My Love Story 2

My Love Story 2
76. merasa


__ADS_3

malam hari Nadia sedang memasak, terlihat diruang tamu Naira dan Vano sedang bermain. Nadia tersenyum dengan sendirinya, Naira yang sedang bermain melihat Nadia sedang tersenyum sendiri.


"mama kenapa senyum senyum sendiri?" celetuk Naira, Nadia tersenyum lebar menyiapkan makan malam


"dasar nakal, ayo sini waktunya makan!" ucap Nadia, Vano menggendong Naira untuk datang dan makan yang telah disiapkan Nadia.


"mama.. Naira tidak mau makan ini, ini pahit." rengek Naira yang tidak ingin makan sayur.


"tidak, ini sangat sehat. kamu harus makan!" ucap Nadia memaksa, Naira tetap menolak.


"wah ada pesawat, lihat syuuhhh..." ucap Vano tiba tiba melayangkan makanan disendok mengarah kemulut Naira, Naira langsung membuka mulutnya.


"bagaimana enak kan?" ucap Vano, Naira mengunyah dan mengangguk.


"wah, hebat dia langsung makan!" saut Nadia, Vano tersenyum.


"tentu saja, biasanya anak kecil suka seperti itu." ucap Vano.


"papa! Naira bukan anak kecil, Naira ini sudah besar." celetuk Naira, Nadia tertawa dan mencubit pipi Naira gemas.


"oke makan ini, maka kamu akan sebesar mamamu." ucap Vano menyuapi Naira lagi.


setelah selesai makan Naira merasa mengantuk saat Vano menimangnya, Nadia datang menghampiri mereka.


"hm.. dia lelah bermain, berikan padaku." ucap Nadia, saat Vano ingin memberikan Naira pada Nadia, Naira tidak mau lepas dari gendongannya.


"biarkan saja, dia akan kutidurkan dikamarku." ucap Vano pelan, Nadia mengangguk dan tersenyum.


"baiklah sekarang pergilah tidur, besok kamu harus bekerja kan?" ucap Vano lagi.


"iya, aku akan mengambil air untukmu." ucap Nadia pergi kedapur, Vano pergi kekamarnya.


setelah beberapa menit Nadia berjalan menuju kamar Vano dengan membawa air, tapi Nadia berhenti ketika mendengar suara dari Vano.


"aku sangat menyayangimu, meskipun kamu bukan putriku. Naira jadilah gadis seperti mama mu jika kelak kau sudah dewasa, kuat dan tidak pernah putus asa." ucap Vano mengelus tubuh kecil Naira, Nadia yang ada didekat pintu mengelap air matanya dan menghampiri Vano.


"aku sudah isi air, kamu juga harus istirahat besok kamu juga akan sibuk." bisik Nadia, Vano mengangguk.


"iya terima kasih, oh iya tunggu sebentar." ucap Vano lalu berdiri mengambil sesuatu didalam laci mejanya.


"selamat ulang tahun, hm.. tidak besar tapi semoga kau suka." ucap Vano memberikan sebuah kotak kecil, Nadia menerima itu dan membukanya terlihat sebuah kalung permata yang indah.


"wah.. terima kasih, seharusnya tidak perlu Vano." ucap Nadia, Vano tersenyum mengambil kalung itu dan memakaikannya pada Nadia.


"tidak apa, sangat cantik dilehermu." ucap Vano, Nadia tersenyum kearahnya.


"terima kasih, sekarang istirahatlah aku akan pergi." ucap Nadia lalu melangkah pergi, Nadia meneteskan air mata.


didalam kamar Nadia membuka laci dimeja kamarnya, Nadia melihat sebuah kalung dan foto Kara disana. Nadia menangis mengusap foto itu.


"Vano jangan terlalu baik padaku, aku takut suatu hari nanti aku menyakitimu. Kara aku merindukanmu, apa pernah kamu mencariku." ucap Nadia menangis.


