My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Terwujudnya impian


__ADS_3

Gedung serbaguna sebagai bentuk mahar dari Sigit sudah digunakan untuk pelatihan,sudah banyak anak lulusan sekolah yang mendaftarkan diri untuk ikut pelatihan.


Senyum mengembang dari bibir Lea memperhatikan anak didiknya yang saat ini terlihat serius memperhatikan pengarahan dari salah satu mentor pembimbing.


"Seneng bener "


Tegur Jaka yang kebetulan datang dan dia juga salah satu mentor yang ditunjuk Lea bahkan dia yang dipercayakan oleh Lea untuk memegang tanggungjawab bila Lea tidak ditempat.


"Aku hanya bisa memberikan ini semoga bermanfaat"


Mata Lea berkaca-kaca dan hal ini untuk pertama kalinya yang Jaka lihat sebab selama ini belum pernah melihat Lea terharu bila melakukan sesuatu hal untuk orang banyak.


"Apa yang membuat mu terharu jenderal?"


Ujar Jaka yang langsung memberikan tissue pada Lea yang langsung menutupinya dengan senyuman yang dipaksakan.


"Ini salah satu cita-cita ku, memilih satu tempat yang bisa di gunakan untuk memberikan ilmu pengetahuan setidaknya memberikan jalan untuk mereka mandiri secara kemampuan yang dia dapatkan dari pelatihan di sini"


Penuturan Lea bisa Jaka pahami,dan benar penuturan dari Lea setidaknya mereka bisa membuka lahan usaha dengan sedikit modal yang diimbangi skill yang didapat dari pelatihan disini.


"Mereka akan jadi bos di perusahaannya sendiri walaupun skala kecil mungkin bisa disebut menengah "


"Baguslah.. kalau bisa semua jadi bos biar tidak ada yang ditekan "


Lea sadar menjadi seorang bawahan itu tidak nyaman dengan banyaknya tekanan dan intimidasi dari atas juga rekan sejawatnya.


"Curhat ini "


"Ga..gitu hanya berbagi apa yang sudah aku rasakan saja "


dengan malu Lea membalas ucapan Jaka yang sama-sama merasa pernah menjadi bawahan bahkan Jaka masih menduduki jabatan itu walaupun Lea sudah memintanya untuk mengundurkan diri berharap Jaka lebih fokus menjadi penanggungjawab penuh pada pengawasan pelatihan yang di gaji Lea.


"Kita akan sangat paham bila pernah dalam posisi itu benarkan ?"


Dengan tertawa bersama Jaka dan Lea mengakui akan kebenaran hal itu.


"Terimakasih bro..sudah ada untuk selalu mendukung sepenuhnya hingga bisa terwujudnya impian aku selama ini"


Raut wajah bahagia terlihat semakin membuat kecantikan Lea nampak membuat kagum para kaum Adam tapi sayang sudah ada yang memiliki.


"Sama-sama,aku hanya bisa membantu semampu ku tidak lebih,bukankah jenderal yang lebih banyak berkontribusi dalam hal ini"


Dengan malu Lea tunjukkan senyuman miliknya hampir terlihat susunan gigi putihnya.


"Sebenarnya ada satu mimpi lagi yang belum bisa aku wujudkan"


Jaka terlihat bingung dan bertanya dalam hatinya 'mimpi apalagi,ini saja sudah terbilang besar secara finansial '


"Mohon doanya dan kerja samanya kembali"


Senyum manis itu kembali Lea perlihatkan yang semakin membuat Jaka menundukkan wajahnya karena malu.


"Apa yang bisa aku bantu akan aku bantu, walaupun hanya seukuran tenaga saja "


Dengan malu Jaka nyengir kuda karena memang dia hanya bisa membantu lewat kemampuan tenaganya dan sedikit ilmu yang dia punya.


"Itu sangat berarti dalam mewujudkan impian ku bujang "


Jaka yang mendapatkan pujian merasa malu dia menundukkan wajahnya karena dia tahu diri siapa dirinya.


Bincang santai tidak lama keduanya akhiri karena Lea masih ada keperluan lain begitu juga dengan Jaka.

__ADS_1


🌻


🌻


🌻


Menjelang sore Lea sudah ada kediaman Romo dan berbincang santai dengan Romo di taman samping, terlihat lembayung senja yang petang ini terlihat indah dipandang mata menambah kagum pada sang pencipta akan kebesarannya.


"Cah ayu gimana ?,banyak yang berminat untuk ikut pelatihan?"


Romo salah satu orang yang dapat mewujudkan impian Lea dengan dukungan finansial dan juga ide serta gagasannya.


"Alhamdulillah mo..bahkan ada yang datang dari daerah lain,tapi saat ini aku ingin fokuskan pada anak muda yang sekitar kita saja dulu biar lebih optimal "


Romo menganggukkan kepalanya seperti paham dengan penuturan Lea.


"Tapi cah ayu harus ingat apa prioritas mu saat ini "


"Iya..mo,aku tahu "


"Syukurlah,Romo tidak mau sampai kmu lalai akan tanggungjawab mu suami itu yang utama ya..cah ayu "


Romo mengusap lembut kepala Lea dan melangkahkan masuk kedalam rumah meninggalkan Lea yang masih menikmati senja semakin indah dengan burung-burung terbang menuju sarangnya untuk pulang.


"Assalamu'alaikum " bisik Sigit di sebelah telinga Lea yang membuat Lea terkejut karena tidak mendengar langkah kaki Sigit yang menghampirinya.


