My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Cara Lea


__ADS_3

Semua bergerak serba cepat sebab keluarga cukup tahu bagaimana karakter Lea, mereka lebih memilih menyetujui permintaan Lea dari pada beberapa detik kemudian Lea sudah berubah haluan dengan enggan menerima lamaran Sigit.


Tanpa surat persetujuan pengunduran diri Lea sudah tidak lagi bekerja karena beberapa hari yang lalu Lea kembali di perlukan tidak nyaman dengan bertemu kembali dengan Silvia.


Flashback on


"Gue rasa paling enak makanan di kantin deh.."


"Bener gue nyesel makan di restoran itu"


"Makanan kantin harga receh tapi ga recehan"


"Biasa aja loe "


Obrolan receh selepas makan siang, diantara mereka juga ada Lea yang berjalan bersama menuju pintu utama perusahaan dengan canda tawa tak lepas dari mereka,tapi beberapa menit kemudian berubah dengan teriakan seseorang.


"Hey..jal*** !"


Pekik suara wanita yang langsung menarik rambut Lea membuat suasana siang yang cukup terik di luaran sana semakin terasa panas sampai kedalaman ruangan ber AC.


"Hey..jangan main kasar dong !"


Teriak teman Lea yang langsung mendekat berbeda dengan Lea yang berusaha melepaskan rambutnya dalam genggaman tangan wanita yang tidak lain adalah Silvia.


Rasa sakit karena tarikan erat tangan Silvia pada rambut Lea yang kebetulan diikat ekor kuda dengan cukup mudah untuk Silvia menariknya.


Kini Lea tidak tinggal diam dia memutar badannya dan hasilnya Silvia yang jadi tersakiti dan menjerit karena tangannya terasa terkilir.


"Auw..sakit jal*** !!"


Teriak Silvia yang langsung melepaskan tangan dan memijat tangan yang merasa sakit juga panas.


"Lagian siapa juga mulai..,apa mulut loe ga bisa bicara yang baik nona arogan ?"


Tanya Lea dengan suara berbisik masih menghargai siapa lawan bicaranya saat ini.


"Lancang sekali mulut mungil mu !"


"Lalu apa nama yang pantas untuk disematkan untuk anda nona arogan..coba bercermin dari awal siapa yang selalu memulai dan ingat ini tempat apa ?"


Lea berniat pergi tapi Silvia merasa belum puas mempermalukan Lea tentu saja dengan caranya yang brutal dan tidak memikirkan apa akibatnya yang dia dapatkan.


"Kita belum selesai !"


Terik Silvia yang langsung menarik tangan Lea dengan kasar beruntung Lea memakai sepatu sporty jadi dengan mudah menangkis tangan Silvia dan hasilnya Silvia yang jatuh ke lantai tersungkur dengan posisi mencium lantai dan jadi bahan tertawa semua orang yang berada di lobby utama.


"Ada apa ini !"


Tegur Diki yang kebetulan baru datang dan masuk kedalam lobby utama dan dapat melihat dengan jelas Silvia yang masih dalam posisinya.


"Saya bantu nona "


Ucap Lea ramah tapi Silvia menolaknya dengan menepis tangan Lea kasar sehingga membuat tangan Lea memerah.


Diki menggelengkan kepalanya karena melihat sikap arogan Silvia nampak jelas dimatanya.


"Bubar..bubar kembali ke tempat kalian, disini kalian kerja bukan bergosip"

__ADS_1


"Mari saya bantu nona Silvia"


Ucap Diki yang sebenarnya malas tapi mau bagaimana lagi dia tidak ingin terjadi keributan didalam perusahaan.


Semua pegawai kembali ke tempatnya masing-masing termasuk Lea yang sudah kembali seperti biasanya seperti tidak terjadi sesuatu apapun.


Semua berjalan lancar sampai dengan beberapa menit kemudian Lea diminta menghadap ke ruangan Arsena.


"Lea jangan takut gue dukung loe "


Ujar salah satu teman kerja Lea yang berjenis kelamin sama dengannya menyemangati Lea begitu juga dengan yang lain.


Mereka belum tahu siapa Lea, dia akan mengambil sikap tegas dan berani bila dalam keadaan dirinya bener begitu pun sebaliknya dia tidak akan malu mengakui kesalahannya dan berani meminta maaf lebih dulu.


"Thanks..gue ga takut"


Lea langsung menuju ruangan Arsena dengan santainya tapi berbeda dengan rekan kerja Lea yang seakan-akan menahan napas selama Lea dalam ruangan Arsena.


"Bang Dik ayo bantu Lea,bang Lea ga salah kok"


Pinta salah satu rekan kepada bang Dik yang juga sama mengkhawatirkan Lea saat ini.


"Kita tunggu dulu sampai Lea kembali, karena bagaimanapun kita harus berpikir tenang untuk menghargai Lea "


Didalam ruangan Arsena Lea bisa melihat dengan jelas wajah Silvia seperti tersakiti padahal siapa yang dia sakiti aneh pikir Lea.


"Duduklah"


Pinta Arsena dengan sopan didalam ruangan Arsena juga ada Diki yang berdiri disalah satu sudut dengan tangan bersedekap di dadanya seperti menjadi saksi bisu apa yang akan terjadi di ruangan yang beraroma terapi menenangkan.


"Lea bisa jelaskan apa yang baru saja terjadi diantara kalian ?"


