My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)

My Princess (Bukan Cinta Di Atas Kertas)
Menginap


__ADS_3

Hubungan keduanya semakin hari semakin bertambah hangat, terutama Sigit sudah dapat mengimbangi Lea yang terkadang rese.


"Ibu.."teriak Lea setelah mengucap salam, menerobos masuk.


Keduanya saling memeluk melepaskan kerinduan padahal keduanya baru berpisah beberapa hari saja dan masih dalam satu domisili.


"Jangan berlari "


Teriak mbok nah yang merasa takut Lea jatuh,dan langsung membalas pelukan serta ciuman dari Lea.


"Kangen "


Rengek Lea dengan manja bahkan enggan melepaskan pelukan dari mbok nah yang hanya bisa tersenyum melihat tingkah Lea yang tidak berubah.


"Sudah makan cah ayu ?"


"Sudah..tapi lapar lagi ingin makan masakan ibu "


Dengan tanpa beban Lea menghampiri meja makan milik keluarga Sigit,rumah yang nyaman walaupun tidak besar tapi didesain dengan konsep modern walaupun minimalis.


"ibu aku mau yang ini "


Lea menunjukkan menu makanan yang sudah ada dimeja makan yang menurutnya sangat lezat untuk dinikmati saat ini.


"Makanlah.."


Mbok nah memberikan piring pada Lea yang terlihat sudah sangat ingin menikmati menu itu.


Sigit hanya bisa melihat istrinya dengan tersenyum begitu juga dengan adiknya Chalis Pradipta yang hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalian tidak ingin ikut makan ?"mbok nah memperhatikan kedua putranya yang berbudi tidak jauh dari meja makan.


"Tidak Bu..nanti saja masih kenyang"


Balas Sigit yang melangkah menuju dapur, berniat mengambil minum dan diikuti Chalis.


"Gimana mas sudah gol ? berapa ronde ? gimana rasanya mas ?"


Cecar Chalis dengan tersenyum menggoda Sigit yang mengambil air.


"Gol..gol, memang main bola,mau tahu rasanya nikah secepatnya"


Balas mbok nah yang kebetulan mendengar penuturan putra keduanya yang menurutnya tidak pantas.


"Ga..baik bertanya hal seperti itu "


Tegur mbok nah dengan menepuk pundak anak lelakinya yang terlihat cemberut.


"Aku kan ingin tahu Bu.."


"Cobain sendiri lebih asyik "


Kini Sigit yang membalas membuat Chalis tersenyum.


"Selamat Bu, sebentar lagi punya cucu"


Ucap Chalis langsung di tegur oleh Sigit dengan berbisik.


"Dek..tolong jangan sampai terdengar oleh cah ayu,aku ga mau dua terbebani dengan keinginan kehadiran bayi sebab cah ayu lagi sibuk saat ini "


Bukan Sigit tidak menginginkan kehadiran seseorang anak dalam pernikahannya tapi untuk saat ini ingin melihat Lea mewujudkan impiannya dan menikmati kebersamaannya.


"Cie..cie yang sudah mulai bucin "


"Ha..bucin ?"


"Ya..mas sudah mulai bucin"

__ADS_1


"Apa aku ga paham itu ?"


"Sudahlah mana mas paham bukankah mas manusia lurus ga akan paham itu yang satu itu "


Sigit hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan adiknya yang tidak dimengerti olehnya.


"Mas,bener ga sih rasanya seperti terbang?"


"Apalagi sih dek..mana ada rasanya seperti terbang buktinya aku masih ada di darat..udah mau aja mendengarkan sesuatu yang tidak berfaedah"


"Ih..mas aku kan hanya bertanya pada yang sudah merasakan"


"Sudah lebih baik nikah aja dulu nanti bisa kamu rasakan sendiri"


"Mas ga asyik deh..mendingan aku tanya cah ayu "


"Apa..kamu panggil apa istri ku,dia kakak ipar mu loh dek "


"He..he,maaf mba Lea "


Tanpa menunggu lama Chalis langsung meninggalkan Sigit, dengan santainya Chalis langsung duduk disamping Lea.


"Mba..gimana rasanya?"


Lea yang asyik menikmati menu makanan yang sangat dirindukan selama beberapa hari ini dengan apa adanya menjawab.


"Enak..ehm mungkin baru merasakan jadi nikmat gitu rasanya"


Sigit yang baru beberapa langkah langkah memberikan tatapan tajam pada Chalis yang seharusnya tidak bertanya hal yang dianggap tabu bagi sebagian orang apalagi Chalis seorang dokter.


"Masa beneran enak..bikin ketagihan dong "


Ujar Chalis dengan menahan senyumnya,sangat asyik pikir Chalis setelah tahu ternyata Lea orangnya tidak jaga image.


