
cerita dimulai ketika Kara masih sibuk dengan pekerjaannya, terlihat Risa perlahan menghampiri Kara dan membawa sebuah nampan. Kara sadar akan kehadiran seseorang, Kara pun menoleh dan melihat kearah Risa.
"mau apa?" ketus Kara, Risa hanya tersenyum.
"tadi.. aku lewat untuk mengambil air, dan melihatmu disini jadi aku buatkan kopi untukmu." Risa menyodorkan air minum pada Kara, Kara hanya melihat itu sekilas.
"terima kasih!" ucap Kara yang masih fokus pada laptopnya.
"Kara, kau bekerja sampai larut malam. apa itu sangat penting?" ucap Risa hati hati karena tidak ingin mengganggu Kara.
"ya, sangat penting." saut Kara.
"lalu, apa Nadia sangat penting untukmu?" Kara menoleh pada Risa, Risa hanya senyum kaku
"dia lebih penting dari apapun, dia segalanya seperti ibuku!" ucap Kara, Risa hanya menahan kekesalannya itu.
"hm.. Kara aku harap, aku tidak mengganggu mu. bagaimana kalau aku temani kau, agar kau tidak kesepian?" ucap Risa dengan senyuman lebar,
"tidak perlu, tidurlah!" saut Kara, Risa hanya diam.
"kenapa kau menikah dengan Nadia?" tanya Risa membuat Kara berhenti dari kegiatannya, ia berdiri dan menatap Risa.
"ada apa, apa aku harus menikahimu?" tanya Kara.
"(iya seharusnya kau menikahiku, bukan menikahi wanita cacat itu) em.. tidak aku hanya bertanya?" ucap Risa berbeda dari hatinya.
"aku tahu, dulu kau mengalah karena Angel sedang sakit dan aku membatalkan pertunangan kita, aku juga tahu kau sangat marah dan kesal. Risa kita itu teman dari kecil, dan selamanya akan hanya seperti itu." ucap Kara memegang bahu Risa.
"maaf selama ini aku bersikap dingin padamu, memang aku tidak ingin kau mempunyai harapan padaku!" ucap Kara lagi,
"kita masih berteman?" ucap Risa, Kara pun mengiyakan.
"iya, tentu." Kara tersenyum, Risa pun tersenyum.
Nadia datang tiba tiba, ia melihat Kara memegang kedua bahu Risa. Nadia mulai merasa curiga dengan itu, ia berpikir apa yang sedang mereka lakukan.
"Kara!" ucap Nadia, Kara terkejut dengan itu. Kara masih belum sadar bahwa dirinya masih memegang bahu Risa, beberapa menit kemudian Kara tersadar dan melepas nya.
"Kara, apa pekerjaanmu sudah selesai?" ucap Nadia lagi. Kara menghampiri Nadia dan berlutut dihadapannya.
"sudah kukatakan jangan kesini!" ucap Kara mengusap rambut Nadia.
"bukan itu jawaban dari yang kutanyakan?" Kara tahu Nadia sedang kesal, tapi tidak tahu karena apa Nadia kesal.
"kurang sedikit lagi, ini Risa membuatkanku kopi!" ucap Kara berdiri kearah laptopnya.
"hm.. terima kasih Risa, sekarang sudah malam tidur lah. Kara aku akan menemanimu disini, aku takut dikamar sendiri!" Nadia mengarah ke Kara, Kara menoleh dan mengiyakan lalu fokus lagi ke pekerjaannya.
"baiklah Nadia, aku pergi dulu. selamat malam." ucap Risa tersenyum
"iya selamat malam." saut Nadia membalas senyuman, Risa pun keluar dari ruangan itu. Risa tampak kesal dan mengepalkan tangannya.
"jadi.. apa yang.. kau katakan pada Risa sampai kau harus memegang bahu nya..." Kara berhenti dari kegiatannya, ia melihat kearah Nadia dan tersenyum.
"jadi istriku ini cemburu?" ucap Kara
"aku, untuk apa. hanya aku istrimu dan berhak untukmu jadi tidak perlu cemburu!" ucap Nadia menjulurkan lidahnya, Kara tertawa dengan itu.
Nadia melihat lihat ruangan Kara itu, terdapat foto dirinya dan juga Kara saat menikah, lalu disampingnya terdapat foto Angel bersanding dengan dirinya yang menggunakan kebaya pernikahan.
"Kara, seperti apa Angel itu?" tanya Nadia mendekati Kara, Kara tersenyum.
__ADS_1
"dia sangat manis dan juga cantik." ucap Kara melihat Nadia
"iya aku lihat tubuhnya sangat kecil, lebih kecil dariku?" ucap Nadia lagi.
