My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Semakin cinta


__ADS_3

Ibu engkaulah wanita yang mulia pantas gelar itu disandangnya, mana ada seorang pun di dunia ini yang mau nyawanya dengan suka rela untuk dikorbankan demi buah hati terlahir untuk melihat indahnya dunia.


Pantas seorang anak harus menghormati ibunya karena begitu banyaknya pengorbanan yang telah di berikan untuk buah hatinya dan yang tidak akan bisa terbalas dengan kebaikan apapun dari seorang anak.


Begitu pula dengan Sigit yang dapat melihat secara langsung bagaimana Lea merasakan sejuta sakit dia rasakan dengan keringat yang membasahi tubuhnya masih bisa tersenyum membalas pertanyaan Sigit.


"Sayang..masih kuat ?" Sigit sendiri pun merasa mulas di perutnya tapi dia tahu Lea lebih merasakan sakit di perutnya.


"Aku baik-baik saja mas " dengan tersenyum manis Lea menjawab.


"Man..apa kamu tidak bisa mempercepat laju mobilnya !" tegur Romo yang duduk disamping Diman supir keluarga Romo,dia tidak tega melihat Lea yang sudah bermandikan keringat karena menahan sakit.


Sigit sesekali meniup kepala Lea setelah membacakan doa untuk kemudahan dan berharap Lea kuat.


Setiba di rumah sakit Lea langsung digendong Sigit untuk ke tempat bersalin sebab Sigit sudah menghubungi Chalis kalau Lea akan melahirkan.


"Mas langsung ke ruangan bersalin saja"pinta Chalis yang langsung berjalan didepan Sigit dengan langkah cepat.


"Kuat ya..sayang sebentar lagi kita sampai" sesekali Sigit mendaratkan ciuman di kening Lea yang sudah basah karena keringat.


Lea hanya diam dan senyum yang dipaksakan dia berikan sebagai jawaban.


"Gimana dok,sudah disiapkan peralatannya ?" tanya Chalis pada rekan sejawatnya yang mewakili dirinya karena dia seorang dokter wanita dia sebenarnya ingin membantu persalinan Lea tapi tidak enak akan lebih baik rekannya yang seorang dokter wanita.


"Ya..sudah siap,mari kita lihat dulu ya..apa baby sudah bertemu ayah bundanya " dengan ramah dokter wanita itu memeriksa Lea yang hanya memberikan senyuman.


"Hebat bundanya masih bisa tersenyum,pasti babynya senang karena disambut dengan gembira" dokter wanita itu berbicara seperti mengalihkan perhatian agar Lea lebih rileks.


"Maaf bisa buka sedikit " dokter wanita itu meminta pada Lea untuk mempermudah dirinya memeriksa.


"Alhamdulillah.. sepertinya kerja sama bunda dan babynya kompak,jalan lahir sudah lengkap kita bersiap dulu ya.." dokter wanita itu kembali mengalihkan perhatiannya agar Lea lebih rileks lagi.


"Mas kalau ingin diluar ga apa-apa,aku bisa sendiri kok " Lea sadari Sigit dalam keadaan tegang sebab Sigit pun sama tubuhnya basa bermandikan keringat.


*Mas akan tetap disini menemani mu sayang,kalian berdua segalanya untuk ku " ucap Sigit yang mendaratkan ciuman di kening Lea.


"Tapi aku tidak apa-apa mas " Lea tidak tega dengan Sigit yang memegang tangan Lea dengan erat.

__ADS_1


"Ok..bunda sudah siap,atur napasnya dan ikuti saja aba-aba dari saya ok..mohon kerja samanya ya..baby, bismillah" dokter wanita itu kembali memberikan perintah sekaligus memberikan semangat pada Lea.


"Kita doa sama-sama sayang, bismillah " Sigit pun tidak tinggal diam dia tidak berhenti berdoa untuk kemudahan persalinan Lea.


Begitu juga dengan Lea yang mengikuti instruksi dokter untuk mengatur napasnya dan melakukan untuk keluarnya bayi dari dalam perutnya.


"Kita atur napas lagi,ok siap ayo..bunda sedikit lagi.. Alhamdulillah" rasa lega yang kini dokter rasakan begitu juga Lea.


Terdengar suara tangis bayi memenuhi ruangan yang disambut bahagia oleh Lea dan Sigit.


"Alhamdulillah, ternyata princess.. cantik sekali,hallo princess sapa bunda dan ayahnya"dokter menunjukkan bayi mungil yang cantik pada Lea dan Sigit yang tersenyum melihat bayi cantik itu menangis.


"Alhamdulillah.. terimakasih sayang sudah berjuang demi buah hati kita, maafkan mas bila belum menjadi suami yang baik "Sigit mencium punggung tangan Lea tanpa henti.


"Tidak mas,kita berjuang bersama kenapa harus minta maaf..aku berterimakasih mas selalu ada untuk ku sampai detik kelahiran buah hati kita " Lea pun tidak ingin Sigit merasa bersalah pada dirinya.


"Ayah..tolong di adzanin terlebih dahulu " pinta seorang perawat setelah membersihkan putri cantik Sigit dan Lea.


Sigit dengan cekatan mengambil alih mengendong putrinya dari seorang perawat dan memberikan adzan pada kedua telinga putrinya.


Jangan bila Sigit tidak diliputi rasa haru,disela Sigit memberikan adzan Sigit sesekali terisak dalam tangis haru.


