
Sekian lamanya perjalanan pernikahan Lea dan Sigit belum juga terdengar kabar soal kehadiran momongan didalam pernikahan keduanya,kediaman besar milik Romo masih terlihat sepi belum ada suara tangis kecil dari buah hati Lea dan Sigit.
Seandainya saja Lea bukan dari kalangan berada dan dari kalangan darah biru sudah jadi bahan pergunjingan orang banyak.
"Mbok nah apa ga kepingin mengendong cucu ?" ujar salah seorang ibu yang kebetulan sama-sama berbelanja.
Untuk menggunjing Lea mereka takut berimbas maka mbok nah yang menjadi korbannya,tapi mbok nah bukan tipikal orang tua kuno dia lebih menyerahkan semua urusan kepada pemilik kehidupan walaupun secara manusia siapa sih yang tidak ingin memiliki cucu sebagai penerus keturunan.
"Sabar Bu..nanti bila sudah waktunya tiba akan hadir diantara mereka" dengan elegan mbok nah menjawab.
"Bukankah sudah lama mereka menikah?"
Cibir salah satu wanita lain yang membuat yang lain ingin ikut menambahkan atau asyik menjadi pendengar.
"Lama atau sebentar memang kita bisa atur "
Balas wanita lain yang merasa tidak suka mendengar wanita lain di jadikan bahan ghibahan.
"Bener Bu.. Allah akan memberikan sesuatu pada waktunya bukan sesuai yang kita mau "
Mbok nah bukan membela diri tapi hanya menjelaskan apa adanya, karena hakekatnya manusia hanya bisa berserah diri dan berusaha selebihnya urusan Allah.
"Bu..jangan jadi seperti orang tua yang kolot dalam menginginkan kehadiran cucu, manusia memang serakah..belum nikah ditanya kapan nikah sudah nikah kok belum punya anak, dan seterusnya yang bener itu jangan suka ikut campur itu yang bener "
Pungkas seorang ibu yang kebetulan menjadi seorang guru,berkat ucapan semua ibu-ibu langsung diam tidak lagi berghibah.
Mbok nah hanya tersenyum baginya kebahagiaan Lea dan Sigit lebih utama untuk soal momongan itu urusan sang pencipta.
🥀
🥀
🥀
Sudah beberapa hari ini Lea terlihat murung bahkan lebih irit bicara dan lebih menghindar untuk banyak berinteraksi dengan Sigit.
Puncaknya malam ini Lea lebih dahulu merebahkan tubuhnya diatas kasur dan langsung memejamkan matanya berpura-pura tidur.
"Ada yang di pikirkan sayang ?"
Sepertinya Sigit sangat paham betul dengan perubahan Lea, sedetail apapun Sigit sangat paham karena Lea adalah prioritas dalam hidupnya.
Lea masih dengan pura-pura tidurnya tanpa menjawab pertanyaan dari Sigit yang sudah duduk di sampingnya.
"Seberat apapun beban akan ringan bila kita berbagi"
__ADS_1
Sigit tahu Lea pura-pura tidur karena itu Sigit masih terus berbicara walaupun Lea tidak memberikan jawaban.
Lea wanita bisa yang memiliki sisi rapuh dan butuh sandaran,Sigit bisa melihat air mata Lea walaupun mata Lea tertutup tapi air mata itu mengalir deras membasahi pipinya.
"Jadikan mas dalam posisi apapun,mas siap menjadi pendengar yang baik sayang "
Lea semakin tidak kuat menahan berat keresahan hatinya dan pertahan hati Lea runtuh.
"Mas..aku kok ga bisa seperti istri-istri yang lain yang sudah di percayakan memiliki momongan"dengan bergetar Lea berucap.
Lea membangunkan Lea dan kedu tangan Sigit memegang kedua pundak Lea serta meminta Lea menatap Sigit.
"Apakah pernah terucap dari bibir mas, menuntut hal itu sayang ?" Lea hanya menggelengkan kepalanya menandakan Sigit tidak menuntut untuk kehadiran momongan yang belum hadir di antara mereka.
"Mas hanya ingi kmu bahagia bersama mas, untuk soal momongan itu bonus bagi mas.. karena tidak semua juga pasangan memiliki itu,harus sayang ingat kalau pun akan hadir Asti di waktu yang tepat kalau pun belum hadir tidak akan mengurangi kebahagiaan mas dengan adanya kamu terus disisi mas "
Lea semakin menangis haru karena membayangkan kalau bukan Sigit yang menjadi suaminya, maklum saja banyak di luaran sana para suami banyak mencari alasan untuk bisa menduakan hati apalagi dengan belum ada hadirnya momongan dalam perkawinan mereka yang akan dengan mudah menjadi alasan dasar untuk dengan mudah berpaling.