****


pagi harinya Nadia bangun kesiangan, Nadia langsung pergi kedapur untuk membuatkan sarapan dipagi hari. Nadia merasa heran tidak melihat putrinya dan juga Vano, Nadia memutuskan untuk melihat mereka dan pergi kekamar Vano. terlihat Vano dan Naira sedang tidur nyenyak, Nadia melihat jam dinding dan menunjukkan pukul 7 pagi.


"Naira!! Vano!! ayo bangun, Naira sekolah!" ucap Nadia membuka jendela kamar Vano, Vano membuka mata dan melihat kearah jam dinding, ia terkejut melihat sudah jam 7 pagi.


"kenapa tidak bangun kan aku!, Naira sayang harus sekolah bangun lah, hei.." ucap Vano menggendong Naira, Nadia pergi untuk mengambil seragam Naira.


"Naira ayo bangun dan cepat mandi." ucap Nadia, Naira tertidur didalam gendongan Vano.


"aku akan membantunya mandi, kamu siapkan sarapan saja. oh iya Nadia bisa ambilkan baju ku?" ucap Vano, Nadia mengangguk. kemudian Vano masuk kekamar mandi bersama Naira. setelah menyiapkan baju Vano, Nadia kembali kedapur.


setelah beberapa menit Vano dan Naira datang menghampiri Nadia, dengan cepat Nadia menyiapkan sarapan untuk mereka.


"cepat makan, kamu sudah terlambat." ucap Nadia menyisir rambut Naira.


"oke, sayang ayo berangkat." ucap Vano, Nadia memasukan kotak makan siang Naira.


"mama, Naira pergi dulu..." ucap Naira melambaikan tangan dalam gendongan Vano.


"iya hati hati." ucap Nadia, setelah itu Vano melajukan mobilnya dan pergi.


****


pagi hari Kara sedang duduk didalam kamarnya, terlihat kamar Kara terdapat foto Nadia terpajang besar. Kara menaruh itu agar bisa melihat wajah Nadia selalu yang tersenyum kearah nya, kadang Kara akan menangis jika melihat itu dan mengingat bagaimana dirinya marah hingga membuat Nadia kecewa.

__ADS_1


tok tok tok


suara pintu kamar Kara diketuk, dengan segera Kara menghapus air mata itu dan membuka pintu. terlihat ibu Kumala berdiri membawa sarapan untuk Kara, Kara melihat itu langsung menyuruhnya untuk masuk ke kamar.


"mama, sudah Kara bilang tidak perlu bawa makanan ke atas. nanti Kara turun buat makan." jelas Kara, ibu Kumala tersenyum melihat foto Nadia.


"mama kangen sama menantu mama, tidak ada foto Nadia lagi selain yang ada dikamar mu." ucap ibu Kumala, Kara melihat ibunya.


"cermin itu belum aku lepas, nanti kalau ada waktu Kara akan lepas cermin itu." ketus Kara.


"kenapa kamu seperti itu Kara, mama tahu kamu menderita selama ini. dan mama lihat kamu menangis pagi ini, kamu pikir mama tidak tahu itu." ucap ibu Kumala, Kara hanya diam.


"Kara.. mama mau melihat kamu bahagia, cari Nadia. bawa dia kesini Kara." Kara berlutu dihadapan ibunya, Kara menidurkan kepalanya pada pangkuan ibunya.


"kemana, kemana Kara harus mencarinya. Kara sudah melihat dia bahagia mama, Kara sudah lihat itu." ucap Kara, ibu Kumala meneteskan air matanya.


"kalian saling mencintai, tapi kenapa seperti ini." gumam ibu Kumala mengelus kepala Kara, Kara hanya diam.


tiba tiba hp Kara berdering bertuliskan Vano yang menelfonnya, Kara mengangkat telfon itu.


"halo, ada apa?"


"Kara kita harus ke bandung sekarang, pak Abi ingat?