"Waalaikumsalam..mas "


"Maaf..mas bikin kamu kaget"


Lea memegang sebelah dadanya untuk menetralkan debat detak jantungnya.


"Jangan melamun"


Dengan muka cemberut Lea tunjukkan tapi terlihat lucu dimata Sigit bahkan ingin sekali Sigit mencubit pipi Lea yang bersemu merah.


"Maaf mas salah"


Sigit berjongkok di depan Lea dengan menunjukkan muka bersalah membuat Lea ingin ketawa sebab dimana lelaki yang biasanya terlihat dingin dan datar itu,yang saat ini di tunjukkan muka memelas bahkan. lebih tetap memohon dengan rasa bersalah.


"Apakah mas dimaafkan?"


Lea semakin ingin tertawa karena Sigit dengan manja merebahkan kepalanya diapungkan Lea dengan terus memohon.


Pada akhirnya Lea tidak bisa menahan tawanya karena melihat tingkah Sigit yang terlihat seperti kucing yang minta diusap pemiliknya.


"Bukannya dimaafkan malah tertawa"


"Iya..iya,maaf karena mas lucu "


Penuturan Lea membuat Sigit memperhatikan penampilannya dan bertanya pada dirinya apa yang terlihat lucu dari dirinya yang membuat Lea tertawa.


"Sudah mas jangan bikin aku sakit perut"


"Aku tidak melakukan apapun loh.. sayang,mana letak lucunya?"


"Sudah,sudah aku bantu mas membersihkan badan dan aku buatkan minuman..mas pasti capek kan "


Lea menarik tangan Sigit untuk masuk kedalam masih dengan tawa yang Lea tahan walaupun sesekali kembali terdengar.


Selepas Sigit membersihkan diri kedua berbincang di kamar, sembari menikmati teh hangat buatan Lea, keduanya duduk di sofa.

__ADS_1


"Pasti capek seharian ini "


Lea paham dengan penuturan Sigit untuk dirinya, memang suaminya sangat memperhatikan bukan berarti protektif hanya tidak ingin Lea capek.


"Alhamdulillah tidak mas karena dibantu Jaka dan beberapa pengajar yang mas rekomendasikan"


"Terimakasih untuk semua hal hingga terwujudnya impian aku "


Lea menyandarkan kepalanya di dada bidang Sigit yabg saat ini memakai kaos polos tapi masih bisa terlihat ketampanannya.


"Tidak usah berterimakasih karena kamu kesayangan mas,akan aku wujudkan mimpi-mimpi mu selama aku bisa mewujudkannya"


Mata Lea berkaca-kaca bukan sedih tapi lebih tepatnya bahagia karena lelaki yang Allah kirimkan untuk menjadi imamnya lelaki yang sangat mengerti apa yang diimpikannya selama ini.


"Kalau aku tidak berterimakasih lalu aku harus apa untuk menyampaikan terimakasih itu ?"


"Cukup ada disamping mas selama itu saja sudah cukup "


Lea kembali dibuat bersyukur dengan kehadiran Sigit dalam hidupnya karena bukan hanya sebagai pendamping hidup tapi juga partner dalam banyak hal.


"Jangan menangis,aku ingin sayang bahagia bukan bersedih"


Sigit membelai lembut kepala Lea yang masih bersandar di dada Lea.


"Aku ga sedih kok,hanya bersyukur dimiliki mas "


"Tidak,aku yang bersyukur memiliki mu sayang "


Perdebatan siapa yang memiliki dan dimiliki membuat keduanya tertawa bersama.


"Kenapa makin cantik saja sih,sayangnya mas" Sigit mencium kepala Lea yang bisa Lea rasakan.


"Aku ga melakukan apapun loh mas,apa jangan-jangan cuma gombal aja "


"Tidak penting juga menggombal,mamang cantik kok mas lihat "


"Tidak mas,aku dari dulu memang seperti ini maksudnya sudah cantik dari lahir "


Sigit dibuat gemas dengan perkataan Lea,memang Sigit akui Lea cantik dari lahir dari cukup tahu karena mbok nah yang mengasuh dan dia sering menemui mbok nah selaku ibunya.


"Kamu bisa narsis juga ya.." Sigit mencium tangan Lea beberapa kali dengan lembut.


"Bolehlah sesekali..dari pada minder "


Senyuman manis Lea tunjukkan membuat Sigit juga tersenyum.


"Aku ingin selalu ingin wajah cantik ini dan bibir mungil ini terus tersenyum bahagia"


Lea langsung memeluk Sigit yang membuat Sigit membalas pelukan Lea.


"I love you Leandra Ardistia" ucap Sigit yang membuat Lea kembali terisak.


"Sebenarnya aku ga punya cinta sebesar cinta mas sama aku tapi aku jujur aku juga sangat mencintai mas "


"Cukup cinta aku saja yang besar kepada mu"ucapan Sigit membuat Lea melepaskan pelukannya dan memandang Sigit intens.


"Memang mas ga mau kalau Lea mencintai mas ?"


Dengan menunjukkan muka bingung Lea bertanya.


"Bohong besar jika mas tidak butuh cinta mu sayang, maksud mas biar cinta mas saja yang besar kepada mu "

__ADS_1


"Ih..mas gitu sih,kirain mas ga butuh cinta Lea"Sigit semakin memeluk erat Lea seakan tidak ingin melepaskannya.


Kehangatan hubungan keduanya semakin keduanya rasakan seiring berjalannya waktu.


__ADS_2