
Masa-masa menjadi mahasiswa kembali Lea rasakan hanya saja berbeda dengan di negaranya di sini Lea tidak sendirian sebagai mahasiswa otomotif masih ada beberapa mahasiswi lain yang sama dengan Lea mengambil jurusan ini.
Kesetaraan gender dan emansipasi begitu terasa disini,tidak ada perbedaan perlakuan disini hanya isi otak yang berbeda juga kemampuan yang begitu mereka tunjukkan.
Untuk pergaulan Lea tidak membatasi diri hanya saja dia lebih nyaman dengan yang lebih fokus pada studi dari pada menghabiskan waktu dengan nongkrong atau mendatangi klub untuk sekedar menghilangkan penat ucap mereka.
"Kedekatan Lea dengan Adrian semakin intens disela-sela kesibukan kampusnya,dia semakin tahu banyak Adrian begitu juga dengan ibunya.
Beberapa kali Lea berkunjung ke rumah yang terbilang sangat sederhana di negara yang disebut adikuasa oleh banyak negara lain tapi disisi lain ada warganya yang berkehidupan tidak layak dengan penghasilan ibunya sebagai penjahit sebuah butik yang boleh dikerjakan di rumah karena harus menjaga buah hatinya.
Adrian sudah sedikit banyak bisa berbicara dengan bahasa yang digunakan Lea karena sering kali Lea mengajarinya.
"Hari ini kamu senang pergi bersama ku ?"
Tanya Lea pada Adrian yang tangannya di genggam erat Lea seperti menjaganya.
"Ya..aku suka"
Adrian terlihat bahagia diajak Lea pergi ke tempat-tempat yang tidak pernah dia datangi karena ibunya yang sibuk dengan pekerjaan dan menjaga adiknya.
"Kamu lapar ?"
Sepertinya Lea tahu,saat ini Adrian menahan rasa laparnya, terlihat sesekali tangan Adrian memegang perut kecilnya.
Andrian terkejut Lea membawanya ke sebuah restoran yang menurut teman sekolahnya restoran itu sangat mahal dan hanya orang kaya saja yang bisa makan di tempat itu.
"Apa yang ingin kamu makan saat ini?"
Tanya Lea dengan tersenyum melihat tingkah lucu Andrian yang tidak mau diam sesekali merapikan tempat duduknya,entah apa yang ada di benaknya hanya lucu saja dimata Lea.
"Boleh aku memesan yang ini ?"
Adrian menunjukkan nama sebuah menu makanan yang sering didengarnya bila menonton televisi.
"Baiklah"
Sebenarnya Lea ingin melarangnya sebab rasanya yang pedas tapi Lea tidak ingin melihat Adrian kecewa,Lea selalu banyak akal dia berbisik pada pelayan untuk tidak terlalu pedas dan memesan makanan lain yang bisa Adrian makan sebagai pilihan.
Benar apa yang dikata Adrian restoran ini restoran mahal bisa dilihat dari banyaknya pelanggan yang datang rata-rata berpenampilan menarik dengan style yang menunjukkan siapa mereka.
Berbeda dengan Lea yang terlihat berpakaian casual tapi masih bisa terlihat dia bisa membayar makanan yang dia pesan.
"Apakah perut kecilmu sanggup menghabiskan semua makanan ini ?'
__ADS_1
Adrian terkejut dengan banyaknya makanan yang tersaji di atas meja, seingatnya dia hanya memesan satu menu saja.
"Aku tidak memesan semua ini,kata ibu tidak baik membiarkan makan tersisa"
Rasa kagum yang Lea rasakan pada Adrian yang begitu menghargai makanan dan pesan ibunya begitu dia ingat.. menunjukkan seorang ibu yang baik dalam mendidik keluarganya.
"Kita harus habiskan berdua ok.."
Adrian tertawa kecil mendengar permintaan Lea yang selalu memaksa untuk menghabiskan makanan yang dia pesan.
Kedekatan keduanya menarik perhatian seorang lelaki yang kebetulan mejanya bersebelahan dengannya.
Lea yang begitu perhatian dan hangat pada Andrian dikiranya ibu dan anaknya, walaupun usia Lea masih muda..bisa jadi Lea menikah muda tapi dimana sosok ayah disini hanya ada keduanya.
Dan ini bukan yang pertama dia lihat,entah untuk pertemuan yang kesekian kalinya di melihat keduanya bersama.
"Ngiri.. makanya cepat nikah"
Tegur kawannya yang tahu lelaki yang sering disapa Nathan ini memperhatikan meja sebelahnya.
Sepertinya mereka sama seperti Lea pendatang atau bisa jadi mereka hasil dari pernikahan antar negara bisa dilihat wajah mereka campuran bule dan Asia.