"iya kenapa?"


"dia mengadakan acara pesta kecil kecilan, kita diundang kesana!"


"oh iya, dia menghubungiku kemarin. baiklah kita akan pergi, jemput aku."


"oke, aku akan menjemputmu jam 9."


setelah itu Kara menutup telfon, dan kembali bicara dengan ibu Kumala.


****


dibandung sore hari Nadia sedang duduk membantu Naira belajar, Nadia mengajari Naira dengan sangat telaten.


"Naira tulis yang benar, ini seperti ini." ucap Nadia membantu Naira menulis, terlihat Vano datang menghampiri mereka.


"papa Vano, Naira capek tapi pr nya banyak." ucap Naira kepada Vano, Vano tersenyum.


"hei kenapa kau memaksa putriku terus.." ucap Vano pada Nadia, Naira berada dalam pelukan Vano.


"kamu selalu memanjakannya, coba lihat sekarang dia seperti itu." kesal Nadia, Vano dan Naira saling melihat.


"dia satu satunya princess ku jadi aku memanjakannya." ucap Vano tersenyum, Naira pun tersenyum.


"iya jangan memanjakannya, dia akan nakal." ucap Nadia lagi.


"benar, jangan memanjakannya, dia akan nakal." ucap Vano dan Naira bersamaan.


"kalian mengikutiku!" kesal Nadia melotot.


"kalian mengikutiku." ucap mereka lagi lalu tertawa, Nadia tersenyum tapi kemudian kesal dan pergi.


"oh tidak dia marah papa.." ucap Naira, Vano mengangguk.


"hei ikut aku, kita akan menghadiri pesta." Nadia menoleh


"pesta, Naira harus sekolah besok." saut Nadia


"mama.. kita akan pergi, Naira mau ikut papa.." rengek Naira, Nadia terdiam.


"teman bisnisku mengadakan acara pesta kecil kecilan, mereka mengundangku dan aku berniat mengajak kalian juga." jelas Vano, Nadia melihat kearah Naira yang memohon.


"baiklah, tapi jangan sampai larut." Vano dan Naira saling pandang.


"yeah, Naira akan bersiap." ucap Naira lalu pergi kekamarnya.


"aku juga akan bersiap." ucap Vano lalu pergi, Nadia juga masuk dalam kamarnya.


setelah beberapa jam mereka telah sampai disebuah acara pesta teman Vano, Nadia terlihat cantik menggunakan mini dress yang sama dengan Naira begitu juga dengan Vano menggunakan jas yang serasi. mereka masuk kedalam acara itu, disambut dengan hangat.


"selamat atas bisnismu." ucap Vano pada temanya.


"ha. terima kasih, aku tidak suka seperti ini. istriku itu memaksaku.." ucap temannya, Vano pun tertawa.

__ADS_1


"oh iya siapa mereka?" tanya temannya menunjuk Nadia dan Naira.


"oh ini Nadia dan putrinya Naira." Nadia tersenyum, mereka bersalaman.


"papa Naira haus, bisakah Naira minum?" ucap Naira, Vano menggendong Naira.


"tuan Abi apa ada minuman jus disini?" tanya Vano.


"tentu, banyak jus disana."


"Vano berikan padaku, kamu bicara kami tidak akan mengganggu." Vano menurunkan Naira, Nadia membawanya untuk mencari minum.


"jadi mereka istri dan anakmu?" ucap pak Abi, Vano melihat dan tersenyum.


"dia bukan istriku, aku sudah menganggapnya sebagai anakku." ucap Vano, pak Abi mengangguk


Nadia memberikan minuman pada Naira, Naira minum dan makan. Nadia memperhatikan Naira, ia berpikir kelakuan Naira mirip dengan Kara.


"mama, Naira suka kue ini." ucap Naira, Nadia tersenyum.


"iya makanlah, setelah itu kita pulang. kamu harus sekolah besok." ucap Nadia, Vano menghampiri mereka.


