
Reno berjalan kearah keluarga Wijaya, Reno berjalan dengan memegangi punggungnya. terlihat Risa melayani semua orang untuk sarapan, semua orang merasa heran ada apa dengan Reno.
"ada apa denganmu?" tanya Kara, Reno menerima minum dari Risa.
"entahlah, mungkin salah tidur." saut Reno.
"makanya kalau tidur yang benar Reno." ucap ibu Kumala, Reno hanya tersenyum.
"butuh seorang istri itu." celetuk Febriyan,
"bagaimana bisa cari istri, jika bosku ini pekerja keras." saut Reno, semua orang tertawa.
"Kara rapatnya akan dimulai jam 12 siang, kita harus bersiap. oh iya tuan Fahri, datang." ucap Reno lagi
"iya aku akan pergi ke bandara jam 9." saut Kara, Reno mengiyakan.
Kara pergi ke bandara, Kara ingin menyambut kedatangan tuan Fahri, secara bersamaan Nadia, Vano dan Naira telah turun dari pesawat.
"seharusnya kita naik mobil saja Van!" ucap Nadia, Vano tersenyum.
"tidak masalah, naik pesawat lebih nyaman. jika naik mobil aku kasihan pada Naira, mungkin butuh beberapa jam perjalanan." saut Vano, Naira berada dalam gendongannya
"Naira, kita sampai dijakarta." ucap Vano, Naira langsung melihat sekelilingnya.
"Naira akan sekolah disini, sepertinya bagus. tapi Naira ingin minum sekarang." ucap Naira, Vano menurunkan Naira.
"baiklah carilah dengan mamamu, papa akan mengambil barang barang kita." ucap Vano, Nadia pun mengiyakan lalu membawa Naira.
Nadia telah memberikan Naira sebuah jus dan mulai dinikmati oleh Naira, Nadia berpesan pada Naira untuk tidak kemana mana. Nadia mengatakan akan membantu Vano untuk membawa barang barang mereka, Naira mengangguk dengan itu.
secara bersamaan Kara masuk dalam bandara, Nadia merasakan sesuatu hal yang aneh lagi pada dirinya. saat masuk Kara juga merasakan hal yang aneh, mereka saling melihat sekeliling tapi tidak dapat terlihat karena letak mereka yang cukup jauh.
Kara bertemu dengan tuan Fahri dan bicara disana, Nadia datang kearah Vano dan memintanya untuk pergi mengambil sisa tasnya, Nadia menemui manajer disana.
"ada yang bisa saya bantu?" ucap manajer itu.
"aku ingin mengambil tas bernama Nadia." saut Nadia.
"oh anda bisa mengambil tas anda di sabuk no 7." Nadia mengangguk lalu pergi dari sana.
secara bersamaan Kara dan tuan Fahri pergi pada sabuk no 7, Kara melihat tas berwarna merah jambu bertuliskan nama Nadia. saat Kara ingin memperhatikan lagi tuan Fahri memanggilnya, setelah melihat lagi tas itu sudah tidak ada. Kara berpikir dia hanya berhalusinasi, Nadia telah mengambil tasnya tapi ia ditatap oleh seorang wanita yang tidak dikenal.
"hidupmu akan berubah!" ucap wanita itu tiba tiba, Nadia berpikir wanita itu bicara padanya.
"maaf?" saut Nadia, wanita itu tersenyum.
"aku bisa membaca wajah seseorang, aku telah membaca wajahmu. penderitaan, percintaan, kesedihan, kesalah pahaman, persahabatan, semuanya terlukis diwajahmu. saat kau keluar dari kota ini hidupmu berubah, dan saat kau masuk lagi hidupmu dan takdirmu akan berubah lagi." jelas wanita itu, Nadia hanya terdiam. lalu wanita itu pergi begitu saja, Nadia pun tidak perduli dan mencari Naira.
