
Sayup-sayup terdengar suara merdu seseorang melantunkan ayat-ayat cinta Allah yang membuat Lea membuka matanya dengan berat karena masih dalam rasa kantuknya.
"Ehm..."
Lea melenguh dengan merenggangkan otot tubuhnya seperti dia tidur terlalu lama, bahkan yang dia ingat dirinya masih berada didalam mobil saat perjalanan ke perkebunan.
"Nyenyak tidur mu sayang "
Sigit menghampiri Lea dari tempat duduknya di atas sajadah selepas melaksanakan sholat dan membaca ayat-ayat Allah.
Lea dengan malu mengangguk dan membuka selimut untuk menuju kamar mandi.
"Mau kemana ?"
"Kamar mandi "
"Hati-hati kamu baru bangun"
Tegur Sigit yang melihat ke masih sempoyongan dalam berjalan karena belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
Didalam kamar mandi Lea termenung mengingat perlakuan Sigit padanya sejak menjadi suami, lelaki itu tidak secuek pada awalnya bahkan terkesan sangat peduli.
"Sayang kamu baik-baik didalam ?"
Tanya Sigit karena Lea tidak kunjung keluar dari kamar mandi padahal sudah lebih dari setengah jam.
"Ya..aku ga kenapa-napa mas "
Keduanya tinggal bersama dengan Romo sesuai permintaan Romo karena siapa lagi yang akan menemaninya apalagi kondisi tubuhnya sudah sering sakit.
"Aku pamit pergi ke masjid ya.. sebentar lagi masuk subuh "
Pamit Sigit begitu Lea keluar dari dalam kamar mandi dan Lea hanya mengangguk tanpa berucap.
Aktivitas didalam rumah Romo sudah mulai terlihat selepas subuh,rumah yan besar tapi sayang hanya beberapa orang saja yang tinggal didalamnya.
"Pagi mo.."
Sapa Lea yang baru keluar dari dalam kamarnya, menyapa Romo yang kebetulan sudah duduk di kursi ruang keluarga dengan membaca buku.
"Pagi cah ayu "
Balas Romo yang langsung mendapatkan ciuman hangat dari Lea yang selalu dia lakukan.
"Mana mas cah ayu?"
Romo seperti mencari sosok Sigit yang belum terlihat kehadirannya.
"Mas pergi ke masjid mo.."
Romo langsung mengerti dan menyuruh Lea untuk duduk disampingnya.
"Apa tidak ada keinginan untuk jalan-jalan terlebih dahulu cah ayu,kalian berdua bisa saling mengenal lebih jauh "
"Untuk mengenal kita tidak harus jalan-jalan mo..,aku tahu tanggungjawab mas Sigit banyak dan aku ingin memulai kembali apa yang bisa aku dedikasikan di perkebunan ini "
__ADS_1
"Apa tidak cukup kamu menjalankan tanggungjawab perkebunan bersama ma mu cah ayu"
"Maaf mo..itu bukan bidang ku,aku tidak mau semua akan menambah beban mas Sigit,biarlah aku lakukan apa yang bisa aku lakukan sesuai kemampuan ku "
"Kamu memang tidak pernah berubah walaupun sudah melanglang buana akan tetap jadi diri mu saat kembali "
Romo tersenyum dan menggelengkan kepalanya,Romo begitu memahami Lea yang tidak akan mudah diyakinkan bila sudah menjadi keinginannya.
"Lakukan apa yang menurut mu baik"
Pada akhirnya Romo menyerah karena semakin memaksakan kehendak Lea semakin membuktikan kalau yang dia yakini itu benar.
Tidak lama Sigit datang selepas mengucapkan salam dirinya ikut bergabung bersama dalam obrolan ringan diselingi tawa.
"Mumpung masih pagi ajak istri mu jalan-jalan, udara pagi baik untuk kesehatan"
Romo meminta Sigit mengajak ke untuk berkeliling perkebunan yang sudah banyak berubah sepeninggal Lea dari luar negeri.
"Ya,ayo sayang"
Ajak Sigit dengan memegang tangan Lea untuk jalan pagi berkeliling perkebunan.
Keduanya berjalan dengan bergandeng tangan seakan tidak ingin lepas ditambah udara pagi segar ya ga masih dingin terasa.
"Pagi mas,mba "
Sapa beberapa orang yang akan melakukan aktivitas pagi menuju ladang dan perkebunan.
