My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Mencari tahu


__ADS_3

Perdebatan di kantin teryata berlanjut hingga kedalam kantor utama milik Hilmi, lelaki yang seumuran dengan Nathan.


Hilmi dan Nathan keduanya berteman semasa kuliah dulu, pertemanan mereka berlanjut hingga kini bahkan kedua keluarga mereka saling mengenal dengan sangat baik.


"Kamu atau aku dulu yang cerita !"


Ucap tegas Hilmi yang berparas tampan,tegas dengan hidung mancung,kulit putih serta memiliki postur tubuh tinggi sekilas hampir seperti orang Turki.


"Ok..aku lebih dulu cerita tapi janji kamu ga akan mengambil apanya ga sudah aku lihat lebih dulu "


Hilmi tersenyum mengejek, dengan percaya dirinya Nathan sudah mengklaim wanita yang berada di kantin tadi miliknya.


"Jangan terlalu percaya diri tuan Nathan "


Goda Hilmi dengan tertawa lepas bahkan terdengar mengejek Nathan.


"Berisik..aku tahu kamu juga memiliki rasa yang sama padanya..jangan bilang tebakan ku salah "


Apa karena hubungan keduanya dekat sampai isi hati keduanya sudah bisa ditebak.


"Ayo..kelamaan mau cerita atau aku yang lebih dulu"


Gertak Hilmi dengan melemparkan bantal kursi pada Nathan yang langsung menangkapnya dengan sigap.


Akhirnya Nathan memulai bercerita awal pertemuannya dengan Lea yang sebenarnya hanya dirinya yang lebih memperhatikan Lea bahkan terobsesi dengan Lea yang penyayang dan perhatian,hanya sebatas itu tidak lebih.


"Itu namanya kamu terobsesi ingin memiliki sepihak bro, bolehlah untuk seorang Nathan..tapi gimana dengan dia kenal juga ga,tapi mengakui milik kamu"


Hilmi memberikan penilaian atas cerita awal Nathan melihat Lea dan ada keinginan untuk lebih dekat bahkan siap menikahinya.


"Kini giliran aku"


Hilmi menceritakan awal pertemuan dirinya dengan Lea,wanita yang sopan dengan kemampuan yang di atas rata-rata wanita pada umumnya,pada akhir cerita sama dengan Nathan dimata Hilmi seorang Lea terlihat sempurna tanpa cacat.


"Aku yang lebih dekat karena sempat bicara dengannya walaupun sifatnya formal "


Berdasarkan cerita Hilmi ada rasa kecewa yang Nathan tunjukkan kenapa dirinya tidak menyapanya atau langsung berkenalan saat di restoran itu.


"Jadi siapa menurut kamu yang lebih dulu dan dekat ?"


Hilmi hanya sekedar memancing Nathan,bagi Hilmi untuk bersaing secara bisnis ok..tapi bersaing untuk merebutkan seorang wanita dengan teman baiknya tidak ada dalam kamusnya,teman di atas segalanya wanita mudah di cari.


"Mengalah demi aku..bro"


Hilmi tidak pernah melihat seorang Nathan sampai memohon merendahkan dirinya di hadapan lelaki walaupun itu temannya,hal ini tidak pernah terjadi termasuk hal yang langkah.


"Apa yang akan kamu berikan untuk ku, untuk merelakan wanita itu untuk mu ?"

__ADS_1


Kembali Hilmi ingin menggoda bahkan terdengar menguji Nathan yang masih berharap padanya.


"Apa yang kamu mau..akan aku kasih "


Hilmi menggelengkan kepalanya,ini hal yang benar luar biasa seorang Nathan pemilik perusahaan besar terkemuka dengan mudahnya menyanggupi permintaan orang lain tanpa syarat.


"Kamu sadar bro"


Tanya Hilmi untuk memastikan kebenaran bukan ilusi semata sebab yang di depan matanya seorang Nathan lelaki tampan dengan tampang bule blasteran Indonesia-Amerika siapa yang tidak tergoda.


"Sesadar-sadarnya..otak aku masih waras"


Tatapan mata tajam dan serius Nathan tunjukkan seperti saat dia bernegosiasi dengan lawan bisnisnya.


