
Perdebatan kecil pun akhirnya berlanjut,Lea sendiri hanya menjadi penonton padahal dirinya yang menjadi korban tersakiti.
"Perlu saya ganti..berapa sih ?"
"Mba,sadar ga sih kalau mba yang salah tapi situ yang lebih galak sih"
Rekan Lea sudah dititik nadir yang memuncak karena wanita dihadapannya tidak mau merendahkan dirinya padahal dirinya yang salah.
"Lagian kenapa kamu yang sewot sih"
"Karena mba ga bisa di tegur baik-baik"
Ucap tegas rekan Lea yang tanpa disadari mengundang perhatian tamu undangan untuk melihat ada keributan apa yang terjadi.
"Sudah..kita pergi saja "
"Tidak Lea..dia harus di beri pelajaran,memang gue takut walaupun dia anak pemilik perusahaan"
"Sudah malu kita jadi tontonan tamu undangan"
Lea menggandeng tangan rekan satu timnya untuk ke luar ballroom tempat pesta berlangsung,tapi tangan wanita itu dengan kasar menarik tangan Lea yang membuat Lea sedikit oleng seandainya dia memakai sepatu hak tinggi sudah jatuh tersungkur.
"Maaf mba, kesalahan saya apa ya..boleh saya tahu ?"
Akhirnya Lea buka suara juga karena wanita dihadapannya sudah melewati batasan kesabarannya apalagi saat ini disaksikan oleh puluhan pasang mata seakan mengintimidasi dirinya.
"Mau tahu"
"Karena loe sudah merebut perhatian milik gue !!"
Lea bingung dengan apa yang terucap dari mulut wanita yang sudah tiga kali di lihatnya, apalagi tuduhannya tidak berdasar.
"Milik mu, siapa?"
Tanya Lea dengan tersenyum meremehkan wanita yang berdiri didepannya berdandan cukup mencolok yang Lea lihat.
"Arsena"
Bisik wanita itu pada Lea yang membuat Lea ingin tertawa lepas tapi tidak mungkin karena akan membuat suasana semakin tidak kondusif.
"Coba anda tanya padanya apakah saya sudah mencuri perhatian darinya, maaf mba anda salah orang"
Dengan santai Lea mengingatkan wanita yang Lea tidak tahu siapa namanya dan berniat pergi tapi sayang Lea kembali di tarik bahkan lengan dress Lea sobek hingga dapat terlihat dengan jelas lengan milik Lea.
"Sekali lagi maaf mba, jangan mempermalukan diri sendiri"
Lea yang berusaha menutupi lengan dress yang sobek dengan satu tangannya dan kembali mengingatkan wanita itu tanpa marah,dia masih bisa mengontrol emosinya.
"Dasar jal***"
Teriaknya dengan keras membuat tamu undangan kembali memperhatikan sosok Lea seakan dia adalah seorang jal*** sesuai dituduhkan wanita yang mengatainya.
"Jaga mulut mu kotor mu !!"
Teriak rekan Lea yang kini sudah berhadapan dengan wanita bermulut kotor itu yang siap beradu otot.
"Sudah Divya,kita sama gilanya kalau diteruskan"
Bisik Lea yang memisahkan Divya dari cengkeraman tangan wanita bermulut kotor dengan tatapan mengancam.
Divya menuruti permintaan Lea tapi sayang tangan wanita bermulut kotor itu dengan cepat mendaratkan tamparan keras di pipi mulus Lea hingga membuat sudut bibir Lea berdarah dan pipi Lea jelas tergambar lima jari memerah.
__ADS_1
"Astaghfirullah..anda sudah melewati batasan anda"
Ucap Lea dengan memegang pipinya yang terasa panas bekas tamparan tangan yang cukup keras terasa.
Sejumlah pasang mata sedikit ikut berteriak sehingga mengundang perhatian yang lain.
"Lea..."
Teriak seseorang yang beberapa saat lalu terlintas dalam pikiran Lea berharap ada disisinya saat ini yang merasa butuh dukungan.
"Mas !"
Teriak Lea yang terkejut sekaligus senang dengan kehadiran Sigit yang langsung melepaskan jas mahal miliknya untuk menutupi lengan Lea.
"Apa ini Lea ?"
Tanya Sigit yang menguap ujung bibir Lea yang berdarah dan pipi Lea yang jelas memerah bekas tamparan itu masih jelas terlihat.
Dibalik kerumunan datang seorang yang sama ingin mencari tahu ada kejadian apa.
"Silvia "
Tegur Arsena pada wanita bermulut kotor yang dengan tega mendarat tangannya di pipi Lea.
"Sen..dia siapa mu !?"
Tanya tegas Sigit yang teryata kawan satu angkatan kuliah dulu di Amerika hanya berbeda jurusan.
"Ehm.."
Belum sempat Arsena menjelaskan siapa wanita yang berada didekatnya,Sigit dengan tegas menegur Arsena.
"Tolong tanyakan..apakah ini dia penyebab semua ini "
"Mas sudah bawa aku pergi dari sini "
"Sen..demi pertemanan kita tolong kamu bisa jelaskan pada saya "
Sigit terlihat bisa saja dalam berucap tapi berbeda bagi Arsena yang cukup mengenal siapa Sigit, mahasiswa terbaik dan sedikit bicara tapi cukup membuat banyak pihak segan padanya.
