My Love Story 2

My Love Story 2
79. merindukan


__ADS_3

hari ini Nadia akan mengantar Naira untuk pergi kesekolah yang baru, Vano sudah mendaftar kan Naira pada sekolah yang cukup bagus.


"mama Naira akan dapat teman baru?" ucap Naira, Vano tersenyum.


"tentu saja, jangan nakal ya kalau di sekolah baru." saut Nadia memberikan roti,


"oke mau diantar papa atau mama?" ucap Vano, Naira tersenyum.


"mau diantar papa..." ucap Naira senang, Vano mengangguk.


"oke kamu melupakan mama ya.." ucap Nadia memasukan kotak makan siang kedalam tas Naira, Naira hanya tertawa. Vano mendapat telfon dari asistennya, yang mengatakan agar Vano cepat datang kekantor.


"maaf sayang, papa harus kekantor. kamu diantar mama dulu ya.." ucap Vano pada Naira, Nadia pun mengangguk.


"aku pergi dulu, penting." ucap Vano pada Nadia, dan berlalu pergi.


"mama, ayo berangkat nanti telat." ucap Naira, Nadia pun membawa Naira masuk kedalam mobilnya.


***


dirumah tempat Kara semua orang sarapan seperti biasanya, terlihat Risa menggandeng Riana untuk pergi kesekolah.


"aku pergi dulu mengantar Riana!" ucap Risa, mereka melihat kearah nya.


"apa tidak perlu kuantar?" tanya Febriyan, Risa menggelengkan kepala.


"tidak perlu, aku bisa mengantarnya. kamu antar Bagas saja mas." saut Risa, Febriyan pun mengangguk. Risa berlalu dari rumah untuk mengantar Riana.


Nadia telah sampai membawa Naira ke sekolah barunya, Naira terlihat senang karena sekolah itu sangat bagus.


"apa ini yang bernama Naira?" tanya seorang guru, Nadia tersenyum.


"benar, ini Naira Putri. saya titip anak saya ya bu, ini anaknya sedikit aktif." ucap Nadia, guru itu mengangguk.


"Naira enggak nakal ma.." celetuk Naira, guru itu membawa Naira masuk ke kelasnya.


secara bersamaan Risa membawa Riana masuk kesekolahnya, Nadia berjalan dan menelfon seseorang. mereka berjalan dari arah yang berlawanan, dan tanpa sengaja mereka saling bersenggolan.


brugh..


"maaf maaf!" ucap Nadia lalu kembali fokus pada telfonnya, Risa merasa mengenal suara itu. Risa melihat Nadia berjalan dari belakang, Risa merasakan itu adalah Nadia.


"sayang cepat masuk, mama pergi dulu." ucap Risa, kemudian Risa mengejar Nadia. tapi sudah tidak menemukan.


"apa aku salah lihat, pasti bukan Nadia." gumam Risa melihat sekelilingnya. Nadia sendiri sudah masuk dalam mobilnya dan berlalu pergi, mobil Nadia melewati Risa. mereka saling tidak melihat satu sama lain.


***


dikelas Naira ternyata sekelas dengan Riana, mereka duduk dibangku yang sama.


"apa kamu anak baru?" tanya Riana, Naira menoleh.


"iya, aku anak baru. namaku Naira, siapa namamu?" ucap Naira, mereka bersalaman.


"namaku Riana, apa kesukaanmu?"


"hm... aku suka coklat, aku juga suka boneka." saut Naira.


"itu kesukaanku juga, jadi kita bisa berteman!" mereka saling tersenyum dan tertawa.


"iya kita berteman." saut Naira.


****


Nadia pergi kerumah sakit tempat dirinya dulu menjadi dokter, Nadia berpikir untuk menemui Dewi dan juga David. Nadia masuk dalam rumah sakit itu dan melihat sekelilingnya, Nadia berpikir rumah sakit itu tidak berubah dalam enam tahun terkahir.


Nadia melihat Dewi dan David yang sedang berjalan bersama dari arah berlawanan, Nadia mulai berkaca kaca. Nadia melihat perut Dewi yang sedang hamil, David asik bicara dengan Dewi tidak sadar dihadapannya ada Nadia.

__ADS_1


"apakah aku mengganggu kalian?" ucap Nadia, Dewi dan David mendengar suara itu langsung melihat kearah suara itu, mereka terkejut melihat Nadia yang sudah berdiri.


