
Laksana raja dan ratu sehari kini tersemat pada kedua pengantin yang saat ini tengah berbahagia menyambut tamu undangan untuk memberikan ucapan selamat kepada keduanya.
"Lea bisa ga sih,kamu jangan terlalu cantik"
Protes Mawar yang menemani Lea untuk beberapa saat nanti memasuki ballroom untuk menyambut kedatangan tamu undangan.
"Bisa tinggal loe tutup pakai tirai panjang itu "
Lea menunjukkan salah satu tirai yang menjuntai dari atas kebawah sebagai hiasan dinding untuk memberikan kesan mewah.
"Gila loe ya.. kalau ngomong suka asal "
"Lah..asal dari mananya emang bener kok "
Ucap Lea dengan tidak mau dibantah omongannya oleh Mawar yang akhirnya lebih memilih memperhatikan Lea yang sudah siap untuk menyambut tamu.
"Mba..mas Sigit makin sayang deh karena kecantikan mbaknya "
Ucap salah satu MUA yang mengangumi kecantikan Lea dari awal merias wajah ayu Lea yang memang dari sananya sudah cantik.
"Mbaknya bisa aja "
Balas Lea yang sebenarnya tidak nyaman dengan dirinya saat ini karena tidak terbiasa dengan penampilannya yang lebih suka dengan polesan make up natural tidak berlebihan.
"Gimana barisan para pengagum loe undangkan ?"
Tanya Juna yang baru membuka mulutnya karena baru saja masuk kedalam kamar yang disiapkan untuk Lea.
"Jangan macem-macem Jun,gue ga merasa memiliki barisan para pengagum ya.."
Protes Lea dengan tegas tapi tidak dengan Mawar dan Juna yang terlihat senang sekaligus ingin menggoda Lea.
"Bolehlah kita tahu Lea ?"
Goda Mawar dengan mengedipkan sebelah matanya dengan genit membuat Lea merasa jengah karena tindakan Mawar.
"Kalau ada loe mau, ambil ga ngaruh buat gue"
Ujar Lea dengan tertawa kecil membuat Mawar ikut tertawa bersama sebab baik Juna maupun Mawar cukup tahu beberapa banyak kaum Adam yang telah patah hati karena selalu dianggap sebagai teman tidak lebih oleh Lea selama ini.
"Hari ini jadi hari patah hati buat mereka kak Rose"
Ungkap Juna dengan tertawa kecil karena dia juga sangat paham apa alasan Lea yang selalu menolak secara halus pada kaum Adam saat menyatakan perasaannya pada Lea.
"Sorry bukan maksud gue melakukan itu,gue hanya ingin mendapatkan seseorang yang pantas untuk bersanding dengan gue dengan penuh keyakinan kalau gue pantas untuk di milikinya"
"Cie..loe sudah mulai bucin non "
"Apaan sih,ga gitu lah bucin..bucin "
"Jun..dia ga mau mengakui kalau dirinya sudah kena virus bucin "
Juna tertawa melihat perubahan pada Lea yang biasanya cuek bahkan terlihat masa bodoh kini terlihat menghargai pasangan dengan tidak ingin pasangannya menaruh rasa kesal dengan kehadiran orang-orang yang telah lebih dulu mengenal dirinya secara profesional kerja dan sedikit berinteraksi tidak lebih begitu juga dengan teman-teman diluar sama sebatas pernah melakukan kerja sama dalam urusan otomotif tidak lebih.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Diluar ballroom sudah terlihat barisan tamu undangan yang sudah mengisi buku tamu undangan sebelum masuk.
Banyak pasang mata yang mengangumi dekorasi ballroom hotel yang ditata dengan elegan dan mereka cukup tahu siapa pemilik pesta ya..DA company yang tidak akan main-main dalam menyelenggarakan suatu acara.
"Sebenarnya gue ga ingin memenuhi undangan Lea tapi dengan berat hati harus hadir sebagai bentuk gue ikhlas menerima kalau cinta itu tidak harus memiliki"
__ADS_1
"Dalam bener bro.."
