My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Kenapa harus ada mahluk semanis kamu


__ADS_3

Diluar duga Sigit kini mereka menghabiskan waktu dengan menonton film yang bisa di nikmati oleh gadis kecil apalagi kalau bukan anak-anak.


Kedua gadis manis yang berbeda usia itu duduk diapit oleh kedua lelaki di sebelahnya,disisi kiri le duduk Sigit sedangkan disisi kana Alea duduk lelaki yang disapa om yang memiliki nama Zaki.


"Kamu suka ?"


Tanya Lea pada Alea yang tidak lepas tertawa karena film yang dia lihatnya mempertontonkan adegan lucu.


"Ya..aku suka terimakasih kakak sudah mengajak ku nonton"


Lea yang mendengar merasa senang dengan penuturan Alea,dan sesekali Lea menyuapi pop corn yang di belikan oleh Zaki sebagai bentuk terimakasih kepada Sigit dan Lea.


Sigit yang awalnya kesal karena sedikit waktu untuk mengenal Lea berubah begitu melihat Lea yang ikut tertawa lepas bahkan belum pernah dirinya melihat itu.


"Kakak,lucu ya.."


Ucap gadis kecil itu dengan memegang perutnya mungkin sakit akibat tertawa lepas.


"Ya..lucu banget"


Balas Lea yang terlihat sangat manis dimata Zaki,malah sangat jarang perempuan menunjukkan sisi apa adanya pikir Zaki.


Kembali Sigit merasa ada saingan tapi dia lebih berpikir positif,bahkan lebih menunjukkan dirinya pemilik hati Lea.


"Pakai ini "


Sigit melepaskan jaket miliknya yang langsung di pakaikan pada tubuh Lea, karena melihat Lea yang sesekali mengusap lengannya karena pendingin udara yang berada didalam bioskop.


Mungkin karena kelelahan kemarin,baru saat Lea merasakan tubuhnya kurang fit.


Sebelum berpisah gadis kecil itu mengutarakan isi hatinya dengan polosnya.


"Kakak cantik,mau kan jadi pacar om aku ?"


Bagai dihantam batu besar jiwa Sigit mendengar penuturan gadis kecil yang menurut dirinya manis kini meminta sesuatu yang tidak bisa dia berikan.


"Maaf Alea,kakak cantik sudah milik om"


Lea yang awalnya terkejut dengan penuturan Alea kini lebih terkejut lagi karena penuturan Sigit yang masih terdengar lembut walaupun ada raut kecewa di wajah imut gadis kecil itu.


"Alea tidak boleh bicara seperti itu,tidak sopan sayang "


Pinta Zaki padahal awalnya dia senang karena Alea sudah mewakili dirinya tapi begitu mendengar penuturan Sigit dirinya langsung jatuh terhempas walaupun tidak begitu sakit.


"Tidak apa-apa mas, dimaklumi saja namanya juga anak-anak"


Sigit lebih terdepan untuk mempertegas dalam hal ini karena bagaimanapun Lea bukan barang yang dengan mudahnya berpindah tangan.


Dengan hati yang layu sebelum berkembang Zaki berpamitan pada Sigit dan Lea begitu juga dengan Alea yang sudah kembali seperti semula tidak ada rasa kecewa berbeda dengan Zaki.


"Terimakasih kakak,om sudah menemani aku.. kapan-kapan kita ketemu lagi ya "


Sigit dan le hanya tersenyum dan melambaikan tangannya mengiringi kepergian kedua orang yang baru dikenalnya beberapa saat lalu.


"Mau kita secepatnya menikah ?"


Tanya Sigit saat berjalan bersama Lea menuju tempat parkir mobil milik keluarga Lea, penuturan Sigit tidak membuat Lea terkejut sebab dia sudah bisa menebak jalan pikiran Sigit yang selepas kepergian Zaki dia seperti memikirkan sesuatu.


"Ehm.. kalau ga mau gimana ?"


"Tinggal nunggu mau "


Jawab Sigit dengan santainya tapi membuat Lea berpikir 'sebenarnya apa sih maunya apa hanya ingin membuat baper aku aja..ih,sebelas dua belas mas Abimana ini mah'

__ADS_1


"Gimana?"


"Apanya yang gimana?"


"Mau ga ?"


"Kan tadi udah di jawab "


"Jadi ga mau nih ?"


"Ga,gitu "


"Terus,maunya gini.. berarti mau dong "


"Tau..ah "


Muka Lea memerah karena malu karena Sigit seakan tahu jawaban dari tiap kata yang Lea ucapkan membuat Lea mati kitu di buatnya.


"Jadi besok ?"


Lea begitu terkejut dengan ucapan Sigit yang asal ucap saja pikir Lea tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Ga,besok juga "


"Minggu depan deal "


"Ih..kok gitu sih "


Sigit yang membukakan pintu mobil merasa senang melihat tingkah lucu Lea yang terlihat kesal sekaligus marah.


"Terus gimana maunya ?"


"Maunya nunggu aku selesai kerjaan dulu "


"Memang tidak ada yang bisa menggantikan posisi itu ?"


"Ga,memang ini proposal aku yang ajuin dan di setujui oleh perusahaan"


Lea yang sudah tidak menyebut namanya saya berganti aku membuat Sigit dengan bukan main.