Naira yang sedang berkeliling melihat lihat toko boneka disana, Naira membawa boneka yang lebih besar dari tubuhnya tiba tiba dirinya menabrak seseorang.
"Auh.. maaf, om ganteng!" ucap Naira ketika melihat siapa yang ia tabrak, yaitu Kara. Kara tersenyum dan mendirikan Naira.
__ADS_1
"kau disini?" ucap Kara, Naira mengangguk. Kara berpikir jika Naira disini itu artinya Vano juga ada disini.
"dimana ayahmu?" tanya Kara lagi.
"aku mencarinya kemana mana, tapi tidak menemukan. oh iya om ganteng tali sepatuku lepas, bisa kah kau membantuku." ucap Naira, Kara tersenyum lebar. Kara mendudukan Naira diatas meja dan mulai mengikatkan tali sepatu itu, sebenar nya Kara bingung jika memasang tali sepatu.
"apa kau tidak bisa mengikat tali sepatu om ganteng?" celetuk Naira, Kara tersenyum.
"ya sebenarnya om sama sepertimu, tidak bisa mengikat tali sepatu." ucap Kara, dengan lucunya Naira menepuk dahinya.
"tidak masalah, ikat sesuai keinginan om ganteng!" ucap Naira lagi, Kara pun memasang asal ikat sepatu itu.
"terima kasih." ucap Naira lalu mencium pipi Kara, Kara merasakan hal aneh pada Naira.
"iya sama sama, anak manis." saut Kara mencubit pipi Naira.
"om ganteng, turunkan aku." ucap Naira, Kara menurunkannya lalu Naira berlari pergi, Kara yang hendak mencegahnya mendapat telfon dari Reno. Kara melihat boneka milik Naira yang cukup besar, ia pun membawa boneka itu.
Nadia masih mencari cari keberadaan Naira tapi tidak ketemu, tiba tiba ia melihat Naira yang sedang berlari kearahnya, Nadia langsung memeluk Naira.
"sayang, kamu dari mana. mama cari kamu dari tadi!" ucap Nadia, Naira hanya tersenyum.
"aku bertemu om ganteng, coba lihat dia mengikat tali sepatuku, sangat buruk mama.." Nadia melihat kearah sepatu Naira, Nadia mengingat dulu Kara yang tidak bisa mengikat tali sepatu.
"mama, bonekaku hilang. hiks.. hiks..." ucap Naira, Nadia merasa bingung.
"kita cari papa Vano dulu ya, ayo sini." ucap Nadia menggendong Naira yang menangis.
"hm permisi, aku menemukan bonekanya!" ucap Kara pada petugas.
petugas itu menyuruh Kara untuk memberikan kepada seorang wanita yang duduk, yang tidak lain adalah Nadia. Kara tidak bisa melihat wajah Nadia karena tertutup sampai bagian dada.
Nadia menunggu seseorang yang telah dikatakan oleh petugas, tapi ia merasakan hal aneh. Kara semakin dekat kearah Nadia, Kara juga merasakan hal aneh pada dirinya. tanpa bersuara Kara memberikan boneka itu, Nadia melihat itu dan segera mengambilnya.
saat itu juga tangan mereka bersentuhan membuat mereka langsung merasakan hal yang tidak pernah mereka rasakan, dengan sentuhan itu Kara mengingat Nadia begitu juga dengan Nadia yang mengingat Kara.
deg deg deg..
setelah mengambil boneka itu Nadia langsung pergi dari sana, Kara ingin mencegah dan melihat tapi tidak sempat Nadia sudah keluar dari pintu. Kara melihat tangannya yang sebelumnya merasakan sentuhan Nadia.
"kenapa aku merasa Nadia menyentuhku." ucap Kara melihat tangannya.
Nadia melamun saat melangkah mendekati Vano dan Naira, ia merasakan tangannya yang tersentuh sebelumnya
"kenapa aku merasakan sentuhan Kara." ucap Nadia melihat tangannya.