"Sayang doa terbaik untuk mu,ayah ingin kelak kau jadi wanita Sholehah menjadi penyejuk hati ayah dan bunda serta taat akan tuhan, hormati serta sayangi bunda mu yang sudah memberikan kehidupan untuk mu, semoga selalu dalam lindungan Allah dan terjaga dari mata-mata jahat serta selalu dijauhkan dari godaan setan..amin " dengan air mata yang menetes Sigit memberikan dia terbaik untuk putrinya.


"Dekat bunda..biarkan dia menerima kehangatan bundanya " pinta dokter pada Sigit untuk memberikan bayi cantik itu diatas tubuh Lea.


Bayi cantik itu tenang saat mendengarkan adzan yang dilanjutkan dia dari Sigit dan kini dalam dekapan Lea,hanya mata dan tangan mungil yang bergerak.


"Mas..dia begitu mirip mas,aku cuma kebagian bibir serta alis matanya" ujar ke yang memperhatikan putrinya yang bergerak diatas tubuhnya.


"Dok.. sepertinya dia haus " ucap Sigit yang melihat mulut putrinya seperti mencari sesuatu.


"Bunda boleh kok memberikan ASI biar si cantik belajar menyusu langsung,berlahan saja" ucap dokter yang masih melakukan perawatan pada Lea yang sesekali merasakan tidak nyaman pada area jalan lahir putrinya.


"Ada yang sakit ?"


Bukan sempat Lea menjawab dokter sudah mewakilinya "tenang mas sedikit hanya di perbaiki saja biar mas nyaman nanti saat memakainya lagi " ujar dokter yang membuat Lea dan Sigit pura-pura tidak mendengar lebih mengalihkan perhatian pada buah hatinya.

__ADS_1


'Bagaimana aku tidak semakin cinta,sejuta rasa sakit kau rasakan untuk memberikan kehidupan baru untuk buah hati kita, terimakasih yang tidak terhingga my princess kamu bukan hanya istri diatas kerta tapi istri dunia akhirat ku' Sigit dalam haru memandang Lea yang memberikan ASI pada buah hatinya.


"Maaf,putri ibu harus di pindahkan ke ruangan nya agar ibu bisa beristirahat untuk pemulihan" seorang perawat dengan sopan menjelaskan pada Lea yang dengan berat hati harus menyerahkan buah hatinya pada perawat.


Sigit yang cukup memahami Lea langsung mengusap tangan Lea dan meminta dengan anggukan kepalanya agar Lea mengerti kalau semua akan baik-baik saja.


Tidak lama Lea pun dipindahkan ke ruang rawat setelah dibantu membersihkan diri agar Lea nyaman karena sudah dalam keadaan bersih.


"Mas.. memang ga boleh ya,putri kita satu ruangan dengan aku " Sigit paham dengan permintaan Lea.


"Sabar ya..sayang ku,mas sudah meminta Chalis untuk memberikan ijin meminta putri kita satu ruangan dengan bundanya" terlihat wajah bahagia Lea begitu Sigit mengabulkan permintaannya.


Tidak lama Romo masuk bersama mbok nah yang terlihat bahagia dengan kelahiran cucu buyut bagi Romo berbeda dengan mbok nah putri Lea dan Sigit cucu pertama buat dirinya.


"Selamat ya..cah ayu " ucap Romo yang langsung memberikan ciuman di kening Lea dengan tersenyum.


"Terimakasih mo..sudah ada buat Lea dan putri Lea " Lea berkaca-kaca karena dia paham bagaimana kasih sayang Romo padanya.


Romo hanya tersenyum dan memberikan kesempatan pada mbok nah untuk memberikan selamat pada Lea,Romo sendiri duduk di sofa bersama Sigit.


"Selamat ya..sayang,kini sudah menjadi bunda..jga kesehatan karena putri cantik mu butuh diri mu " mbok nah memeluk Lea dan memberikan ciuman pad Lea.


"Terimakasih Bu..kini aku tahu bagaimana rasanya jadi ibu,maaf ya Bu..bila Lea sering merepotkan ibu " Lea mencurahkan isi hatinya.


"Kenapa harus berterimakasih,ibu tidak memberikan apapun sayang " mbok nah tersenyum melihat kebahagiaan Lea.


Sigit di berikan wejangan dari Romo,Sigit dengan serius mendengarkan tiap kata dari Romo.


"Kini tanggungjawab mu bertambah..semoga semakin semangat karena ini tidak mudah,tapi jalankan dengan ikhlas karena semua akan terasah indah" Romo menepuk pundak Sigit.


"Mohon doanya Romo karena tanpa doa dari Romo segalanya bagi kami " seperti biasanya Sigit akan meminta kebaikan dari semua orang yang berperan penting dalam hidupnya dan juga Lea.


"Aku bersyukur cucu ku di miliki oleh mu le.." Romo terlihat bahagia.


"Aku yang bersyukur memiliki cucu Romo,dia istri yang baik dan selalu membuatku bahagia berada disampingnya.. terimakasih Romo sudah mengijinkan cucu Romo untuk menemani perjalanan hidup aku " dengan jujur Sigit berkata kalau Lea adalah segalanya.


Kedua lelaki berbeda usia itu larut dalam bahagia dalam definisi berbeda,tapi tetap saja bahagia itu tidak mudah tapi harus di perjuangkan.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻 Tamat🌻🌻🌻🌻🌻


Terimakasih yang tidak terhingga untuk yang masih membaca karya saya,mohon maaf untuk segala kekurangannya bila ada coretan cerita yang tidak sesuai harapan mohon dimaklumi sebab hanya keinginan penulis semata tanpa ingin menyudutkan siapapun.πŸ™πŸ™πŸ™ see you di coretan yang lain.


__ADS_2