"Aku ikhlas untuk mu bro..hanya aku minta sesuatu suatu saat bila waktu itu tiba akan aku minta janji itu kamu penuhi"


Seperti ringan ucapan yang terucap dari mulut Hilmi tapi itu berat bagi Nathan sebab yang diminta Hilmi bukan sesuatu yang nyata seorang saham,mobil mewah keluaran terbaru atau apartemen yang letaknya di negara mana pun,apalah itu yang jelas nyata terlihat.


"Bro..apa tidak ada permintaan yang lain,yang real.. sebenarnya berat tapi demi dia ok.."


"Tapi..bro,bila sampai tidak memiliki perjanjian itu aku batalin,aku ga mau memberatkan mu walau bagaimana pun kamu sudah seperti saudara untuk ku"


Keduanya saling berpelukan karena tidak ada perselisihan diantara mereka,soal wanita mereka tidak memperebutkannya hanya siapa yang lebih berhak itu saja tidak lebih.


"Butuh bantuan apa mau cari sendiri?"


"Kalau tidak memberatkan mu"


"Sebenarnya sih berat sebab dia minta di gendong"


Kini giliran Nathan melemparkan bantal kursi pad Hilmi karena sudah memulai menggoda.


"Berani lakukan itu,siap tanggung resikonya"


Hilmi paham apa yang Nathan ucapkan,yang jelas berimbas pada bisnisnya.


"Tunggu sebentar"


Hilmi terlihat menghubungi seseorang dari telpon kantor yang jelas untuk mencari tahu data diri wanita incaran Nathan.


Keduanya berbicara ringan saat menunggu seseorang yang akan menjelaskan siapa wanita incaran Nathan.


Tidak beberapa lama pintu ruangan Hilmi diketuk dari luar.


Setelah dipersilahkan masuk, terlihat seorang lelaki yang sudah terbilang cukup tua secara usia,dia seorang HRD.


"Selamat sore Mr.Hilmi ini data yang anda minta sesuai permintaan anda melalui sekretaris anda"

__ADS_1


"Terimakasih pak..anda boleh kembali bekerja"


Perintah Hilmi pada lelaki itu yang langsung berpamitan dan keluar dari ruangan Hilmi.


Hilmi terlihat terkejut dengan data diri yang di berikan oleh HRD atas nama wanita yang baru berapa waktu lalu di temui kini sudah berada di perusahaannya.


"Ada yang aneh.."


Nathan langsung menghampiri Hilmi yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di bacanya.


"Kamu bilang dia janda..tapi lihatlah"


Nathan menerima berkas dari tangan Hilmi dan mata Nathan terbelalak antara terkejut juga senang bukan kepalang.


"Ini serius..lalu yang saat aku lihat itu "


Nathan terlihat bingung tapi tidak mungkin data ini salah apalagi tertera jelas nama kampus yang orang lain tahu tidak mungkin mengirimkan data salah.


Nama: Leandra Ardistia


Jenis kelamin: Wanita


Usia. : 22 tahun


Alamat:xxx


Jurusan:***


Dan penjelasan lainnya berkaitan dengan nilai dan sebagainya.


"Pilihan kamu ga pernah salah..sekali bidik pasti yang terbaik dan langsung tepat sasaran"


Puji Hilmi pada Nathan yang terlihat senang, padahal sekedar mencari tahu data diri sudah membuat Nathan jungkir balik dunianya.


"Kamu yakin..dia masih terlalu muda, dunianya masih ingin bebas bro"


Tutur Hilmi yang sadar diri usia mereka sudah kepala tiga untuk usia lelaki orang Indonesia bis di bilang Bujang lapuk tapi tidak di negara yang terkenal sebutan paman sam ini,usia kepala tiga masih bebas untuk bersenang-senang bahkan masih ingin berpetualang.


"Sepertinya dia gadis yang dewasa walaupun secara usia dia masih muda,dan tidak terlihat dia ingin bebas yang bebas sebenarnya yang aku lihat dia bertanggungjawab dan memiliki komitmen "


Entah dari sudut mana Nathan menilai Lea sampai begitu detail dan percaya Lea bukan gadis yang manja seperti gadis seusianya.


"Aku yakin dia berbeda "


Hilmi tidak bisa memberikan penilaian apapun karena seorang tahan lebih tahu apa yang dia butuhkan.


Hanya satu yang saat ini mengganjal di hati Nathan bagaimana caranya mendekati Lea,ini pekerjaan ekstra yang perlu perencanaan yang harus Nathan pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2