"yah.. takdirku mempunyai istri bertubuh kecil." Kara tertawa, Nadia hanya tersenyum.
"apa kau mencintainya?" tanya Nadia membuat Kara tersenyum tapi terlihat sendu.
"sangat mencintai nya, aku benar benar mencintainya!" Nadia hanya tersenyum, Kara melihat Nadia yang tersenyum
"dan sekarang, aku sangat mencintaimu." Kara mencubit hidung Nadia membuat Nadia kesal.
"ya.. aku tahu, yah.. Kara apa yang kau lakukan?" ucap Nadia terkejut saat Kara tiba tiba menggendongnya dan membawanya keluar ruangan itu.
"aku akan menghukummu, bukankah aku bilang jangan menaiki kursi roda sebelum aku datang, hm?" Nadia hanya meringis dengan itu, Kara menyeringai saat membawanya masuk kedalam kamar mereka.
"sekarang akan kuberi hukumannya?" Kara menidurkan Nadia dan mulai menindihi Nadia lalu mencium Nadia, bukannya menolak Nadia malah mengalungkan tangannya pada leher Kara
"jadi ini hukumannya?" ucap Nadiamelepas ciuman itu, Kara berbisik ditelinga Nadia.
"akan kubuat kau tidak bisa tidur malam ini!" Nadia langsung merinding dengan itu, Kara berdiri dan mengunci pintu kamar mereka, kemudian membuka kaosnya.
"Kara pikirkan besok kau ada presentasi penting, mending kita tidur ayo.." Kara melangkah dan mencium Nadia.
"aku bisa mengurusnya yang penting sekarang aku harus menghukummu!" saat Kara ingin mencium lagi, Nadia menahan dada Kara.
"ada apa?" tanya Kara, Nadia memalingkan wajahnya karena malu.
"matikan dulu lampunya," ucap Nadia malu malu, Kara pun tersenyum lalu mencium Nadia lagi dan perlahan ia mematikan lampu nya setelah itu Kara melakukan hukuman yang dimaksudnya pada Nadia.
Risa merasa kesal ia berjalan menuju kamarnya, tapi langkah nya terhenti ketika seseorang berdiri diruang tamu. Risa menjadi merinding ketika orang itu tidak terlihat karena gelap, perlahan Risa mencari saklar lampu untuk menghidupkan lampu. tapi pada saat sudah menemukan saklar Nadia dikejutkan dengan suara seseorang dan menepuk bahunya.
"siapa kau!" ucap orang itu, Risa panik dan berbalik.
"Risa?" Risa terkejut saat pria itu memanggil namanya, Risa pun dengan cepat menyalakan lampunya. terlihat Febriyan berdiri.
"mas Riyan, kenapa kau berdiri tengah malam disini. membuatku takut saja!" ucap Risa, menaruh air yang ia bawa.
"hm.. maaf, aku barusan berdiri dan mendengar seseorang berjalan, aku pikir maling ternyata kamu!" Febriyan duduk disofa, Risa pun duduk disebelahnya.
"kenapa kau disini?" tanya Risa,
"aku tidak bisa tidur, aku tidak ingin mengganggu Bagas jadi aku disini!" jelas Febriyan, Risa hanya beroh. Febriyan melihat kearah Risa,
"lalu, kenapa kau tidak tidur sudah larut begini?" tanya Febriyan, Risa pun tersenyum
"aku sudah tidur tapi tadi air dikamarku habis jadi aku ambil air, lalu aku melihat Kara sedang bekerja sekalian aku buatkan kopi untuknya." jelas Risa, membuat Febriyan menatap Risa.
"hm.. sudah mas aku masuk dulu, mau tidur dah.." Risa berdiri mengambil airnya.
"kau masih mencintainya?" ucap Febriyan tiba tiba, Risa pun menghentikan langkahnya
"aku selalu mencintainya!" saut Risa menoleh kearah Febriyan, Febriyan berdiri mendekati Risa.
"dia sudah bahagia, apa kau tega menghancurkan kebahagian mereka?" ucap Febriyan, Risa pun tertawa pelan.
"lalu aku bagaimana, aku juga ingin bahagia bersamanya!" ucap Risa meneteskan air matanya, Febriyan memegang bahu Risa.
"tidak dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain, temukan kebahagiaanmu dengan orang lain Risa!" Risa menghapus air matanya lalu pergi meninggalkan Febriyan.
"dia tidak akan pernah menjadi milikmu!" ucap Febriyan lagi, dan lagi lagi Risa menghentikan langkahnya,
__ADS_1
"benar, maka itu dia tidak akan pernah menjadi milik orang lain, siapa pun itu!" ucap Risa tanpa menoleh Febriyan, ia menyeringai dan langsung berjalan menuju kamarnya.