"Gue pengen punya istri yang perhatian sama anak gue.. seperti itu"
"Itu mudah bagi kamu Nat..cuma kamu yang selalu menutup diri"
"Gue lihat dia selalu berdua,dimana lakinya ?"
Kawan-kawan Nathan sedikit terkejut sebab tidak biasanya Nathan memperhatikan lawan jenis sampai ke akarnya.
"Kali aja dia janda Nat "
Ujar yang lain mewakili menjawab rasa penasaran Nathan yang masih sesekali melirik Lea dan Adrian yang masih menikmati menu makanan yang dia pesan dengan obrolan ringan diselingi tawa.
"Jandanya juga gue mau"
Kelakar Nathan dengan santainya membuat kawan-kawan sampai tidak percaya sebab seribu perawan masih bisa dia dapat dengan kekayaan yang dia dan orang tuanya miliki.
"Sepertinya dunia mau kiamat nih.. seorang Nathan siap nikahin janda kayak kehabisan perawan aja loe bro"
Balas yang lain lagi pada Nathan yang sama dengan yang lain tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Nathan.
"Apa loe ga lihat.. begitu perhatian perlakuan pada anak lelakinya..mana ada wanita zaman sekarang seperti itu lebih banyak mereka menghabiskan waktunya dengan teman sosialitanya dan salon "
__ADS_1
"Loe ga lagi putus asa kan Nat, lantaran ditinggal nikah beberapa bulan lagi oleh mantan karena selingkuh dari loe "
Semua kawan Nathan tahu dengan perubahan pada diri Nathan beberapa bulan ini bukan karena tidak laku atau terlalu dingin pada wanita tapi trauma dirinya pernah di selingkuhi oleh pacarnya yang dia pikir setia karena kesibukan Nathan yang hanya memberikan apa yang pacarnya minta secara materi Nathan penuhi.
Dengan sengaja Nathan mengambil gambar Lea dan Adrian yang sudah jelas dia akan mencari tahu jati diri mereka dengan kekuasaan yang Nathan punya pastinya.
"Gila loe..pasti loe minta si Tedy Bear untuk mencari tahu "
Kawan sangat tahu apa yang membuat Nathan penasaran dia akan mencari tahu lewat kaki tangan orang kepercayaannya siapa lagi si Tedy Bear julukan yang Nathan dan kawan-kawannya berikan padahal namanya Bernandez.
"Kalau dia punya suami, gimana?"
Pancing yang lain sebab seorang Nathan pantang untuk mundur bila ingin memiliki terkecuali yang dimiliki berkhianat itu berbeda.
"Bagaimana pun caranya gue minta dia menceraikan istrinya"
Ucap Nathan terdengar serius dan tidak pernah main-main seperti dirinya dalam bernegosiasi dengan lawan bisnisnya bila dia mau lawan harus rela melepaskan miliknya tapi bila dia tidak berminat akan masa bodoh membiarkan lawan mengambilnya tanpa perlawan darinya.
"Kejam amat loe.. memisahkan orang yang lagi sayang-sayangnya "
"Kan gue lebih sayang dia "
Balas Nathan tidak mau kalah bila sesuatu yang dia yakini ingin ada dalam genggamannya.
"Tapi ga gitu juga caranya Nat,apa loe ga kasihan pisahkan anak sama bokapnya.. kalau nyokapnya ga masalah tapi anaknya,pikirin dulu Nat"
Yang lain masih berpikiran waras mengingatkan Nathan yang suka kalap bila melihat yang dia mau.
"Gue berharap sih dia janda biar gue ga perlu repot-repot melibas lakinya "
"Gila nih anak kesambet setan mana sih..perlu dukun nih sepertinya apa ustadz untuk di rukiyah"
Ujar yang lain dengan terkekeh melihat Nathan yang masih sesekali melirik kearah Lea yang masih belum selesai menikmati menu makanannya.
Seperti biasanya Lea memesan makanan untuk di bawah pulang yang Adrian bawah pulang untuk ibu dan adiknya.
"Kata ibu tidak perlu karena kami sudah banyak menerima pemberian aunty "
Lea mengusap lembut kepala Adrian dan mencium lembut kepalanya.
"Aku senang melakukan ini semua,jangan khawatir aku memiliki lebih untuk kalian makan"
Interaksi keduanya dilihat langsung oleh Nathan yang salah mengartikan tapi membuat hati Nathan senang melihat perlakuan Lea pada Adrian.
__ADS_1
Semakin melihat kedekatan keduanya semakin ingin rasanya Nathan memiliki Lea secepatnya.