"Ya.. jujur sebenarnya susah untuk mencari cewek seperti Lea "
"Bener cewek cantik memang banyak tapi untuk menyamakan dengan Lea itu susah di cari bro "
"Gue setuju dengan pendapat loe bro "
Beberapa lelaki sepertinya sedang membicarakan Lea yang mereka kagumi bukan karena fisiknya saja tapi juga kemampuan serta otaknya.
Begitu juga dengan mantan atasan Lea siapa lagi kalau bukan bang Dik yang datang bersama istrinya yang sengaja datang untuk memberikan ucapan selamat pada Lea.
"Selamat adik Abang..makin cantik aja sih neng "
Ujar bang Dik yang membuat Lea malu tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa memungkiri kalau dirinya memiliki paras yang cantik yang patut disyukuri.
"Selamat ya..neng semoga cepat memiliki momongan"
Ucap istri bang Dik yang sudah Lea kenal dengan baik karena Lea sering mengajak berkumpul bersama untuk menjalin keakraban diantara rekan kerja.
"Titip adik saya ya.. anaknya suka merepotkan"
Goda bang Dik pada Sigit yang hanya tersenyum tipis tanpa menjawab karena Sigit cukup bisa melihat kedekatan Lea dengan istri bang Dik yang bisa diartikan Lea nyaman berada diantara mereka.
"Lea.. kantor sepi ga ada loe "
Ungkap salah satu rekan kerja yang kebetulan datang bersamaan dengan bang Dik dan istrinya.
"Tenang akan ada yang baru lebih asyik kok"
Balas Lea dengan memberikan semangat kepada kawan satu pemikiran dalam pekerjaannya.
"Tetap tidak ada yang seasyik loe Lea "
"Bener Lea tetap tidak akan pernah sama dengan loe "
"Tapi bang tolong jangan bandingkan dia dengan gue karena bagaimanapun dia sudah berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja baru yang Abang tahu tidak mudah, please bang terima dia seperti Abang menerima gue "
"Lea..Lea,ini yang membedakan loe dengan siapapun..loe selalu memikirkan orang lain padahal loe ga kenal siapa dirinya"
"Bang,gue cuma memposisikan seperti pada gue saat pertama masuk kerja dan Abang semua begitu baik dan dengan tangan terbuka menerima gue yang minim pengalaman "
"Kembali loe merendah Lea..,loe memang tak tergantikan "
Ucap salah satu rekan kerja Lea makin mengganggumi Lea yang semakin dewasa dan makin cantik tentunya.
"Lea kalau kita-kita bareng loe terus main awet muda deh sepertinya"
"Salah itu..bilang aja loe menolak tua "
Tawa lepas akhirnya pecah termasuk Lea yang sudah berusaha menahan tawa dengan hanya tersenyum tipis kini harus menutup mulutnya karena spontan mendengar candaan receh biasanya terjadi diantara mereka.
Tidak jauh dari mereka terlihat Arsena yang datang ditemani Diki belum memberikan selamat kepada Lea sebenarnya dirinya berat kakinya melangkah mendatangi undangan dari teman satu angkatan kuliahnya yang kini harus bersanding dengan gadis yang telah memporak porandakan hatinya dan hanya seorang Lea yang bisa.
"Apa kita hanya melihat saja tanpa memberi selamat bro "
Tanya Diki pada Arsena yang masih memandang keakraban diantara mereka walaupun Sigit hanya sesekali menunjukkan senyum tipisnya.
"Bisa ga sih ga berisik "
Tegur Arsena yang suasana hatinya tidak nyaman tapi dia tidak ingin dipandang lemah bahkan dirinya ingin menunjukkan pada Sigit kalau dirinya rekan bisnis yang baik dengan datang memenuhi undangan di pernikahannya.
__ADS_1
"Busyet Lea makin cantik aja sih "
Diki memuji kecantikan Lea tanpa berpikir terlebih dahulu kalau sahabat sekaligus atasannya akan kebakaran jenggot karena ucapannya.