"Maaf sebelumnya..apa Mr tidak salah bertanya kepada saya ?"


"Maksud mu ?"


"Alangkah baiknya Mr bertanya kepada nona yang duduk disebelah Mr kenapa ada kejadian seperti ini dan apa yang melandasinya melakukan hal itu ?"


'Wow.. keren,gue suka cara mu Lea ' batin Arsena merasa tertantang dengan cara Lea yang terlihat tenang dan elegan dimata Arsena.


Begitu juga dengan Diki yang sebenarnya ingin memberikan tepuk tangan pada Lea karena kagum dengan caranya menyelesaikan masalahnya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Busyet..ini yang gue baru tahu dari loe Lae pantas seorang Arsena bertekuk lutut sama loe yang baru dikenalnya '


"Loh kok aku sih,bukannya kamu yang membuat aku jatuh ?"


"Saya tidak perlu berdebat karena menurut saya tidak penting juga,Mr bukankah di perusahaan anda banyak terpasang cctv untuk memantau kinerja karyawan yang bekerja di perusahaan anda.. tinggal anda periksa dengan seksama siapa korban dan siapa yang menjadi tersangkanya "


"Ok.. tunggu sebentar"


Diki langsung mengaktifkan akses yang terhubung dengan cctv yang berada di lobby utama beberapa saat lalu dan disaksikan bersama,dan hasilnya begitu mengejutkan.


"Anda seorang atasan harus bertidak bijak dan adil,jadi apa kesimpulan anda setelah melihat cctv yang tidak menunjukkan kebohongan ?"


Arsena merasa dipermainkan dan dipermalukan oleh Silvia didepan Lea, padahal dia sudah tahu yang sebenarnya tapi dia tidak ingin tidak adil kepada Lea dan salah satu cara yang diambil seperti saat ini duduk bersama untuk melihat lebih dekat siapa yang Silvia dan berharap Lea tidak jadi korban lagi.


"Silvia minta maaf kepada Lea.."

__ADS_1


"Kok aku harus minta maaf "


"Ini sudah jelas kamu yang mulai lebih dulu"


"Ga, mau dia yang salah dia yang harus minta maaf pada ku "


"Sudah Mr saya tidak ingin memperpanjang masalah yang sebenarnya tidak penting bagi saya,hanya satu permintaan saya mulai besok saya mengundurkan diri walaupun tanpa persetujuan dari anda Mr,saya berterimakasih sudah di berikan kesempatan bergabung di perusahaan Mr dan maaf bila ada kesalahan selama saya bergabung di perusahaan Mr, permisi saya kembali ke ruang saya "


Lea langsung undur diri keluar dari ruang dengan tersenyum manis merasa tenang jiwanya karena ini waktu yang tepat untuk menyampaikan pengunduran dirinya secara langsung pada Arsena.


'Satu tepuk dua lalat '


Gumam Lea yang terus melangkah dengan percaya diri menuju ruangan kerjanya.


Didalam ruangan yang Lea tinggalkan Arsena merasa marah pada Silvia dan dirinya sendiri dan diam adalah cara paling dia pilih karena dirinya tidak ingin berlaku kasar pada Silvia karena kemarahannya.


"Bos,saya cabut "


Diki yang tahu diamnya Arsena adalah marah lebih memilih keluar ruangan dari pada masih didalam ruangan yang sama dengan Arsena dan Silvia tidak tahu apa yang akan terjadi.


Kedatangan Lea disambut bagaikan pahlawan yang baru pulang berperang, begitu histeria.


"Lea,loe ga apa-apain kan ?"


"Loe ga di keluarkan Lea ?"


"Kalau sampai loe dikeluarkan akibat kejadian ini kita unjuk rasa,tenang kita dukung loe kok Lea "


"Sudah,sudah kasih Lea kesempatan bicara dulu "


Pinta bang Dik yang langsung mengambil alih suasana agar kondusif dan kembali tenang.


"Ehm.. kecemasan kalian terlalu berlebihan,gue ga diapa-apain kok tapi terimakasih sudah support gue sampai batas ini karena..."


"Benarkan loe dikeluarkan "


Ujar salah satu teman Lea dengan muka sedih nampak berkaca-kaca matanya.


"Karena hari ini hari gue terakhir bergabung bersama kalian semua,bukan karena perubahan tapi karena permintaan gue secara pribadi "


"Lea.."


Semua kaum hawa memeluk Lea dengan haru begitu juga dengan kaum Adam hanya bisa diam melihat Lea dalam pelukan kaum hawa yang sudah dalam keharuan.


"Gue harus melakukan ini karena gue akan menikah bukan karena gue ga ingin bekerja,calon suami gue butuh support dari gue "


"Memang calon laki loe jauh kerjanya"


"Ya..dan gue lebih memilih untuk mengikuti calon suami gue dari pada kerjaan dan disana misi terbesar gue "


"Maksud loe ?"


"Kalian kapan-kapan gue undang untuk melihat sendiri apa misi terbesar gue "


Semua dibuat bingung tapi sedikit banyak mereka tahu Lea memang misteri dan selalu memberikan kejutan.


Flashback off

__ADS_1


Kini Lea banyak menghabiskan waktu dengan bercengkrama dengan keluarga besar Deandra bahkan Romo sudah datang untuk mengikuti prosesi tradisi sebelum menikah.


Akan kan banyak yang patah hati karena bersatunya Lea dengan Sigit,see..you...


__ADS_2