"Nadia!!" ucap Dewi memeluk Nadia, Nadia membalas pelukan itu.


"Nadia kamu kemana saja, kau melupakan aku." ucap Dewi menangis, Nadia tersenyum.


"aku tidak melupakanmu, bagaimana kabar kalian?" ucap Nadia, Dewi tersenyum.


"kami baik, bagaimana denganmu, jadi kamu sudah kembali pada Kara?" tanya Dewi, Nadia hnya diam dan tersenyum.


"kita bicara di ruangan ku saja, ayo.." ucap David membawa mereka masuk.


"aku tidak kembali pada Kara, aku kembali kesini karena Vano ada pekerjaan disini." ucap Nadia, Dewi merasa bingung saat mendengar nama Vano.


"Vano?," ucap Dewi.


"iya, aku tinggal bersama Vano selama enam tahun. aku juga memiliki seorang putri." saut Nadia, Dewi terkejut.


"anak!"


Nadia hanya terdiam, Dewi pun melihat kearah David.


"Nadia kenapa kamu pergi dari nya?" tanya Dewi, Nadia tersenyum tapi meneteskan air mata.


"entah lah, hatiku terlalu sakit padanya." singkat Nadia.


"eh ini berapa bulan?" tanya Nadia mengalihkan pembicaraan.


"sudah 8 bulan, oh iya ini anak kedua kami. yang pertama usianya 5 tahun." saut Dewi, Nadia ikut merasa bahagia sahabatnya itu sudah menikah dan memiliki anak.


"aku pergi dulu, harus periksa pasien!" ucap David, merekapun mengiyakan lalu David keluar dari sana.


"eh nanti siang aku harus pergi, jemput anakku." ucap Nadia, mereka pun melanjutkan bicara


David memberikan pesan pada Kara dan memberitahukan pada Kara tentang keberadaan Nadia, David tahu bahwa Kara selama ini menderita kehilangan Nadia.


***


"Kara datang kerumah sakitku sekarang, jika kau ingin melihat sesuatu." pesan David.


Kara merasa heran apa yang ingin David tunjukkan padanya, Kara segera bergegas pergi.


beberapa menit kemudian, saat Kara sampai dirumah sakit secara bersamaan Nadia keluar dari rumah sakit, mereka tidak saling melihat satu sama lain. Kara segera menghampiri David,


"ada apa, kenapa kau memintaku kemari?" tanya Kara,


"ikut denganku!" ucap David, Kara melangkah mengikuti David.


saat sampai diruangan David, ia tidak melihat Nadia hanya melihat Dewi yang sedang duduk. Dewi melihat kedatangan Kara dan tersenyum.


"Dewi dimana dia?" tanya David, Dewi tampak berpikir.


"siapa?" tanya Dewi, David memberikan isarat dan dimengerti oleh Dewi.


"dia baru saja pergi, kenapa tidak bilang!" ucap Dewi, Kara merasa sangat bingung.


"ada apa sih, apa yang ingin kamu tunjukkan?" tanya Kara, David mengehela Nafas.


"tidak ada, maafkan aku Kara." ucap David kecewa, Kara menggelengkan kepala.


"kau ini, ya sudah aku pergi." ucap Kara lalu pergi dari sana.


"kenapa kau membiarkan Nadia pergi!" ucap David.


"dia ingin menjemput anaknya, kenapa kau tidak bilang kalau bilang kan aku bisa menahannya sebentar." saut Dewi,


saat keluar dari rumah sakit Kara mendapat telfon dan memintanya untuk menjemput Riana, Kara setuju dan berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


***


Nadia telah sampai disekolah Naira, terlihat Naira keluar dengan seorang teman yang ia gandeng. Nadia menghampiri Naira dan temannya itu.


"hai..." ucap Nadia, Naira menoleh dan tersenyum.


"mama, kenalkan ini teman Naira." ucap Naira, Nadia berjongkok dihadapan mereka.


"sangat cantik, siapa namamu?" ucap Nadia.


"namaku Riana, tante sangat cantik." saut Riana, Nadia tertawa.


"tentu saja, mamaku cantik seperti ku!" celetuk Naira mereka tertawa bersama.


"jadi tidak ada yang menjemputmu?" tanya Nadia, Riana melihat sekeliling tapi tidak melihat siapapun.


"tidak ada!" saut Riana.


"mama ajak Riana main kerumah, setelah itu minta papa Riana untuk jemput dia dirumah kita." rengek Naira, Nadia merasa bingung.


