian semangat untuk author😍😚 jadi setelah baca tinggalkan jejak ya hihi😁🤗


__ADS_2