My Love Story 2

My Love Story 2
60. karakter baru


__ADS_3

hari berganti Febriyan sudah sehat dan diijinkan untuk pulang, Vano mengantar Risa dan Febriyan pulang kerumah. saat sampai dirumah ibu Kumala dan yang lainnya terlihat senang karena Febriyan sudah kembali, Febriyan berjalan perlahan memasuki rumah itu.


"jadi berapa lama tanganmu ini?" ucap Kara,


"katanya hanya beberapa minggu, tapi untuk sekarang harus seperti ini." jelas Febriyan, mereka pun hanya ber oh.


"nak Vano apa sudah sarapan?" ucap ibu Kumala, Vano tersenyum.


"sudah kok tante." jawab Vano,


"Risa, nanti aku bawa barang barang kamu kesini." ucap Vano lagi, Risa memandang kearah Febriyan. Risa merasa Kara masih marah padanya.


"tidak usah Vano, aku akan kembali denganmu!" ucap Risa.


"apa kau tidak ingin tinggal bersama suamimu?" tanya Kara, Risa melihat kearahnya.


"maafkan aku, aku sudah bersikap kasar padamu beberapa minggu yang lalu. tinggalah disini, ini rumahmu kita semua adalah keluarga." Risa menangis dengan perkataan Kara, Nadia memeluk Risa.


"terima kasih Kara, maafkan aku." Kara tersenyum dan mengangguk.


"sudah jangan bersedih lagi, Risa apa mas Riyan tau kamu hamil?" bisik Nadia, Risa terkejut lalu menggelengkan kepala.


"kau ini!" ucap Nadia, didengar semua orang.


"ada apa Nadia?" tanya Febriyan, Nadia tersenyum.


"eh tidak mas, kata Risa nanti dia ingin mengatakan sesuatu padamu." Risa mencubit Nadia yang tersenyum, Febriyan heran dengan mereka berdua.


"ehem.. sepertinya saya harus pergi." ucap Vano, mereka melupakan keadaan Vano.


"eh kita melupakan Vano." ucap ibu Kumala, Nadia tersenyum.


"mari duduk dulu, aku buatkan teh." ucap Nadia, Vano tersenyum dan setuju.


"nak Vano kapanpun boleh kok datang kesini, anggap saja seperti keluarga sendiri." ucap pak Wijaya, Vano tersenyum dan mengangguk.


Febriyan, dan Vano duduk diruang tamu, Kara memilih masuk dalam kamarnya. beberapa menit kemudian Risa menghampiri mereka memberikan teh dan makanan ringan.


"ini tehmu, mas Riyan aku hanya mengambil air untukmu." Risa memberikan teh pada Vano dan memberikan air pada Febriyan.


"terima kasih, jadi Risa rumahku akan sepi lagi." ucap Vano, Risa tersenyum.


"terima kasih sekali lagi, telah menolong istriku, tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi." Febriyan menggenggam tangan Risa, Risa tersenyum.


"sudah, jangan berterima kasih terus. bukan kah kita semua seperti keluarga," ucap Vano, Kara datang menghampiri mereka. Risa mencoba menawarkan teh, Kara menerimanya dan ikut duduk disamping Febriyan.


setelah beberapa jam Vano bertamu, Vano meminta untuk pergi ke kamar mandi. Risa menunjukkan kamar mandi yang berada di dapur, saat Vano keluar dari kamar mandi terlihat Nadia sedang memasak bersama ibu Kumala.


"Vano diam disini dulu ya ikut makan siang!" ucap ibu Kumala, Vano mengiyakan dan melihat Nadia.


"iya tante, Vano juga lagi senggang." ucap Vano.


"oh iya, Vano sudah menikah belum?" tanya ibu Kumala lagi, Vano tersenyum.


"sudah tante, tapi beberapa bulan lalu cerai." jelas Vano, Nadia terkejut.


"loh kenapa bercerai?" ibu Kumala bertanya lagi, belum Vano menjawab pak Wijaya memanggil istrinya itu, ibu Kumala langsung pergi meninggalkan Vano dan Nadia di dapur.