"nanti orang tua Riana mencari, bagaimana mereka kan tidak mengenal mama.." ucap Nadia lalu seorang guru menghampiri mereka.


"ada masalah apa ya bu?" tanya guru itu.


Nadia menjelaskan permintaan Naira dan Riana pada guru itu, guru itu mengatakan untuk memberikan alamat Nadia jika orang tua Riana datang guru itu akan memberikan alamatnya. Nadia setuju dan memberikan alamatnya, Naira dan Riana pun terlihat senang dan langsung masuk kedalam mobil Nadia.


setelah kepergian Nadia beberapa menit kemudian Kara datang dan melihat sekolah itu telah sepi, Kara turun dan mencari keberadaan Riana. Kara khawatir tidak melihat siapapun, kemudian seorang guru menghampirinya


"cari siapa pak?" tanya guru itu.


"saya cari Riana, apa kelasnya sudah selesai?" ucap Kara, guru itu tersenyum.


"Riana tadi pergi bersama teman barunya, ini alamat mereka jika anda ingin menjemputnya." Kara menerima alamat yang diberikan guru itu, dan berlalu pergi.


Nadia membuatkan makanan untuk kedua anak itu yang sedang asik bermain, entah kenapa Nadia merasa Riana itu mirip dengan seseorang yang ia kenal. beberapa saat kemudian bel rumah rumah berbunyi, Nadia berpikir itu adalah Vano ia segera membuka pintu.


" cepat sekali pulangnya,Vano kamu sudah..." Nadia mebuka pintu, ucapnya terhenti ketika melihat siapa yang berdiri dihadapannya.


"Nadia/Kara!"


Nadia terkejut melihat Kara berdiri dihadapannya, begitu juga dengan Kara yang terkejut melihat Nadia. mereka hanyut dalam pikiran masing masing. Mereka berpikir orang yang selama ini mereka rindukan sedang berdiri saling menatap dan berhadapan, perlahan Kara mendekat kearah Nadia.


"Nadia.." ucap Kara menangis, Nadia menatap Kara dengan berkaca kaca.


"Kara..." ucap Nadia meneteskan air mata, Kara mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Nadia.


Nadia merasakan sentuhan tangan Kara dipipinya, Nadia memegang tangan Kara. Kara menempelkan dahinya dengan dahi Nadia.


"Nadia, aku merindukanmu!" ucap Kara, Nadia menangis lalu mengingat perkataan Kara menyuruhnya pergi dan terlihat bayangan Kara tidur bersama wanita lain. Nadia mundur menjauh dari Kara, Kara melihat Nadia yang menjauhinya. saat ingin mendekat Kara dikejutkan dengan suara Naira.


"om ganteng!" teriak Naira lalu berlari kearah Kara, Kara terkejut melihat Naira dirumah Nadia.


"kamu disini?" tanya Kara, Naira mengangguk.


"tentu saja, ini adalah rumahku, dan itu adalah mamaku!" ucap Naira, Kara menatap Nadia yang terdiam.


"dan itu papa.." ucap Naira lagi, Kara melihat kearah yang ditunjuk Naira, terlihat disana Vano berdiri didepan pintu.


"papa ada om ganteng waktu itu." ucap Naira, Vano tersenyum, Kara terkejut dengan Naira yang memanggil Vano papa dan memanggil Nadia mama. didalam pikiran Kara mereka telah menikah dan memiliki anak bernama Naira.


"hm.. maaf aku tidak tahu, aku mencari Riana. gurunya mengatakan dia ada disini!" ucap Kara, lalu Riana mendekat kearah Kara, Kara langsung menggendong Riana.


Vano masuk menggendong Naira, Kara keluar dari rumah itu. perlahan Nadia menutup pintu memandang Kara yang menggendong Riana, terlihat wajah sendu dari mereka berdua.


"Nadia katakan itu tidak benar." ucap Kara, Nadia langsung menutup pintunya. Kara meneteskan air mata, Riana mneyeka air mata itu.


"kenapa om menangis?" ucap Riana, Kara tersenyum lalu pergi dari sana.

__ADS_1


dibalik pintu Nadia menangis mengingat wajah sendu Kara menatapnya, Nadia merasa telah menyakitinya.


"itu tidak benar Kara, hiks... tidak benar.." ucap Nadia menangis, dari jauh Vano melihat Nadia yang menangis dan merasa kasihan.


__ADS_2