
Sekuat apa usaha Nathan sudah berusaha dia coba dengan untuk bisa menaklukkan hati Lea,tapi selalu saja gugur sebelum berkembang.
Lea yang lebih memilih fokus pada studi yang menjadi prioritasnya bahkan bantuan Nathan selalu ditolaknya dengan cara halus tidak menyakiti Nathan.
"Buku apa yang kamu butuhkan untuk referensi tugas-tugas mu "
Tanya Nathan yang selalu berusaha mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh Lea saat ini.
"Terimakasih kak,saat ini buku di perpustakaan sudah cukup untuk jadi referensi tugas saya, kakak tidak perlu repot-repot untuk itu"
Lea tahu Nathan punya kesibukan yang tidak seperti orang pada umumnya tapi selalu ada di jam-jam tertentu membuat Lea kurang suka karena melalaikan kewajibannya.
"Jangan sungkan untuk kamu apapun aku siap membantu "
Bagi Nathan apa yang baru saja dia ucapkan sebagai bentuk perhatian dirinya pada Lea tapi tidak untuk Lea yang terbiasa mandiri tidak ingin membebani orang lain.
Tidak hanya sebatas itu perhatian Nathan pada Lea, dengan sengaja Nathan menjemput Lea sepulang kerja tapi kembali penolakan secara halus Nathan dapatkan.
"Terimakasih kak,tidak usah repot-repot saya terbiasa naik bis umum untuk pulang"
Nathan masih ingat setiap kata penolakan Lea pada dirinya dengan cara halus tidak membuat Nathan tersinggung.
"Boleh aku ikut naik bis dengan mu ?"
Tanya Nathan saat itu,hanya keanehan yang Lea rasakan dengan Nathan yang ingin ikut dengan dirinya padahal mobil mewahnya telah menunggunya.
"Ya..bolehlah bis bukan milik saya, siapa pun boleh naik bebas aja"
Apa yang Lea ucapkan memang benar, siapa juga yang melarang seseorang untuk menaiki bis umum.
Tidak hanya sebatas itu Nathan pernah ikut kehujanan saat Lea harus pulang dari perpustakaan umum untuk mencari referensi untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
"Kenapa kak tidak pulang saja,jadi basah baju kakak"
Nathan hanya nyengir kuda terlihat senang dengan perhatian Lea yang khawatir karena bajunya ikut basah karena air hujan.
Sepertinya sudah kesekian kalinya Lea selalu menolak segala bentuk perhatian Nathan padanya tapi seperti biasanya Lea menolaknya dengan cara sehalus mungkin tidak ingin menyinggung Nathan.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
"Masih ingin terus berjuang?"
Tanya salah satu teman nongkrong Nathan yang kebetulan berkumpul disalah satu Cafe.
__ADS_1
"Entahlah.. sepertinya gue terlalu suka dengannya"
Nathan terlihat tidak bersemangat hari ini karena menurut orang kepercayaannya hari ini tidak melihat Lea keluar dari apartemen miliknya.
"Gue tidak pernah melihat loe berjuang untuk seorang wanita, dengan begitu gigih bahkan melewati batas wajar seorang Nathan "
Semua temannya tahu Nathan yang lebih banyak dikejar bukan mengejar selama ini,bahkan Nathan terlalu tidak perduli hanya memberikan apa yang pacarnya mau secara material sehingga pacarnya mencari perhatian lelaki lain karena kurangnya perhatian dari Nathan yang seorang gila kerja.
"Dia berbeda bro..,sorot matanya hangat, mandiri,bahkan semua pemberian gue dia tolak dengan halus "
Nathan masih ingat betul saat menawarkan pada Lea untuk membayar barang belanjaan yang Lea beli, dengan sopan Lea menolak Nathan untuk membayarnya dan alasannya cukup masuk akal "Kalau kakak ingin membantu membayar belanjaan saya, kapan saya menghabiskan uang milik saya,lain kali saja ya..kak kalau saya kehabisan uang"
Pinta Lea dengan halus yang membuat Nathan tidak ingin memaksakan kehendaknya.
"Mana ada wanita tidak tergiur uang dan kekayaan bro"
Ujar teman Nathan yang mengira ucapan Nathan hanya bualan semata,bahkan menurutnya bohong banget.
"Terserah..tapi kalau loe ga percaya boleh loe tanya tuh..sama temannya spaghetti "
Kebetulan Hilmi yang baru datang bergabung menghampiri meja mereka.