"hm.. Nadia saya..." ucap Vano, Nadia melihat ke arah Vano.

__ADS_1


"kamu mau apa, nanti saya akan bantu." ucap Nadia.


"tidak ada, saya permisi." Vano pun berlalu meninggalkan Nadia, Nadia merasa lega setelah Vano pergi.


setelah makan siang, Vano berpamitan pulang. Risa juga membawa Febriyan kedalam kamar untuk beristirahat, disore hari Kara sedang menelfon seseorang. setelah selesai Kara menghampiri Nadia yang sedang asik makan buah bersama Bagas dan ibu Kumala.


"Nadia, aku akan pergi." ucap Kara mengambil minum.


"mau kemana?" tanya ibu Kumala.


"aku ada urusan penting dikantor." ucap Kara melangkah pergi, tapi ibu Kumala menghentikannya


"tidak, kenapa kerja terus. ajak lah Nadia jalan jalan." ucap ibu Kumala, Nadia tersenyum.


"kemana?" tanya Kara.


"menonton film atau apapun!" jawab ibu Kumala


"tapi aku ada pekerjaan penting, lain kali saja." Nadia tampak kecewa, Kara mengeryitkan dahinya.


"tidak Kara, tunda semua itu." ibu Kumala tetap memaksa.


"(menghela nafas) tapi aku tidak suka dibioskop!" ucap Kara, ibu Kumala berpikir benar juga Kara tidak pernah suka pergi ke bioskop.


"sudah lah ma, Kara harus pergi." ucap Nadia berpura pura sedih karena ingin menggoda Kara.


"ya ajak saja Nadia jalan jalan, gimana?" ucap ibu Kumala, Nadia menahan tawanya melihat wajah Kara.


"Nadia hentikan makanmu, dan bersiaplah." Nadia tersenyum dengan perkataan Kara.


"iya, akan lama sedikit." ucap Nadia.


ibu Kumala terlihat sangat senang, ia berniat untuk mendekatkan Kara karena ibu Kumala melihat mereka tidur terpisah, ia berpikir Kara dan Nadia sedang ada masalah.


hari semakin malam Nadia menunggu Kara yang berada dikantor, Nadia sudah bersiap dan menunggu diruang tamu. Nadia terus melihat ke arah jam ditangannya, ia sangat kesal.


"Kara ini, katanya sebentar." gumam Nadia, Nadia mencoba untuk menelfon Kara tapi tidak bisa.


tiba tiba terdengar suara bel dari luar rumah, Nadia berpikir itu adalah Kara. Nadia melangkah dan membuka pintu itu, tapi terlihat seseorang membawa bunga. terdapat surat disana ketika Nadia membaca surat itu, ia sangat kesal karena Kara menyuruhnya untuk kekantor Kara bersama supir. meski kesal Nadia tetap pergi bersama supir.


setelah beberapa menit kemudian Nadia sampai dikantor Kara, tapi anehnya dia merasa kantor Kara sangat sepi dan juga gelap. Nadia ketakutan, ia mencoba menelfon Kara tapi tidak ada jawaban. saat Nadia ingin keluar, suara seseorang menghentikannya.


"aku sudah menunggumu." ucap seseorang yaitu Kara, Nadia mencari asal suara itu.


"duduklah, aku akan bercerita sedikit tentang dirimu." Nadia duduk dikursi yang sudah disediakan untuknya.


"dulu ada seorang dokter yang sangat cantik, dia sangat pintar dan juga jenius. dia tidak takut apapun, asalkan jangan ada kecoak dan tikus disampingnya, dia juga sangat menyebalkan dan sedikit judes. " Nadia tertawa dengan itu.


"tapi pada suatu hari ada seorang pria tampan datang, mereka dijodohkan tapi si pria itu merasa sangat kesal dengan dokter itu, lama kelamaan mereka jatuh cinta dengan sendirinya. cinta dari pria tampan itu sangatlah besar." Nadia hanya t tertawa.


"Kara.. keluarlah." ucap Nadia, Kara keluar dari balik layar tersebut.