"Ok..tapi sebelumnya saya secara pribadi minta maaf sama kamu Lea atas ketidak nyamanan ini "
Lea memilih berlindung di balik badan tinggi Sigit dari pada membalas permintaan Arsena.
Silvia sendiri terlihat biasa saja padahal sudah jelas Lea sudah bersama lelaki yang melindunginya.
"Bubar,bubar...!!"
Teriak lelaki yang ditugaskan untuk memberikan keamanan para tamu undangan.
"Mas..pulang saja,ayo "
Rengek Lea yang baru pertama Arsena lihat, sebab tidak pernah Lea menunjukkan sikap lemahnya bahkan lebih terlihat mandiri dan tegas.
"Sen.. saya tunggu menjelaskan kamu "
Sigit langsung memeluk bahu Lea untuk berjalan keluar ballroom,Lea sendiri menahan air matanya yang berharap tidak jatuh didepan banyak mata.
"Mas,pak Komar ada di tempat parkir"
"Masuk saja dulu, itu urusan mas "
__ADS_1
Sigit meminta le masuk kedalam mobil yang di bawahnya, Sigit sendiri menemui pak Komar dan memintanya untuk pulang lebih dulu serta menjelaskan kalau Lea akan diantar pulang olehnya.
"Sudah..biar akan jadi urusan ku,tenang mas tahu kamu pasti tidak melawan "
Sigit berusaha menenangkan Lea yang sudah terisak dan ini untuk pertama kalinya Lea dipermalukan apalagi ini didepan umum.
Tangan Sigit terkepal seperti menahan marah tapi dia tidak ingin tunjukkan didepan Lea.
Sepeninggal Lea dan Sigit,Arsena dibuat banyak pertanyaan dalam benaknya ada hubungan apa antara Sigit dan Lea,tapi untuk sementara dia singkirkan ada yang lebih penting.
"Apa yang telah kamu lakukan Silvia ?"
"Si jal*** yang mulai lebih dulu "
Alibi Silvia dengan muka memelas mencari pembelaan diri tanpa dia sadari Arsena bukan orang yang bodoh sudah meminta orang kepercayaan memeriksa CCTV dimana kejadian itu berlangsung.
"Jaga mulut mu Silvia..dia bukan seperti yang kamu sebutkan"
"Hu..mana ada pelakor mengakui jika dirinya pelakunya"
Dengan mendengus kesal Silvia mencaci maki Lea yang sudah jelas orang tidak ada.
"Sudah beberapa kali aku ingatkan..hilangkan rasa cemburu dan curiga mu berlebihan itu yang akan berakhir aku akan semakin jauh dari mu"
Arsena yang merasa sudah diambang batas sabar untuk mengerti pada akhirnya meluapkan emosinya.
"Wajarlah kalau aku cemberut,dia menggoda mu "
"Menggoda..mana ada Lea menggoda ku,kamu memang selalu berlebihan menilai sikap orang yang ad disekitar ku "
"Kenapa jadi kamu yang marah dan kenapa kamu belain dia.."
Silvia menunjukkan sikap marah dan kesalnya pada Arsena tapi berbanding terbalik dengan Arsena yang memikirkan Lea yang bersamaan Sigit saat ini.
"Kau apakah Lea..Silvia ?"
Tanya Arsena yang ingin kejujuran dari mulut Silvia sendiri sebelum Arsena mencari tahu sendiri apa yang telah dilakukan Silvia pada Lea.
"Kok kamu semakin menyudutkan aku sih, bukannya menegur dia "
"Kamu itu aneh..sudah jelas-jelas terlihat ada bekas tamparan di pipi Lea,wajar aku bertanya karena kau juga ada disitu "
"Ya..aku yang menamparnya,kamu mau marah sama aku "
Silvia dengan menahan tangisnya menjelaskan kalau dirinya yang melakukan kekerasan pada Lea.
"Bukan aku tidak ingin membela mu tapi ini pelajaran yang harus kamu hadapi sendiri akibat apa yang telah kamu perbuat "
"Maksud kamu ?"
"Kamu berani berbuat maka harus berani bertanggungjawab "
"Ini juga karena kamu "
"Kok aku sih ?"
"Ya.. kalau kamu ga mencari-cari perhatian dari wanita itu "
"Ha.. mencari-cari,bercerminlah sebelum bicara "
Arsena sepertinya sudah malas berdebat di memilih pergi dari hotel dimana tempat pesta masih berlangsung tanpa memperdulikan teriakan Silvia yang minta diantar pulang.
__ADS_1
"Terus aku pulang sama siapa ?"
Berbeda dengan teman satu tim departemen Lea yang tahu kronologisnya langsung dari Divya dibuat kesal sekaligus marah,sudah pasti akan berdampak pada tim Lea bukan soal kemarahan pemilik perusahaan tapi mereka sudah pasti Lea akan secepatnya mengundurkan diri karena dipermalukan tanpa sebab yang jelas faktanya.