Febriyan masih berdiri melihat Risa yang masuk kamarnya, Febriyan mendudukan dirinya disofa.
"Risa, apa yang akan kau lakukan pada Nadia nanti?" gumam Febriyan mengusap wajahnya, ia khawatir Risa melakukan hal yang tidak diinginkan pada Nadia.
****
keesokan harinya disiang hari Nadia sedang mencari cari prt disana tapi tidak menemukan, tapi setelah beberapa menit ibu Kumala datang membawa buah ditangannya.
"ini makanlah, apa yang sedang kau cari,?" ucap ibu Kumala memberikan buah itu dan mending Nadia mendekati meja makan.
"terima kasih, dimana si mbok ma,?" tanya Nadia selagi memakan buah apel.
"oh, si mbok lagi dipasar. ada apa mencarinya?"
"ma.. Nadia ingin si mbok membuat makanan untuk Kara, karena tadi Kara terburu buru kekantor tidak sempat sarapan. jadi aku pikir mengirimkan makanan untuknya, agar setelah rapat ia bisa memakannya." jelas Nadia.
"oh, kalau begitu mama akan memasak untuknya. sebentar ya.." Nadia tersenyum mendengar itu, ia pun mengangguk.
Nadia akan pergi keruang tengah tapi kursi rodanya tidak mau jalan, ia terus mencoba tapi tidak bisa.
"ada apa dengan rodanya?" gumam Nadia, tiba tiba tangan seseorang membenarkan roda itu, Nadia melihatnya ternyata Febriyan.
"oh mas.. terima kasih." ucap Nadia tersenyum, Febriyan pun membantu Nadia.
"kau akan kesana?" Nadia tersenyum dan mengangguk, Febriyan mendorong kursi Roda itu menuju tempat yang dimaksud Nadia.
"cepat sekali mengantar Bagas?" ucap Nadia.
"iya jalanan sepi, jadi cepat kembalinya!" Nadia hanya ber oh saja. tiba tiba Kara datang dengan muka masam, ia membuka jasnya dan melempar kesofa dengan kemarahan, Nadia terkejut dan mendekati Kara.
"Kara ada apa, kau kenapa?" tanya Nadia, Kara terlihat sangat kesal. dengan bersamaan Risa keluar dari kamarnya dan berada dimeja makan, bahkan ibu Kumala juga ada disana.
"aku kesal sekali sangat kesal, padahal ini adalah proyek besar dan aku ceroboh sekali!" kesal Kara, Nadia mencoba menenangkan Kara.
"hai ada apa, ada masalah apa. minum ini," Nadia memberi air putih, tapi Kara menolak.
"laptopku rusak, dan aku tidak membuat duplikatnya, aku sangat bodoh!" Kara mengusap wajahnya kasar.
"apa, bagaimana bisa rusak. kemarin malam baik baik saja kan," ucap Nadia,
"aku tidak tahu." ucap Kara kesal, Nadia tetap berusaha mencoba menenangkan Kara.
"kemarilah, sini cepat, ayo.." Kara melihat Nadia dan menurut, ia berlutut dihadapan Nadia.
"kau selalu bisa membuat yang terbaik pada perusahaan mana pun, kau bisa melakukannya lagi hm... sekarang lupakan dan jangan kesal lagi ya.." Kara menunduk dihadapan Nadia dan berusaha menghilangkan kekesalannya, Nadia mengelus kepala Kara.
"aku benar benar kesal." ucap Kara mencium tangan Nadia, Nadia tersenyum.
"hm.. kalau begitu ajak aku ketaman, jalan jalan dan bermain ayunan kita akan mengobrol sepanjang siang ini sampai sore, bagaimana?" Kara akhirnya tersenyum, Nadia pun mencubit pipi Kara.
"hm.. kau selalu membuatku dalam keadaan mood yang baik, sekarang akan kuberikan diriku untukmu!" ucap Kara menggendong Nadia.
"hei lihat ada semua orang ada ibu Kara, apa yang kau lakukan?" ucap Nadia sangat malu saat menyadari masih ada Febriyan, risa bahkan ibu Kumala. tapi Kara terus membawa Nadia menuju kamar mereka, Febriyan hanya menggelengkan kepala sedangkan ibu Kumala tertawa dan kembali kedapur. Risa sangat kesal ia meremas botol minum yang ia pegang, Febriyan melihat kekesalan Risa itu.
"aku benar benar membencimu!" gumam Risa lalu membuat botol yang ia remas dengan kekesalannya dan membuangnya kesembarang arah.
****
jangan bosen ya...
__ADS_1
jangan lupa like dan komen kalian😍