"tidak, tidak mungkin. karena aku disini pasti aku mengingatnya, lupakan saja." ucap Nadia lagi lalu menghampiri Vano dan Naira.
"boneka ku..." ucap Naira, Nadia langsung memberikan boneka itu.
"sudah cari taksi online?" ucap Nadia, Vano mengangguk.
__ADS_1
tuan Fahri datang kearah Kara dan bertanya apa dirinya baik baik saja, Kara hanya mengangguk. lalu Kara menelfon supirnya untuk menjemput mereka, saat keluar dari bandara entah perasaan Kara sangat tidak tenang.
Vano yang tidak mengetahui supir Kara mereka masuk kedalam mobil itu, dan berlalu pergi. Kara keluar dari bandara mencari cari supirnya, Kara mencoba menelfon nya.
"pak hpmu berdering, coba diangkat dulu." ucap Vano, supir itu melihat hpnya dan melihat Kara menelfonnya.
"iya pak, saya sudah dalam perjalanan mengantar mereka." ucap supir itu.
"apa, kami masih dibandara. apa kamu salah membawa orang."
"tapi." belum menjawab Kara mematikan telfonnya.
"pak apakah anda tuan Fahri?" ucap supir itu pada Vano, Vano menggelengkan kepala.
"Astaga kita salah mobil Vano, pasti bos mu memarahimu ya?" tanya Nadia, supir itu diam.
"begini saja katakan pada atasanmu, suruh naik taksi. tidak mungkin kau menurunkan kami ditengah jalan, kasian putriku sedang tidur." jelas Vano, supir itu tampak berpikir.
"tapi saya tidak berani, atasanku sedikit pemarah tuan." saut supir itu.
"sudah sudah, hentikan disini. kita naik taksi saja Vano, kasian ini menyangkut pekerjaannya." ucap Nadia, supir itu meminggirkan mobilnya.
Nadia dan Vano membawa barang barang mereka turun dari mobil, secara bersamaan supir itu mendapat telfon lagi dari Kara.
"iya halo pak."
"kamu dipecat, tidak perlu datang lagi besok. kamu ceroboh dalam bekerja."
"tapi pak?" Kara langsung mematikan telfon itu, Nadia melihat supir itu turun dari mobilnya.
"tuan nyonya silahkan masuk mobil lagi, saya akan antar kalian sampai tujuan." ucap supir itu, Nadia terkejut.
"hei tidak perlu, kau jemput saja atasanmu!" ucap Nadia, supir itu menggelengkan kepala.
"saya sudah dipecat karena kesalahan ini, jadi saya akan antar kalian." jawab supir itu, Vano dan Nadia merasa kasihan.
"tidak masalah, kau bisa bekerja ditempatku. mulai besok datanglah untuk menjadi supir dirumah kami." ucap Vano, supir itu terlihat bersyukur.
"terima kasih, mari naik." supir itu membawa barang barang untuk masuk kedalam mobil, setelah itu supir membawa mereka kerumah Vano.
Nadia melihat tangannya dan mengingat sentuhan itu lagi yang dirasakannya. Kara menyewa taksi, ia melihat juga tangannya dan mengingat sentuhan yang dirasakannya saat tangannya menyentuh wanita dari jendela. Vano sampai di rumah mereka.
"tuan ini ditaruh dimana?" ucap supir itu
"letakkan saja disini." saut Nadia.
"kalau begitu saya harus kembali." ucap supir itu
"apa kau yakin?" tanya Vano,
"iya, atasan saya tidak akan memecat saya tuan, beliau mengatakan itu karena marah, ini juga kesalahan saya." jelas supir itu, Nadia merasa lega.
__ADS_1
"kau memiliki atasan yang baik." supir itu mengangguk, Vano ingin memberikan uang tapi supir itu menolak lalu pergi dari sana.