"aku akan ke toilet, Vano temani dia." Vano mengangguk, Nadia pergi dari sana.


Vano yang ceroboh meninggalkan Naira sendirian, Naira mencari keberadaan Vano dan juga Nadia. saat Naira melihat pak Abi berdiri, Naira berniat datang dan bertanya keberadaan Vano. Naira berlari tanpa melihat banyak orang disekelilingnya hingga menabrak seseorang.


brugh..


Naira terjatuh dilantai, seorang pria yang ditabrak Naira langsung menggendong Naira. Naira memegangi bokongnya.


"om sakit, kenapa om berdiri menghalagi ku jalan!" celetuk Naira, pria itu tersenyum.


"maafkan aku, apakah sangat sakit?" ucap pria itu, Naira mengangguk. pria itu memandang wajah Naira yang terlihat imut.


"om kenapa melihatku seperti itu, aku tahu aku ini sangat cantik." pria itu tersenyum lebar.


"wah kamu sangat percaya diri, sifatmu mengingatkanku pada diriku sendiri tapi wajahmu..."


"wajahku, kenapa dengan wajahku?." ucap Naira bingung.


"wajahmu mirip dengan seseorang." saut pria itu, Naira menggelengkan kepala.


"tidak, wajahku hanya mirip dengan mama.." saut Naira, pria itu tersenyum lebar.


"siapa namamu hm?" tanya pria itu, Naira menoleh.


"Naira Putri." pria itu terkejut ketika mendengar nama Naira.


Vano mencari cari keberadaan Naira, ia menjadi panik setelah melihat Naira tidak duduk ditempatnya. saat mencari terlihat Naira digendong seseorang, Vano tidak melihat wajah pria itu. Vano segera menghampiri nya,


"Naira, kamu disini. papa cari kamu kemana mana sayang!" ucap Vano, Naira menoleh.


"papa, Naira mencari papa.." saut Naira.


"maaf, apa putriku mengganggu?" ucap Vano, pria itu berbalik. Vano terkejut melihat wajah pria itu, pria itu tidak lain adalah Kara.


"om ganteng, turunkan aku papaku, sudah ketemu." Kara yang menatap Vano, terkejut mendengar perkataan Naira, ia segera menurunkan Naira. Naira berlari kearah Vano, dan langsung menggendong Naira.


"papa, tadi Naira ga sengaja menabrak om ganteng itu." Vano mengangguk lalu melihat kearah Kara yang menatapnya tajam.


"putrimu?" ucap Kara, Vano mengangguk.


"aku pergi dulu." ucap Vano lalu pergi, Kara terdiam berdiri ditempatnya. Kara berpikir wajah Naira mirip dengan Nadia.


Nadia keluar dari kamar mandi tapi tidak melihat keberadaan Naira dan Vano. Nadia mencari kemana kemana, terlihat Kara berdiri agak jauh dari tempat Nadia berdiri. saat Nadia ingin melangkah pergi Nadia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, Nadia merasakan kehadiran Kara.


"ada apa denganku?" ucap Nadia, Nadia melihat sekelilingnya.


Nadia melihat seseorang dari belakang, Nadia merasakan sesuatu saat melihat orang itu, orang itu tidak lain adalah Kara. Kara sendiri sedang bicara dengan rekan bisnisnya, Nadia tidak melihat wajah Kara. didalam pikiran Nadia terlintas ingatan tentang Kara, Nadia terus berjalan untuk menghampiri Kara.


"Kara..." ucap Nadia lirih,


tiba tiba Vano berdiri dihadapannya dengan Naira. Vano langsung mengajak Nadia untuk pulang, Nadia pun setuju.


Kara merasakan seseorang menyebut namanya, saat Kara berbalik ia tidak melihat siapapun. Reno bertanya Kara hanya menggelengkan kepala.


"kenapa aku merasa aneh!"

__ADS_1


__ADS_2