"Sudah aku kamu nih.."


Lea yang terlihat menyadari ucapannya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya tapi bagaimana juga sudah keluar dari mulutnya tidak mungkin bisa ditarik kembali.


"Panggil aku mas,ya..dari pada di tegur orang rumah ga enak "


"Itu maunya mas "


Lea untuk kedua kalinya menutup mulutnya karena spontan memenuhi keinginan Sigit untuk memanggil dirinya mas.


"Udah langsung lancar tuh"


Goda Sigit pada Lea, yang makin malu karena ucapan Sigit kepada dirinya yang sebenarnya bukan menggoda tapi membuat Lea benar-benar malu.


"Udah..ga usah malu,liat makin manis jadinya"


Ucap Sigit lagi membuat Lea membuang mukanya kearah luar jendela untuk menyembunyikan mukanya yang makin memerah menyerupai kepiting rebus.


"Kasihan pabrik kosmetik kalau kamu selalu malu..coba lihat karena tidak perlu pemerah pipi yang biasa di gunakan cewek-cewek "


Sigit tidak menyadari kalau Lea memang selalu berpenampilan natural walaupun tanpa bedak yang berlebih Lea sudah manis dari sananya.


"Maaf, kamu memang sudah manis kalau terlalu manis bikin diabetes"

__ADS_1


"Gombalannya ga ngaruh tuh "


"Masa..coba aku mas lihat kalau ga ngaruh "


Sigit yang melirik kearah Lea beberapa saat kemudian kembali fokus ke arah jalan, membuat Lea makin malu tidak berani menunjukkan mukanya yang memerah pada Sigit yang saat ini banyak bicara sebab kalau diam saja bagaimana bisa untuk membuka hati Lea yang paling pandai membaca pikiran seorang lelaki yang sudah tidak bisa di pungkiri lagi dia tahu betul dunia laki-laki.


'Kamu terlalu manis lea'


Sigit dengan tersenyum mencuri pandang wajah Lea yang kini sudah terlelap dengan tangan bersedekap seperti menahan dinginnya pendingin udara yang ada didalam mobil yang langsung di matikan oleh Sigit.


Begitu sampai kediaman keluarga besar Deandra Sigit tidak langsung turun dari mobil, terlihat bingung antara membangunkan atau menggendong Lea untuk di bawahnya masuk kedalam rumah.


"Lea..Lea,sudah sampai"


Sigit menggoyang tangan Lea berniat membangunkan Lea yang terlihat pulas sampai sebagian rambutnya menutupi sebagian wajahnya semakin terlihat manis alami dan tanpa bermaksud mencuri gambar diri Lea yang sedang tertidur dengan terlihat begitu tenang dalam peraduannya.


"Han.."


Suara khas yang Sigit kenal sebab hanya orang yang dekat dengan dirinya yang memanggil dirinya Hanenda bahkan lebih singkat lagi hanya Han.


"Ya..Bu,cah ayu tidur Bu "


Sigit menyambut ibunya yang berjalan kearahnya yang terlihat bingung.


"Ya.. Allah Han,cah ayu anget badannya"


Sigit terkejut dengan penuturan ibunya karena dia tidak menyentuh tubuh Lea,menggoyang tangan Lea yang terbungkus jaket miliknya karena itu dia tidak bisa merasakan perubahan suhu tubuh Lea.


"Ayo,kamu gendong saja "


Sebenarnya Sigit tidak enak hati bagaimana dengan tanggapan Romo dan papi terhadap dirinya tapi dia tidak sendirian saat ini ada ibunya yang bisa menjelaskan pikirnya tanpa pikir panjang untuk mengangkat tubuh le untuk di bawah masuk kedalam.


"Kenapa Lea,le...?"


Tanya Deandra yang kebetulan sedang duduk santai menikmati keindahan taman di waktu sore menjelang malam.


"Cah ayu,anget badannya mas "


Tutur mbok nah yang lebih dulu berjalan untuk membukakan pintu kamar Lea untuk membaringkan Lea yang masuk tertidur.


"Memang bandel anaknya kalau sudah ada maunya susah di cegah..ini imbasnya"


Deandra yang duduk di samping Lea yang masih tertidur, diusapnya kepala Lea dengan penuh kasih sayang dan terlihat wajah Deandra sedikit berubah menjadi murung.


"Le.. bahagiakan putri ku, karena kamu tahu dia kurang kasih sayang sedang kecil,hanya tangan ibu mu yang dengan sabar mengurusnya.."


"Dengan segenap hati akan aku jaga dan bahagia semampu ku,Pi.."


Mbok nah terlihat tertunduk seperti menahan tangis karena dia lebih tahu bagaimana Lea.


"Pi.."


"Iya..nak, istirahatlah "


"Tapi aku belum bersih-bersih,ga enak lengket"


"Ya..nanti dibantu cah ayu "


Mbok nah langsung membantu Lea kedalam kamar mandi sebab Lea tidak suka bila sampai di rumah tidak langsung membersihkan badannya.


"Asal kamu tahu le.. seperti itu ibu mu dan Lea"


Sigit hanya tersenyum melihat kedua wanita yang begitu dekat, nampak seperti anak dan ibunya sedangkan nanti akan menjadi menantu dan mertua.

__ADS_1


__ADS_2