"Pasti.. kalau ga percaya cobain aja "


"Iya kan mas enak "


"Apanya yang enak ?"Sigit mengalihkan pembahasan.


"Masakan ibu,cobain aja pasti ingin terus mencoba dan bikin kangen " Sigit langsung tersenyum bersamaan dengan Chalis yang ternyata kena prank.


"Iya..benar masakan ibu selalu bikin kangen "


Sigit langsung menatap Chalis dengan tersenyum dan menahan tawa ingin rasanya Sigit membalas dengan berucap 'memang enak '


Begitu juga dengan Chalis hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal hanya bisa tertunduk menahan tawa juga malu pada Sigit.


"Bu..bolehkan aku menginap di sini?"


Dengan manja Lea meminta pada mbok nah yang membuat mbok nah tersenyum.


"Kapan pun boleh cah ayu,disini juga rumah mu "


"Terimakasih Bu..tapi aku ingin tidur sama ibu boleh kan ?"


Chalis terlihat senang dengan penuturan Lea, sebab dia ingin menggoda Sigit.


"Kenapa bertanya sama ibu..tanya sama mas mu boleh tidak"


Belum sempat Lea bertanya Sigit lebih dulu menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Yea.. terimakasih"


Lea langsung memeluk Sigit membuat mbok nah dan Chalis hanya bisa melihat kemesraan keduanya secara live.


Hanya Sigit yang terlihat menahan malu karena dia orang yang tidak terbiasa memperlihatkan hal seperti ini di depan orang lain.

__ADS_1


"Kita mah cuma ngontrak Bu.."


Canda Chalis dengan merangkul pundak mbok nah yang merasa senang karena Lea terlihat mencintai putranya begitu juga sebaliknya Sigit begitu menyayanginya.


"Maaf..aku terlanjur senang "


Dengan malu Lea menjelaskan,mau bagaimana lagi sudah terlanjur memeluk Sigit.


"Ya..kita maklum pasangan halal mah bebas "


Ujar Chalis lagi dengan terkekeh tapi dia juga senang melihat kakak laki-lakinya tidak sekaku dulu.


Malam begitu hangat dengan obrolan santai,dalam obrolan ini Chalis yang mendominasi candaan maklum saja dia memang suka sekali bercanda berbeda dengan Sigit yang sangat irit bicara.


"Bu..besok aku mau dimasakin sayur lodeh sama ayam goreng dan tempe bacem ya.."


"Ya..ibu pasti akan masakin kesukaan mu cah ayu"


Lea merebahkan kepalanya diatas pangkuan mbok nah dengan sesekali diusap kepalanya yang membuat Lea nyaman.


"Mas..lihat mba Lea "


Sigit menuruti permintaan Chalis yang didapat Lea sudah tertidur pulas bahkan tidak mendengar ucapan Chalis.


"Bu..mau di bawa ke kamar ibu atau ke kamar aku ?"


Tanya Sigit yang tidak ingin kecewa bila Lea bangun tidak berada didalam kamar mbok nah.


"Di kamar ibu saja, sesuai permintaannya"


"Kasihan deh..tidur sendiri"


"Apa sih dek "


"Seneng bener sih menggoda mas mu "


"Mumpung disini Bu..,sebab ibu tahu mas kalau sudah sibuk lupa masa kandang "


"Ada-ada saja kamu,memang mas mu ayam"


"Bukan Bu..tapi beruang kutub yang dingin dan kaku "


"Ups,salah sekarang sudah ga dingin tapi bucin dia Bu "


"Hus..mas mu, lelaki normal kamu bilang banci "


"Ha..ha,bucin Bu bukan banci "


Chalis tertawa terpingkal-pingkal dengan perkataan ibunya berbeda dengan Lea yang merasa terusik tidurnya dengan merubah posisinya.


"Sttt.. berisik kanu dek "


Tegur Sigit yang memberi isyarat pada Chalis dengan jari telunjuknya ditempelkan di bibirnya, berharap Chalis memelankan suaranya.


"Tuh..ibu bisa lihat sendirikan "


Mbok nah hanya bisa tersenyum melihat Sigit yang bersikap hangat pada Lea.


"Bu.. biar saj pindahkan saja ke kamar"


Sigit mengangkat tubuh Lea dengan sangat hati-hati karena tidak ingin Lea terbangun dari tidurnya.


"Selamat tidur sayang " Sigit mengusap lembut kepala Lea dan memberikan ciuman di kening, perlakuan Sigit dilihat oleh mbok nah.


'Kamu benar-benar menyayanginya nak' dengan tersenyum mbok nah merasa bahagia.


Bagi Sigit Lea adalah dunianya apalagi Lea adalah wanita pertama yang membuat hari-harinya penuh warna tersendiri dengan sikap mandirinya, pemikirannya diluar dugaan dan sedikit manja bila bersama orang terdekatnya.

__ADS_1


__ADS_2