"Formasi lengkap nih..tumben bener"
Hilmi menyalami satu persatu kawannya tidak terkecuali kawan sekaligus kawan berantem siapa lagi kalau bukan Nathan.
Entahlah baik Hilmi maupun Nathan tidak bisa memanggil gue loe, karena keduanya terlalu dekat dengan keluarga keduanya sedangkan dengan yang lain gue loe itu mudah keduanya ucapkan.
"Lea licin bro seperti belut,ada aja penolakan halus yang membuat aku tidak bisa memaksakan kehendak"
Nathan mengakui memang susah untuk menaklukkan hati gadis muda ini, walaupun secara usia sepertinya muda untuk bisa di selami tapi semakin dekat semakin dia memberikan jarak.
"Perlu strategi sepertinya bro"
Ujar yang lain ikut memberikan jalan keluar dari masalah yang dihadapi Nathan.
"Gue percaya seorang Nathan ga mungkin mencoba beberapa cara, apalagi menyerah"
Nathan hanya mengusap mukanya asal bahkan terlihat lesu,memang benar semua usaha sudah Nathan coba bahkan belajar langsung dari guru percintaan dan biangnya playboy untuk mendapatkan hati Lea,tapi hasilnya masih jalan di tempat.
"Bro..bener tuh anak berbeda"
Karena penasaran salah satu teman nongkrong Nathan bertanya pada Hilmi yang sedikit tahu siapa Lea.
__ADS_1
"Memang dia berbeda bahkan berbeda banget,adik gue yang cewek aja tidak ada setengahnya bila disamakan dengan Lea.. padahal usianya masih muda tapi mandiri sekali"
Hilmi pun sama mengagumi sosok Lea sebagai lelaki normal.
"Jangan sedikit pun kamu berminat mengambilnya dari ku..mi kuah"
Nathan menunjukkan taringnya saat Hilmi memuji Lea sebab hanya dia yang boleh memuji pujaan hatinya.
"Siapa juga yang mau mengambil punya mu Nat..Nat "
Balas Hilmi dengan tertawa lepas,membuat yang lain ikut tertawa.
"Bagaimana kalau kita culik aja ?"
Ide konyol macam apa yang langsung membuat Nathan ingin melayangkan bogem mentah tepat di wajah lelaki yang duduk di sebelah Hilmi.
"Jaga mulut loe.. terbersit pun tidak,gue ga sepicik itu apalagi gue sayang sama dia,seujung kuku pun tidak ingin melukainya.."
Muka Nathan memerah menahan amarahnya,semua merasa takut sebab tidak biasanya Nathan semarah ini bahkan saat putus dari mantan pacarnya, mereka semua habis-habisan menggoda Nathan tapi dia tetap tenang bahkan hanya tersenyum tidak ambil pusing.
"Tenang..dia hanya bercanda bro"
Hilmi menghampiri Nathan dan merangkul pundak Nathan bermaksud menenangkan suasana hatinya.
"Masih ada cara kok,aku bantu..ada Arjun dan Keiora yang dekat dengannya,aku akan tanya keduanya"
Nathan kembali terlihat tenang seperti ada angin segar menyejukkan relung hatinya.
'Gila gue baru tahu turunan pemilik kekayaan terbesar bisa marah besar juga'
Hanya dalam hati teman nongkrong Nathan, mengetahui kemarahan seorang Nathan yang selama ini tersembunyi.
"Selicin apapun akan ada titik lemahnya bro.. santai aja,jangan terlalu di pikirin"
Ujar yang lain tapi Nathan sudah tidak memperdulikan lagi dia lebih memilih memainkan ponselnya karena ada gambar wajah ayu Lea yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi.
Senyum tipis terlihat dari wajah tampan milik Nathan yang tegas tapi tetap nampak menyembunyikan kegaduhan.
Ternyata tidak semudah yang Nathan pikirkan diawal untuk dapat mengenal Lea sangat sulit,lebih mudah bernegosiasi dengan lawan bisnis untuk mendapatkan tender proyek baru.
Dan hati Lea tidak bisa disamakan dengan tender proyek, untuk negosiasi pendekatan saja sudah banyak penolakan secara halus.
Berjuang bang Nathan..apakah bukan jodoh jadi sulit untuk digapainya?
__ADS_1
Note
Bila ceritanya bikin bosan ingatkan saya..tapi dengan cara yang baik tentunya, saya tunggu 🙏🙏🙏**