"Jaga mulut loe,dia istri orang"
"Lah..emang salah gue dimana cuma sekedar memuji kecantikan Lea tidak ingin memiliki bro "
Arsena merasa malu sekaligus keki karena salah mengeluarkan ucapannya yang bisa diartikan dirinya masih menyimpan rasa pada Lea.
"Tenang bro..gue cuma mengganggumi tanpa berkeinginan untuk memiliki"
Ucap Diki yang sebenarnya menyindir dengan keras Arsena secara tidak langsung yang terlihat tidak fokus karena suasana hatinya tidak nyaman.
"Sakit tidak berdarah itu seperti ini ya..bro "
"Iya kali "
Diki membuang muka untuk bisa melepaskan senyumannya karena merasa puas sudah berani melakukan sindiran keras pada bosnya yang suka sekali mengerjainya.
"Sabar bro..apa mau nunggu bekasnya saja "
"Kamu sudah gila secara tidak langsung mendoakannya"
Protes keras terlontar dari mulut Arsena yang terlihat tidak suka karena bagaimanapun Lea telah memberikan kesan baik dalam relung hatinya.
"Becanda bos "
"Ayo..gue lama-lama disini bisa sakit kepala"
Diki ingin tertawa tapi takut dosa sebab melihat penampakan Arsena yang terlihat kusut tidak bersemangat dengan suara hatinya tapi diartikan dia kalau dirinya sakit kepala memikirkan Lea bukankah hatinya yang sakit "aneh "pikir Diki pada Arsena yang mengekor barisan tamu undangan untuk memberikan ucapan selamat pada Lea dan Sigit.
"Ehm.. selamat ya,Lea kenapa saya tidak kmu undang?"
Lea dibuat bingung dengan ucapan Arsena yang sudah jelas-jelas ada dihadapannya saat ini tapi menurut dirinya tidak diundang.
"Saya kesini atas undangan suami kamu "
"Memang beda yang Mr. ?"
Lea memandang Sigit dengan tatapan bingung karena pernyataan Arsena pada dirinya yang sudah beberapa waktu lalu keluar dari perusahaan Arsena tanpa menunggu surat persetujuan dari pihak perusahaan yang menyatakan dirinya telah mengundurkan diri dan perusahaan menyetujuinya.
"Saya yang mewakili istri dengan sengaja mengundang mu bro "
"Oh..kirain bekas karyawan saya melupakan kalau perusahaan yang saya pimpin pernah memberikan sedikit banyak pengaruh dalam hidupnya"
Sigit hanya menggelengkan kepalanya baginya seorang pemimpin besar tidak harus mengungkit apa yang telah dia berikan sebab pemimpin besar tidak harus bermulut besar.
Begitupun dengan Lea yang semakin tidak respek pada Arsena yang sebenarnya dia ingin menghargai karena telah memberikan kesempatan baik padanya tapi dirinya salah kalau kenyataan sebenarnya ada segurat dendam yang nampak disorot matanya.
'Bro..bro,loe ga bisa sabar dikit apa..pantas Lea lebih memilih keluar dari pada bertahan '
Umpat Diki dalam hatinya menyalakan Arsena yang sebenarnya marah pada dirinya sendiri, karena tidak bisa memiliki Lea.
"Maaf bro, jangan masukkan kedalam hati hanya bercanda.. selamat ya, ternyata kau lebih dulu memiliki pasangan"
Dengan berat hati akhirnya Arsena memberikan ucapan selamat pada Sigit yang bisa dengan jelas melihat ada aura kekesalan yang dalam di hati Arsena melihat dirinya dan Lea bersanding.
"Terimakasih bro..doa terbaik juga untuk mu semoga secepatnya menyusul seperti kami "
Balas Sigit dengan menepuk pundak Arsena yang hanya bis tersenyum kecut karena menahan kecewa.
__ADS_1
Kini barisan para pengagum hanya bisa melihat kebahagiaan Lea tanpa bisa berkata-kata lagi karena bagaimanapun Lea berhak bahagia walaupun harus bersama orang lain bukan bersama dirinya.