"Mas ingin memegang janji mas pada papi dan Romo"
"Tapikan mas.."
"Tidak ada tapi,tapi..kita berdua jalankan saja kebahagiaan kita jangan pernah berubah karena mendengar penuturan orang lain yang tidak tahu kita "
"Apakah kita akan selamanya berdua ?"
"Bohong" tutur Lea yang sebenarnya hanya ingin menggoda Sigit.
"Kalau saja didalam dada mas bisa dapat terlihat seperti monitor mas akan tunjukkan itu kalau mas tidak bohong pada mu sayang"
Sigit bukan lelaki yang pandai merayu atau menggombal,dia lebih suka menunjukkan sesuatu dengan tindakan dan realita bukan basa basi.
"Dari pada memikirkan sesuatu yang tidak berfaedah bagaimana kalau kita berlibur, kebetulan mas ada waktu dan ada tempat yang indah untuk kita bisa liburan"
"Bukankah mas masih banyak kerjaan?"
"Kerjaan kapan sih bisa habis..rehat dulu lah,yang lain juga bisa cuti masa mas disuruh kerja terus"
Sigit membalas Lea dengan pura-pura ngambek dan menunjukkan muka memelas juga lelah.
"Aduh..kasihan bener,biar aku bilang ke Romo untuk kasih mas liburan "
"Romo kasih tidak ya.." ujar Sigit dengan pura-pura mencari tahu.
"Kalau Romo ga kasih kita kabur aja mas,kita kabari Romo setelah kita sampai disana gimana?"
__ADS_1
Konyol juga pikir Sigit istrinya yang tidak terpikirkan olehnya,yang ternyata memiliki karakter diluar dugaan.
"Ide bagus juga tuh.." balas Sigit yang sebenarnya hanya menggodanya.
"Kita memang mau kemana mas ?"
"Kemana saja asalkan dengan mu sayang "
"Cie..cie,sudah pandai gombal"
"Ga..lah memang itu faktanya,ke tempat seru juga tidak akan seru bila sendiri tanpa kamu sayang,sebaliknya di tempat sunyi senyap kalau sama kamu pasti akan seru karena kamu mengalihkan dunia ku "
"Yea..yang sudah pandai merayu"
"Lah..memang itu merayu,mas baru tahu "
"Mas..mas,sayang banget main jauh sampai ke luar negeri tapi ga paham merayu cewek "
"Masa mas mau merayu ibu tidak mungkin lah "
"Bener juga sih..yea senangnya menjadi wanita pertama yang dirayu mas "
Lea kembali terlihat ceria,bagi Sigit melihat Lea bahagia adalah kebahagiaan terbesarnya.
"Bener nih kit jadi kabur ?" goda Sigit yang sebenarnya sudah meminta ijin pada Romo beberapa hari yang lalu setelah melihat perubahan sikap Lea.
"Tapi kasih Romo mas kalau kita tinggal sendiri disini walaupun tidak sepenuhnya sendiri sih "
"Ehm.. kalau tidak salah Romo ada jadwal cek kesehatan beberapa hari lagi dan papi sudah menjadwalkan pemeriksaannya "
Sigit sangat tahu jadwal rutin Romo, maklum saja Sigit tangan kanan Romo sangat wajar bila Sigit sangat tahu.
"Ok..kita jadwalkan saja pas Romo di kediaman papi..gimana mas ?"
"Ok.. mungkin itu yang paling baik biar kita tidak kepikiran sama Romo "
Lea duduk dipangkuan Sigit dan Sigit memeluk erat Lea dengan sesekali Sigit me daratkan ciuman di bahu Lea yang membuat Lea protes karena merasa geli.
"Mas.."
"Apa sayang,ada sesuatu yang kamu mau ?"
"Mau..mau mas aja "
"Loh..kok mau aku,jangan mulai deh "
__ADS_1
Lea tertawa terkekeh begitu juga dengan Sigit,ada saja caranya keduanya membuat pasangan mereka bahagia.
Membuat pasangan bahagia adalah kebahagiaan yang terindah yang tidak ternilai harganya.