"jadi?" ucap Nadia menghampiri Kara. Nadia terkejut saat Kara mengangkat tangan dan berlutut dihadapannya,


"terima kasih, terima kasih telah hadir dalam hidupku. terima kasih, sudah menjadi bagian dari hidupku." Kara memberikan sebuah cincin pada Nadia, Nadia terlihat sangat senang sampai meneteskan air mata.


"kenapa menangis?" ucap Kara saat melihat Nadia meneteskan air mata, Kara memasangkan cincin pada jari manis Nadia.


"terima kasih Kara, terima kasih sudah menjadi pemdukungku dalam hidupku." ucap Nadia, Kara tersenyum.

__ADS_1


"tentu saja, kamu juga akan selalu menjadi semangatku. aku akan selalu menjadi pendukung mu sekarang, besok ataupun selamanya." Nadia memeluk Kara, Kara membalas pelukan itu.


"jadi, apa kelanjutan ceritanya?" tanya Nadia, Kara berpura pura memikirkan sesuatu.


"sekarang karakter baru akan datang mengisi hidup kita dengan warna baru." ucap Kara memeluk Nadia dari belakang dan memegang perut Nadia.


"hm... jadi laki laki, atau perempuan?" tanya Nadia lagi.


"perempuan." jawab Kara cepat.


"kenapa?" tanya Nadia heran.


"agar mirip denganmu." Nadia tersenyum, Kara mengeratkan pelukannya.


beberapa menit kemudian mereka telah sampai dirumah, ibu Kumala memperhatikan mereka yang datang.


"bagaimana filmnya?" tanya ibu Kumala, Nadia berpura pura memikirkan sesuatu.


"dia tidak menunjukkan film apapun." ucap Nadia bermain mata dengan Kara, Kara menatap Nadia tajam.


"Kara mama kan hanya meminta hal kecil tapi kamu gak mau lakukan." ibu Kumala mengomeli Kara, Nadia menahan tawa melihat wajah Kara yang pasrah.


"maaf!" ucap Kara lalu pergi dengan kesal.


"ma.. dia kesal!" ucap Nadia.


"biarkan saja." ucap ibu Kumala pergi, Nadia menyusul Kara kekamarnya.


saat masuk dalam kamar Kara menarik Nadia masuk dan menutup pintu dengan cepat, Nadia terkejut dengan itu.


"kamu suka sekali kan menggodaku didepan mama?" Nadia tersenyum kaku, Kara mendekati Nadia.


"apa kau tidak membela dirimu?" ucap Kara memojokkan Nadia, Nadia menahan dada Kara.


"aku hanya ingin menggodamu Kara, aku tidak tahu mama akan marah seperti itu." ucap Nadia, Kara menarik tangan Nadia.


"benarkah?" bisik Kara, Nadia merasa merinding dengan itu.


"Kara berhenti, aku merasakan wajah mesum dari mu Kara." saut Nadia, Kara hanya tersenyum.


"lalu?"


"ingat, kata David kamu harus menahan nafsumu." ucap Nadia menutupi dadanya.


"aku tahu, bukan berarti aku tidak boleh menyentuh istriku." ucap Kara, Nadia tersenyum kaku.


Kara semakin dekat dan hampir mencium Nadia, suara ibu Kumala menghentikan kegiatan Kara.


"Nadia buka pintunya, mama bawa susu buat kamu." ucapnya diluar, Nadia merasa bebas dari Kara.


"iya ma, minggir Kara." Nadia berlari membuka kan pintu.


"terima kasih ma.." ucap Nadia, ibu Kumala memperhatikan Kara, Kara hanya diam.


"beristirahatlah." Nadia mengangguk, ibu Kumala pergi dari sana.


"dasar." gumam Kara, Nadia tertawa. Kara mengganti pakaian lalu keluar berpamitan pada Nadia.


"aku akan keruangan kerja, jika kamu merindukan aku telfon saja." ucap Kara mencium dahi Nadia.

__ADS_1


"oke." jawab Nadia, Kara tersenyum lalu keluar dari kamar itu.


__ADS_2