"Pagi "
Ini yang Lea suka dari orang-orang yang tinggal di perkebunan, mereka ramah menyapa tiap kali berpapasan dengan orang dijalan walaupun mereka tidak Sling mengenal.
"Kamu suka "
Tanya Sigit yang melihat Lea tidak lepas tersenyum membalas sapaan orang yang menyapanya.
"Sangat suka,disini aku nyaman dan merasa di butuhkan"
Sigit mengusap kepala Lea dengan tersenyum,baginya senyum Lea mengubah hari-harinya menjadi lebih indah dan berwarna.
"Mas aku mau itu "
Lea menunjukkan penjual makanan tradisional yang dibuat langsung,kue tradisional serabi dijajakan hangat-hangat apalagi pas dengan suasana pagi ya g masih dingin.
"Boleh,mau berapa ?"
Lea sempat berpikir berapa yang dua inginkan,jiwa berbagi kembali muncul.
"Kalau semuanya aku mau boleh ga ?"
Dengan gaya polos seperti anak kecil ke tunjukkan membuat Sigit ingin mencubit pipinya karena gemas.
"Boleh tapi apa tidak kekenyangan sayang"
Lea dengan malu tertunduk mengakui tindakan konyolnya cepat di ketahui oleh Sigit.
__ADS_1
"Aku ingin semua orang yang lewat ikut menikmatinya,bolehkan mas "
"Boleh.. apapun untuk istri ku boleh asalkan kamu senang sayang "
Sigit langsung paham apa keinginan Lea, sebab tidak mungkin Lea akan menghabiskan semua kue tradisional itu apalagi yang belum tercetak.
Sigit langsung meminta pada penjualannya untuk membeli semua kue tradisional itu dari yang sudah matang sampai yang belum tercetak untuk dibagikan kepada siapapun yang melewati jalan ini.
"Ibu..bapak,monggo di pendet"
Sigit mempersilakan orang-orang yang kebetulan lewat untuk mengambil kue tradisional itu tanpa merasa sungkan.
Lea sendiri sudah duduk didekat tungku yang untuk mencetak kue itu dan menikmati kue itu dengan sesekali tersenyum membalas pada orang-orang yang berterimakasih pada Sigit.
"Matur nuwun mas Han.."
Balas mereka yang langsung melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja mereka.
"Ya,sami-sami "
Balas Sigit dengan membungkukkan badannya tanda sopan pada yang lebih tua darinya.
Setelah membayar Lea dan Sigit kembali berjalan menyelusuri jalanan yang kondisinya sudah lebih baik secara infrastuktur.
"Apa akan selamanya kita tinggal disini sayang ?"
Tanya Sigit yang sebenarnya hanya ingin menggoda Lea saja tanpa ada maksud lain.
"Memang mas ada keinginan tinggal ditempat lain ?"
Lea membalas dengan bertanya bukan memberikan jawaban pada Sigit yang terlihat tersenyum karena sudah tahu apa balasan dari pertanyaan pada Lea.
"Mas secara pribadi merasa nyaman untuk tinggal disini dan tidak ada keinginan untuk tinggal ditempat lain, kecuali istri kesayangan mas merasa ingin pindah ketempat lain ya..mas akan penuhi keinginan itu "
"Memang aku ingin pindah kemana gitu ?"
Lea terlihat kesal dan dengan mode ngambek Lea cemberut menambah kesan lucu dan imut dimata Sigit,Lea saat ini.
"Bisa ga jangan mode gemesin saat ini "
Lea terlihat bingung dengan penuturan Sigit, keinginan ngambek jadi berubah karena bingung apa yang salah dari dirinya sebab bukan Sigit membujuknya malah menggodanya.
"Memang aku gemesin ?"
Dengan muka polosnya Lea bertanya membuat Sigit ingin lekas membawa serta Lea pulang ke rumah Romo ingin memeluk erat Lea dalam dekapannya.
"Kita pulang yuk..sayang matahari sudah menampakkan dirinya"
Lea makin bingung apa hubungannya matahari dengan keduanya yang jalan pagi.
"Sudah ayo pulang "
Sigit merangkul pundak Lea untuk kembali jalan pulang walaupun sesekali Sigit tertunduk menyembunyikan senyuman manisnya.
Keduanya mengawali pagi diperkebunan dengan jalan pagi dan menikmati momen bersama walaupun hanya berjalan pagi tapi bagi keduanya ini lebih indah.
__ADS_1